
"Aku minta maaf Asyifa. Aku hanya merasa tidak pantas untukmu dan sekarang aku sadar jika aku ingin lebih pantas untukmu. Maka aku harus berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Untuk membuatku pantas bersamamu, bukan malah menyuruhmu untuk mundur," ucap Rafa yang tumben bicara begitu dewasa. Kemarin malam aja banyak wacana dan sempat membuat istrinya kesal.
"Apa kamu percaya padaku Asyifa?" tanya Rafa.
"Asyifa tidak tau apa Asyifa harus percaya atau tidak. Jujur Asyifa sangat tidak suka dengan perkataan kak Rafa semalam dan Asyifa sangat kesal dengan kak Rafa. Asyifa mati-matian berjuang untuk mempertahankan rumah tangga kita. Karena yang Asyifa cari hanya surga Allah dan makanya Asyifa bertahan dan menerima semua perlakukan kak Rafa. Tapi ketika Asyifa merasa mendapatkan semauanya kak Rafa malah seperti itu bagaimana Asyifa tidak kesal," ucap Asyifa apa adanya mengutarakan perasaannya semalam pada Rafa.
"Aku mengerti dan baru menyadari jika apa yang aku katakan semalam memang sangat keterlaluan. Bukannya berusaha malah aku ingin mundur dan menyuruh kamu juga mundur hal yang seharusnya tidak aku lakukan," ucap Rafa.
"Kalau kalau begitu apa yang harus kak Rafa lakukan?" tanya Asyifa.
"Seharusnya aku melihat usaha kamu dan seharusnya aku menjadi orang yang lebih baik lagi. Jika aku ingin pantas untuk bersama kamu," jawab Rafa dengan menatap dalam-dalam Asyifa dan tangannya membelai-belai rambut Asyifa.
"Apa kak Rafa menyadari itu adalah kesalahan?" tanya Asyifa.
"Iya Asyifa aku menyadari semua itu kesalahan," jawab Rafa yang apa adanya.
"Lalu kak Rafa tidak akan menyuruh Asyifa untuk mundur lagi. Atau kak Rafa juga ingin mundur dan pernikahan kita akan berakhir?" tanya Asyifa.
"Tidak Asyifa, tidak ada yang mundur dan aku tidak ingin berpisah dari mu. Jika kamu mempertahankan pernikahan kita. Lalu kenapa aku harus mundur di tengah jalan," ucap Rafa yang baru menyadari semuanya.
"Seperti apa yang aku katakan Asyifa. Jika aku jatuh cinta padamu Asyifa, aku mencintaimu dan makannya aku menyadari semua ini," ucap Rafa yang apa adanya yang mungkin sudah lebih dari satu kali menyatakan perasaannya.
Wajah Asyifa masih terlalu ragi untuk mendengar kata-kata Rafa yang mana Asyifa masih takut dengan kata-kata yang bisa saja menjadi berubah lagi nanti.
"Kenapa kamu diam Asyifa. Apa kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Jika aku jatuh cinta padamu," ucap Rafa.
"Baiklah kak Rafa jika kak Rafa sudah menyadari perkataan kak Rafa yang kemarin itu salah. Kalau begitu jangan mengatakan hal itu lagi," ucap Asyifa. Rafa mengangguk tersenyum.
Rafa meraih tangan Asyifa dan meletakkannya di dadanya, "Aku sudah mengatakan jika aku jatuh hati padamu. Dadamu bergetar saat aku dekat dengan mu. Rasa takut kehilangan mewarnai perasaan ku dan masalah lainnya yang ada di pikiranku mengenaimu Asyifa. Lalu bagaimana dengan perasaan mu kepadaku," ucap Rafa yang menuntut perasaan Asyifa kepadanya.
Asyifa diam yang tidak langsung menjawab apa-apa.
"Apa kamu sudah mencintaiku Asyifa?" tanya Rafa yang butuh kepastian.
"Asyifa tidak tau kak Rafa. Asyifa tidak bisa menjawabnya," sahut Asyifa yang apa adanya yang belum bisa menentukan hatinya apakah sudah mencintai suaminya apa tidak.
__ADS_1
"Jadi kamu belum mencintaiku?" tanya Rafa.
"Asyifa tidak tau apa sudah mencintai kak Rafa apa belum," jawab Asyifa
"Baiklah Asyifa aku mengerti. Aku akan menunggu sampai kapan kamu akan mencintai ku," ucap Rafa.
"Apa kak Rafa kecewa dengan jawaban Asyifa?" tanya Asyifa.
Rafa tersenyum, "kecewa ketika kita mengucapkan cinta. Namun tidak ada jawaban. Tetapi rasa kecewa itu hal yang wajar. Karena perasaan itu hanya milik kamu saja dan kamu berhak untuk menerima perasaan ku atau tidak," jawab Rafa dengan bijak yang membuat Asyifa tersenyum.
Rafa dan Asyifa saling diam sejenak dan saling menatap dengan Asyifa. Rafa mendekatkan wajahnya pada Asyifa dengan Rafa yang mencium bibir Asyifa. Namun belum jadi Asyifa menahan dada Rafa membuat Rafa menghentikan aksinya dan melihat sang istri dengan serius.
"Ini bukan alam terbuka Asyifa. Walau terlihat terbuka. Tapi bukan umum dan tidak akan ada yang melihat," ucap Rafa yang tau apa alasan Asyifa menahan dirinya saat dia ingin mencium istrinya itu.
"Bukan masalah tempatnya kak Rafa," ucap Asyifa pelan.
"Lalu masalah apa?" tanya Rafa dengan menaikkan 1 alisnya pada Asyifa.
"Maaf kak Rafa, Asyifa tiba-tiba merasa tidak menyukai aroma tubuh kak Rafa. Apa kak Rafa belum mandi," ucap Asyifa berbicara pelan yang takut Rafa tersinggung. Rafa mendengarnya terkejut dan refleks mencium lengannya untuk memastikan apa dia bau apa tidak.
"Asyifa tidak bilang seperti itu. Hanya saja Asyifa tidak suka dan sejak tadi sebenarnya jujur Asyifa menahannya," ucap Asyifa dengan pelan yang membuat Rafa menghela napasnya kejujuran istrinya sebenarnya sedikit memalukan sih.
"Jadi kamu tidak suka dengan aroma tubuhku?" tanya Rafa ingin memastikan lagi dan Asyifa menganggukkan kepalanya.
"Hmmm, begitu kenapa tidak bilang dari tadi untung aja kamu nggak pingsan," gerutu Rafa dengan pelan yang perlahan bangkit dari tubuh Asyifa dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kak Rafa tidak marahkan dengan perkataan Asyifa?" tanya Asyifa dengan gugup.
"Tidak Asyifa aku tidak marah," jawab Rafa yang sudah duduk di samping Asyifa, "Hmmmm, bagaimana jika sekarang aku mandi dulu," ucap Rafa yang sadar diri apa yang harus di lakukannya.
"Boleh," sahut Asyifa.
"Ya sudah kamu tunggu di sini. Aku ingin mandi dulu," ucap Rafa. Asyifa menganggukkan kepalanya dan Rafa dengan menghela napasnya yang langsung pergi meninggalkan tempat itu dan Asyifa juga menghela napasnya kepergian suaminya.
"Kak Rafa semoga tidak masukkan kedalam hati atas kata-kata Asyifa. Tetapikan memang benar kok. Asyifa merasa sangat mual dekat-dekat kak Rafa," ucap Asyifa dengan mengusap-usap perutnya yang terasa mual dekat dengan suaminya dan tadi Asyifa hanya menahan saja saat dia dan Rafa berdekatan.
__ADS_1
********
Di sisi lain Rafa yang sudah selesai mandi berdiri di depan cermin dengan memakai bathrobe putih. Rafa menyemprotkan parfum di tubuhnya yang mungkin hampir habis satu botol dengan Rafa yang bolak balik mencium tubuhnya apa tidak bau lagi. Jangan sampai kata-kata Asyifa yang terkesan lembut namun menyakitkan saat di dengar. Jadi lebih baik Rafa membuat dirinya sewangi mungkin agar sang istri merasa nyaman padanya.
"Aku rasa sudah cukup," gumam Rafa yang merasa sempurna dan langsung keluar dari kamar dengan semangat 45nya.
Rafa kembali ke taman yang sepertinya dari ciri-cirinya Rafa ingin melakukan sesuatu pada istrinya yang Rafa rela mandi lagi hanya untuk aksinya. Namun nihil saat Rafa sampai di tempat di mana istrinya yang benar saja Asyifa malah tertidur dengan santainya tanpa dosa membuat Rafa yang berkacak pinggang di depan ranjang menghela napasnya melihat istrinya yang sudah tepat.
"Asyifa apa kamu tidak tau Asyifa. Jika malam ini sangat dingin dan kamu malah tidur dan tidak menungguku. Aku sudah mandi Asyifa," gumam Rafa yang rada-rada kesal dengan istrinya yang sembarangan tidur tanpa menunggunya terlebih dahulu.
Rafa hanya bisa menghela napasnya melihat sang istri dan sudah tidak ada harapan lagi untuk mereka bisa bermesraan. Rafa harus pasrah dan langsung merebahkan dirinya di samping Asyifa.
"Asyifa!" ucap Rafa dengan pelan yang berusaha untuk terakhir kalinya siapa tau ada harapan jika Asyifa akan bangun. Walau harapan itu jauh dari kenyataan.
"Asyifa!" ucap Rafa yang kembali membangunkan Asyifa. Namun sama sekali Asyifa tidak kunjung bangun dan membuat Rafa hanya bisa menghela napasnya saja
"Mungkin ini sudah takdir. Jadi mau bagaimana lagi," ucap Rafa yang tidak bisa mengatakan apa-apa dan langsung membawa Asyifa kedalam pelukannya. Mencium lembut kening Asyifa.
"Kamu istirahatlah, aku janji akan terus memperbaiki diri. Agar aku bisa lebih baik bersama kamu," ucap Rafa dengan apa adanya yang ingin berusaha lebih banyak untuk istrinya. Ketimbang harus menyuruh sang istri untuk mundur atau hal-hal yang lainnya.
Rafa pun mencium bibir Asyifa yang sudah dirindukannya saja dengan cepat. Rencananya ingin mengecup saja. Namun tidak Rafa malah mencium dengan dalam-dalam yang menelusuri mulut Asyifa yang mana sepertinya Rafa sangat merindukan Asyifa dan bisa-bisa Rafa akan melancarkan aksinya walau Asyifa tertidur.
"Hmmmm, kak Rafa!" Asyifa mendorong Rafa yang tidak ingin di sentuh di mana penolakan dari Asyifa dengan matanya yang masih terpejam dan tidak ingin ada yang menyentuh.
Rafa menyunggingkan senyumnya melihat wajah Asyifa yang tertidur namun begitu kesal. Hanya karena dia telah menciumnya.
"Maaf Asyifa sudah membuat kamu kesal. Istirahat lah aku tidak akan mengganggumu," ucap Rafa dengan lembut dan memeluk Asyifa dengan erat.
"Jangan peluk-peluk Asyifa," ucap Asyifa yang lagi-lagi protes dalam tidurnya dan Asyifa membelakangi Rafa yang benar-benar jaga jarak dengan Rafa yang tidak mau dekat-dekat dengan Rafa.
"Nih anak kenapa sih, perasaan sudah saling minta maaf kenapa dia jadi tidak mau dekat-dekat. Apa yang salah sih," gerutu Rafa kesal.
Asyifa, di peluk tidak mau, di cium tidak mau, dekat dengan istrinya di bilang bau, wah Rafa bisa frustasi jika istrinya bertingkah tidak wajar seperti itu dan Rafa tidak bisa apa-apa selain pasrah karena dia juga tidak mungkin membuat Asyifa tidak nyaman.
Bersambung
__ADS_1