
Asyifa yang berada di kamarnya yang sudah mandi. Asyifa menaiki tempat tidur dengan melihat foto-foto yang telah di cetaknya dari camera palaroid nya. Foto-foto lucu-lucu itu berserakan di atas tempat tidurnya.
"Kenapa tuan yang satu ini tidak tersenyum sama sekali," ucap Asyifa geleng-geleng yang melihat beberapa foto Rafa yang berhasil di ambilnya dan Rafa begitu dinginnya tanpa mengeluarkan senyum. Namun terlihat sangat tampan membuat Asyifa tiba-tiba tersenyum.
Asyifa kembali melihat beberapa foto dan ternyata ada satu yang mencuri perhatiannya. Di mana ada foto dia dan Rafa yang berdiri bersebelahan di ambil dengan selfie. Namun tetap Rafa di sana kaku dan sama sekali mengeluarkan senyum.
Asyifa geleng-geleng saja.
"Sebaiknya aku susun di album saja. Kira-kira kak Rafa ada album tidak ya. Aku tanyakan saja dulu!" ucap Asyifa mengambil jilbabnya langsung dipakainya dan langsung keluar dari kamarnya untuk menemui Rafa.
Walau suami istri dan tidak apa-apa seharusnya jika dia tidak memakai jilbab di depan suaminya. Namun Asyifa belum terbiasa dan masih ingin menutup aurat di depan suaminya.
"Kak Rafa!" Panggil Asyifa menuruni anak tangga.
Namun di beberapa anak tangga tiba-tiba. Asyifa menghentikan langkahnya ketika melihat Rafa berdiri di ruang tamu dengan berpelukan bersama seorang wanita yang memeluk Rafa dengan merindukan dan Rafa berdiri tegak dengan ke-2 tangannya di saku celananya.
"Kak Rafa!" tegur Asyifa dengan suara seraknya yang menahan sesuatu membuat Rafa melihat ke arah Asyifa dan melepas pelukan dari Miranda. Ya Miranda yang memeluk Rafa.
Miranda dan Asyifa saling melihat dengan tersenyum pada Asyifa. Namun wajah Asyifa menunjukkan banyak ekspresi bertanya-tanya di dalam dirinya. Asyifa mencoba untuk tenang dan menuruni anak tangga menghampiri dua orang yang diam itu.
"Hay Asyifa apa kabar, senang bertemu denganmu," ucap Miranda dengan tersenyum pada Asyifa. Namun Asyifa melihat Rafa seolah ingin menanyakan sesuatu.
"Hmmm, apa kita pernah bertemu sebelumnya. Kenapa wajahmu sangat tidak asing bagiku ya?" ucap Miranda mengingat-ingat Asyifa.
"Kak Rafa siapa dia?" tanya Asyifa.
"Itu bukan urusanmu," jawab Rafa dengan ketus.
"Hmmm, Rafa di mana kamarmu. Aku lelah di perjalanan. Ayo kita istirahat," ucap Miranda merangkul lengan Rafa.
__ADS_1
Asyifa melihat hal itu terlihat tidak suka. Dia mungkin belum mencintai Rafa. Namun istri mana yang bisa tenang ketika melihat suaminya di rangkul wanita lain. Wanita yang berpakaian seksi yang tidak malu memperlihatkan keromantisannya dengan Rafa.
"Ayo Rafa kita istirahat," ucap Miranda yang mengajak Rafa.
Asyifa menghela napasnya dan terlihat mengambil handphonenya yang dan menghubungi sesuatu. Rafa yang ingin pergi melihat Asyifa menelpon dan Rafa langsung melepas tangan Miranda dari tangannya dan menghampiri Asyifa.
"Siapa yang kau telon?" tanya Rafa mengambil handphone itu dari Asyifa dan melihat ternyata mamanya yang di telpon Asyifa.
"Kau menelpon mama!" pekik Rafa dengan menatap tajam Asyifa.
"Jika kamu tidak menjawab siapa dia. Maka aku akan tanya sama mama. Dia tidak ada di pernikahan kita. Mungkin saudara atau sepupu yang tidak aku kenal. Jadi aku akan tanya sama mama dan papa. Apakah ada saudara yang harus menginap sini," ucap Asyifa yang mengambil handphonenya dari Rafa. Namun Rafa menjauhkan tangannya dari Asyifa.
"Kau ingin mengadu!" teriak Rafa menekan suaranya.
"Siapa yang mengadu aku hanya ingin bertanya. Apa yang salah," sahut Asyifa menaikkan volume suaranya.
Hal itu mengejutkan Asyifa dan melihat kearah Miranda. Yang Miranda tersenyum mengejek Asyifa.
"Kau pasti mengenalku. Aku seorang model terkenal yang berpacaran dengan Rafa Madison. Aku rasa kau menonton televisi dan melihat kedekatan kami dan dunia juga tau jika aku kekasihnya," jelas Miranda.
"Apa yang kamu bicarakan. Bagaimana mungkin ada kekasih. Sementara dia sudah menikah," sahut Asyifa mencoba tenang. Walau dia terlihat begitu gemetar mendengar pernyataan wanita itu.
Miranda mendengus kasar dan mendekati Rafa lalu merangkul lengan Rafa kembali.
"Menikah katamu. Apa pernikahan itu akan membuat hubungan kami berakhir. Asyifa Rafa tidak menyukaimu dan pernikahan itu hanya status saja. Dan tidak mempengaruhi hubungan kami berdua," tegas Miranda dengan kata-kata yang lembut.
"Itu sangat tidak masuk akal. Laki-laki yang ada di sampingmu adalah suamiku dan sangat tidak masuk akal kamu dan dia menjalin hubungan," sahut Asyifa.
"Kalau begitu tanyakan saja pada laki-laki yang kau sebut suami," sahut Miranda dan mata Asyifa langsung melihat ke arah Rafa yang mana Rafa sejak tadi diam.
__ADS_1
"Kak Rafa!" lirih Asyifa.
"Apa yang di katakan Miranda adalah jawabanku juga," ucap Rafa membuat Asyifa terkejut. Hatinya sungguh di cabik- cabik dengan kata-kata Rafa dan kakinya begitu lemas. Mata yang bergenang air itu masih di tahan Asyifa agar tidak menetes di depan laki-laki yang menunjukkan aura dingin itu.
"Kau dengarkan aku Asyifa. Aku sudah mengatakan berkali-kali kepadamu. Aku terpaksa menikah denganmu dan kau yang menantangku untuk masuk kedalam hidupku. Dan jika kau merasa menderita, tidak terima dengan beberapa hal yang jauh lebih mengejutkan lagi. Itu adalah resikomu karena berurusan dengan ku. Dan Miranda adalah kekasihku. Dan dia juga akan tinggal di sini selama kita di sini," tegas Rafa membuat Miranda tersenyum.
"Itu tidak mungkin. Kalian bukan suami istri," sahut Asyifa dengan menahan sesak di dadanya.
"Jangan kuno Asyifa. Hal itu biasa untukku dan Rafa. Kamu hanya memegang status kamu sebagai istri dan aku yang di hatinya yang memilikinya. Seharusnya Asyifa aku yang marah padamu. Tapi tidak apa-apa. Karena aku mempercayai kekasihku. Jadi aku menganggap ini hanya masalah kecil yang jelas dia adalah milikku," ucap Miranda merasa puas melihat Asyifa yang hanya bisa menahan amarahnya.
"Kalau begitu aku akan tanya sama mama. Apa iya dia mengijinkanmu untuk tinggal bersama kami," sahut Asyifa menarik handphonenya dari tangan Rafa dan langsung kembali menekan nomor ibu mertuanya. Rafa kaget dan langsung menari kembali.
"Apa yang mau lakukan!" Bentak Rafa.
"Kenapa memarahiku. Aku hanya ingin bertanya pada mama. Karena dia tidak mungkin menikahkan laki-laki yang memiliki kekasih denganku," ucap Asyifa yang ikut marah.
Rafa yang penuh emosi mencengkram lengan Asyifa dan menarik handphone itu kembali.
"Urusanku dan Miranda adalah urusanku. Bukan urusanmu. Sekali kau berani mencampuri urusanku. Kau benar-benar akan berakhir di tanganku Asyifa. Jadi kuingatkan kau jangan berani-berani mengatakan sesuatu kepada orang tuaku. Semua yang terjadi ini karena ulahmu sendiri!" tegas Rafa dengan menatap tajam Asyifa.
Miranda hanya tersenyum menikmati apa yang terjadi.
" Assalamualaikum Asyifa," sahut Shofia tiba-tiba dari panggilan telepon yang ternyata Rafa tidak mematikan panggilan itu dan menyambung di telinga Asyifa.
Rafa dan Miranda terkejut mendengar suara Shofia.
" Asyifa!" tegur Shofia.
Bersambung
__ADS_1