
Miranda tidak ikut pulang Ke Apartemen. Karena sudah terjadi kekacauan dengan aduan dari Asyifa bahkan langsung memperlihatkan perbuatannya. Rafa dengan kemarahannya memasuki Apartemen nya dengan berjalan cepat menaiki anak tangga yang di pastikan kamar Asyifa.
Semenjak aduan Asyifa sampai kemamanya. Tidak henti-hentinya Rafa terus di telpon membuat Rafa semakin marah.
Brukk.
Rafa membuka pintu kamar Asyifa dengan keras dan ternyata Asyifa yang baru selesai sholat melihat ke arah Rafa. Rafa berjalan ke arah nakas dan mengambil handphone Asyifa lalu meletakkan di atas meja yang searah dengan ranjang yang mana Rafa membuat rekaman.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Asyifa yang ingin mengambil handphonenya. Namun Rafa langsung menarik tangannya dan membantingnya ke tempat tidur yang mengejutkan Asyifa dan Rafa berdiri tepat di depannya.
"Kau sangat ingin bukan mengadukan segalanya. Jadi kau bisa menunjukkan kepada orang tuaku. Bagaimana aku menyentuh menantu kesayangan mereka," ucap Rafa membuat Asyifa terkejut dengan perkataan Rafa yang seperti seorang iblis.
Asyifa melihat ke arah Rafa yang sekarang membuka kancing kemejanya satu persatu yang mengejutkan Asyifa membuat Asyifa yang berada di atas ranjang mundur dengan perlahan
"A-a-apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Asyifa dengan terbata-bata dan air matanya yang keluar yang begitu takut.
Rafa merangkak menaiki ranjang dengan seluruh kancing kemejanya yang terbuka yang menampilkan dada bidangnya. Asyifa terus mundur kebelakang yang takut dengan Rafa yang begitu menyeramkan. Namun sialnya tubuh Asyifa sudah membentur kepala ranjang dan tidak bisa mundur lagi. Saat Rafa semakin dekat dengannya. Asyifa memegang kuat seprai yang sangat ketakutan
Rafa menyunggingkan senyumnya dan mencengkram pipi Asyifa dengan satu tangannya, sehingga wajah Asyifa tepat di hadapannya yang menatap tajam Asyifa.
"Asyifa dunia ini tidak seindah yang kau pikirkan. Kau dengan berani mengadukanku kepada orang tuaku dengan merendahkan harga diriku di depan mereka bersama Miranda. Kau tau seharian ini kau sangat hebat. Kau sangat lancang, kau merasa bersinar di atasku yang membuatku tidak bicara apa-apa. Apa kau sungguh hebat Asyifa," ucap Rafa menekan suaranya.
" A-aku-a," Asyifa tidak bisa menjawab dengan kondisinya yang seperti.
"Jika kau mengganggu kesenangan ku tadi dengan kau yang membuatku menjadi malu di depan orang tuku. Maka sekarang mari kita pertontonkan malam pertama kita. Bukannya kau menginginkan semua ini," ucap Rafa dengan menyunggingkan senyumnya dan Asyifa geleng-geleng yang begitu ketakutan.
Rafa melepas cengkraman tangannya dari pipi Asyifa dengan kasar sehingga membuat wajah Asyifa jatuh kesamping.
"Aku mohon jangan lakukan itu!" Pinta Asyifa dengan Isyak tangisnya yang tidak berani menatap Rafa. Rafa mendengus kasar yang sudah di penihi amarah karena perbuatan Asyifa.
Asyifa berusaha untuk melarikan diri dari iblis di depannya. Namun Rafa menariknya langsung dan langsung menindih Asyifa. Memaksa Asyifa membuka mukenahnnya dan Asyifa sudah memberontak. Namun apa dayanya. Dia tidak mampu karena Rafa begitu kuat. Bahkan mukenah yang di pakainya sudah lepas dari tubuhnya dan Rafa kesetanannya benar-benar tidak menganggap Asyifa sebagai manusia.
Dia berusaha untuk mencium leher Asyifa. Asyifa memberontak dengan memukul-mukul dada bidang Rafa yang seperti ingin memperkosanya.
"Aku mohon lepaskan aku! Ampun!" lirih Asyifa yang bahkan sampai memohon ampunan kepada Rafa. Rafa tidak peduli. Baginya hanya ingin memberi pelajaran kepada Asyifa yang sangat berani kepadanya.
__ADS_1
"Kau akan mengingat terus kejadian ini. Ini yang kau inginkan. Karena berani mencampuri kehidupanku," tegas Rafa yang kesulitan mengecup leher Asyifa karena Asyifa terus saja melawan.
Kegilaan Rafa seperti iblis seketika berhenti ketika tidak mendengar suara Asyifa dan bahkan tangan Asyifa yang memukulnya sejak tadi juga sudah terasa lagi yang membuat Rafa mengangkat kepalanya dan melihat wajah Asyifa.
Ternyata Asyifa sudah tidak sadarkan diri. Asyifa pingsan dengan air matanya masih mengalir dan yang paling mengejutkan Rafa. Keluar darah dari hidung Asyifa membuat Rafa langsung bangkit dari tubuh kecil itu.
"Asyifa!" lirih Rafa yang seketika panik dengan kondisi Asyifa.
Rafa mencoba membangunkan Asyifa dengan menepuk pipi Asyifa. Namun sama sekali tidak terbangun.
"Apa yang terjadi padanya," ucap Rafa panik yang mencoba mengecek nadi Asyifa. Dia juga takut jika Asyifa tiba-tiba mati.
"Masih hidup!"ucap Rafa merasa lega. Rafa melihat tangan Asyifa yang terkepal yang sangat ketakutan. Rafa membuka kepalan tangan Asyifa dan melihat telapak tangan Asyifa yang terluka.
Rafa mengingat kejadian di mobil. Di mana Asyifa memecahkan kaca mobil dan pasti luka itu karena kejadian itu. Rafa menghela napasnya kedepan dan kembali mencoba membangunkan Asyifa.
Rafa juga mengusap darah di hidung Asyifa dengan tangannya dan terus membangunkan Asyifa yang tidak kunjung bangun.
"Bagaimana ini. Apa yang terjadi padanya," batin Rafa yang menjadi panik.
Rafa tidak bisa berpikir sendiri dan akhirnya menghubungi Dokter. Kebetulan teman Rafa ada Dokter yang tidak jauh dari penginapan mereka. Dokter wanita yang di panggil Rafa sekarang memeriksa kondisi Asyifa dan Rafa berdiri di depan pintu yang terlihat cemas denga memijat kepalanya beberapa kali sembari terus melihat kedalam. Wanita yang ingin di perkosanya tadi tidak sadarkan diri juga sampai detik ini.
Tidak lama Dokter itu selesai memeriksa Asyifa dan langsung menghampiri Rafa.
"Bagiamana keadaannya Tisa?" tanya Barra.
"Shock, dia sangat shock dan sepertinya ketakutan dan membuat mentalnya down. Kalau boleh tau apa yang terjadi padanya. Kenapa dia bisa seperti itu?" tanya Dokter Tisa.
Rafa diam dan tidak menjawab. Mana mungkin dia mengatakan. Jika itu karena ulahnya.
"Semoga tidak terulang lagi. Ini sangat jarang terjadi sebenarnya. Manusia yang biasa menjalani ketenangan dan tiba-tiba di hadapkan dengan sesuatu yang membuatnya shock dan lama-kelamaan membuat mentalnya bisa berantakan. Saranku kamu jauhkan dia dari hal-hal seperti itu. Nanti bisa berpengaruh lada kesehatannya," ucap Dokter Tisa.
"Iya!" jawab Rafa.
"Baiklah kalau dia sadar, berikan obatnya. Agar dia tenang," ucap Dokter.
__ADS_1
"Baiklah. Jadi masalah hidungnya mengeluarkan darah apa itu tidak apa-apa?"tanya Rafa yang terlihat sangat khawatir.
"Hidungnya mengeluarkan darah. Itu akibat tekanan fkisnya, makanya aku mengatakan. Hindari yang membuat dirinya seperti itu. Nanti bisa semakin berbahaya," ucap Dokter menyarankan pada Rafa.
"Baiklah!" sahut Rafa
"Ya sudah aku permisi dulu!"ucap Dokter Tisa yang langsung pergi dan Rafa mengangguk.
Setelah kepergian Dokter tersebut perlahan Rafa menghampiri Asyifa yang terbaring di ranjang. Masih terlihat pipi Asyifa yang merah akibat Cengkraman Rafa. Jika di tanya kejam. Rafa memang sangat kejam yang membuat Asyifa sampai pingsan.
Rafa berdiri di pinggir ranjang yang hanya mihat Asyifa dengan tatapan yang tak terbaca. Tidak tau Rafa menyesal atau tidak melakukannya.
Dratttt Dratttt Dratttt Dratttt Dratttt.
Ponsel Rafa berdering dan Rafa langsung mengangkatnya.
"Ada apa Miranda?" tanya Rafa.
"Kamu di mana. Kenapa belum datang. Aku sendirian di hotel. Kamu tidak ada rencana untuk melanjutkan kegiatan kita tadi. Aku menunggumu Rafa," ucap Miranda dengan suaranya yang menggoda Rafa.
"Aku tidak bisa pergi. Kau istirahatlah!" ucap Rafa.
"Rafa kau sedang tidak bersama wanita itu kan?" tanya Miranda.
"Aku tutup dulu telponnya," ucap Rafa yang langsung mematikan panggilan itu.
Rafa membuang napasnya perlahan kedepan dan kembali menatap wajah Asyifa. Setelah banyak yang di lalui Asyifa. Namun Asyifa yang tertidur itu terlihat sangat tenang dan sangat adem membuat Rafa tidak berhenti menatap wajah yang jauh lebih cantik di bandingkan dengan Miranda.
Wajah Asyifa saat memakai jilbab dan tidak memakai jilbab sama cantiknya. Namun saat melepas jilbab wajah Asyifa terlihat sangat cantik dan mungkin Rafa orang yang beruntung yang bisa melihat wajah itu dengan rambut panjang yang terurai.
Wajah polos tanpa make-up sangat natural namun sangat cantik. Sangat berbeda dengan Miranda yang lebih dengan makeup dan bahkan tubuh yang terxpose yang semua orang bisa melihatnya.
Namun Asyifa hanya Rafa lah yang harus melihat wanita tanpa di lihat orang lain. Tidak bisa melihat terus wajah Asyifa yang seperti itu membuat Rafa akhirnya meninggalkan kamar itu.
Bersambung
__ADS_1