Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 81


__ADS_3

"Berani sekali kalian mengganggunya," umpat Rafa dengan emosi yang mana 3 pria itu mendapat masing-masing pukulan dari Rafa dan sampai pria itu tersungkur di lantai dan mengambil kesempatan untuk lari.


"Aku tidak akan mengampuni kalian ber-3," teriak Rafa yang ingin mengejar, namun Asyifa langsung menghentikan dengan memegang lengan Rafa.


"Kak Rafa sudah," ucap Asyifa, Rafa mengatur napasnya yang naik turun yang masih terbawa amarah melihat ke arah Zee dan sekarang melihat ke arah Asyifa dengan tatapan Rafa yang tajam. Bahkan melepaskan tangannya dari pegangan Asyifa.


"Siapa menyuruhmu pergi tanpa minta izin kepadaku?" tanya Rafa dengan menekan suaranya yang mana amarahnya tidak akan padam yang sekarang semakin marah pada Asyifa.


"Kak Rafa, Zee....."


"Aku bertanya pada Asyifa, bukan padamu!" bentak Rafa yang memotong pembicaraan Zee saat Zee kelihatan ingin membela Asyifa. Asyifa yang merasa salah menundukkan kepala di depan Rafa.


"Kau sudah merasa paling hebat, punya keberanian besar. Sampai datang ketempat seperti ini. Apa kau ingin menunjukan lagi betapa hebatnya dirimu," bentak Rafa yang marah-marah pada Asyifa.


Jelas Rafa marah. Asyifa pergi tanpa izin dan terlebih lagi datang ketempat yang Rafa tau itu berbahaya dan kelas bahaya itu terlihat di depan matanya dan tidak tau apa yang terjadi pada istrinya jika dia terlambat sedikit saja.


"Ayo pulang!" Rafa langsung menarik tangan Asyifa kasar yang membawa Asyifa keluar dari tempat itu.


"Ya ampun bagaimana ini. kak Asyifa pasti di marahi kak Rafa terus. Apa yang harus aku lakukan," batin Zee yang panik yang melihat kemarahan Rafa pada Asyifa.


Zee pun langsung menyusul sang kakak dan kakak ipar yang keluar dari Club tersebut menuju mobil.


"Kau benar-benar membuatku marah Asyifa. Masuk mobil sekarang!" titah Rafa dengan menekan suaranya.


"Aku dan Zee tadi bawa mobil kak. Jadi...."


"Jadi apa lagi!" teriak Rafa membuat Asyifa kaget dan memejamkan matanya yang akan pasrah mendapat kemarahan suaminya.


"Kak Rafa, jangan terus memarahi kak Asyifa. Kami ketempat ini juga ada alasannya," sahut Zee tidak tega melihat kakak iparnya.

__ADS_1


"Apa alasan kalian, menemui Miranda hah! lalu apa yang kalian dapatkan hah! seperti tadi!" bentak Rafa. Zee dan Asyifa tidak punya jawaban apa-apa.


"Jangan membuatku tambah marah Asyifa. Sekarang kamu masuk dan kamu Zee bawa mobil yang kalian bawah," tegas Rafa. Zee menganggukkan kepalanya. Lebih baik menurut dari pada Rafa semakin marah kepadanya.


"Kamu hati-hati Zee," ucap Asyifa yang memasuki mobil suaminya DNA Rafa juga menyusul.


"Semoga saja kak Rafa tidak terus menyalahkan kak Asyifa," batin Zee yang hanya bisa berharap saja.


*********


Di dalam mobil. Raga menyetir dengan wajahnya yang memerah yang amarahnya belum padam dan Asyifa di sampingnya sangat takut-takut jika harus berbicara. Takut membuat emosi Rafa meledak-ledak.


"Maafkan Asyifa kak Rafa," ucap Asyifa dengan lembut yang mengakui kesalahannya.


"Kau jangan mengajakku bicara di sini. Aku bisa menabrakkan mobil ini nanti," ucap Rafa dengan pelan. Namun sangat mengancam membuat Asyifa diam. Ya tidak ingin membuat emosi suaminya menggebu-gebu dan mereka jadi celaka, lebih baik Asyifa diam sampai nanti di rumah dia pun pasrah dengan konsukuensi karena pergi begitu saja tanpa izin.


**********


"Membuka ponselku dan dengan sok hebat kau menemui Miranda tanpa mengatakan apa-apa kepadaku," ucap Rafa marah-marah di depan Asyifa yang berdiri di depannya.


"Asyifa minta maaf kak Rafa, sudah lancang membuka pesan di handpdhone kak Rafa, maafkan Asyifa yang pergi tanpa izin," ucap Asyifa dengan lembut.


"Lalu kenapa kau tidak mengangkat telpon ku?" teriak Rafa dengan kesal.


Asyifa mengeluarkan handphonenya dari tasnya dan melihat banyaknya panggilan suaminya.


"Maaf kak Rafa, Asyifa tidak tau jika kak Rafa menelpon Asyifa," jawab Asyifa dengan merasa tidak enak.


"Kau selalu banyak Asyifa, kau sengaja membuatku khawatir. Kau pikir dengan datang ke tempat itu masalah bisa selesai. Aku sudah mengatakan aku yang bertanggung jawab untuk semua ini. Apa kau tidak bisa mendengarku," teriak Rafa.

__ADS_1


"Tapi Asyifa hanya ingin Miranda sadar dan Asyifa juga tidak mau kak Rafa pergi menemuinya," sahut Asyifa.


"Aku bisa melakukan apa yang menurutku benar dan seharusnya kau tidak mencampurinya," sahut Rafa. "dan bukannya mengangkat telpon kau malah melakukan hal lain, apa gunanya kau memakai handphone itu!" teriak Rafa menarik ponsel Asyifa dari tangan Asyifa dan membantingnya kelantai membuat Asyifa terkejut dengan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Rafa menghela napasnya dengan mengusap mulutnya dan terus mengatur napasnya.


"Kau benar-benar membuatku marah Asyifa. Aku sudah mengatakan jangan mencampuri masalah ini. Tetapi kau selalu menunjukkan jika kau merasa paling hebat dan bisa menghadapinya. Jangan mentang-mentang gara-gara dirimu aku mendapatkan klien kembali. Jadi kau juga semakin menunjukkan jika kau sangat hebat dan bisa menyelesaikan masalah dan kau lebih hebat dari padaku," ucap Rafa merendahkan suaranya.


"Asyifa tidak bermaksud dengan niat seperti itu," ucap Asyifa dengan matanya berkaca-kaca.


Rafa tidak mau mendengar lagi atau bicara lagi. Takut semakin tidak bisa mengontrol dirinya dan Rafa pergi dari hadapan Asyifa untuk menenagkan dirinya.


"Maafkan Asyifa kak Rafa," batin Asyifa yang melihat nanar kepergian suaminya dan Asyifa melihat ke lantai yang mana handphonenya sudah jadi kepingan dan pasti tidak bisa terpakai lagi.


*********


Mentari pagi telah tiba. Rafa siap-siap di kamar yang ingin pergi pastinya dengan setelan jas hitam dan sekarang sedang memakai dasi. Asyifa memasuki kamar dan melihat suaminya yang bersiap-siap.


"Kak Rafa pasti masih marah padaku. Di sejak tadi malam tidak bicara lagi padaku," batin Asyifa yang merasa sedih dengan suaminya yang begitu dingin kepadanya.


"Bersiaplah, aku mengadakan konferensi pers bersama keluarga hari ini. Kau harus ikut," ucap Rafa yang melihat Asyifa dari cermin.


Setelah bicara sesingkat itu Rafa langsung berjalan mengambil tasnya dan pergi melewati Asyifa begitu saja. Namun Asyifa langsung menahannya.


"Maafkan Asyifa. Tolong jangan marah lagi," ucap Asyifa yang tidak akan puas. Jika suaminya itu belum memberinya maaf.


"Jangan membuang-buang waktu. Cepat bersiap," ucap Rafa mengingatkan Asyifa dan melepas tangan Asyifa dari tangannya. Lalu dengan cueknya Rafa langsung keluar dari kamar tersebut dan Asyifa hanya semakin sedih yang masih belum mendapatkan maaf dari suaminya.


"Ya Allah, Asyifa tau apa yang Asyifa lakukan pasti membuat kak Rafa kesal. Hambah mohon ya Allah untuk engkau yang meluluhkan hati kak Rafa," batin Asyifa yang hanya bisa berdoa saja.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2