Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 190


__ADS_3

Baru memperbaiki rumah tangga terasa sangat canggung di antara Abian dan juga Zee. Keduanya yang sama-sama berada di dalam kamar di atas tempat tidur dengan bersandar pada kepala ranjang. Diam tanpa mengatakan apa-apa dan memang bingung, salah tingkah, gugup, harus memulai pembicaraan seperti apa.


"Kamu belum mau tidur," ucap ke-2nya dengan serentak yang sama-sama bertanya. Namun ke-2nya langsung sama-sama tersenyum dan jadi salah tingkah dengan Zee menggaruk-garuk lehernya yang tidak gatal sama sekali.


"Siapa yang mau duluan jawab?" tanya Abian.


"Kak Abian aja," sahut Zee yang ternyata sudah mengubah panggilannya kembali memanggil Abian menjadi kak.


"Aku belum mau tidur," jawab Abian. Zee mengangguk-angguk saja yang bingung harus bicara apa lagi.


"Bagaimana dengan kamu? apa kamu sudah mau tidur?" tanya Abian.


"Belum ngantuk juga," jawab Zee sembari menggelengkan kepalanya.


"Hmmm, jadi kita harus ngapain?" tanya Abian dengan pelan.


"Memang mau ngapain?" tanya Zee dengan hati-hati yang jantungnya sekarang berdetak tidak aman. Benar-benar sangat gugup.


"Ya terserah. Kita juga belum mau tidurkan," sahut Abian mengangkat ke-2 bahunya dengan terus melihat Zee membuat Zee semakin gugup.


"Kenapa aku jadi tidak punya pembahasan. Kenapa aku terus jadi salah tingkah seperti ini," batin Zee yang bingung harus bicara apa lagi.


"Kak Abian. Apa selamanya kita akan tidur di kamar yang sama?" tanya Zee dengan hati-hati. Abian tersenyum dengan mendekati Zee dan meraih tangan Zee di genggam dengan ke-2 tangannya dan dan Abian berada di hadapan Zee yang posisi Zee juga sudah duduk tegap di hadapan Abian.


"Kita sudah menikah dan seharusnya kita memang harus 1 kamar. Kita tinggal bersama di sini," ucap Abian dengan lembut yang terus menatap Zee. Zee bisa pingsan kalau terus di tatap terus seperti itu.


"Jadi kita bisa akan terus seperti ini?" tanya Zee.


"Iya akan tetap seperti ini," jawab Abian membuat Zee tersenyum.


Abian membelai-belai anak rambut Zee dengan mengelus pipi Zee dengan lembut yang membuat Zee semakin dek-dekan dengan jantungnya yang semakin tidak bisa di kondisikan.


"Maafkan aku Zee," ucap Abian.


"Bukannya minta maaf nya sudah?" tanya Zee.


"Tapi untuk kesalahan ku. Tidak cukup hanya dengan 1 maaf. Jadi aku benar-benar ingin minta maaf lagi padamu. Maafkan dengan semua yang aku lakukan dan juga caraku yang memperlakukanmu dengan kasar. Dan untuk kejadian malam itu aku juga minta maaf. Karena memaksamu melakukan hal itu. Yang pasti kamu sangat tersakiti. Aku benar-benar sangat menyesali semuanya," ucap Abian dengan tulus meminta maaf pada Zee.


"Sudahlah kak Abian. Aku sudah melupakan semuanya. Bukannya kita berdua ingin memperbaiki hubungan kita. Jadi untuk apa kita harus melihat-lihat ke arah belakang lagi. Kita punya masa depan dan sekarang masa depan kita sedang menyambut kita berdua," ucap Zee yang memang sudah tidak ingin membahas masa lalu mereka.


"Kamu benar," ucap Abian yang mencium lembut kening Zee membuat mata Zee terpejam mendapatkan ciuman hangat itu.

__ADS_1


"Sekarang kita berdua istirahat?" tanya Abian. Zee menganggukkan kepalanya dan mereka bergegas untuk berbaring di posisi masing-masing. Namun Abian mengambil kesempatan dengan meraih Zee untuk berada di dalam pelukannya dan pasti Zee begitu terkejut saat Abian memeluknya begitu erat.


Namun pasti Zee tersenyum yang tidak percaya dengan Abian yang berubah menjadi manis dan semakin membuat jantungnya berdetak.


***********


SMA Harapan Jaya.


Bel sekolah terdengar yang pertanda sekolah berakhir dan para murid pulang sekolah. Seperti biasa Azka yang pasti di jemput supir. Walau Azka anak orang kaya. Sangat populer di sekolah. Bukan berarti hidupnya harus gaya-gayaan dengan pergi pulang sekolah naik motor gede atau mobil mewah kebanyak anak-anak yang lainnya.


Azka tetap menjadi orang yang sederhana dengan Azka yang selalu di antar dan di jemput supir dan pasti dengan mobil yang mewah dan sangat mewah. Azka pun memasuki mobil dan supir langsung melajukan mobil dengan kecepatan santai. Karena masih banyak anak-anak sekolah lainnya yang berjalan.


Saat Azka duduk tiba-tiba Azka melihat Rachel yang berjalan sendirian dengan ear phone di telinganya dengan ke-2 tangannya yang berada di tali ransel tasnya.


"Pak berhenti sebentar!" titah Arga dan supir pun menghentikan mobilnya dan Azka langsung menurunkan kaca mobil.


"Rachel!" panggil Azka membuat Rachel menghentikan langkahnya yang kebetulan tepat di samping mobil Azka.


"Ada apa?" tanya Rachel.


"Ayo pulang bersama. Rumah kita bukannya 1 arah!" ajak Azka. Rachel tampak bingung dan melihat kelain arah yang mungkin tidak ingin ikut Azka atau segan harus menolak Azka.


"Ayo Rachel!" ajak Azka lagi.


"Masuklah! bukannya seharunya kamu bertanya masalah tugas kepadaku. Kan Bu Rania menyuruh kamu untuk meminta bantuan ku," ucap Azka yang membuat Rachel semakin bingung. Namun Azka langsung membuka pintu mobil dan menggerakkan kepalanya kode untuk masuk kedalam mobil.


Rachel menghela napasnya dan mau tidak mau harus masuk kedalam mobil membuat Azka tersenyum dan bergeser tempat duduk agar Rachel bisa duduk di sebelahnya.


"Jalan pak!" titah Azka pada pak supir dan pak supir langsung mengangguk dan menjalankan mobilnya.


"Kamu tidak terpaksa kan untuk pulang bersamaku?" tanya Azka.


"Aku terpaksa. Karena takut kamu tidak mau mengajariku dan nanti Bu Rina bisa mengomeliku lagi," jawab Rachel yang jujur apa adanya dan membuat Azka tersenyum.


"Kalau begitu aku meminta maaf," sahut Azka.


"Sangat muda meminta maaf," sahut Rachel dengan dingin. Azka tidak bicara lagi dan mereka diam sejenak yang duduknya lumayan berjauhan. Rachel di pinggir dan Azka juga di pinggir.


Tidak lama dalam perjalanan. Mobil yang membawa Azka dan Rachel berhenti di depan rumah mewah dan membuat Rachel bingung dengan melihat kesekitarnya.


"Ini rumah siapa?" tanya Rachel heran.

__ADS_1


"Ini rumahku," jawab Azka.


"Lalu untuk apa aku berhenti di sini?" tanya Rachel.


"Bukannya aku harus membantumu menyelesaikan tugasmu. Jadi kita bisa mengerjakannya di rumahku," ucap Azka.


"Tapi kamu tidak mengatakan sebelumnya kepadaku," sahut Rachel yang kelihatannya kaget.


"Sekarang aku sudah mengatakannya dan sekarang kamu buruan untuk turun," ucap Azka yang membuka pintu mobil terlebih dahulu.


"Azka tunggu! apa-apaan ini! Azka!" Rachel yang panik mau tidak mau harus turun dari mobil mengikuti Azka dan Azka tersenyum melihat Rachel Sisiwi yang begitu cuek dan sering diam sekarang mau tidak mau menuruti Azka.


"Assalamualaikum!" sapa Azka yang sudah memasuki rumah dan Rahel berada di belakangnya yang terlihat bingung dan terus melihat kesekitarnya.


"Walaikum salam! Azka kamu sudah pulang," sahut Rania. Azka langsung menghampiri ibunya dan mencium punggung tangan sang ibu.


"Iya ibu," sahut Azka.


Rania melihat ke arah Rachel, "kamu Rachel bukan?" tanya Rania.


"Iya Tante," sahut Rachel yang juga mencium punggung tangan Rania.


"Ya ampun kamu apa kabar. Kita baru sekali bertemu saat di pengadilan," ucap Rania.


"Saya baik-baik aja Tante," jawab Rachel.


"Azka tumben bawa temannya ke rumah. Biasanya tidak pernah?" tanya Rania yang menatap sang anak penuh selidik.


"Azka ada tugas bersama dengan Rachel Bu. Jadi kita ingin mengerjakannya di sini," jawab Azka.


"Tugas kelompok maksudnya?" tanya Rania.


"Bukan Tante. Guru di sekolah Rachel menyuruh Azka untuk mengajari Rachel. Karena nilai matimatika Rachel sangat rendah. Hanya saja tiba-tiba Azka mengajak Rachel kemari tanpa mengatakan pada Rachel kalau akan mengerjakannya di rumahnya," sahut Rachel yang begitu jujur membuat Azka menghela napasnya dan Rania melihat sang anak dengan tatapan mengintimidasi.


"Azka kamu nakal sekali. Masa iya memaksa teman kamu untuk datang kerumah," sahut Rania dengan geleng-geleng.


"Bukan begitu ibu," sahut Azka garuk-garuk kepala yang jadinya kebingungan.


"Sudahlah, kalian berdua sudah terlanjur juga ada di sini. Jadi sebaiknya kalian kerjakan tugas saja ibu akan menyiapkan makanan," ucap Rania yang sangat ramah.


"Tapi Tante, nggak usah repot-repot," sahut Rachel

__ADS_1


"Tidak ada yang repot Rachel. Kamu sama Azka happy ya. Tante tinggal ke dapur dulu," ucap Rania tersenyum dan langsung pergi. Rachel jadi merasa tidak enak dengan ibu Azka yang super super baik.


Bersambung


__ADS_2