
Rafa benar-benar memperlakukan istrinya dengan baik. Bahkan tidak ingin istrinya itu capek atau repot-repot dalam segala hal. Benar-benar Asyifa di kurung di dalam kamar bak putri yang sedang di pingit. Yang adanya Asyifa akan bosan karena sejak pagi tadi Asyifa hanya berada di atas tempat tidur saja dengan bersandar di kepala ranjang.
Krekkk.
Rafa memasuki kamar dengan membawa kantung plastik yang tidak tau apa lagi yang di bawa Rafa itu yang membuat Asyifa heran. Rafa langsung duduk di samping Asyifa. Dan mengeluarkan apa yang di bawa Rafa ternyata makanan.
"Untuk apa ini kak Rafa?" tanya Asyifa heran.
"Ya untuk di makan lah," jawab Rafa.
"Tapi kan Asyifa tadi sudah makan," sahut Asyifa Asyifa.
"Itu sarapan pagi Asyifa dan sekarang sudah siang yang artinya kamu juga makan siang. Apa iya kamu harus makan satu kali sehari," ucap Rafa.
"Ya ampun kak Rafa seharusnya tidak repot-repot menyiapkan semua ini. Asyifa tidak bisa tadi memesannya," sahut Asyifa yang merasa tidak enak. Sejak tadi suaminya itu selalu saja melayaninya. Dia yang tidak terbiasa pasti merasa tidak enak. Karena biasanya Asyifa yang menyiapkan segalanya.
"Sudahlah Asyifa, kamu itu jangan banyak protes selagi aku mau melakukannya. Lalu kenapa tidak. Sudah kamu jangan banyak komplen, sekarang buka mulut kamu dan mulai makan," tegas Rafa.
"Di suapi juga," sahut Asyifa.
"Kenapa? tidak mau di suapi olehku?" tanya Rafa.
"Bukan begitu kak Rafa. Hanya saja Asyifa kan bisa makan sendiri," sahut Asyifa.
"Jadi bagaimana. Kamu mau apa tidak?" tanya Rafa yang membuat pilihan.
Asyifa yang takut Rafa marah. Lagian tidak apa-apa juga untuk Asyifa di suapi makan. Bukannya itu juga yang di inginkan Asyifa yang romantis dengan suaminya.
"Ya sudah kalau tidak mau," Rafa berniat berdiri. Karena rada kesal dan langsung di setopkan Asrida dengan memegang tangan Rafa.
"Jangan seperti itu kak Rafa. Duduklah kembali. Kita makan bersama," ucap Asyifa.
"Bukannya kau menolak untuk makan?" tanya Rafa.
Asyifa dengan cepat menggelengkan kepalanya, "siapa juga yang menolak tidak kok sama sekali," sahut Asyifa.
__ADS_1
Rafa menghela napasnya dan kembali duduk. Rafa juga sedikit-sedikit ngambek. Si Rafa benar-benar ya bucin sih bucin tetapi seperti anak kecil.
"Lalu Zee bagaimana. Apa Zee sudah makan?" tanya Asyifa.
"Asyifa, Asyifa, Zee itu sudah dewasa dan pasti bisa cari makan sendiri. Kamu jangan terus memikirkannya. Kita itu lagi berdua. Apa tidak bisa kamu itu fokus padaku saja. Lihat aku dan cukup yang kamu pikirkan hanya aku," tegas Rafa yang mulai menuntut kepastian. Asyifa mendengarnya tersenyum. Sudah sangat jelas dari perkataan suaminya itu. Jika suaminya tidak ingin ada yang di pikirkan istrinya selain dirinya.
"Aku serius bicara. Jangan malah tersenyum," tegas Rafa.
"Namanya kak Rafa lucu," sahut Asyifa.
"Malah ketawa lagi," geram Rafa yang merasa di ejek, "sudah-sudah sekarang kamu sebaiknya makan jangan banyak protes dan jangan banyak teori lagi," ucap Rafa dengan tegas.
"Baik kak Rafa, sif," sahut Asyifa dengan hormat. Rafa hanya geleng-geleng dengan kelakuan istrinya
Lagi-lagi Rafa dan Asyifa makan di dalam kamar. Sudah seperti pengantin baru saja. Ya kalau bisa di katakan memang mereka baru saat ini di katakan pengantin baru.
Yang mana bersama dengan bersilah kaki dengan Rafa yang menyuapi Asyifa dan Asyifa pun dengan senang hati menerima suapan dari Rafa.
"Kak Rafa juga Akkl," ucap Asyifa yang menyodorkan pada Rafa. Dia juga ingin menyuapi Rafa dan Rafa pasti menerima suapan itu. Asyifa juga sepertinya sudah tidak terlalu malu-malu lagi, bahkan Asyifa juga mengusap bibir Rafa yang terdapat minyak makanan.
Rafa pasti kaget dengan tingkah Asyifa yang semakin lama semakin berani padanya.
"Kenapa harus minta maaf," sahut Rafa.
"Asyifa sudah lancang," sahut Asyifa.
"Lancang kenapa?" tanya Rafa.
"Yang tadi. Pasti kak Rafa tidak nyaman," sahut Asyifa.
"Tidak perlu minta maaf Asyifa. Aku ini suamimu dan tidak perlu minta maaf. Bahkan hal lebih pun jika ingin kamu lakukan. Tidak perlu juga kamu minta maaf," ucap Rafa membuat Asyifa tertunduk malu.
"Sudahlah kak Rafa. Kita makan saja," sahut Asyifa dengan mengangguk malu. Rafa menyunggingkan senyumnya melihat kelakukan istrinya
"Hmmm, lalu bagaimana. Apa kamu sudah tidak merasa sakit lagi?" tanya Rafa, Asyifa yang tadi minum jadi terbatuk-batuk dengan mendengar kata-kata Rafa yang pasti menyinggung masalah malam mereka.
__ADS_1
"Kak Rafa ini bicara apa sih," sahut Asyifa dengan malu-malu dengan Rafa yang mengungkit masalah itu.
"Baiklah Asyifa aku tidak akan mengungkit hal itu lagi," ucap Rafa yang juga tidak mau mengganggu istrinya lagi. Karena dia tau Asyifa malu-malu mendengar hal itu.
"Ya sudah kak Rafa kita makan aja lagi," ucap Asyifa. Rafa menganggukkan kepalanya dan kembali menyuapi Asyifa.
"Jika kondisi kamu lebih besok. Aku ingin mengajakmu jalan-jalan," ucap Rafa.
"Mau kemana?" tanya Asyifa heran.
"Kemana aja yang kamu mau," jawab Rafa.
"Baiklah kalau begitu. Asyifa pasti jauh lebih baik besok," sahut Asyifa dengan mengangguk tersenyum. Sangat menyenangkan di ajak suaminya
**********
Mentari pagi kembali tiba. Ternyata kondisi Asyifa yang sudah baik-baik saja. Akhirnya dia dan Rafa bisa jalan-jalan. Mereka tidak henti-hentinya menghabiskan waktu bersama dengan jalan-jalan.
Kali ini jalan-jalan mereka mendatangi tempat-tempat bersejarah para nabi ke makam para nabi dan mendatangi masjid-masjid yang penuh dengan sejarah.
Baik Asyifa dan Rafa sama-sama menikmati liburan mereka dengan sempurna yang mana mereka terlihat bahagia dan tidak lupa pastinya mengabadikan foto-foto mereka dan mengirim kepada keluarga.
Sampai foto-foto itu sudah sampai ke Jakarta yang di lihat oleh Shofia, Xander, Shania dan Ardi.
"Rafa dan Asyifa benar-benar umroh?" tanya Shofia yang terpekik kaget.
"Benarkah," sahut Shania yang juga tidak percaya dan langsung melihat handphone mamanya dan melihat foto-foto Asyifa dan Rafa yang benar-benar menjalankan ibadah umroh.
"Zee juga mengatakan hal seperti itu. Dia bilang juga Rafa belakangan ini terlihat aneh yang sangat tidak suka di ganggu boleh Zee dan Zee suka ingin di usir," sahut Xander.
"Benarkah sampai seperti itu," sahut Ardi yang pasti juga terkejutnya.
"Wau kalau begitu itu adalah kabar baik. Berarti ada hikmah. Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka berdua," sahut Xander.
"Wau, kalau begitu. Mama jelas harus bikin syukuran untuk hal ini," sahut Shofia dengan bahagianya.
__ADS_1
"Mama ini berlebihan," sahut Shania yang mana mereka tertawa-tawa bersama-sama karena bahagianya dengan Asyifa dan Rafa yang semakin membaik pastinya
Bersambung