Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 243


__ADS_3

Suasana di antara semuanya masih penuh dengan ketegangan di antara yang lainnya. Asyifa yang memberikan nasehat untuk sepupunya dan mungkin sepupu-sepupu Asyifa juga menyadari semua nasehat yang di katakan Asyifa.


"Sayang sudahlah," ucap Rafa yang mencoba menengakan istrinya.


"Dedi sebaiknya kamu lihat dulu kedalam bagaimana ke adaan Syira!" ucap Rafa.


Dedi masih tampak ragu dan bahkan melihat kearah Willo.


"Kamu masuklah," ucap Willo yang memberi izin dan Dedi tidak banyak bicara lagi dan langsung masuk.


"Asyifa kamu jangan salah paham dulu Asyifa. Tante memang jujur tidak terlalu menyukai Syira dan kecewa pada Syira. Tetapi bukan berarti Tante semena-mena dengan Syira. Dia di rumah di perlakukan dengan baik dan mungkin jika Tante masih dingin kepadanya. Itu karena semuanya butuh waktu dan Tante juga tidak pernah tau bagaimana Dedi memperlakukan Syira. Tante pikir juga semuanya baik-baik saja. Karena niat awalnya Dedi yang ingin menikahi Syira yang artinya hubungan mereka baik-baik saja sebelumnya dan Tante tidak ikut campur selama mereka menikah," jelas Willo yang tidak ingin Asyifa salah paham. Karena dia juga pasti punya hati nurani.


"Mungkin yang terjadi ini. Karena keegoisan kami dan kami mengakui salah," sahut Lulu.


"Tante, kak Lulu. Asyifa bukannya mau ikut campur dengan apa yang terjadi hanya saja hal ini sangat tidak enak di lihat. Jika orang tua Syira mengetahui hal ini. Pasti mereka marah dan nama keluarga kita juga akan di cap buruk," ucap Asyifa.


"Iya Asyifa. Kami paham dengan apa yang kamu maksud," sahut Willo.


"Sudahlah. Kita jadikan saja semua ini pelajaran kedepannya. Tidak menyukai Syira tidak bisa di paksakan harus menyukainya. Namun kita harus tetap menerima semua ini. Karena ini sudah jalan dari yang kuasa," ucap Rafa menambahi sedikit.


"Iya," sahut Willo.


"Ohhh, jadi Syira belum di terima penuh di keluarga kak Dedi. Bahkan dia seperti orang asing dan tidak ada yang peduli. Pantesan di tengah dia yang sakit ke apotik sendiri. Ternyata orang-orang di lingkungannya tidak menerimanya. Ya salah sendiri sih. Siapa nyuruh seperti itu. Dia juga sih yang mencari masalah," batin Zee yang cukup kaget dengan kehidupan pernikahan Syira yang ternyata tidak sesuai ekspektasinya.


**********


Syira yang sudah siuman dan sudah bangun kembali dan Dedi berada di ruangannya yang berdiri di samping tempat tidurnya.


"Kamu sengaja melakukan semua ini?" pertanyaan itu yang keluar dari mulut Dedi pertama kalinya saat Syira bangun.


"Apa maksud kamu?" tanya Syira.


"Mencari perhatian semua orang. Ingin di kasihani dan aku yang di salahkan. Apa belum cukup dengan semua yang kamu lakukan, menghancurkan hidupku," ucap Dedi yang menguatkan nada suaranya.

__ADS_1


"Kamu bilang cari perhatian. Dedi aku itu pingsan tidak sadarkan diri dan aku mencari obat ke apotik sendirian dan sebelumnya aku sudah menyuruhmu dan kau tidak peduli. Lalu kau mengatakan aku mencari perhatian," ucap Syira dengan suaranya yang tertahan.. Kondisinya masih lemas.


"Jadi maksud aku yang harus melakukannya!" sentak Dedi.


Ternyata ceramah Asyifa tidak mempan. Dia tetap tidak peduli dan malah menyalahkan Syira.


"Syira di rumahku ada pembantu. Kau bisa menyuruh mereka jangan sok-sokan dan sekarang ini yang terjadi. Lagi dan lagi kau benar-benar tidak bisa membuatku hidup tenang," tegas Dedi yang emosi.


Air mata Syira sudah jatuh. Kondisi tidak sehat di marahi pula. Siapa yang tidak sedih.


"Apa kau tidak puas sudah menjebakku dalam pernikahan ini. Jika kau tidak menyukai semua perlakukan ku dan juga keluargaku, kau itu...."


"Ceraikan aku," sahut Syira yang memotong pembicaraan Dedi.


Dia mungkin sudah tidak tahan dan akhirnya menyerah dengan pernikahan yang belum sampai seumur jagung. Mendengar kata cerai membuat Dedi mendengus kasar mungkin sangat kocak baginya dengan kata cerai itu.


"Apa katamu barusan? cerai! hey kau pikir semua yang sudah kau lakukan akan semudah itu iya. Eh Syira tidak semudah itu. Jika hidupku berantakan. Kau juga harus lebih berantakan," sahut Dedi yang ternyata tidak mudah melepaskan Syira begitu saja.


"Apa yang kau inginkan. Apa kau ingin aku perlahan mati di tangamu?" tanya Syira.


"Semuanya tidak akan berakhir Syira dengan semua yang kau lakukan dan itu akibatnya jika bermain-main denganku," tegas Dedi yang meninggalkan ruangan itu langsung.


Syira hanya menangis dengan luka hatinya yang semakin besar. Pasti tidak di sangkanya jika kehidupannya akan seperti ini dan ini sangat kuat biasa sakitnya baginya.


***********


Syiria masih berada di rumah sakit dan Asyifa tadi yang sudah pulang kembali kerumahnya kita yang di temani Zee. Rafa kebetulan ada meeting mendadak. Jadi tidak bisa mengantar istrinya dan berjanji akan menjemput Asyifa dan Zee nanti.


Jika kerumah sakit Asyifa pasti tidak hanya dengan tangan kosong. Asyifa tidak lupa membawa makanan untuk Syira dan karena sudah berpengalaman hamil muda lebih dulu. Jadi Asyifa sudah tau apa yang harus di bawanya untuk ibu hamil muda.


"Kamu tidak masuk Zee?" tanya Asyifa ketika mereka sudah berada di depan pintu ruang perawatan Syira.


"Aku tunggu di luar aja kak," jawab Zee.

__ADS_1


"Kamu yakin?" tanya Asyifa. Zee mengangguk.


"Ya sudah aku masuk duluan ya," ucap Asyifa yang langsung masuk.


"Mau masuk juga mau ngapain. Nggak ada keperluan juga," gumam Zee yang memang kalau masuk juga tidak ada gunanya dan lebih baik Zee menunggu diluar saja.


Asyifa yang memasuki kamar tersebut dan hanya ada Syira sendirian. Tidak tau juga di mana yang lainnya.


"Assalamualaikum!" sapa Asyifa.


"Walaikum salam," jawab Syira.


"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Asyifa dengan ramah.


"Aku baik-baik saja. Sudah enakan juga," jawab Syira.


"Alhamdulillah kalau begitu. Oh iya aku bawakan makanan untuk kamu," ucap Asyifa yang membuka makanan yang sudah di bawahnya.


"Ini bagus kesehatan kamu. Cocok untuk kesehatan kamu," ucap Asyifa.


"Makasih Asyifa kamu sudah repot-repot," ucap Syira.


"Tidak ada yang repot," jawab Asyifa.


"Oh iya bagaimana dengan orang tua kamu. Apa kamu sudah menghubungi mereka?" tanya Asyifa.


"Tidak. Aku tidak memberi tahu mereka keadaanku," jawab Syira.


"Kenapa?" tanya Asyifa heran.


"Aku malu. Jika memberitahu mereka," jawab Syira.


Mungkin Syira juga serba salah. Jika memberi tahu keluarganya Dedi akan semakin marah dan pasti memang dia juga malu menceritakan ke adaannya.

__ADS_1


"Ya sudah tidak apa-apa kamu punya hak untuk hal itu. Ya sudah sekarang kamu makan ya," ucap Asyifa yang tidak ingin Syira jadi kepikiran.


Bersambung


__ADS_2