Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Bab 118


__ADS_3

Asyifa menceritakan kepulihan yang di alaminya dengan air matanya yang mengalir terus dan sengugukan yang tidak akan membayangkan apa yang akan terjadi jika tidak ada yang menolongnya. Jujur Rafa yang mendengarnya sangat prihatin dan langsung memeluk istrinya dengan mata Rafa yang berkaca-kaca memeluk Asyifa dengan erat.


"Maafkan aku Asyifa, aku lagi-lagi sempat berpikir buruk padamu. Tapi aku tidak tau apa kau alami. Kau berusaha mempertahankan kehormatanmu sebagai istri dengan kamu mendapatkan luka separah ini, maafkan aku Asyifa ini semua salahku, aku seharusnya menjaga mu," ucap Rafa merasa bersalah dan menahan rasa filu dengan rasa sakit yang di hadapi istrinya.


Asyifa tidak bisa berkata apa-apa lagi karena dia juga menahan rasa sakit di tubuhnya dan dia justru lega dengan Rafa yang tidak berpikiran buruk padanya.


Asyifa dan Rafa saling melepas pelukan itu dengan Rafa memegang ke-2 pipi Asyifa dengan wajah mereka yang saling berdekatan.


"Kak Rafa Asyifa benar-benar tidak sengaja bertemu dengan kak Abian di sini," ucap Asyifa yang masih ingin menjelaskan banyak hal pada Rafa. Agar Rafa tidak salah paham lagi dan Asyifa yang ingin berbicara lagi Rafa langsung mengecup bibirnya dengan lembut dan melepasnya langsung.


"Tidak perlu Asyifa, tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi. Aku sangat mengenalmu dan kamu tidak mungkin berbohong. Mempertahankan kehormatan mu dan rela terluka parah itu sudah menjelaskan jika kamu tidak melakukan kesalahan apa-apa," ucap Rafa.


"Aku yang salah, aku termakan omongan Miranda," ucap Rafa mengakui kesalahannya.


"Miranda apa maksud kakak?" tanya Asyifa heran.


"Miranda menghampiri ku ke Jerman dan mengatakan semua apa yang menyudutkan mu. Aku bingung dan meragukanmu karena saat itu kamu juga tidak bisa di hubungi. Dan aku harus pulang dan lagi-lagi perasaan ku dan keraguan ku semakin besar dengan melihat adanya' Zee di Jakarta dan kamu belum pulang. Aku menyusul ke Bali karena pasti termakan dengan omongan Miranda dan ternyata kamu mengalami bahaya dan aku malah berpijak buruk," ucap Rafa yang menyesal telah percaya pada Miranda sebelumnya.


"Tapi semuanya Bukannya ada hikmahnya. Dengan Kakak yang percaya dengan kata-kata Miranda. Kakak sekarang ada di sini bersama Asyifa," ucap Asyifa.


"Hati kamu terbuat dari apa Asyifa. Kenapa saat aku mencurigaimu, kamu masih bisa-bisanya mengatakan hikmah, Asyifa apa kamu sadar laki-laki di hadapan mu ini sangat brengsek, dia sudah menyakiti mu Asyifa berkali-kali, menghiyanati pernikahan dengan berselingkuh dengan wanita lain bahkan melakukan tindakan biadap di depanmu dan bahkan mencurigaimu berkali-kali. Apa kau tidak sadar Asyifa laki-laki di depanmu ini tidak layak menjadi suamimu," ucap Rafa yang tiba-tiba merasa tidak pantas untuk Asyifa.


Asyifa sangat lembut dan berhati mulia kayaknya malaikat dan sementara sirinya bajingan dan bahkan masih saja tidak mempercayai istrinya membuat Rafa menyadari Asyifa tidak pantas mempertahankan rumah tangganya dengan pria sepertinya.


"Apa yang kak Rafa katakan. Asyifa ini istri Kak Rafa dan kak Rafa suami Asyifa. Permasalah dalam rumah tangga bukannya hal yang biasa. Tidak ada kepercayaan da curiga sedikit demi sedikit bukannya hal yang biasa dan kenapa tidak pantas. Kita sama-sama manusia yang punya kesalahan dan berhak untuk berubah dan kak Rafa bagi Asyifa suami yang bertanggung jawab dan mau berubah. Lalu apa yang tidak pantas," ucap Asyifa dengan air matanya yang menetes yang membuat Rafa tidak bisa berkata-kata dan kembali memeluk erat Asyifa.


Air mata Rafa jatuh karena posisi dirinya yang di pertemukan dengan wanita yang benar- sempurna. Rafa harus menyadari jika wanita yang di pelukannya itu sangat sempurna dan bahkan melebihi seorang malaikat. Asyifa sendiri juga tidak henti-hentinya mengeluarkan air mata.


Bagaimana Asyifa tidak menganggap semua kejadian ada hikmahnya dengan kejadian yang di alaminya sekarang telah terbukti bagaimana Rafa semakin lama semakin berubah. Walau terkadang kecemburuannya membuatnya masih tidak bisa mengendalikan dirinya.


*********

__ADS_1


Malam hari tiba Asyifa turun dari ranjang dengan perlahan karena Asyifa masih terluka. Asyifa melangkah dengan perlahan menuju pintu kamar yang sepertinya Asyifa mencari Rafa karena Asyifa tidak melihat Rafa bada di kamar yang sebelumnya Rafa menemaninya sampai di tertidur.


Asyifa keluar dari kamar dengan perlahan dan hampir saja Asyifa jatuh dan untung saja ada Rafa yang menahannya dengan memegang ke-2 tangannya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rafa


"Tidak kak Rafa," jawab Asyifa yang berusaha untuk berdiri tegak.


"Kenapa keluar? ada apa? apa kamu butuh sesuatu?" tanya Rafa dengan lembut.


"Asyifa hanya mencari kak Rafa saja. Kak Rafa dari mana?" tanya Asyifa.


"Maaf aku tadi keluar sebentar. Aku kekantor polisi untuk melaporkan masalah ini. Aku ingin semua di tindak lanjutin," ucap Rafa dengan keputusannya.


"Tapi kak Rafa bagaimana ayah dan ibu nantinya mereka akan khawatir pada Asyifa dengan apa yang terjadi," ucap Asyifa yang tidak ingin melihat orangtuanya berpikiran tentang dirinya.


"Tidak apa-apa Asyifa. Kamu jangan khawatir, aku akan menyelesaikan masalah ini orang-orang itu harus bertangan jawab. Jadi tidak apa-apa," ucap Rafa.


"Sudah biarkan aku mengurusnya," sahut Rafa yang tidak mau mendengar apa-apa lagi. Apalagi protes dari Asyifa.


"Ya sudahlah," sahut Asyifa yang akhirnya mengalah.


"Ya sudah sekarang kamu kembali ke ke kamar ya, kamu harus istirahat kamu masih terluka," ucap Rafa.


"Tapi Asyifa bosan kak di kamar, Asyifa mau ke teras," ucap Asyifa yang merasa sangat jenuh.


"Baiklah kalau begitu aku akan menemani mu," ucap Rafa. Asyifa mengangguk dan ingin berjalan dan Rafa langsung mengangkatnya dengan menggendongnya yang membuat Asyifa kaget dengan Rafa yang memperlakukannya dengan sangat manis dan lembut.


Rafa pun langsung membawa istrinya ke taman Villa yang begitu indah dengan viu yang langsung menatap lautan yang indah dengan sinar rembulan yang indah yang memberi penerangan yang begitu indah dan Ra.fa melangkah melewati bebatuan yang tersusun rapi menuju pondok yang seperti tempat tidur yang di beri tirai putih yang menari-nari karena tertiup angin dan tempat itu benar-benar begitu romantis.


Rafa mendudukkan Asyifa di atas tempat tidur itu membuat Asyifa tersenyum dengan kepahanya yang berkeliling melihat di sekitarnya yang begitu romantis.

__ADS_1


"Kamu mau makan tidak tanya Rafa dengan lembut. Asyifa menggelengkan kepalanya dia merasa tidak lapar sama sekali.


"Asyifa hanya ingin melihat di sekitar Asyifa saja, karena di kamar terasa sangat jenuh," ucap Asyifa.


"Baiklah kalau begitu," sahut Rafa tampak bereksperesi datar.


"Kak Rafa kenapa?" tanya Asyifa yang melihat Rafa sendiri seperti ada pikiran yang berat.


"Tidak ada Asyifa," jawab Rafa yang tersenyum datar membuat Asyifa semakin merasa jika Rafa ada sesuatu.


"Kamu nikmatilah tempat ini, aku masuk dulu," ucap Rafa yang ingin pergi. Namun Asyifa langsung menghentikan dengan memegang tangan Rafa.


"Kak ada apa? apa Asyifa buat salah?" tanya Asyifa yang merasa ada sesuatu makanya Rafa wajahnya seperti itu.


"Aku melaporkan masalah ini kekantor polisi dan segera di tangani pihak berwajib dan setelah itu kamu bisa menemukan kebahagiaan mu sendiri Asyifa. Kamu lepas dariku," ucap Rafa tiba-tiba yang membuat Asyifa terkejut mendengarnya.


"Apa maksud kak Rafa?" tanya Asyifa dengan jantungnya yang berdebar tidak menentu.


"Aku tidak pantas untukmu Asyifa. Kamu hanya akan menderita dan lebih baik kamu menemukan kebahagiaan kamu," ucap Rafa.


"Kak Rafa apa yang kak Rafa bicarakan kenapa tiba-tiba seperti ini. Kak apa salah Asyifa kenapa kak Rafa ingin berpisah dari Asyifa," ucap Asyifa yang tidak tau apa kesalahannya dan Rafa sudah seperti ini.


"Kamu tidak salah apa-apa aku yang salah," sahut Rafa. Asyifa mencoba berdiri dan berdiri di hadapan Rafa dan melihat wajah dingin Rafa.


"Kak apa Asyifa harus memohon untuk tidak berbicara seperti itu lagi," ucap Asyifa dengan air matanya yang jatuh.


"Asyifa aku bukan pria baik yang bisa menjadi suamimu dan aku tidak pantas untukmu. Buka mata kamu Asyifa, lihat penderitaan kamu yang begitu banyak dan kamu sama sekali tidak merasa apa-apa. Kau tidak pantas Asyifa menjadi suamimu," ucap Rafa.


"Lalu apa menurut kak Rafa Asyifa juga pantas menjadi istri kak Rafa. Jika Asyifa pantas tidak akan mungkin ada perselisihan di antara kita. Tetapi Asyifa hanya berusaha untuk menjadi istri yang pantas. Lalu kenapa tiba-tiba kak Rafa bicara seperti ini," ucap Asyifa yang tidak mengerti dengan Rafa.


Mungkin Rafa mulai sadar jika Asyifa hanya akan menderita jika terus ada di dekatnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2