
Syira memasuki kamarnya dengan langsung menutup pintu kamar dengan bersandar pada pintu kamar yang mengatur napasnya yang naik turun. Dia terlihat gelisah dengan matanya yang terpejam.
"Bagaimana ini? apa yang akan terjadi selanjutnya?" tanya Syira yang tampak panik dengan wajahnya yang mendadak pucat.
Dratt-dratt-dratttt.
Ponselnya yang berdering seketika membuatnya kaget dan dan melihat panggilan masuk itu yang ternyata dari Dedi yang mengejutkan Syira dan Syira bahkan sampai tidak berani mengangkat panggilan masuk itu.
"Untuk apa Dedi menelpon. Tidak Syira jangan di angkat. Kau tidak boleh mengangkatnya Syira," ucap Syira yang menghindari panggilan dari Dedi dan malam melempar ponselnya ke atas ranjang dan Syira berjongkok dengan menutup kupingnya dengan ke-2 tangannya yang terlihat frustasi sendiri yang juga tidak tau apa yang terjadi padanya.
Sementara di rumah Dedi di pinggiran kolam renang Dedi yang terus menghubungi Syira yang juga tidak mendapatkan respon dari Syira.
"Sial!" umpat Dedi yang melempar ponselnya dengan kemarahan. Ponsel itu terlempar ke atas rumput taman hijau dan untung saja rumput jadi tidak pecah itu ponsel.
"Arghhh! kenapa semuanya seperti ini," umpat Dedi dengan memegang kepalanya sampai meremas rambutnya yang benar-benar frustasi dengan masalah yang di hadapinya.
Tiba-tiba sebuah tangan yang mengambil handphone tersebut. Dan ternyata itu Rafa dan Rafa melangkah mendekati Dedi yang penuh dengan kemarahan.
"Handphone ini tidak salah," ucap Rafa yang memberikan pada Dedi. Dedi menghela napasnya kasar dan mengatur terus napasnya untuk menengakan dirinya.
Tidak di ambil juga handphonenya dari tangan Rafa membuat Rafa meletakkan di atas meja yang ada di sana dan Rafa juga duduk.
"Kau tidak melakukannya?" tanya Rafa memulai obrolan.
"Aku sudah menjelaskan niatku untuk menikahinya karena apa dan aku tulus melakukannya tapi mama tidak setuju dan aku juga sudah membicarakannya lada Syira aku memang melihat dia kecewa dengan janji yang tidak bisa aku tepati. Namun malam itu semuanya baik-baik aja. Tapi tadi ternyata tidak dia justru menjebakku," jelas Dedi dengan singkat dan padat yang hanya mengatakan apa yang penting-penting saja.
__ADS_1
"Lalu bagaimana sekarang?" tanya Rafa.
"Aku berusaha menghubunginya untuk dia menjelaskan apa maksudnya sebenarnya. Tetapi dia tidak mengangkat teleponku dan terkesan menghindari ku," ucap Dedi yang menekan suaranya yang begitu kesal dengan Syira.
"Dedi kau belum mengatakan kepadaku. Bagaimana kau bisa tiba-tiba ingin menikah dengannya, bagaimana kau tau dia hamil dan kau ingin bertanggung jawab," ucap Rafa butuh penjelasan detail. Karena sebelumnya Dedi hanya bicara singkat saja.
"Bicaralah dengan tenang. Jika tidak bersalah kita bisa selesai semuanya dengan baik," ucap Rafa. Dedi menghela napasnya dan duduk di samping Rafa yang terhalang oleh meja dengan Dedi mengusap wajahnya dengan kasar dan beberapa kali mengatur napasnya.
"Aku juga kaget Dedi dengan tiba-tiba kamu yang punya kedekatan dengan Syira dan aku tidak tau kapan itu mulai," ucap Rafa.
"Mungkin aku terlalu ikut campur dengan hubungan pernikahan Zee dan Abian. Bermula dari sana. Aku mengetahui niat Syira yang ingin kembali bersama Abian dan aku beberapa kali mengingatkannya dan menasehatinya untuk menjauhi Abian dan banyak yang aku lakukan sampai akhirnya Abian memilih Zee,"
"Seharusnya masalahnya sudah selesai. Tetapi aku berusaha untuk mendekati Syira. Ya aku menyukainya dan berusaha untuk dekat dengannya walau sepertinya dia tidak suka dan tidak tertarik denganku. Tetapi aku hanya berusaha melakukan apa yang bisa aku lakukan untuknya," jelas Dedi.
"Lalu kenapa kamu tau dia hamil?" tanya Rafa.
"Aku bertanggung jawab. Mungkin karena aku menyukainya dan menurutku Syira baik dan dia seperti itu karena masalah asmaranya dengan Abian. Aku tidak ingin dia harus menyia-nyiakan hidupnya dan aku berusaha untuk meyakinkannya dengan bertanggung jawab. Karena dia juga takut orang tuanya akan marah padanyanya," jelas Dedi.
"Semuanya sudah seperti ini dan apa yang di katakan Syira membuat semua orang percaya. Ya walau keluarga kita tidak sepenuhnya percaya dengan kamu yang melakukan itu. Tetapi orang tua Syira sudah memojokkan dan tidak mau menerima penjelasan dan Tante Willo juga sangat percaya dengan hal itu," ucap Rafa.
"Aku tidak tau harus melakukan apa dan hanya Syira yang bisa membuktikan semuanya jika aku tidak bersalah," ucap Dedi semakin frustasi mendengarnya dengan napasnya yang naik turun dan kembali mengusap wajahnya.
"Jika melakukan tes DNA pun. Harus menunggu bayi itu lahir," ucap Rafa.
"Kamu benar Rafa dan aku memikirkan hal itu. Tapi tes DNA hal yang tidak mungkin di lakukan," sahut Dedi yang begitu pasrah.
__ADS_1
"Lalu apa kau harus bertanggung jawab dengan perbuatan yang tidak kau lakukan?" tanya Rafa.
"Sebelumnya aku tulus bertanggung jawab. Namun ketika sudah seperti ini aku sama saja membenarkan jika aku dan Syira melakukan jina," ucap Dedi.
"Kita pasti menemukan jalan keluar yang terbaik," ucap Rafa menepuk bahu Dedi.
Tidak Dedi dan tidak Rafa sama-sama tidak bisa menemukan jalan keluar yang tepat dalam pembahasan malam itu. Namun Dedi pasti lega sedikit dengan Rafa yang mau bertukar pikiran dengan nya.
*********
Sementara Willo pasti stres dengan apa yang terjadi pada putranya. Willo masih di tenangkan Lulu, Rania dan juga Asyifa yang berada di kamar Willo dengan Willo yang duduk bersandar di kepala ranjang.
"Kak. Kakak harus tenang dan berpikir positif jangan sampai karena masalah ini kesehatan kakak juga terganggu," ucap Rania mengingatkan.
"Benar kata Tante Willo mah, nanti yang adanya mama sakit lagi," sahut Lulu menambahi.
"Bagaimana bisa berpikir positif. Dedi sudah membohongi mama, membuat karangan cerita hanya untuk menutupi apa yang terjadi padanya," ucap Willo yang sejak tadi air matanya terus saja menetes.
"Tetapi belum tentu mah, kak Dedi melakukan hal itu," sahut Lulu yang masih tidak yakin sang kakak terlibat.
"Tidak tentu bagaimana Lulu. Semuanya sudah jelas. Hal memalukan yang terjadi di keluarga kita. Padahal hari ini kiriman doa untuk kakek kamu dan kakak kamu membuat masalah besar yang pasti kakek kamu di atas sana akan sangat kecewa dengan Dedi yang melakukan perbuatan maksiat," ucap Willo yang terisak-isak yang penuh dengan kekecewaan pada anaknya itu.
"Tante harus bersabar. Percayalah Allah akan memberikan petunjuk untuk masalah ini. Ini adalah cobaan dan kita harus lebih bersabar lagi," ucap Asyifa.
"Benar kak, banyak-banyak istifar kak," sahut Rania.
__ADS_1
Bersambung