
"Ngapain dia sini!" batin Rafa yang penasaran dengan Asyifa yang ada di Masjid yang sama dengannya. Ya pasti sholat lah apa lagi coba.
Asyifa pun hanya melihat Rafa sebentar dengan tatapan sendu dan kembali melangkah menuju mobilnya. Jika mereka suami istri seperti pada umumnya maka Asyifa pasti akan menghampiri Rafa dan akan menyapa Rafa.
Namun tidak mereka bukan seperti itu dan Rafa bahkan sampai detik ini masih menatapnya dengan membencinya yang membuat Asyifa lebih baik tidak mencari masalah dulu dan langsung memasuki mobilnya.
Namun saat berjalan menuju mobilnya. Tiba-tiba terlihat ada mobil mundur dan Asyifa tidak mengetahui hal itu sama sekali dan hampir sampai menabrak Asyifa. Rafa melihat hal itu terkejut dan langsung berlari menarik Asyifa dengan memegang kedua bahu Asyifa yang untung saja Asyifa tidak terjadi di tabrak.
Asyifa yang berdiri di depan Rafa dengan bahunya yang masih di pegang Rafa. Napas Asyifa naik turun dengan kecepatan tinggi dengan matanya yang terpejam yang tampak takut dan Rafa di depannya yang yang juga mengatur napasnya. Wajah Rafa dan Asyifa begitu dekat.
Mata Rafa terus melihat wajah Asyifa yang masih takut. Tidak tau kenaoa Rafa harus menatapi wanita yang membuatnya marah belakangan ini.
Asyifa membuka matanya perlahan-lahan dan langsung beradu tatapan dengan Rafa yang membuat Asyifa gugup dengan pandangan mata Rafa yang terlihat berbeda seperti biasanya.
Di detik berikutnya akhirnya Rafa tersadar membuyarkan lamunannya dan langsung melepas cengkraman tangannya dari bahu Asyifa dengan kasar.
"Apakah kau tidak bisa berjalan dengan baik!" ucap Rafa dengan kesal.
" Maaf," lirih Asyifa. Rafa tidak banyak bicara dan langsung pergi dari hadapan Asyifa dan Asyifa melihat kepergian Rafa yang kembali bergabung dengan pria-pria itu.
Huffffff
Asyifa menghela napasnya dengan panjang dan membuangnya perlahan ke depan, memegang dadanya, " Astagfirullah Asyifa apa yang kau pikirkan. Kau sampai tidak konsentrasi, ya Allah Asyifa, kau ini benar-benar," batin Asyifa yang menyadari kebodohannya yang hampir nyawanya hilang.
Asyifa pun kembali ke dalam mobilnya dan setelah Asyifa memasuki mobil. Barulah Rafa melihat ke arah mobil yang di masuki Asyifa.
"Apa dia seceroboh itu. Bukannya mama menganggap dia yang paling sempurna," batin Rafa berdecak kesal dengan Asyifa.
**********
Makan malam di dalam kediaman Xander.
"Makanan malam ini begitu special, kak Asyifa yang membuatkannya," ucap Zee.
"Benarkah ini masakan Asyifa?" tanya Xander.
"Benar pah. Tadi bahkan Zee sempat meminta kak Asyifa memasak," sahut Zee.
__ADS_1
"Bagaimana pah, calon menantu yang mama pilih tidak salahkan?" ucap Shofia.
"Tidak salah memang menantu ku sangat sempurna. Rafa kamu sangat beruntung mendapatkan istri seperti Asyifa," sahut Xander memuji Asyifa.
Rafa yang makan hanya datar-datar saja yang tidak menanggapi hal itu. Namun Asyifa hanya tersenyum tipis yang merasa malu mendapat pujian itu.
"Kalau begini Asyifa sudah cocok untuk membuka Restaurant," sahut Shania menambahi.
"Kak Shania berlebihan. Masakan Asyifa hanya biasa saja. Tidak sebanding dengan masakan ayah yang jauh lebih enak," ucap Asyifa yang tersenyum malu.
"Dokter Rendy bisa memasak?" tanya Shofia.
"Iya mah, bahkan masakan ayah bagi Asyifa melebihi masakan chef terkenal. Maaf kalau Asyifa berlebihan," ucap Asyifa yang begitu senangnya kalau memuji ayahnya.
"Kalau begitu mulai besok suruh saja ayah mu yang menggantikan tukang masak di rumah ini," desis Rafa.
"Rafa!" tegur Shofia. Asyifa kembali terdiam tanpa ekspresi.
"Kau selalu membanggakan ayahmu, ibumu, keluargamu. Kenapa tidak sekalian saja kau bawa mereka semua kemari," ucap Rafa dengan kesal.
"Rafa kamu ini apa-apaan sih. Kenapa jadi marah-marah. Kamu ini berlebihan sekali," sahut Xander.
"Makanya kalau makan-makan. Jangan bicara-bicara yang tidak penting," ucap Rafa.
"Kamu ya Rafa," sahut Shofia.
"Sudahlah mah," sahut Shania.
"Asyifa maaf ya perkataan Rafa," ucap Shofia.
Asyifa mengangguk-angguk dengan senyum tipis. Ya lama-lama dia akan terbiasa menghadapi mulut Rafa yang pedas itu.
"Hmmm, oh iya papa ada hadia untuk kalian ber-2," ucap Xander tiba-tiba.
"Hadiah! Hadiah apa pah? dan kenapa harus memberi hadiah " tanya Asyifa yang terlihat terkejut.
"Ini hadiah yang papa berikan untuk hadiah pernikahan kalian. Papa belum memberi hadiah untuk kalian. Jadi papa akan berikan untuk kalian," ucap Xander.
__ADS_1
"Memang apa yang ingin papa berikan?" tanya Zee yang jauh lebih penasaran.
Xander mengeluarkan amplop putih dan memberinya pada Asyifa. Asyifa ragu mengambilnya dan melihat ke arah Shofia. Shofia mengangguk menyuruh Asyifa mengambil hadiah itu dan Asyifa langsung membukanya.
"Tiket perjalanan ke new Zealand?" pekik Kayra terkejut. Xander dan Shofia tersenyum. Namun Rafa sudah merasa ada sesuatu yang tidak beres terjadi.
"Iya Asyifa. Kamu dan Rafa akan melakukan perjalanan ke New Zealand. Di mana kalian akan berbulan madu di sana," jelas Xander.
Rafa terkejut mendengarnya. Sementara Asyifa mendengarnya hanya mengamati dengan tatapan yang datar.
"Aku tidak mau!" Rafa langsung menolak dengan cepat.
"Rafa!" tegur Shofia.
"Aku sudah menuruti semua perintah mama tertuma dengan semua ini. Wanita yang mama ingin sudah ada di hadapan mama. Jadi jangan menyuruhku untuk membuang waktu ku lagi hanya untuk pergi berbulan madu yang tidak penting," tegas Rafa menguatkan volume suaranya.
"Rafa. Kamu ini bisa tidak bicara pelan-pelan. Kamu sama Asyifa sudah menikah dan sangat wajar kalian berbulan madu. Kamu itu juga sibuk kerja. Ini hanya satu Minggu saja. Jadi apa salahnya," sahut Shofia dengan tegas.
"Semua jelas salah dan aku tidak mau. Aku akan tidak berangkat dengannya," tegas Davin.
"Rafa!" sentak Shofia.
"Mah, sudahlah," sahut Asyifa, "Asyifa juga tidak ingin pergi. Jadi jangan bertengkar. Asyifa tidak perlu liburan ke sana kemari. Asyifa tidak apa-apa mah," ucap Asyifa yang tidak ingi. Mendengar keributan dari mertuan dan suaminya itu.
"Tapi kalian berdua akan tetap pergi," sahut Xander memutuskan.
"Pah," lirih Rafa
"Papa sudah menyiapkan semuanya. Dari penginapan, kendaraan dan yang lainnya. Jadi jangan menyia-nyiakan apa yang papa berikan," tegas Xander.
"Aku tetap tidak bisa pekerjaan ku banyak," ucap Davin menegaskan.
"Rafa jangan membantah papa!" tegas Xander.
Rafa dengan kesal langsung berdiri dengan Kentingan suara sendok di atas piring. Dengan kemarahannya Rafa meninggalkan meja makan itu. Dan Asyifa hanya menatap punggung Rafa dengan nanar.
"Kamu jangan khawatir Asyifa. Rafa tidak akan membantah apa yang di katakan. Dia akan menurut. Kamu jangan khawatir ya," ucap Shofia berusaha membuat Asyifa tenang.
__ADS_1
"Ya Allah setelah ini kak Rafa akan marah-marah lagi. Kemarahan kemarin-kemarin saja belum hilang sama sekali," batin Asyifa.
Bersambung