
Setelah selesai makan malam. Asyifa langsung kekamar dan mendapati Rafa duduk di atas tempat tidur yang bersandar di kepala Ranjang.
"Kau menghasut orang tuaku?" tuduh Rafa.
"Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud," sahut Asyifa bingung.
" Jangan sok suci di depanku. Aku sangat hafal dengan tabiatmu yang memang tidak akan membiarkanku hidup tenang dan sekarang bersandiwara di depan orang tuaku," sahut Rafa yang langsung berdiri dan melangkah mendekati Asyifa.
Asyifa mendadak mundur perlahan yang takut dengan Rafa jika sampai menyakitinya seperti yang terjadi malam itu.
"Kau pikir aku tidak tau. Jika pasti kau yang mengatur semua ini. Supaya aku dengamu bisa berbulan madu," tuduh Rafa dengan menyunggingkan senyumnya yang terus melangkah mendekati Asyifa yang terus mundur.
"Kamu salah paham. Aku tidak tau menau dengan rencana bulan madu. Bahkan akupun tidak setuju dan aku sama sekali tidak pernah mengusik hidupmu atau berniat melakukan ini itu untukmu," jelas Asyifa yang terus mundur.
Namun sialnya kakinya terbntur sofa yang membuat Asyifa hampir jatuh ke Sofa dan Rafa langsung menahan pinggang Asyifa yang membuat Asyifa seperti sedang kayang.
Jantung Asyifa berdetak kencang antara yang hampir jatuh atau karena Rafa yang membuat debaran dadanya tidak menentu. Rafa menarik pinggng Asyifa sehingga Asyifa lebih dekat lagi padanya bahkan Asyifa sempat membentur dada bidang Rafa.
Kedekatan di antara mereka semakin dekat. Dengan wajah mereka yang semakin dekat tanpa ada jarak sama sekali dengan mata Rafa berkeliling menatap wanita yang panik di depannya itu. Rafa begitu lama mengamati wajah cantik Asyifa. Memliki mata yang indah dan sangat teduh. Hidung mancung dengan bibit merah merona. Harusnya Rafa mengakui Asyifa memang sangat cantik.
"Apa kau begitu terobsesi dengan ku. Sampai merencanakan hal murahan seperti itu?" tanya Rafa.
"A-a-apa, maksudnya. Aku tidak merencanakan apapun," ucap Asyifa dengan terbata-bata. Rafa menyunggingkan senyumnya melihat ke gugupan Asyifa.
"Apa kau pikir aku bodoh hah!" ucap Rafa.
__ADS_1
"Terserah apa yang kamu pikirkan kepadaku. Tetapi intinya aku memang tidak melakukan apa-apa," ucap Asyifa dengan tepat.
"Walau kau berhasil membuat orang tuaku mengabulkan permintaan mu. Tetapi jangan harap kau akan mendapatkan apa yang kamu mau," tegas Davin melepas cengkraman tangannya dari pinggang Asyifa yang membuat Asyifa hampir saja jatuh. Namun masih bisa menahan tubuhnya.
" Kau dengarkan aku Asyifa. Aku tidak akan pernah menyentuhmu sedikitpun seperti apa yang kau inginkan. Tubuhmu yang kau balut dengan tutupan pakaian mu tidak sama sekali membuatku penasaran atau tertarik kepadamu. Kau bukanlah tipeku dan aku tidak tertarik dengan wanita sepertimu dan tidak sudi menyentuhmu," tegas Rafa dengan suara penekanan yang begitu singkat namun sangat menusuk bagi Asyifa.
Mata Asyifa bergenang mendengar perkataan Rafa yang sangat kasar dan melukai perasaannya.
"Kau juga harus mengingat. Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Aku di paksa oleh mama untuk menikahimu dan kesalahanmu karena menerima pernikahan ini yang menghancurkan hidupku dan jika hidupku hancur. Maka kau juga harus hancur. Kita harus sama-sama hancur dan kau yang masuk kedalam hidupku harus merasakan semuanya akibat perbuatanmu sendiri," tegas Rafa.
Astifa hanya diam mendengarkan kata-kata apa-apa lagi yang akan di katakan Rafa kepadanya. Ya dia harus tau agar kata-kata menyakitkan Rafa habis dari mulutnya.
"Jadi jangan bermimpi kau akan mendapat perlakuan seperti istri-istri lain," tegas Rafa.
Lebih baik bagi Asyifa yang tidak memasukkan kedalam hatinya atas apa yang di katakan raRafa dan meminta maaf untuk memulai suatu hal yang baru. Mendengar kata maaf itu Rafa mendengus kasar dengan tersenyum terlihat meremehkan Asyifa.
"Kau bilang maaf," sahut Rafa.
"Aku hanya berusaha untuk memperbaiki apa yang rusak. Aku menerima pernikahan itu karena beberapa pertimbangan, alasan dan iya aku tidak punya alasan untuk menolak niat baik orang lain dan aku tidak tau jika kamu tidak menginginkan pernikahan itu. Kita pernah bertemu sebelumnya dan seharusnya mengatakan kepadaku untuk semua ini sebelum pernikahan ini terjadi," ucap Asyifa dengan lembut menanggapi kemarahan Rafa.
"Kau masih menyalahkanku atas semua ini. Jelas-jelas ini kesalahanmu. Kau yang melakukan semua tindakan bodoh ini. Seharusnya kau tidak asal menerima perjodohan itu. Seharusnya kau tau orang seperti tidak mungkin menikah dengamu," tegas Rafa.
"Tapi pada kenyataannya aku tidak tau," sahut Asyifa.
"Ya. Karena memang kau terlalu sibuk dengan keinginan mu yang menikah. Sampai kau tidak memikirkan orang lain yang menjadi pendampingku!" ucap Rafa menunjuk tepat di wajah Asyifa. Asyifa hanya diam yang sudah bicara banyak, mengalah namun Rafa masih saja menyalahkannya.
__ADS_1
"Jadi maafmu sekarang sudah tidak berati. Karena semuanya sudah terlanjur dan kau terima saja semua resiko dari tindakanmu itu!" tegas Davin yang berlalu dari hadapan Asyifa.
Asyifa membuang napasnya kedepan yang terlihat lelah dengan Rafa.
"Sabar Asyifa. Tidak ada manusia yang jahat di dunia ini. Kamu tidak perlu membalas kata-katanya. Biarlah suamimu seperti itu. Percayalah perlahan-lahan dia akan berubah dan akan baik. Karena Allah tidak mungkin membiarkan kamu merasakan semua ini dengan sendirian. Jadi bersabarlah Asyifa. Semuanya akan baik-baik saja. Ini ujian untukmu," batin Asyifa mengusap-usap dadanya dia harus banyak-banyak bersabar untuk orang pemarah seperti Rafa.
**********
Di Club.
Miranda terlihat sedang minum-minum di sebuah Club mewah di Jakarta. Di mana Miranda duduk di bar dengan sebatang rokok yang di hisapnya dan satu tangannya melihat hanphonnya.
Yang ternyata Miranda sedang melihat foto-foto pernikahan Rafa dan Asyifa.
"Ck Jadi ini istri kekasih ku. Astaga wanita seperti ini yang di nikahkan orang tuanya untuknya. Memang keluarga kekasihku itu sangat kolot. Masa iya menikahkan dia dengan Rafa," Miranda geleng-geleng dengan senyum menahan luka saat melihat beberapa foto-foto tersebut.
Miranda kembali meneguk alkoholnya dan kembali melihat layar handphonenya itu dalam setengah sadarnya Miranda menyipitkan matanya dengan mendekatkan matanya pada layar handphone tersebut.
"Apa aku pernah bertemu dengannya?" tanya Miranda yang mengamati wajah Asyifa yang Miranda merasa pernah bertemu dengannya.
"Kapan pula aku ke pengajian. Jadi mana mungkin aku bertemu dengannya. Ya ampun wanita aneh. Rafa juga aneh kenapa mau menikah dengan wanita seperti ini. Apa cantiknya dia coba. Aku jauh lebih baik, aku seksi dan dia. Argggghhh gadis aneh, gadis yang hidup di timur-timur," ucap Miranda dengan suaranya yang mulai tidak beres. Karena pengaruh alkohol yang di konsumsinya.
Miranda memang sudah mabuk berat. Dia stress masalah pekerjaan dan juga pernikahan Rafa yang akhirnya terjadi sudah seminggu belakangan ini. Dan dia sama sekali tidak pernah berkomunikasi dengan Rafa semenjak terakhir Rafa meminta dirinya untuk menikah. Dan dia menolak karena ada kontrak besar dan harus keluar Negri.
bersambung
__ADS_1