
"Kenapa kau tersenyum?" tanya Rafa yang melihat senyum di wajah Asyifa. Saat dirinya menuliskan namanya di batu tersebut.
"Tidak apa-apa," jawan Asyifa.
"Ya sudah ayo. Kita pergi!" ajak Rafa. Asyifa menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan tempat itu. Pasti masih banyak yang mereka lakukan nantinya.
Rafa dan Asyifa kembali berjalan-jalan di sekitaran Mekkah, mereka banyak melakukan hal-hal yang positif dan lain sebagainya yang pasti menjadi pengalaman untuk keduanya sampai akhirnya satu harian di habiskan berdua dari pagi sampai sore dan kembali pulang ke apartemen untuk beristirahat.
**********
Akhirnya yang di tunggu-tunggu telah tiba. Acara wisuda Asyifa yang mana final pada acaranya yang mana Asyifa sudah berdandan cantik di kamarnya dengan pakaian yang indah dan sangat sopan untuk wisudanya hati ini. Kalau wisuda Asyifa harus memakai makeup dan Asyifa sebenarnya tanpa makeup yang berlebihpun sudah sangat cantik.
Tapi untuk sebagai syaratnya ya tidak apa-apa untuk Asyifa memakai polesan make up yang membuatnya semakin cantik. Sehingga Rafa yang sedang memakai jam tangannya yang sedikit jauh dari Asyifa harus curi-curi pandang dengan Asyifa.
Harus di akui Rafa istrinya itu mau di apai saja tetap cantik sama dengan seperti sekarang ini Asyifa begitu cantik dan Rafa masih saja gengsi untuk melihatnya dan hanya curi-curi pandang saja.
"Kak Rafa sudah selesai?" tanya Asyifa yang menoleh kearah Rafa dan Rafa harus mengalihkan pandangannya ke sembarang arah yang berpura-pura tidak melihat Asyifa.
"Hmmm," Rafa menjawab dengan deheman saja yang tetap sibuk dengan pekerjaannya.
"Ya sudah kalau begitu ayo kak Rafa," ajak Asyifa yang sudah selesai.
"Baiklah," sahut Rafa dengan menganggukan kepalanya yang menyusul Asyifa keluar dari kamar.
Asyifa tidak hanya bersama Rafa saja. Namun juga bersama Zee pastinya. Walau posisi Zee akan di anggap sebagai orang ke-3. Dan Zee memang menyadari posisinya itu.
Tidak lama mereka sampai di kampus Asyifa dan sudah banyak yang berdatangan untuk mengikuti acara wisuda. Asyifa sendiri juga sudah duduk bergabung dengan mahasiswa lainnya dan Rafa dan Zee duduk di bagian tamu.
Acara berjalan dengan lancar dan banyak kata-kata sambutan dan arahan yang terdengar dengan menggunakan bahasa Inggris. Karena memang kampus Asyifa. Kampus internasional. Bukan hanya orang-orang Arab saja yang ada. Namun dari kalangan Negara lain dan mereka harus menggunakan bahasa persatuan yaitu bahasa Inggris.
Sampai pada titik Asyifa di panggil dan mendapat sambutan tepuk tangan yang meriah. Karena Asyifa menjadi mahasiswi yang berada di peringkat pertama. Rafa yang bertepuk tangan seakan sangat bangga dengan Asyifa.
Bukan hanya dengan kata yang sering di ucapkan orang-orang yang sering terdengar di telinganya. Namun memang kenyataannya. Jika Asyifa itu sangat pintar dan sangat berbakat terbukti seperti sekarang ini yang membuatnya bangga.
"Kak Asyifa benar-benar hebat, di Negara orang saja bisa menjadi no 1," puji Zee yang bangga dengan kakak iparnya itu.
__ADS_1
"Iya kak kak Rafa?" tanya Zee. Rafa diam yang tidak mengatakan apa-apa, "Yaampun kak Rafa apa salahnya mengatakan iya," ucap Zee yang ingin mendengar pendapat pengakuan dari kakaknya yang masih aja gengsi.
"Iya. Puas," sahut Rafa membuat Zee tersenyum.
"Kak Rafa benar-benar aneh," gumam Zee dengan geleng-geleng dengan kelakukan kakaknya itu.
Namun Zee sangat yakin sih, Rafa pasti mengagumi kakak iparnya hanya saja masih ada tembok gengsi yang bertahan.
Setelah selesai melaksanakan acara wisuda dengan lancar tidak lupa Asyifa pasti melanjutkan dengan momen foto-foto bersama dengan suaminya dan juga Zee.
"Ayo lebih dekat lagi fotonya!" titah Zee yang sebagai kameramenya yang mengambil foto kakak dan kakak iparnya. Seperti biasa Asyifa pasti malu-malu kalau dekat-dekat dengan suaminya apa lagi banyak orang.
Sampai Rafa harus bertindak dengan menarik pinggang Asyifa sehingga semakin dekat dengan dirinya.
"Nah gitu dong, kalau dekat seperti ini enak di fotonya," ucap Zee.
"Udah buruan kamu juga dari tadi bawel terus," ucap Rafa.
"Iya-iya, senyum dong dan saling lihat-lihatan," sahut Zee yang memberi arahan.
Asyifa yang gugup mulai tenang dan nyaman dengan kedekatannya dan Rafa. Dia harus sadar tidak ada yang perlu di gugupan. Dan justru moment itu sangat manis.
"Makasih ya Zee kamu sudah banyak membantuku," ucap Asyifa.
"Santai aja kak Asyifa, Zee justru senang bisa menjadi bagian dari acara kak Asyifa," ucap Zee.
"Ya sudah kalau begitu. Bagaimana kalau kita makan malam. Kebetulan aku sudah pesan Restaurant yang paling enak di sini," ucap Asyifa mengajak suami dan adik iparnya.
"Hmmm, bagaimana ya," Zee kelihatannya tampak ragu sekali dan melihat ke arah Rafa.
"Kak Asyifa kayaknya Zee tidak bisa ikut deh. Soalnya Zee mau jalan-jalan sendirian. Karena sudah beberapa hari di sini Zee tidak pernah jalan-jalan. Jadi sekarang mau jalan-jalan dulu. Kak Asyifa makan berdua aja dengan kak Rafa," ucap Zee yang sepertinya tau apa yang harus di lakukannya..Kalau kata Rafa jangan menjadi orang ke-3.
"Begitu ya, sayang sekali. Apa tidak bisa jalan-jalannya besok aja," sahut Asyifa yang tampak kecewa.
"Sudahlah Asyifa kalau dia tidak mau jangan memaksanya," sahut Rafa yang sangat jelas terlihat paling senang Zee tidak ikut bersama mereka.
__ADS_1
"Isss," desis Zee yang hanya bergerutu di dalam hatinya dengan kakaknya yang semakin lama semakin tidak akan menganggap dirinya ada di dunia ini.
"Sudahlah kak Asyifa makan sama kak Rafa saya. Zee mau jalan-jalan. Karena sebentar lagi kita juga pulangkan," sahut Zee dengan tersenyum kaku.
"Ya sudah kalau begitu. Kamu happy ya jalan-jalannya," ucap Asyifa.
"Baik kak Asyifa," sahut Zee dengan tersenyum lebar. Namun senyumnya berubah dengan sewot ketika melihat kakaknya yang sangat menyebalkan itu.
**********
Akhirnya Rafa dan Asyifa makan berduaan di salah satu Restaurant yang sudah di pesan Asyifa sebelumnya. Mereka duduk saling berhadapan dan menikmati makanan yang Asyifa sendiri yang memesannya.
"Apa kak Rafa suka dengan makanan yang Asyifa pesan?" tanya Asyifa.
"Iya. Bisa di terima," jawab Rafa dengan singkat.
"Makasih ya kak Rafa sudah menepati janji untuk ikut Wisuda Asyifa dan Asyifa tidak percaya wisuda kali ini Asyifa sudah menikah," ucap Asyifa yang pasti sangat bahagia.
"Iya," jawab Rafa dengan singkat, "Hmmm apa kamu akan melanjutkan kuliah lagi?" tanya Rafa. Dia tau Asyifa pasti tidak pernah puas dan belajar adalah kegemaran Asyifa.
"Asyifa pasti mau untuk melanjutkan S3. Namun semua kan tergantung kak Rafa. Asyifa sudah menikah dan sekarang semua atas izin kak Rafa," ucap Asyifa yang apa-apa memang harus melibatkan suaminya.
"Aku akan memikirkannya nanti," jawab Rafa yang sepertinya memberikan peluang untuk Asyifa membuat Asyifa tersenyum.
"Aku ketoilet sebentar," ucap Rafa berdiri dari tempat duduknya dan Asyifa menganggukan kepalanya membiarkan Rafa pergi.
"Ya Allah terima kasih untuk kebahagiaan yang engkau berikan," batin Asyifa yang tidak henti-hentinya bersyukur dengan apa yang di terimanya.
Asyifa tetap makan. Namun Rafa tidak kembali juga dan Asyifa merasa sudah lama Rafa tidak kembali.
"Lama sekali kak Rafa," gumamnya dengan melihat arloji di tangannya. Ada 20 menit Rafa tidak muncul dan saat Asyifa yang ingin berdiri dari tempat duduknya tiba-tiba saja boucket bunga berada di atas mejanya yang membuatnya kaget dan Asyifa menoleh kesampingnya dan wajahnya langsung bertemu Rafa yang membungkuk di sampingnya dengan tangan Rafa yang merangkul bahu Asyifa.
"Selamat untuk wisuda mu," ucap Rafa dengan lembut yang menatap Asyifa dengan dalam.
Rafa mungkin pergi membeli bunga untuk Asyifa. Rafa pun langsung mencium kening Asyifa dengan lembut membuat Asyifa tersenyum.
__ADS_1
"Makasih kak Rafa," ucap Asyifa dengan lembut yang saling menatap dengan Asyifa. Rafa menganggukan kepalanya.
Bersambung