Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 29 Melihat dalam perasaan


__ADS_3

Akhirnya Asyifa dan Rafa menikmati masa liburan mereka yang mana mereka berjalan-jalan menikmati kota Selandia Baru yang penuh dengan keindahan alam.


Asyifa yang berjalan di samping Rafa sembari memegang kamera yang beberapa kali mengambil gambar yang indah-indah. Namun Rafa di sebelahnya tidak peduli dan hanya berjalan cuek tanpa memperdulikan Asyifa.


Sampai tibanya Rafa dan Asyifa berada di tebing yang mempertontonkan keindahan alam lautan dengan pegunungan yang hijau yang benar-benar begitu indah membuat Asyifa sangat takjub melihat indahnya ciptaan tuhan.


Asyifa juga langsung mengambil gambar-gambar indah untuk di jadikannya kenangan. Saking seriusnya dan semangatnya dalam mengambil foto-foto. Kaki Asyifa tanpa iya sadari sudah berada di pinggir tebing.


Asyifa masih saja tersenyum yang tidak menyadari hal itu. Sampai akhirnya mata Rafa tidak sengaja melihat ke arah Asyifa dan melihat langkah Asyifa yang mundur tanpa ada pijakan lagi membuat Rafa terkejut dan langsung menarik tangan Asyifa dan Asyifa juga terkejut dengan dirinya yang sudah kayang di atas tebing yang mungkin Rafa jika melepas tangannya Asyifa bisa terjatuh.


Jantung Asyifa berdetak kencang dengan matanya yang melotot melihat ke adaannya yang setengah berakhir. Rafa di depannya terus menahannya dengan mata mereka yang saling bertemu.


"Kau tau Asyifa. Kau adalah racun dalam hidupku. Dan racun harus segera di singgirkan," ucap Rafa dengan suara beratnya membuat Asyifa terkejut.


"Apa maksudmu. Kamu ingin melenyapkanku?" tanya Asyifa dengan suaranya tertahan. Karena sekarang hidupnya ada di tangan Rafa. Jika Rafa melepas tangannya dia akan berakhir secepatnya.


"Bukankah aku harus melakukannya?" Rafa kembali bertanya.


"Lakukan jika kamu ingin melakukannya," sahut Asyifa menantang Rafa. Asyifa pasrah dengan kehidupannya dan dia tau Rafa sangat membencinya dan jika itu membuat Rafa bahagia maka dia pun pasrah.


Sangat siap. Asyifa sangat siap. Jika harus menghadap ilahi dan bahkan Asyifa memejamkan matanya perlahan yang siap untuk di lepas.


Bukannya melepas, Rafa malah melihat begitu dalam wajah Asyifa. Sangat sulit bagi Rafa untuk mengakui jika wanita pasrah itu begitu cantik. Wajah Asyifa begitu teduh dan apa iya dia sanggup menghabisi wanita itu sekarang juga.


Tanpa melepas tatapannya dari Asyifa yang pasrah akan hidupnya. Tangan Rafa perlahan melepas tangannya dari Asyifa. Sampai sudah di ujung jari-jari Asyifa dan hampir lepas. Namun Rafa menariknya dan akhirnya membuat Asyifa dan dia sendiri berbaring di atas tanah.


Di mana Rafa tergeletak dan Asyifa berada di atas tubuhnya yang masih memejamkan matanya.

__ADS_1


Rafa sekarang bisa lebih dekat lagi menatap wajah Asyifa yang sudah berada di hadapannya tanpa jarak. Meski kematian di depan wajah wanita itu. Namun Asyifa terlihat tidak takut dan menerima kematian itu. Dia tampak tenang dan sangat pasrah


Rafa menelan salivanya dengan menatap dalam-dalam wanita di hadapannya itu. Deru napasnya berhembus tidak teratur dengan Asyifa yang berada di atas tubuhnya. Aroma wanita yang menjadi istrinya itu begitu khas. Bahkan aroma tubuh yang tidak pernah di hirup nya. Kecantikan Asyifa yang natural membuat tidak berkedip sama sekali.


Tangan Rafa perlahan naik untuk membelai pipi Asyifa. Namun saat hampir ingin sampai. Tiba-tiba mata Asyifa terbuka perlahan dan langsung bertemu dengan mata Rafa. Di mana mereka saling melihat dengan posisi yang tetap sama.


"Apa kamu juga ikut mati bersamaku?" tanya Asyifa dengan suara lembutnya yang sangat khas.


Tidak tau kenapa. Rafa diam membisu mendengar kata-kata Asyifa. Di mana matanya yang masih betah melihat 2 bola mata indah di depannya. Yang begitu tenang dan dan sangat teduh. Kematian baru saja di depan mata Asyifa bukannya takut. Tetapi malah Asyifa orang yang ikhlas.


Rafa tidak mengerti debaran apa yang di dadanya. Dia tidak lari, tidak melompat-lompat. Tetapi kenapa jantungnya berdebar tidak menentu. Sangat kencang 10 kali lipat begitu kencang.


Jantungnya pasti pernah berdebar sebelumnya. Ini bukan pertama kali baginya. Apalagi dia pria normal yang sudah menjalin hubungan dengan berbagai wanita sebelum Mahendra.


Tetapi tidak tau jantung ini berdebar begitu hebat dan mungkin Asyifa dapat merasakan getaran itu. Beberapa menit Rafa menatap Asyifa sampai akhirnya Rafa menyadarkan dirinya dan langsung menggeserkan tubuh Asyifa ke sebelahnya dan Asyifa langsung terbaring di sebelah Rafa dan Rafa mengatur napasnya yang naik turun.


"Kenapa tidak jadi melepaskanku?" tanya Asyifa menoleh ke arah suaminya di sebelahnya itu dan Rafa melihat kearah Asyifa.


"Kau masih ingin rebahan di situ. Jika aku meninggalkanmu jangan salahkan aku," ucap Rafa yang langsung pergi begitu ketusnya pada Asyifa.


Asyifa hanya menanggapi biasa saja dan menghela napasnya. Lalu Asyifa berdiri dengan membersih-bersihkan pakaiannya.


"Kenapa dia terus marah-marah sangat aneh!" gumam Asyifa yang langsung berdiri mengejar Rafa yang sudah jauh berjalan di sana.


"Ada apa denganmu Rafa. Apa yang kau pikirkan. Arghh kenapa pikiranku tidak tenang gara-gara wanita itu. Seharusnya aku melepaskan tangannya. Agar dia jatuh dan hidupku bisa tenang," Rafa bergerutu sendiri dengan pemikirannya yang tidak menentu. Wajah cantik Asyifa yang begitu teduh terus terbayang di pikirannya.


**********

__ADS_1


Asyifa dan Rafa melanjutkan jalan-jalan mereka dan bahkan mereka sekarang sedang makan ber-2an yang duduk berhadapan dengan makanan yang di siapkan di meja mereka.


Tidak ada obrolan pastinya. Rafa makan dengan santai begitu juga dengan Asyifa yang makan sambil melihat-lihat foto-foto di camera nya dengan tersenyum.


Tiba-tiba Asyifa melihat Rafa di depannya.


Ceklek, Asyifa langsung memotret Rafa tanpa izin.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Rafa mulai kesal.


"Mama bertanya kamu di mana. Jadi aku harus memotret untuk buktinya," jawab Asyifa dengan santai.


"Kau tidak seharusnya melakukan itu," desis Rafa.


"Maaf," sahut Asyifa yang tidak mudah baginya untuk tidak mengeluarkan kata maaf.


Tidak ada yang di tanggapi Rafa dan hanya diam saja. Walau hatinya begitu kesal dengan Asyifa yang membuat selera makannya berkurang. Sepertinya bukan karena Asyifa yang tiba-tiba memotretnya. Tetapi pikirannya pada kejadian saat di atas tebing tadi.


Dratttt Dratttt Dratttt.


Ponsel Rafa tiba-tiba berdering dan Rafa langsung mengambil ponsel itu sambil berdiri dan meninggalkan Asyifa. Rafa mungkin ingin mengangkat telpon dan Asyifa tidak perlu tau itu. Asyifa juga terlihat tidak peduli dan melanjutkan makan sembari melihat foto-foto itu.


***********


Akhirnya malam hari Asyifa dan Rafa pulang kerumah,


"Hmmm terima kasih untuk jalan-jalan hari ini. Ya aku tau ini jalan-jalan pertama dan terakhir di sini. Tapi sangat menyenangkan. Aku akan mengirim foto-foto kita tadi pada mama. Jadi mama akan tenang. Ya sudah aku ke atas dulu. Selamat beristirahat. Assalamualaikum," ucap Asyifa yang bicara terus dan langsung menaiki anak tangga pergi kekamarnya.

__ADS_1


Rafa tidak menanggapi dan hanya diam dengan wajah dinginnya. Yang seolah tidak peduli dengan apapun yang di katakan Asyifa.


Bersambung


__ADS_2