
Setelah makan malam. Asyifa dan Rafa tidak menginap di rumah orang tua Asyifa mereka langsung pulang dan sekarang mereka berdua berada di dalam mobil yang menunggu macet.
"Tumben sekali macet. Padahal sudah malam," ucap Asyifa dengan menghela napasnya.
"Jakarta Asyifa mau malam atau tidak sama saja akan tetap macet Asyifa," ucap Rafa.
"Iya benar juga sih," sahut Asyifa yang menyandarkan diri pada jok mobil. Tiba-tiba Asyifa melihat ada pedagang soto.
"Kak Rafa suka makan soto tidak?" tanya Asyifa tiba-tiba.
"Tidak," jawab Rafa apa adanya.
"Ohhh begitu," sahut Asyifa yang tampak lesu dengan wajahnya yang masih mengarah pada pedagang soto yang sejak tadi di lihatnya dan Rafa pun melihat arah pandang Asyifa kemana.
"Kamu makan soto?" tanya Rafa yang peka dengan apa yang di inginkan istrinya.
"Kak Rafa tidak mau makan kok. Jadi tidak enak jika Asyifa makan sendiri," ucap Asyifa.
"Jika kamu makan. Maka makanlah," ucap Rafa.
"Sungguh boleh?" tanya Asyifa.
"Kenapa tidak boleh Asyifa. Makanlah jika mau makan," ucap Rafa yang kadang-kadang istrinya ini terlalu sering meminta izin padanya.
Sebenarnya tidak apa-apa juga Rafa justru senang yang apa-apa dia harus melibatkan dirinya. Namun kadang-kadang juga jika hal kecil meminta izin Rafa juga merasa Asyifa lama-lama tidak bisa menjadi dirinya sendiri.
"Bagaimana kamu jadi mau makan apa tidak?" tanya Rafa. Asyifa menganggukkan kepalanya yang benar-benar ingin makan soto.
"Baiklah kalau begitu kita kesana saja untuk makan," ucap Rafa yang tidak masalah. Asyifa menganggukkan kepalanya dan Rafa langsung meminggirkan mobilnya.
Sekarang menuruti kemauan istri itu adalah hal yang sangat menarik baginya dan lihatlah sekarang dia mau menuruti kemauan Asyifa.
Asyifa dan Rafa sudah berada di tempat makan penjual soto di pinggir jalan yang warungnya sangat terbuka dan hanya beratapkan tenda saja.
"Makasih pak," sahut Asyifa ketika pesanannya sudah tiba. Rafa tampaknya sangat peduli pada Asyifa dengan Rafa mengambil sendok dan melapnya dengan tisu dan meletakkan di mangkok istrinya.
__ADS_1
"Makasih kak," sahut Asyifa. Rafa hanya menganggukkan kepalanya. Dan Asyifa menikmati soto tersebut yang pasti sebelumnya sudah membaca doa.
"Kak Rafa kenapa tidak suka soto?" tanya Asyifa sembari makan.
"Terlalu banyak santennya jadi tidak terlalu sehat," jawab Rafa.
"Oh ternyata hanya karena itu toh. Asyifa pikir karena apa. Kan tidak banyak-banyak di makan. Jadi tidak ada salahnya di cicip dulu," ucap Asyifa yang langsung menyendokkan pada suaminya.
"Ayo kak Rafa nikmati dulu!" ucap Asyifa yang mana Rafa belum membuka mulutnya dan sampai akhirnya Rafa membuka mulutnya yang menerima suapan dari istrinya memang kalau sudah istri yang menyuruh Rafa sama sekali tidak bisa menolak permintaan istrinya.
"Bagaimana enak tidak?" tanya Asyifa.
"Enak," jawab Rafa yang memang apa adanya.
"Kalau begitu kita makan berdua," ucap Asyifa.
"Kamu saja yang makan," sahut Rafa.
"Tidak bisa kak Rafa. Kita harus makan berdua. Kan kak Rafa menyukainya," sahut Asyifa dengan rengek-rengek manja.
"Baik Asyifa," sahut Rafa yang lagi-lagi tidak bisa jika harus menolak keinginan istrinya. Asyifa tersenyum dan lagi-lagi menerima suapan istrinya.
"Memang kenapa?" tanya Rafa.
"Ya tempat seperti ini yang makannya sangat. Kak Rafa ini kan moderan dan takutnya tempat seperti ini tidak selera kak Rafa," ucap Asyifa.
"Mulai lagi deh pikirannya entah kemana-mana. Asyifa aku itu juga manusia dan memang sih aku jarang makan di tempat di seperti ini. Jarang bukan berati tidak pernah dan lagian masalah modern atau karena kaya. Lalu bagaimana dengan kamu. Kamu juga modern dan juga anak Dokter yang terkenal," sahut Rafa yang harus mengakui sebenarnya keluarganya dan Asyifa kalau masalah kekayaan lebih menonjol keluarga Asyifa di bandingkan keluarganya.
Hanya saja keluarga Asyifa sederhana dan tidak suka foya-foya. Lain dengan Rafa yang mungkin suka hambur-hambur uang. Ya keduanya sama-sama kolong merat yang menikah, sama-sama visual. Jadi apa semakin tidak menjadi-jadi.
"Kak Rafa bisa aja," sahut Asyifa
"Sudah kamu makan lagi jangan banyak protes ini dan itu," ucap Rafa.
"Baik kak Rafa," sahut Asyifa yang melanjutkan makannya bersama dengan suaminya.
__ADS_1
Ternyata di sebrang jalan di dalam mobil. Ada sosok Miranda yang penuh dengan amarah dan kebencian yang mengepal tangannya yang melihat keromantisan Asyifa dan juga Rafa.
"Kampungan!" umpat Miranda dengan penuh kemarahanya sampai memukul setir mobil saat panas dengan melihat kemesraan suami istri itu.
"Rafa-rafa, kau benar-benar menjadi kampungan sekarang. Lihat apa yang terjadi padamu. Kau bersama wanita itu justru menjadi sangat kampungan. Apa kau sadar itu Rafa," umpat Miranda dengan kesal dengan penuh emosi.
"Karirku, kehidupan ku berantakan karena wanita itu. Kehadiran wanita itu membuatku kehilangan banyak hal. Asyifa, kau pikir aku akan membiarkan mu hidup bahagia. Tidak akan jangan bermimpi Asyifa kau akan bisa bersama Rafa. Itu hal yang sangat mustahil Asyifa. Aku tidak akan membiarkan kamu dan Rafa menikmati kebahagiaan kalian terus menerus. Tidak akan pernah terjadi Asyifa," batin Miranda dengan tangannya yang terkepal.
Miranda pun menarik gas mobilnya dan meninggalkan tempat itu dari pada akan semakin panas jika melihat lebih lama lagi kemesraan Asyifa dan juga Rafa. Jadi Miranda lebih baik pergi.
***********
Asyifa sedang membuat jus di dapur yang membuatkan untuk suaminya yang sedang berenang di pagi hari. Kebetulan ini sedang weekend. Jadi Rafa tidak kekantor. Biasanya juga weekend dan tidak weekend Rafa selalu bekerja. Dan tidak tau kenapa Rafa malah ada di rumah.
Setelah selesai membuatkan jus Asyifa langsung menuju kolam renang untuk memberikan pada suaminya.
"Kak Rafa!" panggil Asyifa. Rafa yang di ujung sana melihat Asyifa dan langsung berenang ke tepian dan langsung naik ke daratan dengan Asyifa memberikan bathrobe pada suaminya.
"Makasih," ucap Rafa yang memakai bathrobe tersebut. Asyifa mengangguk dan memberikan lagi jus pada suaminya. Rafa mengambilnya lalu duduk dan Asyifa ikut duduk di samping Rafa.
"Asyifa!" tegur Rafa.
"Iya kak," sahut Asyifa.
"Aku besok ada perjalanan bisnis," ucap Rafa.
"Kemama?" tanya Asyifa dengan heran.
"Ke Jerman," jawab Rafa.
"Berapa lama?" tanya Asyifa.
"4 hari," jawab Rafa singkat. Asyifa tidak bertanya lagi dan sepertinya sangat berat jika suaminya akan pergi melakukan perjalanan bisnis ke Jerman.
"Asyifa!" tegur Rafa yang memperhatikan jika Asyifa merubah ekspresi wajahnya yang sedih.
__ADS_1
"Ya sudah kak Rafa," sahut Asyifa dengan datar.
Bersambung