Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 165.


__ADS_3

Mentari pagi kembali tiba dengan hari yang begitu cerah yang seperti biasanya Asyifa akan membantunya suaminya untuk bersiap-siap yang seperti biasanya memakaikan dasi sang suami yang pasti Asyifa sudah semakin lancar memakaikan dasi suaminya.


"Sayang tadi malam kamu bilang Zee menelpon. Menelpon karena apa?" tanya Rafa yang mengingat istrinya yang mengangkat telpon adiknya kemarin.


"Asyifa juga tidak tau kak Rafa. Karena saat Asyifa menelpon tiba-tiba tidak di angkat lagi," jawan Asyifa.


"Lalu kamu sudah hubungi kembali Zee?" tanya Rafa.


"Sudah kak Rafa setelah sholat subuh tadi. Tetapi Zee tidak mengangkat. Ya mungkin saja Zee masih tidur," jawab Asyifa.


"Ya sudah kalau begitu, nanti di telpon lagi," ucap Rafa.


"Iya kak," sahut Asyifa yang kembali memakaikan dasi suaminya sampai sudah selesai.


"Sudah rapi," ucap Asyifa yang tersenyum lebar.


"Makasih sayang," sahut Rafa. Asyifa menganggukan kepalanya.


"Ya sudah kalau begitu aku berangkat kerja dulu," ucap Rafa pamit pada istrinya dengan Asyifa yang langsung mencium punggung tangan suaminya dan seperti biasa Rafa akan mencium wajah sang istri dari pipi kiri, kanan, kening dan juga mengecup bibir Asyifa.


"Aku pamit ya," ucap Rafa.


"Hati-hati kak Rafa," ucap Asyifa. Rafa mengangguk dan langsung pergi.


"Jangan lama pulangnya," teriak Asyifa saat Rafa membuka pintu. Rafa hanya menganggukkan kepalanya dan langsung pergi membuat Asyifa menghela napasnya.


"Aku coba telpon Zee lagi, aku takut dia kenapa-kenapa," ucap Asyifa yang kembali mengingat Zee dan tidak akan puas bagi Asyifa jika tidak tau apa masalah yang terjadi pada Zee sampai Zee menelpon malam-malam.


********


Sementara Zee yang keluar dari kamar yang menggunakan pakaian santai saja yang seperti biasa mau pergi kekampus. Zee menuruni anak tangga dan pasti yang di temuinya adalah Abian yang sarapan seperti biasa yang sudah di siapkan asisten rumah tangga.


Zee tidak bicara sama sekali dan langsung pergi aja yang tidak memperdulikan ada Abian atau tidak di sana. Setelah melihat kepergian Zee Abian menoleh kebelakang mungkin merasa tumben. Jika Zee hanya pergi dan tanpa bicara apa-apa yang mungkin Zee sudah capek dan lebih baik pergi saja.


*********


2 Minggu berlalu.


Semenjak menikah dengan Abian, Zee sebenarnya tidak pernah fokus dengan kehidupannya, bahkan pernikahannya dengan Abian hanya datar-datar saja dan bahkan mereka tidak pernah bicara sama sekali. Bisa di katakan pernikahan mereka sudah lebih 1 bulan.


Zee bahkan tidak pernah di sentuh, di ajak bicara, dan jangankan hal-hal seperti itu. Bahkan tersenyum sedikit pun kepada Zee tidak pernah. Abian hanya diam dengan menunjukkan aura dinginnya yang seperti tidak menganggap Zee ada di rumah itu.

__ADS_1


Apa lagi mereka memang hanya tinggal berdua tanpa orang tua Abian. Jadi Abian mau suka-sukanya dan malah Zee harus setiap hari mendapatkan sakit hati karena sering melihat Abian dan Syira bertemu. Namun Zee membiarkan saja dan tidak ingin ribut. Karena percuma ujung-ujungnya hanya dia yang akan sakit hati nanti.


Jadi lebih baik diam tanpa protes, tanpa mengatakan apa-apa kepada keluarganya. Dua memendam sendiri masalah yang di hadapinya di sekolah.


Seperti saat ini di mana Zee yang duduk di pinggir taman yang hanya melamun dengan banyaknya pemikiran di kepalanya dengan beberapa kali dia menghela napasnya dengan kasar seolah menumpahkan masalah yang di alaminya.


"Zee!" tiba-tiba terdengar suara yang membuat Zee kaget dan langsung mengangkat kepalanya melihat kesampingnya siapa yang memanggilnya.


"Kak Dedi," sahut Zee yang cukup terkejut melihat Dedi sepupu Asyifa.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Dedi.


"Oh tidak, aku lagi sedang melihat-lihat aja orang lewat," jawab Zee tersenyum.


"Banyak pikiran?" tanya Dedi.


"Tidak juga," sahut Zee, "oh iya kak Dedi sendiri ngapain di sini?" tanya Zee.


"Tadi lagi nongkrong di sana. Habis pulang dari balapan," jawan Dedi yang duduk di sebelah Zee tanpa di suruh Zee untuk duduk.


"Balapan motor?" tebak Zee.


"Iya," jawab Abian.


"Ya sangat seru. Kamu tidak pernah menonton balapan?" tanya Dedi.


"Hmmmm, aku tidak pernah, kayaknya seru ya," ucap Zee.


"Sangat seru, kalau kamu mau dan tidak keberatan. Aku ada tiket ViV untuk balapan. Apa kamu mau?" tanya Dedi yang menawarkan pada Zee.


"Serius?" tanya Zee yang tidak percaya. Dedi menganggukan kepalanya.


"Ya ampun ini namanya rezeki nomplok, tiba-tiba ketemu dan di tawari menonton balap dengan gratis," sahut Zee yang kelihatannya sangat bahagia.


"Jadi bagaimana apa kamu mau?" tanya Dedi.


"Kalau sudah seperti ini mana mungkin bisa di tolak," sahut Zee yang tidak masalah sama sekali.


"Tapi suami kamu mengijinkan tidak?" tanya Dedi yang tidak mau sembarangan mengajak Zee. Mendengar kata suami membuat Zee tampak datar dan tidak bersemangat sama sekali.


"Bagaimana dia mau tidak?" tanya Dedi yang belum mendapatkan jawaban dari Zee.

__ADS_1


"Jangan khawatir. Menonton balapan tidak ada hubungannya dengan dia," sahut Zee yang tersenyum dengan lebar yang seolah benar-benar tidak peduli pada Abian mau seperti apa. Dedi yang juga tidak tau masalah ini dan itu apalagi masalah rumah tangga Zee hanya santai saja.


**********


Asyifa sedang berbelanja ke Supermarket untuk membeli beberapa keperluan yang penting. Asyifa memasukkan apa-apa saja yang di perlukannya kedalam troli belanjaan. Namun saat ingin mengambil sesuatu. Tiba-tiba Asyifa melihat Abian dan Asyifa terlihat terkejut saat melihat Abian bersama dengan seorang wanita yang membuat Asyifa kaget.


"Bukannya itu kak Abian dan Syira," batin Asyifa dengan wajah terkejutnya melihat Abian yang mendorong troli dan Syira yang berbelanja dengan mereka yang saling bicara dan bahkan sama-sama tersenyum.


"Astagfirullah," lirih Asyifa yang terlihat begitu terkejut. Asyifa geleng-geleng dan langsung menghampiri Abian dan Syira.


"Kak Abian," tegur Asyifa yang membuat Abian menoleh kebelakangnya dan kaget melihat Asyifa. Begitu juga dengan Syira.


"Asyifa!" lirih Abian. Asyifa melihat Abian dan Syira dengan bergantian.


"Di mana Zee?" tanya Asyifa. Abian dan Syira saling melihat.


"Dia tidak ikut bersama kak Abian?" tanya Asyifa yang langsung menduga-duga yang menatap curiga pada 2 orang itu.


"Zee sedang kuliah dan aku membeli sesuatu di sini dan tidak sengaja bertemu dengan Syira," ucap Abian.


"Benar Asyifa. Kamu jangan salah paham. Aku sama Abian tidak sengaja bertemu," sahut Syira menambahi.


"Apa kita bertiga juga akan berbelanja bersama setelah ini dengan kak Abian yang juga akan mendorong troli belanjaan ku?" tanya Asyifa.


"Maksud kamu Asyifa?" tanya Abian.


"Kita tidak sengaja bertemu bukan. Jadi banyak kemungkinan untuk berbelanja bersama. Bukannya kak Abian dan Syira tidak sengaja bertemu. Jadi kalian berdua melanjutkan dengan seperti ini," ucap Asyifa.


"Asyifa kamu salah paham, tidak semua yang kamu pikirkan benar," sahut Syira.


"Kamu tau dia sudah menikah dan bagaimana mungkin tidak akan terjadi kesalahpahaman. Jika seorang Pria yang sudah menikah bersama dengan wanita yang bukan muhrimnya dan terlebih lagi kalian berdua orang yang sama-sama paham mengenai Agama. Tau agama dan mengerti adab," ucap Asyifa dengan tegas yang mengambil kesimpulan sendiri dengan melihat Abian Ndan Syira yang berduaan.


"Asyifa kamu jangan berpikir yang aneh-aneh. Kamu mengenal Syira dan tau Syira wanita baik-baik," ucap Abian yang membela Syira.


"Wanita baik-baik, wanita yang mengerti agama, tau mana muhrimnya dan tidak. Tidak akan bersama pria yang bukan muhrimnya dan terlebih lagi Pria itu suami orang lain," tegas Asyifa membuat Syira terdiam.


"Jadi bagaimana mungkin aku bisa berpikiran. Jika dia bukan wanita baik-baik kak Abian. Atau kalian berdua sama saja yang memang tidak mengerti masalah agama," lanjut Asyifa yang menggurui 2 orang itu.


"Aku hanya ingin memberitahu. Jika aku datang kemari bersama mama Shofia dan aku tidak tau apa yang akan terjadi nantinya jika mama tau, jika menantunya melihat dirinya bersama wanita lain," tegas Asyifa yang berbicara sangat serius dan begitu garang.


Abian dan Syira hanya diam yang seolah tidak bisa berkutik apa-apa.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2