Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 164


__ADS_3

Abian yang berada di kamarnya yang berdiri di depan cermin dengan membuka pakaiannya yang mana Abian melihat luka di punggungnya. Lukanya yang waktu itu terkena cambukan yang sampai sekarang masih membekas dan mang hanya tinggal menunggu kering saja. Namun untuk masih sakit pasti masih terasa sakit dan perih.


Abian mengambil obat di atas meja mungkin saja obat untuk pengering lukanya dan Abian mengobati sendiri yang pasti kesulitan mengobatinya karena memang berada di punggungnya. Namun Abian berusaha untuk mengobatinya menggunakan tangannya.


"Biar aku bantu!" sahut Zee yang tiba-tiba datang dan ingin membantu Abian yang membuat Abian kaget.


"Apa yang kamu lakukan di sini," sentak Abian yang menyinggirkan tangan Zee dan Abian langsung memakai pakaiannya karena ada Zee.


"Aku hanya ingin membantu," ucap Zee.


"Tidak perlu, seharusnya kamu tidak masuk sembarangan kedalam kamar orang. Zee aku laki-laki dan kamu perempuan. Dan tidak pantas kamu masuk kamarku dan apa lagi aku tidak memakai pakaian tadi," tegas Abian yang tampak marah dan membuat Zee menautkan alisnya mendengar pernyataan Abian.


"Apa maksud kak Abian. Kita ini sudah menikah dan tidak ada yang salah dengan aku dan kak Abian. Tidak salah jika aku melihat kak Abian tanpa pakaian," sahut Zee.


"Pernikahan itu hanya status. Namun kita berdua tidak hubungan apa-apa. Aku sama kamu sama-sama punya privasi masing-masing dan itu sebabnya aku tidak sekamar dengamu. Jadi kau jaga etika dan sopan santun yang tidak masuk sembarangan ke dalam kamar orang lain," tegas Abian yang membuat Zee benar-benar terkejut dengan kata-kata Rafa yang menurutnya benar-benar sangat keterlaluan.


"Bisa-bisanya kak Abian membicarakan masalah sopan santun. Kak Abian aku ini istrimu dan kau marah karena aku masuk kamarmu," ucap Zee yang merendahkan suaranya.


"Bagaimana aku tidak marah dengan kecerobohan mu. Aku sudah mengingatkanmu untuk tidak mencampuri urusanku dan jangan pernah kaitkan dengan pernikahan. Karena pernikahan itu hanya pernikahan saja dan hubungan di antar kita berdua tidak ada. Kau tidak seharusnya masuk kedalam kamarku dan mengganggu diriku, sudah cukup dengan semua yang sudah terjadi Zee kau....


"Cukup!" teriak Zee yang memotong pembicaraan Abian dengan suara Zee yang berteriak.


"Kau begitu marah kepadaku. Karena aku hanya masuk kamarmu. Kau yang membuat ku datang kerumah ini. Aku diam saat kau berbicara manis di depan keluargaku dan yakin jika aku tinggal bersamamu. Kau membuatku berada di rumah ini. Kau diam dengan kau membuatku berada di kamar lain. Aku pulang. Tetapi kau menjemputku dan sekarang memarahiku hanya karena hal spele. Kita pasangan halal. Tetapi menurutku kita tidak hahal. Sehingga harga dirimu hilang ketikan aku melihat kau tanpa memakai baju. Abian aku istrimu bukan Syira!" teriak Zee dengan suaranya yang menggelar dengan matanya yang berkaca-kaca yang sudah tidak tahan dengan perlakuan Abian kepadanya.

__ADS_1


"Kenapa kau membawa-bawa namanya," sahut Abian.


"Kau marah dengan hal spele yang aku lakukan. Tapi kau membiarkan wanita lain datang kerumah ini dan obat yang baru saja kau sentuh pemberian darinya bukan, kau dengan bahagia menggunakannya. Kenapa tidak sekalian saja kau suruh dia mengobati mu. Wanita yang tidak tau malu itu!" teriak Zee.


"Cukup Zee!" bentak Abian dengan suara yang menggelegar, "kau jangan menghina Syira di depanku. Dia tidak bersalah, dia wanita baik-baik dan kau tidak pantas menghinanya," ucap Abian yang bisa-bisanya membela wanita lain di depan istrinya dan istri mana yang tidak sakit hati mendengarnya.


Plakkkkkkk.


Zee yang kehilangan kesabarannya. Langsung menpar Abian membuat Abian terkejut dengan Zee menamparnya.


"Kau bisa-bisanya mengatakan itu di depanku. Seakan kau menganggap aku wanita yang paling buruk. Apa karena dia memakai jilbab dan menurutmu sangat baik," ucap Zee dengan suara rendahnya yang penuh penekanan.


"Perbaiki dirimu Zee," sahut Abian yang menanggapi amarah Zee dengan kata-kata itu, "kau bisa bandingkan kelakuanmu yang kurang ajar. Kau mengatakan dirimu seorang istri. Tetapi tangamu sangat lancang menampar suamimu dan kau ingin perbandingan dengan dirimu dan Syira. Kau bisa melihat bagaimana dia yang tau tentang adab dan tidak sepertimu tidak mengerti etika. Kau tidak pantas menghinanya. Kau seharusnya sadar jika dirinya masih memperhatikan ku. Walau aku menyakitinya dan seharusnya kau bisa belajar darinya. Bagaimana menjadi wanita yang sabar," tegas Abian yang bicara pelan namun sangat menusuk.


Bukannya Abian berhenti membandingkan dirinya dengan Syira malah Abian semakin memuji Syira dan bahkan memperjelas jika Zee bukan wanita yang pantas untuk Abian.


"Kau benar-benar laki-laki sakit jiwa, kenapa tidak sekalian saja kau bawa wanita itu tinggal di rumah ini dan aku yang akan pergi," tegas Zee yang keluar dari kamar Abian.


"Malulah jika kau akan pulang kerumah orang tuamu," ucap Abian membuat langkah Zee yang di depan pintu terhenti.


"Dewasalah sedikit jangan apa-apa kau harus mengadu pada orang tuamu. Kau bukan anak kecil lagi. Jangan membuatku harus mengurus dirimu terus menerus," ucap Abian yang membuat tangan Zee terkepal dengan posisi yang berat yang di berikan Abian kepadanya.


Zee tidak sanggup lagi harus mendengarkan kata-kata Abian yang begitu kasar kepadanya dan Zee memilih untuk pergi dari kamar itu dengan berlari dari pada mendapatkan luka yang semakin banyak.

__ADS_1


Abian memejamkan matanya dengan membuang napasnya perlahan kedepan yang berusaha untuk mengendalikan dirinya, meredakan emosinya yang menggebu-gebu karena Zee yang memasuki kamarnya.


***********


Dratt-dratt-Dratttt.


Asyifa yang tertidur di pelukan Rafa mendengar handphonnya berdering dan Asyifa langsung meraba nakas dan duduk untuk melihat panggilan masuk.


"Zee!" lirih Asyifa heran dengan Zee yang menelpon jam 1 malam. Saat Asyifa ingin mengangkatnya tiba-tiba panggilannya sudah berakhir dan Asyifa yang penasaran kenapa Zee menelponnya menghubungi kembali. Namun tidak ada yang mengangkat sama sekali.


"Kenapa tidak di angkat," batin Asyifa heran dan malah tiba-tiba khawatir dan Asyifa tidak menyerah dan terus menghubungi Zee.


"Sayang ada apa?" tanya Rafa dengan suara seraknya yang melihat istrinya kebingungan.


"Zee menelpon. Tetapi tiba-tiba aku menelponnya kembali malah tidak di angkat," jawab Asyifa.


"Sudahlah Zee paling iseng aja, ayo kamu tidur lagi," sahut Rafa yang tidak mau ambil pusing. Namun Asyifa tetap tidak bisa berpikir tenang.


"Sayang sudah ayo tidur," Rafa menarik pinggang Asyifa dan membuat Asyifa kenali berbaring dan Rafa langsung memeluknya erat. Wajah Asyifa tetap menunjukkan rasa khawatir terhadap Zee.


Ternyata Zee sekarang berada di kamarnya yang terduduk di sudut dengan memeluk tubuhnya dan ponselnya yang terletak di lantai. Dia menangis sengugukan dengan apa yang baru saja di rasakannya.


Dia berniat ingin mencurahkan apa yang terjadi pada Asyifa. Makanya dia menelpon Asyifa. Namun tiba-tiba dia mengurungkan niatnya yang merasa tidak punya keberanian menceritakan masalah rumah tangganya dengan Abian dan perlakuan Abian yang begitu jahat kepadanya, bukan hanya sikap Abian yang dingin

__ADS_1


Namun juga Abian sering membandingkan dirinya dengan Syira dan bahkan sering berkata kasar yang pasti sangat melukai hatinya dan pasti hal itu sangat sulit untuk di terima Zee.


Bersambung


__ADS_2