Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 165


__ADS_3

Abian yang berada di rumahnya duduk di ruang keluarga dengan bermain handphone dengan Tv yang menyala.


"Kenapa dia belum pulang!" batin Abian yang melihat jam di ponselnya. Sudah sore hari namun Zee tidak juga pulang kuliah. Biasanya Zee pulang selalu siang sekitar jam 3 paling lama. Namun kali ini Zee belum pulang juga.


Tiba-tiba Abian melihat ke arah televisi yang menampilkan pertandingan balap motor. Sangat kebetulan kamera menyorot ke arah penonton dan memperlihatkan Zee yang ada di antara penonton yang bersorak bahagia meneriaki nama seseorang dan dari gerak-gerik mulut Zee terbaca nama yang di sorakinya adalah nama Dedi yang sangat kebetulan juga camera menyorot Dedi.


"Jadi dia ada di sana," batin Abian yang terlihat kesal dengan melihat Zee yang tidak pulang kerumah yang ternyata mencari kebahagiaan sendiri dan Abian kelihatan sangat panas dengan Zee yang begitu bahagia. Apa mungkin dia panas dengan kebahagiaan Zee sementara Abian memikirkan kenapa Zee tidak pulang-pulang.


**********


Setelah pulang dari menonton balapan yang di jadwalkan hari ini. Dedi yang mengajak Zee bertanggung jawab mengantarkan Zee pulang ke rumahnya. Apalagi sudah malam. Ya untung tidak pulang larut malam, baru jam 9 malam. Zee pulang bersama Dedi menggunakan motor Dedi yang mana pasti mereka berboncengan.


Saat motor itu berhenti di depan pagar rumah Abian sangat kebetulan Abian dan Syira keluar dari rumah dan semuanya sama-sama kaget. Abian yang kaget melihat Zee turun dari motor balap Dedi dan Dedi yang kaget melihat Syira. Sementara Zee sebenarnya tidak kaget lagi yang terbiasa dengan Abian dan Syira. Bahkan Zee cuek seakan-akan tidak melihat 2 orang itu.


"Makasih ya kak Dedi sudah mengantar Zee pulang," ucap Zee membuka helmnya dan memberikan pada Dedi.


"Tidak masalah Zee," sahut Dedi yang juga membuka helmnya dan melihat ke arah Abian dan Syira, "Syira kamu kok ada di sini. Kenapa keluar dari rumah Abian. Bukannya setauku Zee hanya tinggal bersama Abian ya dan tidak ada orang tua Abian. Lalu kamu kok bisa keluar dari rumahnya?" tanya Dedi dengan penuh selidik melihat ke-2 orang itu.


"Aku hanya ada keperluan sebentar," jawab Syira dengan tenang.


"Keperluan apa sampai malam-malam seperti ini?" tanah Dedi yang kepo.


"Kamu sendiri dari mana Zee kenapa baru pulang?" tanya Abian yang mengalihkan pembicaraan yang menanyai Zee yang padahal Abian sudah tau Zee itu dari mana. Namun Zee diam yang tidak peduli dengan pertanyaan itu yang bahkan tidak melihat Abian.

__ADS_1


Hal itu mencuri perhatian Dedi yang merasa ada yang tidak beres dengan Zee dan Abian. Apa lagi ada Syira.


"Hmmm, Syira kamu tidak menjawab pertanyaan ku," sahut Dedi yang ternyata masih menunggu jawaban Syira. Zee melihat Abian yang malah terlihat tidak suka dengan Dedi yang mengintrogasi Syira membuat Zee mendengus kasar.


"Kak Dedi. Syira itu sudah biasa datang kerumah ini. Jadi jangan pertanyakan lagi. Karena dia tidak punya jawaban. Karena jawabannya hanya ingin menjadi istri ke-2 dari suami orang," sahut Zee yang langsung bicara to the point yang mengejutkan semua orang termasuk Abian yang tidak percaya Zee mengatakan hal itu.


"Zee apa yang kau katakan?" sahut Syira yang tidak terima dengan perkataan Zee.


"Kenapa? marah di katain calon istri dari suami orang. Memang iya kan, kamu itu sedang melakukan percobaan bagaimana menjadi istri. Karena mau menjadi istri kedua darinya kan," tegas Zee yang sepertinya tidak bisa menahan kata-katanya.


"Zee cukup!" tegas Abian dengan sentakan.


"Kenapa? malu. Jika orang lain tau jika kau memang berniat ingin menjadikannya istri kedua. Apa yang ingin kau katakan, dia tidak mungkin seperti itu. Dia wanita baik-baik, wanita Sholeha. Wanita baik-baik tidak akan datang kerumah pria yang beristri sampai malam hari!" tegas Zee dengan marah-marah.


Zee mendengarnya hanya tersenyum sinis, "istri itu cerminan suami. Suaminya sering seperti itu. Lalu kenapa bertanya jika istrinya seperti itu. Di ajari dong istrinya, kasih contoh yang benar. Contoh aja tidak benar mau menggurui, mengimami satu aja tidak bisa mau menambah lagi," sahut Zee dengan sinis.


"Zee kau..."


"Apa!" sahut Zee yang menantang Abian dengan melototkan matanya.


"Ilmu agama kalian berdua itu terlalu berlebihan, mungkin sudah salah jalur. Jangan di kira dengan lulusan agama kau lebih pintar dan sok tau. Jangan di pikir dengan dirimu yang berpenampilan seperti ini sangat alim dengan tertutup kau itu lebih baik dariku," tegas Zee menyindir 2 orang di depannya itu.


"Kamu itu bicara keterlaluan ya Zee," sahut Syira yang tidak terima.

__ADS_1


"Kenapa? tidak suka! malu hah! masih punya malu. Kalau jadi wanita itu tau diri sedikit. Punya otak tidak, jadi di gunakan. Kalau masih cinta dengan suami orang tidak perlu repot-repot sembunyi-sembunyi. Sana menikah kalian berdua. Karena jodoh itu cerminan diri dan kalian berdua itu cocok sama-sama munafik," maki Zee yang tidak bisa mengendalikan dirinya yang mengatai Abian dan Syira membuat Abian mengepal tangannya yang sepertinya Zee sengaja memancing amarah Abian. Menurutnya cukup diam selama ini.


"Dasar wanita tidak tau diri, buka sekalian jilbabmu, jangan jadi wanita murahan yang bermain dengan suami orang lain dasar tidak tau diri, tidak malu, munafik," maki Zee pada Syira.


"Zee kau!" Syira ingin menampar Zee. Namun di halangi oleh Dedi dengan melindungi Zee yang seolah memeluk Zee.


"Jangan bermain tangan, biasanya orang yang bermain tangan adalah orang yang salah," ucap Dedi yang berdiri di hadapan Zee yang melindungi Zee.


Abian yang melihat hal itu seolah-olah tidak terima.


"Kita masuk kedalam selesaikan semua di dalam Tidak perlu orang lain harus tau masalah rumah tangga kita," ucap Abian dengan dingin.


"Tidak ingin mengajak calon istri kedua mu. Supaya kita sama-sama selesaikan!" sindir Zee yang benar-benar sudah tidak peduli lagi dan sekarang dia benar-benar puas yang sudah mengatakan apa yang di pendamnya selama ini dan mungkin ini karena ada Dedi yang membuatnya berani.


"Aku bilang masuk kedalam!" tegas Abian.


"Kak Dedi makasih sudah mengantar ku pulang. Kakak pulanglah. Aku tidak apa-apa kok," ucap Zee yang berbicara dengan tenang.


Namun Dedi ragu. Karena bisa di lihatnya masalah Zee dan Abian bukan masalah spele.


"Aku masuk dulu kak Dedi," ucap Zee yang masuk terlebih dahulu dan Abian pun akhirnya menyusul.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2