
Asyifa, Rafa, Shofia, Xander, Ardi dan Shania dan Aqela sedang sarapan bersama seperti biasanya sebelum mereka melakukan aktivitas masing-masing.
"Mama dan papa nanti jadi kan datang ke sekolah Aqela?" tanya Aqela tiba-tiba.
"Jadi sayang," jawab Shania.
"Memang ada acara apa sayang kenapa harus ke sekolah?" tanya Shofia.
"Ada kegiatan Oma," jawab Aqela.
"Oh begitu ternyata, ya semoga saja kegiatan kamu lancar ya," sahut Shofia.
"Makasih Oma sudah mendoakan Aqela," jawab Aqqela dengan tersenyum lebar yang kembali melanjutkan sarapannya.
Namun berbeda dengan Rafa yang tiba-tiba memegang perutnya yang terasa sakit dan Asyifa sang istri menyadari hal itu.
"Kak Rafa kenapa?" tanya Asyifa melihat suaminya yang terlihat kesakitan sampai keringat dingin.
"Oh tidak apa-apa Asyifa," jawab Rafa yang lagi-lagi berbohong.
"Bagaimana tidak apa-apa. Asyifa bisa lihat kak Rafa menahan sakit. Kak Rafa juga sampai keringat dingin," ucap Asyifa yang tidak bisa di bohongi dan memang tau jika Rafa sedang kesakitan.
"Kamu baik-baik aja Rafa?" tanya Ardi yang semua orang juga jadi fokus pada Rafa.
"Hanya salah salah makan sepertinya makanya tiba-tiba sakit perut. Santai saja tidak ada hal yang serius," ucap Rafa tersenyum yang berusaha menutupi keadaannya yang memang Rafa menahan rasa sakit.
Asyifa sangat khawatir dan tidak mudah percaya yang terus melihat gerak-gerik suaminya itu.
"Sarapan lagi Asyifa. Aku tidak apa-apa," ucap Rafa yang meyakinkan sang istri dan Asyifa hanya mengangguk saja. Padahal jelas melihat suaminya itu sedang sakit.
"Ya Allah aku mohon hilangkan rasa sakit ini. Aku tidak mau mencemaskan istriku ya Allah," batin Rafa yang memikirkan Asyifa yang tidak ingin istrinya khawatir.
"Aku merasa kak Rafa sedang menyembunyikan sesuatu dari ku. Tapi apa ya Allah. Maafkan hambah ya Allah yang berburuk sangka pada suami hambah ya Allah. Tetapi hambah hanya takut suami hamba kenapa-kenapa ya Allah. Hambah pasrah dan berserah diri padamu ya Allah," batin Asyifa yang tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.
__ADS_1
*******
"Assalamualaikum!" sapa Asyifa yang berkunjung kerumah ibunya di siang hari.
"Walaikum salam. Ibu di dapur Asyifa," sahut Rania.
Asyifa langsung menuju dapur dan menghampiri ibunya dengan mencium punggung tangan ibunya dan Rania pasti menciumi wajah putri istrinya itu dan memeluknya dengan erat.
Pelukan dengan mengelus-elus punggung Asyifa terasa sangat berbeda dari biasanya. Karena biasanya tidak terlalu seperti itu dan mungkin saja karena Rania yang baru mendengar dari suaminya mengenai menantunya.
"Ibu sepertinya begitu merindukan Asyifa. Sampai memeluk Asyifa seperti ini," ucap Asyifa yang sudah melepas pelukannya dan melihat Maya ibunya berkaca-kaca.
"Kamu benar sayang ibu sangat merindukan kamu," ucap Rania dengan mengusap pipi Asyifa.
"Maaf ya ibu Asyifa jarang datang," ucap Asyifa yang merasa bersalah.
"Tidak apa-apa sayang. Oh iya kamu makan ya. Kebetulan ibu baru saja selesai memasak," ucap Rania yang langsung mengajak Asyifa duduk dan Rania langsung menyiapkan makan untuk putrinya itu.
"Azka belum pulang ibu?" tanya Rania.
"Bagaimana kandungan kamu sayang?" tanya Rania.
"Alhamdulillah baik-baik aja ibu. Hari ini Asyifa ada cek kandungan di rumah sakit ayah. Asyifa malah mau kerumah sakit. Kebetulan lewat. Jadi Asyifa mampir," jawab Asyifa.
"Alhamdulillah jika kandungan kamu baik-baik aja. Kamu terus jaga kesehatan ya dan juga lebih memperhatikan suami kamu," ucap Rania memberi saran yang sudah menyiapkan makan untuk putrinya dan Asyifa bahkan sudah mulai menikmati masakan sang ibu.
"Iya ibu Asyifa juga sangat aneh dengan kak Rafa belakang ini," ucap Asyifa yang harus mengeluh kesahkan perasaan pada ibunya. Rania sampai terdiam yang melihat putrinya yang senduh.
"Memang ada apa Asyifa?" tanya Rania.
"Asyifa merasa kak Rafa belakang ini menyembunyikan sesuatu dari Asyifa dan Asyifa juga tidak tau ibu ada apa sebenarnya. Namun Asyifa merasa ada yang aneh saja dan perasaan Asyifa sering tidak tenang," ucap Asyifa yang mencurahkan pemikirannya kepada ibunya.
"Ya Allah feeling seorang istri tidak pernah salah. Kasihan Asyifa yang tidak bisa melakukan apa-apa. Namun perasaannya penuh dengan gejolak dengan kebingungan," batin Rania yang sangat simpatik pada putrinya itu.
__ADS_1
**********
Setelah dari rumah ibunya. Asyifa kerumah sakit untuk cek kandungan. Katanya suaminya hari ini tidak bisa menemaninya dan tidak masalah untuk Asyifa.
Asyifa berjalan di koridor rumah sakit dengan membawa paper bag, "Asyifa ke ruangan ayah dulu untuk mengantarkan makan siang yang di titipkan ibu. Baru setelah itu Asyifa temui Dokter Rani," batin Asyifa yang menuju ruangan sang ayah.
Rania memang menitipkan makan siang untuk suaminya melalui putrinya yang memang ingin kerumah sakit dan Asyifa sudah tiba di depan ruangan Dokter Rendy.
"Assalamualaikum ayah!" Asyifa mengetuk pintu. Namun tidak ada sahutan membuat Asyifa langsung masuk saja. Tidak melihat sang ayah berada di tempat duduknya membuat Asyifa berjalan terus sampai ke ruangan pemeriksaan.
"Ayah!" tegur Asyifa.
Rendy memang melakukan pemeriksaan dan Asyifa terkejut dari kejauhan 5 meter melihat pasien yang di periksa sang ayah adalah suaminya.
"Asyifa!"lirih Rendy yang begitu terkejut dengan kedatangan putrinya itu, mendengar nama Asyifa di sebutkan membuat Rendy Rafa langsung duduk dan melihat dan ternyata benar istrinya.
"Asyifa!" lirih Rafa yang begitu terkejut.
"Kak Rafa kok ada di sini. Bukannya kak Rafa bilang lagi sedang ada meeting. Lalu kenapa tiba-tiba ada di sini dan kak Rafa sedang melakukan pemeriksaan apa?" tanya Asyifa dengan beribu pertanyaan yang membuat Rafa menelan salivanya dan saling melihat dengan Rendy.
"Kak Rafa malah diam dan tidak menjawab Asyifa. Kalau kak Rafa bisa kerumah sakit kenapa tidak bilang sama Asyifa kan kita berdua bisa sama-sama kerumah sakit yang kebetulan Asyifa juga ada periksa kandungan," ucap Asyifa.
"Maaf Asyifa. Aku tadi lupa dengan jadwalku. Dan aku hanya periksa kesehatan saja bersama ayah," ucap Rendy dengan alasannya yang pasti penuh dengan kebohongan.
Asyifa menghela napasnya yang kelihatan tidak percaya dengan suaminya.
"Iya kan ayah?" tanya Rendy yang harus melibatkan mertuanya untuk meyakinkan istrinya. Dan Rendy hanya mengangguk saja.
"Ayah Asyifa bawa makan siang untuk ayah dari ibu. Tadi Asyifa kerumah ibu," ucap Asyifa yang langsung mengalihkan pada hal lain dan meletakkan makanan itu di atas meja.
"Ya sudah ayah Asyifa mau bertemu Dokter Rania dulu. Assalamualaikum," ucap Asyifa yang langsung pergi. Sepertinya Asyifa marah pada Rafa dan lebih pergi.
Rafa menghela napasnya dan langsung turun dari ranjang menyusul istrinya. Rendy tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya melihat saja.
__ADS_1
Bersambung