Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 28


__ADS_3

New Zealand Selandia Baru


Akhirnya Asyifa dan Rafa pun sampai pada tempat bulan madu yang di berikan Xander untuk mereka.


Setelah sampai Bandara mereka langsung menuju Apartemen yang sudah di siapkan oleh Xander. Di mana Apartemen mereka juga sangat strategis dekat dengan lautan yang begitu indah yang mencuci mata.


Sepanjang perjalanan tadi Asyifa terus memuji kagum ciptaan sang maha pencipta.


Dia merasa bersyukur di berikan mata untuk menikmati pemandangan indah di negara yang terkenal indah di dunia.


Asyifa dan Rafa sampai ke Apartemen dan ada pelayan yang membantu mereka. Asyifa berdiri di depan Rafa dengan kepalanya yang berkeliling melihat isi Apartemen mewah itu yang dingding penuh kaca dan bisa melihat lautan langsung dan pemandangan yang indah.


Ayah mertuanya memang begitu baik yang sudah memberikannya paket komplit untuk berbulan madu yang sangat memanjakan dan pasti sangat di nikmati oleh Asyifa.


"Kau!" tunjuk Rafa pada Asyifa.


"Kau tidur di atas dan aku di kamar bawah. Kau dengar selama kita di sini. Jangan harap aku 1 kamar dengamu. Cukup di rumah saja hidupku tersiksa tidak di tempat ini," tegas Rafa.


"Kenapa harus pisah kamar?" tanya Asyifa.


"Kau tidak perlu bertanya. Karena aku memang tidak sudi harus berbagi ranjang dengamu. Cukup di rumah aku berbagi kamar dengamu dan tidak di sini!" tegas Davin yang langsung pergi dari hadapan Asyifa menuju kamar yang di katakan Rafa dan pintu kamar itu bahkan di tutup kasar Rafa.


Asyifa hanya menghela napasnya saja dan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Selama menikah mereka memang tinggal satu rumah dan satu kamar. Tetapi ternyata mereka tidak pernah satu ranjang. Rafa tidak sudi satu ranjang dengan Asyifa dan Asyifa yang tidak protes dengan hal itu. Sudah terbiasa baginya menghadapi Rafa yang seperti itu.


***********


Malam hari Asyifa terlihat menyiapkan makanan di meja makan. Dia meminta tolong pada pelayan untuk membelikan bahan makanan dan dia sendiri yang memasaknya dan tidak lama untuk Asyifa menyiapkan makanan itu dan sudah selesai dengan cepat.


Dengan bersamaan Rafa keluar dari kamarnya dan Asyifa langsung menghampirinya.


"Kak Rafa!" Panggil Asyifa saat Rafa ingin pergi.


"Kakak mau kemana?" tanya Asyifa.


"Bukan urusanmu!" jawab Rafa dengan ketus, " dan iya apa yang kau katakan barusan. Kau memanggilku apa?" tanya Rafa.

__ADS_1


"Kakak!" Jawab Asyifa apa adanya.


"Sejak kapan aku lahir dari perut ibumu. Makanya seenaknya memanggilku kakak," ucap Rafa yang kelihatan tidak setuju.


"Lalu harus memanggil apa. Usia kita terpaut jauh. Kita berbeda 7 tahun masa iya aku panggil nama kan tidak sopan," sahut Asyifa.


"Oh, kau mengerti juga sopan santun. Jadi gunakan sekarang sopan santunmu untuk tidak mengganggu orang lain. Tidak bertanya urusan orang lain, tidak mencampuri urusan orang lain," tegas Rafa yang malah marah. Dia memang sangat cepat terpancing emosi.


"Aku sudah menyiapkan makan malam. Ada sebaiknya kita makan bersama," ucap Asyifa.


"Aku mau pergi. Ada pekerjaan. Aku tidak sudi makan bersammu," ucap Rafa dengan sinis yang melukai hati Asyifa.


"Tapi aku sudah memasak," sahut Asyifa.


"Apa menurutmu aku peduli," sahut Rafa yang langsung pergi dari hadapan Asyifa.


"Kak Rafa tunggu!" Panggil Asyifa mengejar Rafa lagi dan berhenti di depan Rafa.


"Jangan manggil ku dengan penggilan itu!" Bentak Rafa terlihat tidak setuju.


"Lalu harus memanggil apa. Om kan tidak mungkin," ucap Asyifa.


"Ya makanya aku memanggil kakak!" sahut Asyifa dengan santai.


"Terserah!" sahut Rafa kesal dan memilih pergi.


"Kak tapi makanannya!" panggil Asyifa.


"Makan saja sendiri!" teriak Rafa yang sudah keluar rumah.


Hufff


Asyifa membuang napasnya perlahan kedepan, " Aku sudah memasak padahal. Tetapi tidak mau makan sebentar. Mana mungkin aku memakan sendiri. Memang perutku perut karet apa," ucap Asyifa yang geleng-geleng yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dia setiap hari berusaha untuk meluluhkan hati Rafa. Namun usahanya sampai detik ini belum ada kemajuan juga.


*********

__ADS_1


Mentari pagi kembali tiba. Asyifa sudah bangun dan terlihat sudah Rafi dengan balutan pakaian penutup auratnya yang menyiapkan sarapan di pagi hari. Suara ombak air laut terdengar di tempat nya berdiri, Asyifa tersenyum melihat ke indahan laut yang begitu dekat di depan matanya.


Tidak lama Rafa keluar dari kamarnya dan menghampiri dapur bukan untuk menghampiri Asyifa. Namun mengambil air putih untuk meneguknya. Rafa juga terlihat rapi yang menggunakan kemeja putih yang di masukkan ke dalam celana.


"Sarapan kak!" ucap Asyifa dengan lembut. Rafa diam yang tidak menanggapi dan hanya meneguk segelas air putih.


"Aku buatkan ya," ucap Asyifa membuatkan nasi goreng ke dalam piring dengan semangatnya.


"Kau tidak perlu melakukannya. Aku tidak akan memakannya," jawab Rafa.


"Makanan tadi malam juga tidak di makan dan sekarang juga tidak. Padahalkan hanya sarapan saja," ucap Asyifa.


"Itu bukan kesalahanku. Kau yang mau menyiapkan sendiri. Jadi bukan urusanku!" tegas Rafa.


"Aku hanya melakukan tugasku sebagai seorang istri," ucap Asyifa.


"Kau memulai perdebatan," sahut Rafa mulai terpancing.


"Kita hanya akan bicara jika ada perdebatan dan menyuruhmu mu makan harus memulai perdebatan. Maka aku akan membiasakan hal itu. Jadi aku mohon tidak lama untuk memakan nasi gorengnya. Aku juga tidak menaruh racun di dalamnya. Jadi aku mohon duduk dan makanlah," ucap Asyifa dengan lembut.


Rafa menghela napasnya kasar ke depan. Lalu menarik kursi dan mengambil sarapan itu lalu memakannya. Ya tidak tau kenapa dia harus menuruti Asyifa. Atau dia kasihan pada Asyifa.


"Apa kau puas?" tanya Rafa dengan terpaksa. Asyifa tersenyum dan menarik kursi dan duduk di hadapan Davin.


"Senyummu itu seolah kau menjadi pemenangnya!" desis Rafa. Asyifa tidak menanggapi perkataan Rafa dan dia juga ikut sarapan.


Ya dia tau Rafa terpaksa melakukannya. Namun dia merasa senang dengan Rafa mau memakan apa yang dia masak.


"Kau bersiaplah!" ucap Rafa tiba-tiba membuat Asyifa melihat ke arahnya.


"Kita mau pergi?" tanya Asyifa dengan semangat.


"Aku harus di teror terus oleh mertua kesayanganmu yang ingin membuktikan apa aku memperlakukan mu dengan baik atau tidak saat kau bersamaku atau tidak. Jadi kau bersiap-siap dan kau tunjukkan pada mertuamu itu jika kau benar-benar liburan, kau kirim semua foto-foto kepada mereka sebanyak-banyaknya dan itu yang terakhir. Aku pergi bersamamu. 5 hari kedepan. Kau dan aku sendiri. Terserah kau mau ngapain dan aku juga punya pekerjaan sendiri!" tegas Rafa


" Baiklah tidak masalah," jawab Asyifa dengan singkat.

__ADS_1


Percuma banyak protes nanti Rafa juga yang menang yang penting seharian dia benar-benar akan berjalan-jalan bersama Rafa untuk bukti jika mereka memang liburan dan 5 hari sebelum pulang mereka akan sendiri-sendiri dan Asyifa tidak akan mempermasalahkan itu


Bersambung


__ADS_2