
Pagi hari yang begitu cerah terlihat Abian yang terlihat siap-siap yang sepertinya Abian akan pergi untuk bekerja. Dengan memakai celana panjang dan akan memakai kemejanya yang kancingnya masih di bukanya. Abian berdiri di depan cermin dan melihat bekas luka cambukan yang masih ada di punggungnya dan luka itu pasti akan hilang hanya tinggal menunggu waktu saja.
Krekkk.
Pintu kamar terbuka yang ternyata Zee memasuki kamar dan melihat Abian yang masih melihat Abian. Zee pun menghampiri Abian.
"Mau di oleskan obat untuk penghilang bekas luka tidak?" tanya Zee yang membuat Abian melihat Zee dari depan cermin.
"Tidak perlu Zee," sahut Abian menolak dengan membalikkan tubuhnya menghadap Zee.
"Tapi kak Abian. Kalau tidak di oleskan. Nanti lukanya akan tetap seperti itu dan tidak akan mengering. Jadi sebaiknya di oleskan saja. Kalau kak Abian tidak mau tangan Zee menyentuhnya tidak apa-apa. Biar kak Abian saja. Zee ada obatnya kok," sahut Zee yang langsung berjalan menuju laci dan mengambil salap untuk mengobati luka Abian.
"Ini kak," ucap Zee yang menyerahkan pada Abian. Mungkin Zee berpikiran alasan Abian menolaknya. Karena sebelumnya mereka pernah ribut karena perkara luka tersebut.
"Kalau kamu memaksa maka kamu yang mengerjakannya," ucap Abian yang lebih ingin Zee yang mengolesinya. Mendengar hal itu membuat Zee tersenyum dan pasti sangat senang. Jika tangannya sendiri yang melakukannya.
" Kalau begitu kak Abian duduk lah. Biar Zee bantu mengolesinya," ucap Zee. Abian menganggukkan kepalanya dan langsung duduk yang mana Zee juga duduk di belakang Abian dan mulai mengobati luka tersebut.
"Boleh tidak Zee tau alasan lain. Kenapa kak Abian harus menanggung hukuman Zee?" tanya Zee sembari mengolesi salap tersebut pada punggung Abian.
"Kamu tidak bersalah dalam hal itu. Kamu tamu di desaku dan aku yang mengajakmu ke rumahku dan aku tidak bisa membiarkan kamu menanggung hukuman itu," jawab Abian.
"Jawabannya sangat mudah ternyata. Zee pikir ada jawaban lain," ucap Zee membuat Abian tersenyum.
"Tetapi Zee harus mengucapkan terima kasih dengan kak Abian yang melakukan hal itu. Tapi kak Abian sadar tidak dengan kak Abian yang menanggung hukum Asyifa di depan semua orang. Itu membuat orang-orang berpikir jika hubungan kita sangat dekat," ucap Zee.
"Bukannya memang seperti itu. Aku sudah mengatakan bukan. Jika aku sudah menyukaimu jauh sebelumnya dan aku mendekatimu juga ada alasannya dan tidak ada yang di namakan hanya melakukan saja karena hal lain," sahut Abian.
__ADS_1
"Begitu rupanya," sahut Zee yang menanggapi dengan singkat.
"Zee sekarang aku ingin bertanya padamu," ucap Abian.
"Apa itu?" tanya Zee.
"Sebenarnya kau menyukaiku apa tidak?" tanya Abian. Abian mungkin lupa pernah atau tidak ya Zee mengatakan perasaannya. Zee masih diam membuat Abian melirik Zee dengan ekor matanya.
"Kamu tidak menyukaiku?" tanya Abian yang masih menunggu jawaban dari Zee.
"Zee sangat menyukai kak Abian. Mana mungkin tidak," jawab Zee dengan senyum-senyum.
"Kalau begitu sejak kapan dan alasannya apa?" tanya Abian yang harus tau sampai akar-akarnya.
"Hmmm, saat kita pertama bertemu di pantai dan saat itu Zee hanya suka saja yang seperti biasa jika melihat Pria yang mungkin berbeda dan Zee pikir hanya suka sesaat saja. Namun ada pertemuan kita lagi. Kita bertemu di Mekkah dan kita mengobrol sambil jalan. Banyak kata-kata kak Abian yang sangat menyentuh dan jujur Zee sangat kagum dengan kak Abian saat itu dan sepertinya rasa sukanya tidak hanya sesaat saja dan rasa itu semakin berkembang saat kita di Bali yang mana kita semakin dekat," ucap Zee yang menyatakan apa yang di alaminya selama ini.
"Tapi saat Zee pertama kali melihat Syira. Riasanya baru aneh dan itu sudah menunjukan jika Zee benar-benar jatuh hati pada kak Abian. Karena melihat kedekatan kak Abian dan Syira membuat Zee cemburu dan itu artinya perasaan Zee semakin dalam dan Zee penuh kebingungan, tanda tanya dengan hubungan kak Abian dan juga Syira," lanjut Zee.
"Lalu bagaimana perasaan kamu. Saat aku mengatakan bahwa Syira itu adalah calon istriku?" tanya Abian.
"Hancur, sakit dan sangat egois yang tidak ingin menerimanya. Zee sudah pernah mengatakannya pada kak Abian. Jika Zee sangat marah, merasa di permainkan yang seharusnya kak Abian mengatakan itu jauh-jauh hari dan bukan saat itu. Saat perasaan dan keyakinan Zee semakin dalam," jawab Zee.
Abian membalikkan tubuhnya menghadap Zee dan melihat wajah senduh Zee.
"Dan itu juga alasannya kamu diam saat kita di grebek?" tanya Abian.
"Kak Abian sudah tau jawabannya. Karena kita pernah mendebatkan itu," jawab Zee.
__ADS_1
"Maafkan aku untuk semua itu yang sudah membuatmu kesulitan," ucap Abian dengan menatap Zee dalam-dalam. Zee hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Terjawab perasaan mu kepadamu. Tapi aku ingin tau apa alasan kamu untuk mempertahankan pernikahan kita. Padahal semuanya sudah di ujung dan aku melihat rasa kecewa mu yang sangat besar?" tanya Abian yang juga ingin tau jawabannya.
"Aku bisa melihat ketulusan kak Abian dan juga kesungguhan kak Abian dan aku juga bisa melihat ketegasan kak Abian saat menyuruh Syira untuk berhenti mengganggu kak Abian. Aku mendengarnya di rumah sakit waktu itu," ucap Zee.
"Jika kamu sudah tau. Lalu kenapa masih melanjutkannya?" tanya Abian.
"Aku masih ragu dan ingin mendengarnya lagi dan sampai kejadian itu terjadi dan bukan karena kejadian itu aku menarik gugatan cerai kita. Tetapi karena aku tau kesungguhan hati kak Abian untuk memperbaiki rumah tangga kita. Karena siapapun itu berhak mendapat kesempatan. Kak Abian berhak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki semuanya dan aku juga berhak untuk bahagia setelah menderita dalam pernikahan dan aku memberi diriku kesempatan untuk bisa di bahagian oleh kak Abian," jawab Zee dengan lemah lembut.
Abian menatap dengan intens wajah Zee dengan tangannya yang mengusap lembut pipi Zee.
"Dan aku pasti akan menebus semua kesalahanku dan pasti akan mencintai mu terus dan aku tidak akan membiarkan air matamu harus keluar hanya karena aku," ucap Abian dengan meyakinkan Zee dengan begitu serius.
"Aku sangat percaya itu," sahut Zee yang juga saling menatap dengan Abian.
Abian pun mencium lembut kening Zee dengan membuat mata Zee terpejam. Ternyata tidak hanya mencium kening Zee tangan Abian yang memegang kedua pipi Zee juga mencium pipi Zee dengan lembut dan wajah Zee di ciumi dengan lemah lembut dan juga mencium bibir Zee.
Ternyata bukan sekedar kecupan saja di pipi Zee. Namun sudah sampai mencium dengan dalam dan Zee sama sekali tidak menolak dan membuka sedikit mulutnya agar Abian dan menciumnya lebih dalam lagi dengan tangan Abian yang mengusap-usap punggung Zee.
Tangan Zee bahkan mengalung di leher Abian dengan ke-2nya yang berciuman yang semakin lama semakin memanas dan penuh gairah yang bahkan Zee sudah berbaring di tempat tidur dengan Abian yang masih menciumnya dengan sangat dalam.
Ciuman tidak hanya sampai di bibir saja. Ciuman yang sudah turun pada leher jenjang Zee ciuman dan sepertinya ini tanda-tanda kalau bukan hanya sekedar ciuman yang ingin di lakukan. Mungkin saja ini akan menjadi hari untuk ke-2 kalinya mereka melaksanakan hubungan intim di antara ke-2nya dan Abian pasti tidak jadi kekantor hari ini. Karena lebih mengutamakan untuk romantis-romantisan dengan sang istri di pagi hari yang cuaca sangat mendukung itu.
Yang keduanya saling memberi kenikmatan dalam hubungan mereka yang sekarang sudah penuh dengan cinta sehingga gairah di antara ke-2nya semakin bertambah dengan pergelumutan panas di balik selimut di antara pasangan suami istri yang pasti halal.
Suara-suara indah yang terdengar yang menggambarkan ke-2nya sangat bahagia dengan pagi mereka.
__ADS_1
Bersambung