Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode 79


__ADS_3

Tidak lama mengambilkan makam untuk suaminya Asyifa pun akhirnya kembali memasuki kamar untuk mengantarkan makanan yang sudah di ambilkan nya tadi untuk suaminya dan Rafa sedang serius bekerja.


"Kak Rafa ini Asyifa sudah bawakan makanannya, kak Rafa makan dulu!" titah Asyifa yang duduk di samping Rafa.


"Kamu letakkan saja di meja. Sebentar lagi baru ku makan," jawab Rafa tanpa melihat Asyifa.


"Jangan di tunda makannya, nanti lambung kak Rafa bermasalah," ucap Asyifa mengingatkan.


Rafa melihat ke arah Asyifa, "pekerjaan ku sangat tanggung. Jadi bagaimana kalau kamu suapi aku," ucap Rafa dengan menaikkan 1 alisnya, membuat Asyifa jadi gugup dengan Asyifa menelan salivanya.


"Kak Rafa," ucap Asyifa.


"Iya, kamu harus suapi aku," sahut Rafa yang mengambil keputusan. Namun Asyifa malah diam dengan gugup.


"Asyifa kenapa diam saja. Ayo suapi. Ya sudah kalau tidak mau. Nanti saja aku makannya," ucap Rafa yang tampaknya sekarang mau di manja-manja.


Asyifa menghela napasnya dan bukan suatu kesulitan untuk menyuapi suaminya. Walau sangat gugup. Tetapi Asyifa tetap melakukan hal itu dengan menyuapi suaminya.


Rafa tersenyum menerima suapan itu, "kak Rafa seperti anak kecil yang kalau makan harus di suapi," ucap Asyifa membuat Rafa hanya tersenyum.


Bagi Rafa rasanya ingin sekali makanan yang di dalam piring itu lama habis. Supaya Asyifa terus menyuapinya. Karena rasa makanan yang masuk keperutnya itu terasa sangat berbeda sekarang jauh lebih enak dan mungkin karena dari ketulusan Asyifa.


Apa lagi kalau ada sisa makanan di bibir Rafa. Asyifa yang dengan kecanggungan nya mengambil butir nasi itu dan melap bibir suaminya dengan tangannya sendiri. Hal spontan itu mampu membuat Rafa menoleh ke arah Asyifa dengan menatap Asyifa dengan intens.


Asyifa mancing-mancing aja. Tidak tau apa. Jika Rafa sejak tadi menahan dirinya dengan sentuhan Asyifa yang bagi Rafa itu hal sensitif dan padahal dia banyak pekerjaan dan tidak mungkinkan harus di akhiri dengan apa yang sudah di tahannya selama ini.


"Kak Rafa makannya cepat juga," ucap Asyifa membuat Rafa tersadar dari lamunannya menatap lama istrinya.


"Udah habis ternyata," ucap Rafa yang melihat piring itu kosong. Perasaan Rafa tidak banyak makan. Mungkin karena dari tangan sang istri jadi tidak terasa untuk Rafa kalau dia sudah makan sebanyak itu.


"Hmmm, ya sudah kalau begitu Asyifa ke dapur dulu kak Rafa lanjut bekerja lah," ucap Asyifa dengan tersenyum dan berdiri dari tempat duduknya dengan langsung keluar dari kamar membawa apa yang tadi di bawanya.

__ADS_1


Hufffff


Rafa menghela napasnya kedepan dengan panjang, "fokus Rafa, kenapa harus sebanyak ini pekerjaan ku," gerutu Rafa yang jadi kesal sendiri. Mungkin karena pekerjaan yang banyak, jadi Rafa harus menahan diri lagi untuk tidak memiliki Asyifa. Ya seharusnya hal itu sudah terjadi. Apa lagi hubungan mereka sudah baik-baik saja.


Tetapi ada-ada saja masalah yang akhirnya tidak terjadi dan Rafa harus sabar-sabar. Anggaplah itu ujian.


*********


Jam sangat cepat berputar. Dan Rafa masih berada di dalam kamar yang sibuk dengan pekerjaannya dan tetap duduk di tempatnya.. Tiba-tiba Rafa menghentikan pekerjaannya dan melihat jam yang menggantung di dingding yang jam menunjukkan pukul 9 malam.


"Kemana Asyifa?" tanya Rafa kebingungan. Dia ke Asyikan bekerja sampai tidak sadar sejak istrinya selesai memberinya makan. Asyifa tidak kembali kekamar sama sekali membuat Rafa heran sendiri.


Rafa pun mengambil cangkir kopinya yang tadi di buatkan Asyifa, Rafa menghela napasnya kala kopi itu sudah habis. Rafa menghela napasnya lalu berdiri dan keluar dari kamar.


Ketika keluar dari kamar. Rafa langsung menuju dapur untuk mengambil air putih. Namun Rafa tidak melihat istrinya sama sekali.


"Kamu butuh sesuatu Rafa?" tanya Shania yang juga ke dapur dan bertemu adiknya.


"Tidak kak. Hanya mau mengambil minum saja," jawab Rafa yang menuang air dari despenser ke dalam gelas, "oh iya kak Shania lihat Asyifa?" tanya Rafa yang sama sekali begitu penasaran.


Mendengar jawaban itu sampai membuat Rafa berhenti minum dan melihat kakaknya dengan serius, "Asyifa keluar bersama Zee?" tanya Rafa.


"Iya memang kamu tidak tau kalau mereka pergi?" tanya Shania yang merasa sang adik terlihat kaget.


"Asyifa pergi tanpa berpamitan denganku," batin Rafa yang memang tidak tau kalau Asyifa pergi.


"Rafa!" tegur Shania yang melihat Rafa melamun.


"Sejak kapan mereka pergi?" tanya Rafa.


"Sudah ada 2 jam yang lalu," jawab Shania.

__ADS_1


"Kemana mereka pergi?" tanya Rafa.


"Kakak juga tidak tau. Asyifa tidak bilang apa-apa sama kamu?" tanya Shania lagi.


"Ya sudah aku kekamar dulu," ucap Rafa yang malah pergi tanpa menjawab pertanyaan sang kakak.


"Aneh sekali Rafa. Seperti tidak tau apa-apa. Apa memang Asyifa pergi tidak minta izin. Tapi Asyifa pergi kemana ya?" Shania jadi ikutan bertanya-tanya. Karena tidak tau kepergian Asyifa dan Zee.


*********


Rafa kembali memasuki kamarnya dan malah gelisah. Karena Asyifa yang pergi dan tidak tau kemana. Yang padahal Shania bilang sudah dari 2 jam yang lalu.


"Kemana Asyifa. Kenapa pergi begitu saja tanpa minta izin pada ku," ucap Rafa yang pasti tidak suka dengan cara Asyifa. Mengingat semenjak menikah. Tidak pernah sekalipun Asyifa pergi.


Rafa pun jadi kebingungan dan mengambil hanphonnya untuk menghubungi Asyifa. Paling tidak dia harus tau kemana Asyifa pergi.


Namun wajah Rafa jadi terlihat serius kala melihat ponselnya saat melihat Wa yang ternyata Rafa sangat kebetulan membaca pesan dari Miranda yang sudah di buka.


"Apa Asyifa....."lirih Rafa dengan tanda tanya yang merasa jika Asyifa membuka pesan itu dan pikiran Rafa tertuju pada Asyifa yang pergi ada hubungannya dengan pesan yang baru saja di terimanya sampai membuat Rafa kesulitan menelan salivanya.


"Tidak mungkin!" batin Rafa yang tidak mau berpikir apa-apa. Untuk memastikannya Rafa menelpon sang istri. Namun panggilan itu tidak di angkat, "Asyifa kamu di mana sih," ucap Rafa yang jadi kesal sendiri dengan Asyifa.


"Sial!" umpat Rafa kesal sendiri. Rafa juga langsung menghubungi adiknya dan sama adiknya juga tidak mengangkat telpon itu membuat Rafa kesal sendiri.


"Kemana sih kamu Asyifa," umpat Rafa yang merasa khawatir. Tidak bisa hanya diam saja. Rafa pun mengambil kunci mobilnya dan langsung pergi dengan buru-buru.


Langkah Rafa begitu cepat dengan menuruni anak tangga yang membuat Shofia yang ada di ruang tamu heran dengan Rafa.


"Mau kemana kamu Rafa?" tanya Shofia.


"Mau keluar sebentar," jawab Rafa dengan singkat yang langsung pergi dengan cepat-cepat.

__ADS_1


"Aneh sekali. Orang juga tau dia buru-buru. Tetapi mau kemana," gumam Shofia geleng- geleng dengan kelakuan Rafa yang pergi-pergi saja.


Bersambung


__ADS_2