
Setelah meeting akhirnya Rafa dan Asyifa pulang. Dengan mereka yang memasuki mobil mereka yang pasti Rafa akan membukakan pintu mobil untuk istrinya tercinta.
Setelah itu Rafa juga menyusul untuk masuk dan memakai sabuk pengamannya.
"Kita langsung pulang sayang?" tanya Rafa.
"Kalau kita makan sebentar boleh?" tanya Asyifa.
"Memang kamu lapar?" tanya Rafa.
Asyifa menganggukkan kepalanya, "anak kita kelihatannya sangat lapar. Sejak tadi dia menendang-nendang perutku," jawab Asyifa.
"Oh iya. Apa sudah mulai bergerak?" tanya Rafa yang tampak excited mendengar apa yang di katakan Asyifa. Asyifa lagi-lagi mengangguk membuat Rafa langsung mengelus-elus perut Asyifa yang sudah mulai membesar dan Rafa juga menempelkan telinganya pada perut Asyifa.
"Sayang apa kamu sudah mulai bergerak?" tanya Rafa yang mengajak bayinya berbicara.
"Kalau lapar jangan nendang-nendang mama kamu ya. Kasian mama kamu, nanti dia jadi kesakitan," ucap Rafa lagi. Asyifa hanya tersenyum dengan suaminya yang begitu sweet mengajak bayi mereka berbicara.
"Sayang kira-kira anak kita perempuan atau laki-laki?" tanya Rafa yang tidak sabar dengan jenis kelamin sang anak.
"Asyifa tidak tau kak Rafa. Minggu depan baru USG lagi dan mungkin di sana kita akan tau bayi kita perempuan atau laki-laki," jawab Asyifa.
"Kalau begitu kamu harus mengingatkan ku. Biar aku menemani kamu untuk USG," ucap Rafa sungguh begitu semangat.
"Baik kak Rafa," jawab Asyifa dengan menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah kamu bukannya lagi lapar. Sekarang kita cari makan. Nanti anak kita ngamuk lagi," ucap Rafa.
"Baiklah," sahut Asyifa. Rafa mengusap-usap pucuk kepala Asyifa dengan tersenyum dan kembali langsung menyetir. Keduanya harus makan malam dulu sebelum mereka pulang.
***********
Akhirnya Asyifa dan Rafa sampai ketempat makan juga. Mereka makan di Restaurant Jepang yang dulu Rafa pernah membawa Asyifa, waktu merayakan ulang tahunnya dan Asyifa hanya ingin dia saja yang di bawa ketempat itu. Jika ada orang lain dia akan bad mood dan Asyifa pernah marah gara-gara hal itu.
Makanan yang mereka pesan sudah terhidang semua dan mereka berdua juga sudah mulai menikmati makanan yang lezat-lezat itu.
"Kak Rafa. Di mana pemilik Restaurannya yang kak Rafa katakan adalah klien kak Rafa?" tanya Asyifa.
"Kenapa? kamu masih tidak percaya dengan apa yang aku katakan?" tanya Rafa dengan alisnya yang terangkat.
"Bukan tidak percaya. Asyifa hanya ingin tau saja," jawab Asyifa sembari mengunyah makanannya.
__ADS_1
Rafa melihat ke sekelilingnya dan melihat wanita paruh baya yang sedang berbicara dengan pelayan.
"Di sana!" tunjuk Rafa dan Asyifa langsung melihatnya.
"Cantik!" sahut Asyifa. Wanita itu walau sudah berumur tetap modis dan sangat cantik yang terlihat elegan. Mendengar sang istri yang mengatakan wanita itu cantik membuat Rafa tersenyum.
"Bagiku kamu jauh lebih cantik. Kalau kata mama kamu itu seperti bidadari yang turun dari langit yang di berikan kepadaku," sahut Rafa yang mulai mengeluarkan rayuannya membuat Asyifa hanya tersenyum saja mendengarnya.
"Kak Rafa bisa aja," shut Asyifa. Dia merasa sangat lucu. Jika suaminya merayunya. Kayak tidak cocok aja.
"Ya sudah sayang kamu kembali makan lagi," ucap Rafa. Asyifa menganggukkan kepalanya dan melanjutkan makannya.
"Sayang aku ketoilet sebentar ya," ucap Rafa izin.
"Iya kak Rafa," jawab Asyifa dan Rafa pun berdiri yang langsung pergi ke toilet dan Asyifa tetap melanjutkan makannya yang memang sangat nikmat.
*********
Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk.
Rafa batuk-batuk saat berjalan menuju toilet. Tenggorakannya sangat gatal dengan batuknya yang terdengar serak membuat Rafa buru-buru ketoilet. Begitu tiba di toilet Rafa langsung berdiri di depan wastafel dengan menunduk dan terus batuk-batuk dengan menutup mulutnya.
Napas Rafa juga terlihat sesak membuat Rafa kesulitan bernapas. Rafa pun menghidupkan keran air. Namun Rafa tiba-tiba terkejut melihat kepala keran air tiba-tiba berdarah dan membuat Rafa langsung cepat-cepat melihat telapak tangannya.
"Astagfirullah. Apa yang terjadi padaku?" batin Rafa yang tiba-tiba panik. Ini tidak pernah terjadi kepadanya sebelumnya dan tiba-tiba seperti ini. Bagaimana dia tidak panik.
Rafa pun langsung membersihkan mulut dan tangannya dari noda darah tersebut. Sekalian Rafa juga membasuh wajahnya dengan napasnya yang masih tidak teratur dan sepertinya masih benar-benar sangat schock dengan apa yang barusan saja di alaminya.
Namun Rafa mencoba untuk tenang dan tidak panik. Yang terus melihat wajahnya di cermin dengan dadanya yang kembang kempis.
********
Setelah merasa sedikit tenang dan tidak mau berpikir apa-apa. Rafa pun kembali ke pada istrinya. Kembali ke meja sang istri.
"Maaf ya sayang aku lama," ucap Rafa yang menyadari dia sudah sangat lama perginya.
"Tidak apa-apa. Kak Rafa tidak kenapa-kenapa kan?" tanya Asyifa tiba-tiba yang memerhatikan wajah suaminya yang sepertinya ada sesuatu menurutnya. Makanya Asyifa sampai bertanya.
"Tidak sayang memang aku kenapa? aku baik-baik aja," jawab Rafa bohong. Pasti tidak ingin istrinya khawatir jadi lebih baik Rafa berbohong.
"Ohhh begitu rupanya," sahut Asyifa.
__ADS_1
"Iya sayang. Kamu lanjut makan lagi ya," ucap Rafa. Asyifa menganggukkan kepalanya dan mereka berdua kembali makan.
"Apa yang terjadi sebenarnya? apa karena aku terlalu lelah dalam bekerja sampai aku tidak memikirkan kesehatan ku. Aku sampai lalai dan jarang cek ke Dokter. Sebaiknya besok aku periksa dulu. Supaya kondisiku bisa semakin membaik," batin Rafa yang sebenarnya dia sangat panik. Namun berusaha untuk tenang dan berpikiran positif.
"Kak Rafa kenapa ya? kok dia kelihatan sekali memikirkan sesuatu?" batin Asyifa yang juga kepikiran dengan suaminya.
Feeling istri tidak pernah salah dan mungkin perasaan Asyifa juga merasa tidak enak. Dan merasa ada sesuatu. Walau Rafa tidak mengatakannya. Tetapi feelingnya mengatakan ada sesuatu yang di rasakannya.
*********
Rafa dan Asyifa sudah pulang kerumah mereka. Dan sudah malam juga yang mereka sudah waktunya beristirahat. Asyifa sudah tertidur lelap. Namun Rafa nyatanya masih belum.
Bukan karena Rafa lagi bekerja dengan laptopnya. Namun Rafa hanya termenung yang bersandar pada kepala ranjang yang dengan wajahnya yang penuh pemikiran.
Hal yang tidak pernah terjadi dalam hidupnya dan tadi terjadi membuat Rafa pasti terus memikirkan hal itu. Bahkan sakit di tenggorokannya dan dadanya juga masih terasa sakit. Tetapi Rafa tidak ingin batuk-batuk supaya lega. Karena takut membangunkan istrinya yang tertidur lelap.
Tetapi walau Asyifa tertidur. Asyifa seakan tau jika suaminya itu belum tidur sama sekali
"Kak Rafa kenapa belum tidur?" tanya Asyifa dengan suara seraknya yang bergeser pada Rafa dan memeluk Rafa.
"Maaf sayang aku sudah mengganggumu. Aku hanya belum mengantuk," jawab Rafa dengan mengelus-elus pucuk kepala sang istri.
"Jadi mau kapan lagi tidur. Ini sudah malam loh," ucap Asyifa dengan manjanya.
"Iya sayang aku akan tidur," sahut Rafa.
"Tetapi nyatanya belum juga," sahut Asyifa mengangkat kepalanya dan melihat wajah suaminya itu, "kak lagi mikirin apa sih. Kenapa Asyifa lihat wajah kak Rafa itu penuh beban. Apa ada sesuatu?" tanya Asyifa yang semakin jelas melihat ekspresi sang suami.
Rafa hanya tersenyum pada istrinya dengan mencium pucuk kepala Asyifa.
"Bukannya di jawab malah senyum-senyum. Kak Rafa benar-benar aneh," ucap Asyifa dengan kesal.
"Sayang tidak ada yang aku pikirkan. Tidak ada apa-apa. Biasalah hanya masalah pekerjaan saja. Jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan sayang," ucap Rafa yang berusaha untuk meyakinkan sang istri.
"Kak Rafa tidak bohong kan?" tanya Asyifa ragu.
"Mana mungkin aku berbohong. Sudah ya sayang sekarang kita istirahat. Kamu jangan berpikiran yang aneh. Aku tidak apa-apa sama sekali dan sekarang sebaiknya kita istirahat," ucap Rafa yang memperbaiki posisinya untuk berbaring dan membawa istrinya kedalam pelukannya.
"I love you sayang," hack Rafa
"I love you too," jawab Asyifa.
__ADS_1
Bersambung