
Keluarga Rafa akhirnya pulang dan tinggallah Asyifa dan Rafa yang ada di sana yang memang mereka menginap di tempat itu yang di sediakan kamar di sana yang layaknya hotel mewah. Asyifa bahkan sudah berada di kamar yang di pesankan Xander untuk anak dan menantunya itu.
Kamarnya sangat luas dan pasti VVIP yang sengaja di siapkan. Dengan tempat tidur king size yang berseprai putih dan beberapa bantal putih. Dan bahkan kamar itu mengarah pada lautan yang jendelanya kaca yang langsung bisa melihat indahnya pemandangan luas di sana.
Xander memang sengaja memesan kamar yang perfect. Karena dari cara melihat Rafa tadi Xander sepertinya paham dengan putranya itu. Ya sebagai Ayah yang perhatian dia hanya mencoba sebaik mungkin memberikan banyak peluang yang pasti dengan harapan yang terbaik untuk anak dan menantunya itu.
Tapi tidak tau apa itu terbaik untuk Asyifa atau tidak. Asyifa duduk di pinggir ranjang dengan tangannya yang saling mengatup. Dengan wajahnya yang terlihat sangat resah. Sangat panik bahkan beberapa kali Asyifa membuang napasnya perlahan kedepan yang mana dia memang sangat gugup dengan sebaran jantungnya yang tidak bisa di katakan seperti apa.
Ceklek.
Jantungnya semakin berdetak saat pintu terbuka yang siapa lagi. Jika bukan Rafa dan Asyifa langsung berdiri dari duduknya. Rafa memperhatikan istrinya itu terlihat gelisah.
"Kak Rafa!" lirih Asyifa, kak Rafa sudah makan?" tanya Asyifa dengan gugup yang basa-basi.
"Bukannya tadi kita makan bersama keluarga di bawah," jawab Rafa.
"Oh iya, Asyifa lupa," sahut Asyifa yang menjadi linglung. Padahal itu terjadi karena dia begitu gugupnya.
"Hmmm, Oh iya kak Rafa, itu, Hmmm," Asyifa terbata-bata yang tidak tau apa yang mau diucapkannya.
"Itu apa?" tanya Rafa dengan alisnya yang terangkat.
"Ya Allah apa yang Asyifa ingin katakan sebenarnya. Kenapa Asyifa jadi tidak bisa bicara apa-apa sama sekali," batin Asyifa yang linglung sendiri dan merasa seperti orang bodoh.
"Asyifa kau ingin mengatakan apa?" tanya Rafa yang sangat menunggu jawaban Asyifa.
"Ti-tidak ada kak," jawab Asyifa yang mencoba untuk tenang.
"Ada apa denganya. Apa jangan-jangan dia memikirkan hal itu, ternyata lucu juga wajahnya jika kepanikan seperti itu," batin Rafa yang menahan senyum yang merasa lucu dengan Asyifa yang seperti itu.
"Aku sebaiknya keluar saja," batin Asyifa yang langsung mempunyainya ide yang mendadak.
"Aku keluar sebentar!" ucap Asyifa yang melangkah melewati Rafa menuju pintu. Namun Rafa langsung menghentikan langkahnya Asyifa dengan memegang lengan Asyifa yang membuat darah Asyifa berdesir hebat dengan matanya yang terbelalak kaget.
"Kamu mau kemana?" tanya Rafa dengan suara seraknya yabg berbicara tepat di telinga Asyifa. Karena mereka yang bersebelahan yang membuat buku kuduk Asyifa berdiri.
"A-a-Asyifa mau cari pakaian. Iya Asyifa mau cari pakaian. Soalnya ingin mandi. Karena tidak ada pakaian ganti dan tadi Asyifa lihat di luar ada butik jadi mau lihat kesana," jawab Asyifa dengan gugup namun alasannya sudah sangat tepat.
"Tidak perlu. Aku sudah membelinya," sahut Rafa yang menunjukkan paper bag yang sejak tadi di pegangnya.
"Ambil! dan ganti pakaianmu!" titah Rafa. Asyifa semakin gugup dan bahkan belum mengambil dari tangan Rafa.
"Kenapa diam Asyifa. Jangan bilang kau sebenarnya hanya ingin mengulur-ulur waktu dan pura-pura tidak mengingat apa yang aku katakan tadi siang," ucap Rafa yang tau jalan pikiran Asyifa yang mencoba untuk menghindarinya
"Tidak kok kak si_ siapa yang menghindar," sahut Asyifa yang membantah tuduhan Rafa.
"Ya sudah cepat sana mandi!" ucap Rafa. Asyifa mengangguk dan langsung mengambil pakaian yang berikan Rafa padanya. Tangan Rafa yang sudah terlepas dari lengan Asyifa membuat Asyifa langsung pergi.
Namun Rafa menariknya dan membuat Asyifa menabrak dada Rafa dengan wajah mereka yang berdekatan yang membuat Asyifa panik. Dan semakin Asyifa memberontak semakin membuat Rafa mendekatkan Asyifa padanya dan wajah itu tanpa jarak lagi dengan Asyifa berusaha mengalihkan pandangannya dari hadapan Rafa.
"Bukan hanya mandi saja. Kau harus tampil cantik. Walau kau sudah sangat cantik. Tetapi aku ingin kau tampil berbeda," ucap Rafa dengan suara seraknya yang berbicara tepat di wajah Asyifa.
"Apa kau mengerti Asyifa?" tanya Rafa. Asyifa mengangguk-angguk kepalanya. Ya biar cepat aja. Rafa mendengus dengan tersenyum yang melihat kecanggungan Asyifa dan puas mengerjai Asyifa. Rafa langsung melepas tangan Asyifa dan dengan buru-buru Asyifa pergi kekamar mandi.
Hal itu membuat Rafa tersenyum dengan geleng-geleng kepala. Sepertinya tingkah istrinya itu sangat menggemaskan. Ya Rafa baru menyadari hal itu sekarang.
Sepertinya Rafa sudah bulat untuk memiliki Asyifa seutuhnya. Entah ini karena ada Abian yang membuat Rafa seolah tidak rela Asyifa dengan orang lain. Atau justru karena memang Rafa mulai menginginkan Asyifa. Karena rasa penasarannya pada Asyifa.
Rafa laki-laki normal. Walau selama ini tinggal 1 kamar. Namun tidak satu ranjang. Tetapi Rafa tetap mempunyai hasrat terkadang ingin menyentuh wanita yang selalu tampil tertutup itu.
__ADS_1
***********
Sementara di kediaman Xander Shofia terlihat sangat gelisah di dalam kamar yang membuat Xander heran dengan istrinya tersebut.
"Mama kenapa?" tanya Xander.
"Mama kepikiran dengan Rafa dan Asyifa. Kira-kira apa yang di lakukan Rafa. Mama tidak yakin dengan anak itu," ucap Shofia.
"Mama ini berpikir terlalu berlebihan. Jangan aneh-aneh Rafa pasti tidak akan melakukan apa-apa. Sekali-kali mama harus percaya pada Rafa," ucap Shofia.
"Tapi mama tetap meragukan anak itu," ucap Shofia.
"Jangan seperti itu mah, Rafa dan Asyifa akan baik-baik saja. Percaya pada papa," ucap Xander.
Shofia tidak menjawab lagi percaya dan tidak percaya dia tidak tau mau mengatakan apa-apa lagi. Ya dia hanya berharap semoga memang benar Rafa tidak berbuat yang aneh-aneh pada Asyifa.
***********
Asyifa sudah keluar dari kamar mandi dengan menggunakan piyama lengan panjang panjang yang pasti piyama 2 in yang jelas jika lapisan tertutup itu di buka dan meninggalkan bagian dalamnya terlihat seksi. Asyifa juga keramas dan sekarang menyisir rambutnya yang duduk di depan cermin.
Rafa menyuruhnya untuk tampil cantik yang mau tidak mau Asyifa harus benar-benar cantik dengan memberi polesan sedikit pada wajahnya dan Asyifa juga tadi tersipu dengan Rafa yang mengatakan tadi dirinya cantik. Ya tidak tau Rafa tulus atau tidak.
Di dalam kamar itu Asyifa sendirian yang tidak terlihat Rafa dan tidak tau juga Rafa ada di mana. Sepertinya di kamar mandi karena terdengar suara orang beraktivitas di kamar mandi.
"Achim!" tiba-tiba Asyifa bersin dengan menutup mulutnya. Tidak sekali bahkan berkali-kali sampai Rafa keluar dari kamar mandi yang menggunakan kaos polos dengan celana training.
"Ada apa dengamu?" tanya Rafa.
"Tidak apa-apa. Hanya hidung Asyifa gatal," jawab Asyifa dengan mengendus.
"Achim," Asyifa kembali bersin lagi membuat Rafa geleng-geleng.
"Memang kau ngapain aja seharian, apa kau mandi hujan? makanya sampai bersin-bersin seperti itu?" tanya Rafa dengan kesalnya.
"Ada saja jawabanmu," ucap Rafa dengan kesal dan keluar dari kamar.
"Kalau di tanya bukannya harus di jawab, marah-marah terus," ucap Asyifa yang berdiri dari tempat duduknya dan pindah ke pinggir ranjang dan memegang hidungnya sangat gatal.
Tidak lama Rafa akhirnya kembali dan Rafa terlihat membawa plastik kecil.
"Sini minum obat dulu!" ucap Rafa mengambil air mineral dan langsung berjongkok di depan Asyifa yang memberikan Asyifa obat.
Ternyata Rafa keluar untuk membelikan obat flu pada Asyifa dan tidak tau di mana Rafa membelinya. Namun sangat cepat Rafa membelinya dan sudah kembali saja.
"Minum yang benar," ucap Rafa ketus.
"Iya kak Rafa," jawab Asyifa yang langsung menelan pil itu dan Rafa juga langsung memberikan Asyifa air mineral.
"Makanya jangan minum sembarangan. Lihat kau jadi flu tiba-tiba," cicit Rafa yang mengoceh seperti ibu tiri.
"Ini bukan salah makanan. Tapi air di tempat ini terlalu dingin. Makanya Asyifa langsung flu. Karena mandi," jawab Asyifa.
"Aku juga mandi. Tetapi tidak flu. Kau itu kenapa sih. Tidak menerima kata-kata dari orang. Selalu punya teori sendiri dan protes sendiri," ucap Rafa kesal.
"Bukan begitu, achim," Asyifa kembali bersin tepat di wajah Rafa dan pasti Rafa terkena hujan lokal. Asyifa menutup mulutnya dengan ke-2 tangannya yang kaget dengan tindakannya.
Wajah Rafa jangan tanya dengan mata terpejam dan terlihat menahan amarah karena perbuatan Asyifa.
"Kak Rafa maaf, Asyifa tidak sengaja, sungguh Asyifa tidak sengaja," ucap Asyifa panik dan langsung mengambil tisu untuk melap wajah Rafa. Sebelum Rafa mengamuk kepadanya.
__ADS_1
"Kak Rafa, sungguh Asyifa benar-benar minta maaf kak Rafa," ucap Asyifa lagi dengan wajah paniknya.
Rafa menangkap pergelangan tangan Asyifa yang berada di wajahnya, "kau sengaja melakukannya?" tanya Rafa. Asyifa geleng-geleng dengan cepat-cepat.
"Asyifa tidak sengaja. Tiba-tiba Asyifa bersin," sahut Asyifa.
"Bukan itu yang aku maksud. Kau sengaja bersin-bersin seperti ini. Supaya aku menunda apa yang aku inginkan," ucap Rafa menatap Asyifa dengan intens. Membuat Asyifa menelan salivanya yang rasanya ingin mati karena mendapat tatapan dari Rafa.
"Asyifa kau itu benar-benar pintar membuat skenario. Bagaimana supaya malam ini kita gagal kita lakukan," ucap Rafa dengan alisnya yang terangkat.
"Apa yang kak Rafa bicarakan. Mana mungkin Asyifa melakukan itu," jawab Asyifa.
"Benarkah. Kalau begitu bukannya seharusnya kita lakukan," ucap Rafa menatap begitu dalam Asyifa. Asyifa diam yang tidak berani menatap Rafa.
Rafa mendekatkan wajahnya pada Asyifa membuat Asyifa semakin gugup dan bahkan mendadak memundurka wajahnya. Rafa menyunggingkan senyumnya.
"Istirahatlah!" sahut Rafa yang langsung berdiri, " kau lolos hari ini. Aku tidak mau ketularan penyakitmu," ucap Rafa yang beralih dari hadapan Asyifa. Asyifa mendengarnya merasa lega bahkan sampai menghela napas panjang kedepan dan Rafa memperhatikan hal itu.
"Kau benar-benar merencanakan semua ini," ucap Rafa.
"Tidak," sahut Asyifa dengan cepat dan langsung buru-buru menaiki ranjang untuk beristirahat sebelum Rafa bicara yang membuat Asyifa semakin gugup.
"Pakai selimut yang tebal! jangan sampai kau sakit!" titah Rafa dengan ketus. Asyifa mengangguk dan langsung menyelimuti dirinya dengan cepat-cepat memejamkan matanya.
Dan Rafa masih berdiri di pinggir ranjang yang memperhatikan Asyifa. Asyifa tiba-tiba mengintip dengan membuka sebelah matanya dan kaget dengan Rafa yang masih ada di sana.
"Ada apa lagi?" tanya Asyifa.
"Aku hanya memastikan. Kau ini pura-pura atau tidak," ucap Rafa dengan alisnya yang terangkat.
"Siapa yang pura-pura. Asyifa tidak pura-pura kok," sahut Asyifa yang kembali gugup, "Achim," Asyifa kembali bersin. Rafa hanya menghela napas melihat Asyifa.
"Istirahatlah," ucap Rafa yang walau kesal. Namun terlihat perhatian.
Asyifa mengangguk dan kembali memejamkan matanya dengan perlahan dan Rafa langsung keluar dari kamar tersebut. Mendengar pintu di tutup membuat Asyifa kembali membuka matanya dan mengintip Rafa. Asyifa kembali menghela napasnya ketika Rafa benar-benar pergi dengan Asyifa yang menghela napasnya yang merasa lega dengan memegang dadanya.
"Aku tidak mengelak kok. Memang aku benar-benar pilek dan aku juga tidak tau jika akan terjadi hal ini. Jadi ini bukan keinginan ku," ucap Asyifa yang takut berdosa. Karena kelas apa yang akan di inginkan Rafa akan gagal malam ini karena Asyifa tiba-tiba pilek dan Asyifa juga tidak tau akan bahagia atau tidak.
Dia sepertinya sangat lega. Namun terlihat Asyifa tidak bisa tertidur sama sekali dia bahkan malah gelisah di atas tempat tidur dengan beberapa kali memejamkan matanya, membukanya lagi dan menutup lagi. Hal itu yang di lakukan Asyifa yang terlihat tidak tenang sama sekali.
"Arggh kenapa aku jadi tidak bisa tertidur sama sekali," gumam Asyifa yang gelisah sendiri dan bahkan Asyifa kembali duduk karena tidak bisa tertidur.
Tidak tau apa yang mau di lakukan Asyifa. Asyifa malah turun dari ranjang dan bahkan mengambil jilbabnya pasmina dan memakainya hanya dengan satu jarum dan melilitkan begitu saja dengan simple. Lalu Asyifa langsung keluar dari kamar yang tidak tau mau apa.
***********
Saat Asyifa keluar dari kamar dan berjalan-jalan di sekitar koridor kamar-kamar tempat penginapan tiba-tiba saja Asyifa bertemu dengan Miranda. Miranda yang smmakai kimono tidur sepahanya dengan lengan pendeng yang terlihat sangat seksi yanh tersenyum pada Asyifa yang sekarang berdiri di depan Asyifa dengan ke-2 tangannya di lipat di dadanya.
"Apa ibu ustazah tidak bisa tertidur. Karena suaminya tidak ada," ucap Miranda.
"Apa maksudmu?" tanya Asyifa.
"Percuma menginap. Jika suaminya hanya berada di kamarku," ucap Miranda dengan tersenyum sinis pada Asyifa.
Hal itu membuat Asyifa kaget. Karena Rafa memang tidak tau ada di mana.
"Tidak mungkin! Tetapi Miranda menginap juga di tempat ini," batin Asyifa yang berharap apa yang di katakan Miranda itu tidak benar.
"Kenapa kamu shcok terkejut mendengarnya. Tetapi itulah kenyataannya. Jika Rafa sedang bersamaku malam ini," ucap Miranda dengan entengnya bicara. Asyifa mendengarnya merasa sangat sesak di dadanya yang tidak percaya dan masih tidak menerima dengan apa yang di katakan Miranda.
__ADS_1
"Asyifa kamu itu kasihan sekali sih. Hanya mempunyai status pernikahan. Tetapi tidak bisa di miliki dan sekarang lihatlah kenyataan yang sudah berkali-kali ada di depan matamu. Jika Rafa hanya akan menjadi milikku. Sekarang besok dan selamanya. Rafa akan tetap menjadi milikku dan kau tidak akan pernah bisa mendapatkan Rafa," tegas Miranda.
Bersambung