
Pagi-pagi seperti biasanya. Rafa maupun Asyifa sudah rapi-rapi yang mana Rafa pasti akan kekantor dan Asyifa sendiri akan pergi kerumah orang tuanya yang sebelumnya sudah di katakannya pada suaminya.
"Biar Asyifa bantu kak!" sahut Asyifa yang melihat suaminya memakaikan dasi dan Asyifa ingin membantunya. Rafa pun dengan senang hati dan tidak melanjutkan memakai dasi itu.
"Asyifa boleh melakukannya?" tanya Asyifa dengan berkacak pinggang Rafa mengangguk.
"Tapi boleh tidak kalau bukan dasi yang ini kak Rafa pakai?" tanya Asyifa.
Rafa menautkan dahinya, "memang mau dasi yang mana?" tanya Rafa heran.
"Sebentar," sahut Asyifa yang berlaku dari hadapan Rafa dan terlihat menuju nakas yang membuka laci yang sepertinya ingin mengambil dasi yang di inginkannya di mana di dalam paper bag kecil. Setelah mengambilnya Asyifa kembali ke Rafa.
"Ini kak Rafa Asyifa membelinya saat di Mekkah," ucap Asyifa yang mengeluarkan dari tempatnya yang menunjukkan pada Rafa, "tidak sesuai selera kak Rafa ya?" tanya Asyifa yang melihat tidak ada respon dari Rafa.
"Kenapa kamu itu suka sekali menyimpulkan pemikiran orang. Aku padahal tidak mengatakan apa-apa," ucap Rafa.
"Tapi ekspresi kak Rafa sudah menjawabnya," sahut Asyifa dengan pelan.
Rafa mendengus dengan mencubit gemes pipi Asyifa membuat Asyifa kaget menerima cubitan itu.
"Sok tau. Ayo pakaikan kepadaku!" ucap Rafa yang tampak menyukainya dan Asyifa tersenyum yang langsung mengalungkan pada leher Rafa. Namun wajah Asyifa tampak bingung yang tidak bisa memakaikannya atau bingung cara memakainya.
Rafa sepertinya tau apa yang di pikirkan istrinya dan langsung mengajari istrinya memasangkan dasi kelehernya dengan membantu menggerakkannya.
Asyifa tersenyum yang berhasil memasangkan dasi pada suaminya.
"Kak Rafa suka?" tanya Asyifa.
"Iya aku menyukainya. Aku baru tau kalau kamu menyempatkan diri membelinya," ucap Rafa.
"Iya kemari waktu jalan sama Zee. Asyifa menyempatkan diri untuk membeli dasinya sebagai hadiah untuk kak Rafa. Karena kak Rafa sudah memberikan hadiah untuk Asyifa. Jadi Asyifa juga bingung harus memberikan hadiah apa. Jadi hari ini Asyifa memberikan dasi karena kak Rafa sering kekantor," ucap Asyifa.
"Hadiah dasi dari kamu sudah yang paling tepat dan aku sangat menyukainya," ucap Rafa membuat Asyifa tersenyum.
__ADS_1
"Ya sudah ayo kita turun untuk sarapan bersama," ucap Asyifa yang berlalu dari hadapan Rafa. Namun Rafa langsung menahannya membuat Asyifa bingung dan Rafa merangkul pinggang Asyifa membuat Asyifa semakin dekat dengan Rafa.
"Ada apa kak Rafa?" tanya Asyifa.
"Kamu tidak ingin mengucapkan terima kasih kepadaku?" tanya Rafa.
Asyifa mengkerutkan dahinya yang bingung dengan perkara Rafa, "mengucapkan terima kasih apa?" tanya Asyifa heran.
"Ya apa saja," jawab Rafa. Asyifa bertambah bingung karena sebelumnya dia juga tidak tau apa yang harus di ucapkan terima kasih.
"Sepertinya kamu ingin mengucapkannya sampai terbawa mimpi dan sampai mengigau," ucap Rafa
"Asyifa mengigau saat tidur?" tanya Asyifa. Rafa menganggukkan kepalanya.
"Apa yang Asyifa katakan?" tanya Asyifa yang penasaran apa yang di katakannya saat mengigau.
"Kamu mengucapkan terima kasih kepadaku. Karena aku menjadikan mu istriku seutuhnya dan memberimu kebahagian," jawab Rafa.
"Benarkah Asyifa mengatakan itu?" tanya Asyifa. Rafa menganggukkan kepalanya.
"Hmmm, Asyifa bahagia menikah dengan kak Rafa," jawan Asyifa apa adanya.
"Karena apa. Apa hanya karena pernikahan adalah ibadah dan untuk mencari surga atau karena lain aku ingin alasan yang lain Asyifa," ucap Rafa dengan menatap intens Asyifa.
"Apa kak Rafa ingin tau perasaan Asyifa seperti apa kepada kak Rafa?" tanya Asyifa yang bisa menebak apa yang di inginkan Rafa.
"Kamu benar aku ingin tau bagaimana perasaan mu kepadaku," jawab Rafa yang memang apa adanya.
"Tapi kak Rafa sudah mencium Asyifa saat itu dan mengatakan akan mencari tau sendiri. Lalu kenapa masih bertanya pada Asyifa?" tanya Asyifa.
"Tapi aku tidak menemukan jawabannya," jawab Rafa, "aku ingin tau sebenarnya perasaan kamu seperti apa?" tanya Rafa.
"Kak Rafa Asyifa juga tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaan Asyifa. Sebagai istri ada tugas untuk menyukai dan mencintai. Jadi Asyifa tidak juga mengerti perasaan Asyifa seperti apa. Apa hanya tugas sebagai istri atau perasaan Asyifa memang sudah mencintai kak Rafa. Karena Asyifa juga punya rasa khawatir, cemburu, dan dada Asyifa selalu berdebar saat dekat dengan kak Rafa sama seperti ini. Jantung Asyifa juga berdebar kencang saat dekat dengan kak Rafa.
__ADS_1
"Jadi Asyifa tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaan Asyifa," jelas Asyifa yang apa adanya. Mungkin walau hubungannya dengan Rafa sudah sangat dekat. Mungkin tidak mudah juga bagi Asyifa untuk langsung mencintai Rafa.
"Aku mengerti Asyifa dengan apa yang kamu katakan. Karena memang tidak mudah jika kamu langsung mencintai begitu saja," ucap Rafa yang paham dengan Asyifa. Sebenarnya apa yang di katakan Asyifa tadi kelas mengisyaratkan sudah mulai mencintai Rafa. Namun Asyifa masih belum yakin dengan perasaannya pada Rafa.
"Kak Rafa tidak apa-apa kan?" tanya Asyifa yang takut jika Rafa marah dengan kata-katanya.
Rafa tersenyum dan memeluk Asyifa
"Aku padahal tidak menyatakan perasaan ku kepadamu. Tetapi aku merasa seperti sudah di tolak. Asyifa, Asyifa kamu benar-benar wanita yang sangat mahal. Meski kita sudah menghabiskan malam lebih dari satu kali. Tapi kamu tidak mudah goyah untuk langsung tunduk pada seseorang. Apa lagi mengakui perasaan mu. Kamu tetap punya prinsip untuk hatimu Asyifa. Sangat berbeda kamu benar-benar berbeda dengan wanita yang sering kutemui," batin Rafa yang bukan kecewa dengan jawaban Asyifa malah Rafa sangat salut dengan Asyifa yang punya prinsip meski dia adalah suaminya sendiri.
"Kak Rafa ayo kita sarapan!" ucap Asyifa yang melepas pelukan itu. Asyifa menganggukan kepalanya.
"Kak Rafa oke?" tanya Asyifa. Rafa tersenyum mengangguk.
"Asyifa sangat suka dengan kak Rafa yang selalu tersenyum. Kak Rafa kalau marah seperti monster jadi jangan marah kak Rafa," ucap Asyifa..
"Iya," sahut Rafa.
**********
Mobil Rafa sudah sampai di depan rumah Asyifa yang mana.
"Asyifa maaf ya aku tidak bisa temani kamu masuk," ucap Rafa yang sepertinya buru-buru.
"Kak Rafa sudah mau kekantor ya," ucap Asyifa.
"Iya Asyifa aku buru-buru mau kekantor. Jadi tidak sempat untuk masuk, salam aja buat ayah ibu, nanti aku pulang dari kantor baru menemui mereka," ucap Rafa.
"Ya sudah kak Rafa. Asyifa masuk dulu kak Rafa hati-hati ya," ucap Asyifa mencium punggung tangan Asyifa.
"Assalamualaikum kak Rafa," ucap Asyifa.
"Walaikum salam," sahut Rafa. Asyifa tersenyum dan langsung keluar dari mobil. Asyifa juga melambaikan tangannya dan menunggu mobil Rafa pergi.
__ADS_1
Bersambung