
Asyifa dan Rafa selesai melakukan pemeriksaan di kantor polisi dan pasangan suami istri itu berjalan dengan berdampingan. Namun tiba-tiba Asyifa memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa berat bahkan dirinya hampir saja jatuh untung Rafa dengan cepat merangkul bahunya yang tau kondisi Asyifa.
"Kamu baik-baik aja?" tanya Rafa dengan wajah paniknya yang melihat sang istri pucat tiba-tiba.
"Iya kak Rafa. Asyifa baik-baik aja kok, tiba-tiba Asyifa memang sakit kepala," ucap Asyifa yang mengeluhkan keadaannya.
"Ya sudah kita kerumah sakit ya," ajak Rafa yang khawatir dengan istrinya.
"Tidak usah kak Rafa, Asyifa tidak apa-apa kok," ucap Asyifa yang menolak dan mengatakan jika dirinya tidak apa-apa. Padahal jelas jika dia tidak baik-baik aja.
"Kalau begitu kita pulang ya. Kamu pasti kelelahan," ucap Rafa yang tau apa yang terjadi pada istrinya yang memang sangat terlihat jelas jika Asyifa terlihat tidak enak badan.
"Ya sudah kak Rafa," jawan Asyifa dan Rafa menuntun Asyifa memasuki mobil.
Saat masuk mobil kondisi Asyifa semakin lemah dengan Asyifa yang langsing menyandarkan tubuhnya di jok mobil dan Rafa memakaikan sabuk pengaman untuk sang istri yang sudah memejamkan matanya. Rafa begitu khawatir dengan kondisi Asyifa sekarang yang terlihat semakin memprihatinkan dengan Rafa memegang kening Asyifa yang terasa hangat.
Rafa menghela napasnya. Lalu kemudian Rafa langsung memasuki mobil untuk duduk di kursi pengemudi yang mana Rafa ingin buru-buru untuk sampai rumah agar sang istri bisa beristirahat.
Di dalam perjalanan Rafa yang menyetir beberapa kali melihat ke arah Asyifa yang tertidur dan wajah Rafa tampak khawatir dengan keadaan istrinya yang pucat dan mungkin memang tiba-tiba saja Asyifa seperti itu yang membuat Rafa khawatir.
Rafa meraih tangan Asyifa dan menggenggam tangan itu dengan erat membuat Asyifa terbangun dan melihat ke arah Rafa.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rafa dengan lembut.
"Tidak kak Rafa, Asyifa hanya lemas saja," jawab Asyifa.
"Kamu pasti belum makan. Kamu mau makan tidak?" tanyak Rafa.
"Tidak perlu. Tadikan Asyifa sudah sarapan dan Asyifa benar-benar sudah baik-baik aja," ucap Asyifa apa adanya.
"Tetapi ini sudah siang dan seharusnya kita makan siang," ucap Rafa.
"Nanti saja kak Rafa," ucap Asyifa dengan menolak keinginan Rafa dan lagi-lagi Rafa hanya menurut saja yang membiarkan istrinya beristirahat.
Tangan mereka berdua tetap saja bergenggaman yang Asyifa juga tampaknya nyaman dengan menyandarkan kepalanya di bahu Rafa yang membuat Rafa tersenyum dengan mencium pucuk kepala Asyifa. Ya untung saja Asyifa tidak berulah yang biasanya pasti ada-ada saja tingkahnya yang tidak mau dekat-dekat dengan Rafa.
********
Sesampai di Vila Rafa langsung menggendong istrinya ala bridal style memasuki Villa menuju kamar mereka yang mana Rafa langsung membaringkan istrinya di atas ranjang dan Rafa duduk di samping Asyifa yang melihat kondisi Asyifa yang tertidur. Rafa menggenggam terus tangan itu sembari mengusap-usap punggung tangan Asyifa.
Dan lagi-lagi Asyifa terbangun yang langsung melihat ke arah Rafa.
"Kita sudah sampai kak?" tanya Asyifa dengan suara lemahnya.
__ADS_1
"Iya Asyifa kita sudah sampai," jawab Rafa.
"Zee di mana?" tanya Asyifa yang menyadari bahwa sejak tadi dia tidak bersama adik iparnya itu.
"Aku juga tidak tau di mana Zee. Mungkin saja lagi di luar. Dia sudah dewasa dan tidak perlu khawatir padanya dan Bali ini juga bukan hak yang asing padanya. Jadi kamu jangan mengkhawatirkannya," ucap Rafa. Asyifa menganggukkan kepalanya.
"Aku pesan makanan ya, kita harus makan," ucap Rafa.
"Tapi Asyifa tidak selera makan kak Rafa,"jawab Asyifa.
"Tapi kamu harus makan, mau makan apa tidak," ucap Rafa menegaskan yang pasti tidak ingin istrinya kenapa-kenapa.
"Kalau boleh meminta tolong Asyifa hanya ingin rujak mangga boleh," ucap Asyifa yang tiba-tiba ingin rujak mangga.
"Rujak?" tanya Rafa. Asyifa menganggukkan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan pesankan sebentar," ucap Rafa yang langsung mengambil handphonnya.
"Kak Rafa jangan di pesan," sahut Asyifa dengan suara manjanya.
"Lalu?" tanya Rafa dengan ke-2 alisnya yang terangkat.
"Asyifa mau di beli di pinggir jalan yang biasa penjual abang-abang naik motor. Di sana buahnya segar-segar dan Asyifa juga ingin mangganya yang muda, jangan pakai timun dan jangan pakai nanas. Soalnya Asyifa tidak suka," ucap Asyifa yang permintaannya sangat banyak.
"Banyak kok Rafa, kak Rafa cari aja," ucap Asyifa dengan manjanya.
"Astaga Asyifa ada yang mudah kenapa juga harus yang sulit," ucap Rafa dengan pelan.
"Kak Rafa bilang apa?" tanya Asyifa yang dapat mendengar samar-samar apa yang di katakan suaminya.
"Oh tidak apa-apa," sahut Rafa tersenyum palsu.
"Ya sudah kak Rafa kenapa masih di sini? sana pergi!" usir Asyifa dengan lembut.
"Pake di usir segala lagi," gerutu Rafa.
"Kak Rafa itu bicara apa sih, kenapa tidak kedengaran," ucap Asyifa yang lagi-lagi dapat mendengar suaminya. Namun tidak tau apa yang di katakan suaminya.
"Tidak apa-apa Asyifa. Sudah Asyifa, aku pergi dulu membeli apa yang kamu mau, kamu di sini saja dan kalau ada apa-apa langsung telpon aku," ucapa Rafa memberi ingat pada istrinya.
"Baik kak Rafa," sahut Asyifa.
Rafa menghela napasnya dan Rafa langsung pergi. Asyifa juga terlihat santai dan kembali memejamkan matanya. Karena memang mata Asyifa sangat berat dan ingin tidur.
__ADS_1
*********
Rafa harus menuruti sang istri yang mana Rafa harus mencari rujak yang di inginkan istrinya dan jujur sebenarnya Rafa sangat terpaksa melakukannya. Ya bagaimana tidak dia juga tidak tau harus mencari di mana permintaan sang istri.
Yang mana Rafa di dalam mobil yang berada di dalam mobil yang melaju pelan-pelan dengan kepalanya yang melihat kekiri dan kekanan untuk mencari rujak yang di katakan istrinya. Karena sebelumnya istrinya mengatakan ada di pinggir jalan.
"Asyifa kenapa sih permintaan kamu itu ada-ada aja mau di cari di mana coba apa yang kamu mau, tidak ada Asyifa," gerutu Rafa yang sudah putus asa aja dengan permintaan sang istri.
"Dan aku juga apa susahnya mengatakan tidak ada. Jadi kan bisa go food. Asyifa juga pasti mengerti. Atau aku beli aja di Restaurant yang pasti ada. Asyifa juga tidak akan tau dari mana. Tetapi aku malah terus mencari sesuai yang diinginkan Asyifa. Aku juga sih seharusnya ada yang mudah malah mencari yang sulit," gerutu Rafa yang juga tidak mengerti dirinya yang harus menuruti Asyifa dan bahkan tidak ingin berbohong pada Asyifa. Ya mungkin itu salah satu contoh kebucinan Rafa yang sudah tidak tertolong lagi.
"Bukankah itu yang di maksud Asyifa," batin Rafa saat melihat ada pedagang buah yang menggunakan motor yang di kerumuni ibu-ibu yang pasti sedang membeli.
"Iya benar, itu sesuai dengan apa yang di katakannya. Akhirnya aku mendapatkannya juga. Huhhhhh seharusnya sejak tadi," ucap Rafa yang merasa lega dan Rafa langsung memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.
Lalu dengan cepat Rafa keluar dari mobil dan langsung menyebrang jalan dengan lari-lari kecil sampai akhirnya berada di dekat penjual dan Rafa memperhatikan dulu buah yang ada benar apa tidak sesuai dengan permintaan istrinya.
"Pak satu ya, pakai mangga mudanya yang banyak, jangan pakai nenas dan timun," ucap Rafa yang memesan setelah yakin.
"Bentar ya mas, yang lain masih ngantri," jawab pedagang itu yang memang sedang membuatkan pesanan orang-orang yang sedang membeli.
"Iya tapi jangan lama-lama. Istri sedang sendirian," sahut Rafa.
"Buat istrinya ya nak?" tanya seorang ibu. Rafa hanya menganggukkan kepalanya pada wanita yang menurutnya sok akrab itu.
"Istrinya lagi hamil ya," sahut salah satu ibu-ibu juga membuat Rafa melihat wanita itu serius.
"Ya pasti hamillah orang sudah pesan mangga muda pasti untuk istrinya yang sedang ngidam. Udah mang kasih adik ini aja duluan. Kasian istrinya yang sedang hamil nanti anaknya ileran lagi," ucap ibu-ibu itu yang mengistimewakan Rafa.
"Baiklah," sahut pedagang itu yang langsung membuatkan pesanan Rafa.
"Hamil!" batin Rafa, "mana mungkin Asyifa hamil. Masa iya sih hanya makan rujak lalu Asyifa hamil. Apa iya. Tapi tidak mungkin aku sama Asyifa juga baru melakukannya 2 kali. Masa iya langsung jadi," batin Rafa yang bergerutu sendiri. Merasa tidak masuk akal dengan kata-kata ibu-ibu itu yang mengatakan istrinya hamil.
Rafa juga tidak percaya diri dengan ke perkasaannya yang baru dua kali berhubungan langsung ada hasilnya. Ya mungkin bagi Rafa harus setiap hari berhubungan biar hasilnya langsung ada.
"Ini mas pesananya," pedagang itu mengejutkan Rafa yang sedang melamun.
"Oh iya makasih," sahut Rafa yang jadi gugup.
"Salam ya mas untuk istrinya, semoga kandungannya baik-baik aja," ucap wanita itu. Rafa hanya mengangguk dengan tersenyum kaku saja yang merasa memang tidak mungkin sang istri hamil.
Tapi tidak apa-apa bagi Rafa karena dengan dugaan dari para ibu-ibu itu. Rafa mendapatkan pesanannya di awal dan Rafa tidak perlu menunggu lama-lama dengan berdiri panas-panasan.
Bersambung
__ADS_1