
Rafa langsung buru-buru di masukkan ke dalam ruangan UGD dan persiapan yang lainnya sudah di siapkan.
"Asyifa," ucap Rania yang sudah lebih awal berada di rumah sakit.
"Ibu," sahut Asyifa yang langsung memeluk Rania dan Rania memeluk erat putrinya yang sedang dalam masalah itu.
"Asyifa takut ibu. Kak Rafa. Kenapa kak Rafa tidak bangun-bangun juga. Asyifa sangat takut kak Rafa sampai kenapa-kenapa," ucap Asyifa yang menangis sengugukan dalam pelukan sang ibu.
"Kamu harus bersabar ya sayang. Serahkan semua kepada Allah. Kamu harus kuat. Rafa pasti akan baik-baik saja. Ayah kamu akan berusahalah untuk menyelamatkannya," ucap Rania yang hanya bisa membantu putrinya dengan memberi semangat pada Asyifa.
Rania melepas pelukan itu dengan memegang ke-2 pipi Asyifa sembari menyeka air mata Asyifa yang membanjiri wajahnya.
"Ibu tau perasaan kamu. Tapi ibu juga tau kamu anak yang sangat kuat dan kamu akan mampu melewati semua ini. Manusia hanya milik Allah Asyifa. Jadi kita harus menyerahkan kepada sang pemilik," ucap Rania yang terus memberikan Asyifa arahan agar Asyifa semakin kuat.
"Kamu percayakan sama Allah. Jika semua dia yang menentukannya. Jadi kita harus berserah padanya," ucap Rania.
Asyifa menganggukkan kepalanya dan kembali memeluk ibunya. Tidak pernah Asyifa berhenti menangis saat suaminya yang di temuinya tidak sadarkan diri. Meski sangat kuat dan selalu berserah pada penciptanya. Namun Asyifa juga manusia biasa yang pasti juga takut dan tidak akan pernah siap jika dia akan kehilangan Rafa.
Sangat cepat pasti bagi Asyifa. Di mana kehidupan Asyifa yang baru saja bahagia dengan pernikahannya, dengan kehamilannya dan sekarang di uji dengan sangat berat.
*******
Salah satu kamar. Di mana Rafa di rawat. Kamar yang sunyi dan hening yang hanya terdengar suara monitor jantung. Sudah hari ke-3 Rafa tidak sadarkan diri. Kondisinya masih koma dengan dada bidangnya yang penuh dengan tempelan alat mesin, dengan mulutnya yang di berikan alat pernapasan.
Rafa belum bisa di Operasi karena masih ada beberapa kendala dan tidak bisa di Operasi begitu saja yang akan mendapatkan resiko yang jauh lebih buruk nanti.
Di dalam kamar itu ternyata Asyifa selalu berada di dekat suaminya yang pasti mendapatkan izin untuk mendampingi suaminya. Walau kondisi Rafa yang seperti itu sebenarnya tidak boleh ada yang berada di ruangan itu.
Namun ini pasti special. Karena selain rumah sakit milik orang tuanya. Asyifa juga anak Dokter atau pimpinan di rumah sakit itu. Ya agak special. Tetapi tetap harus mengikuti protokol yang sudah di arahkan agar tidak mengganggu pasien.
Asyifa sekarang sedang sujud setelah selesai dalam melaksanakan sholat malamnya. Di dalam sujudnya pasti mengucapkan banyak doa kepada sang penciptanya dan pasti selesai sholat juga Asyifa tidak lupa berdoa dengan mengadahkan kedua tangannya ke atas.
__ADS_1
"Ya Allah yang maha pemilik segalanya. Termasuk kami sebagai manusia hanya milikmu ya Allah. Ya Allah hambah berserah diri kepadamu. Suami hambah sedang sakit. Sakit yang pasti Rahmat darimu, engkau yang memilikinya ya Allah. Hambah pasrah dengan semua rencanamu ya Allah. Hambah ikhlas dengan semua ujian ini ya Allah. Jika penyakit di derita suami hambah sangat menyiksa nya hambah berserah kepadamu. Jika engkau lebih menyayanginya dan menginginkannya dia berada di sisimu. Hamba ikhlas ya Allah. Ini sangat sulit. Tapi hambah percaya yang terbaik dari mu. Mungkin awalnya hamba sangat egois yang menginginkannya berada di sisi hambah. Namun hambah pasrah ya Allah. Bawalah dia jika sakit ini menyakitinya hambah ikhlas ya Allah," ucap Asyifa dengan linangan air matanya yang benar-benar pasrah dengan kehendak Allah.
Melihat suaminya yang pasti menderita dalam sakitnya membuat Asyifa harus ikhlas meski itu tidak mudah. Dia sangat mencintai Rafa. Namun harus sadar suaminya hanya milik Allah dan yann paling berhak atas suaminya adalah Allah.
Asyifa mengucap amin dan menangis senggugukan dengan ke-2 tangannya menutup wajahnya. Lelah pasti dalam tangisannya. Namun manusia biasa menangis adalah jalan yang meluapkan emosi. Walau tangisannya sampai sesak napas.
"Sayang!" tiba-tiba terdengar suara yang sangat pelan membuat Asyifa berhenti menangis dengan tiba-tiba dan langsung menoleh kesebelahnya dan melihat Rafa yang membuka matanya membuat Asyifa terkejut.
"Kak Rafa!" lirih Asyifa yang tidak percaya. Namun Asyifa langsung berdiri dengan cepat dan langsung menghampiri Rafa.
"Kak Rafa sudah siuman?" tanya Asyifa yang tidak percaya. Hanya mata yang di gerakkan Rafa ke bawah untuk menjawab istrinya itu. Tangan Rafa yang bergerak ingin memegang pipi Asyifa untuk menyeka air mata Asyifa. Namun apa daya tangan Rafa belum kuat untuk terangkat.
"Alhamdulillah ya Allah, kak Rafa akhirnya bangun!"
"Dokter!"
"Dokter, suami saya sudah siuman,"
"Ayah!"
"Ayah!"
Dalam teriakan Asyifa yang masih memakai mukenah langsung membuat Rendy dan beberapa suster yang berlari menuju ruangan Rafa.
"Asyifa ada apa?" tanya Rendy.
"Ayah kak Rafa. Kak Rafa sudah siuman," kawan Asyifa dengan suaranya yang bergetar.
Mendengarnya Rendy langsung memasuki ruangan Rafa.
"Asyifa kamu tunggu di luar ya. Ayah akan memeriksa Rafa," ucap Rendy.
__ADS_1
"Tapi ayah," sahut Asyifa.
"Ayo sayang kamu di luar ya," ucap Rendy. Asyifa menganggukkan kepalanya dan melihat ke arah suaminya menatap berat untuk meninggalkan suaminya. Namun dia harus percaya kepada ayahnya untuk menangani suaminya.
Karena sangat berat langkah Asyifa yang bergerak. Terpaksa Suster harus mendorong Asyifa dengan pelan dan begitu Asyifa sudah berada di luar suster tersebut langsung menutup pintu ruangan itu dan Dokter bersama suster punya private sendiri untuk memeriksa Rafa.
************
Rania, Asyifa, Xander, Shofia, Zee dan Abian menunggu di depan ruangan di mana Rafa masih di tangani Dokter Rendy. Asyifa sendiri sudah tidak memakai mukena lagi. Asyifa sudah membukanya dan sekarang memakai gamis.
"Kenapa lama sekali Dokter Rendy keluar," ucap Shofia yang tidak sabaran karena sejak tadi Rendy belum keluar juga. Pasti bukan hanya Shofia saja yang khawatir dan menunggu-nunggu yang lainnya juga pasti merasakan apa yang di rasakan Shofia termasuk Asyifa.
"Mama sabar, sebentar lagi Dokter Rendy pasti akan keluar," sahut Abian.
"Iya benar kata Abian. Kita harus bersabar," sahut Xander.
Krekkk pintu ruangan itu terbuka dan Rendy yang pertama kali keluar.
"Ayah bagaimana kak Rafa?" tanya Asyifa yang pasti sangat menunggu-nunggu kabar mengenai suaminya.
"Alhamdulillah Rafa sudah siuman," jawab Rendy.
"Alhamdulillah," sahut semuanya dengan serentak yang pasti sangat lega.
"Lalu bagaimana dengan kondisinya Dokter Rendy. Apa dia baik-baik saja?" tanya Xander.
"Untuk kondisinya masih lemah. Kita akan meeting untuk kondisi Rafa dan jika memungkinkan dia akan secepatnya melakukan operasi," jelas Rendy dengan singkat.
"Ayah kak rak Rafa pasti akan baik-baik saja kan?" tanya Asyifa.
"Insyallah ya nak. Kita berdoa saja semoga kesehatan Rafa cepat membaik dan semuanya di lancarkan," jawab Rendy.
__ADS_1
"Amin," sahut semuanya dengan serentak yang merasa lega dengan Rafa yang sudah siuman. Selebihnya mereka akan menyerahkan pada Dokter.
Bersambung.