
"Bukan tidak ada alasannya kenapa aku berusaha untuk mendekatimu. Karena memang aku menyukaimu dan mendekatimu," ucap Abian menegaskan dengan suara rendahnya.
Zee mendengus kasar mendengarnya yang tidak percaya dengan kata-kata Abian.
"Manifulatif," sahut Zee dengan ketus yang tidak bisa menganggap apa yang di katakan Abian tentang menyukai dirinya.
"Apa maksud kamu?" tanya Abian.
"Aku tidak mengerti pria seperti apa dirimu. Kau mendekatiku seakan memberi ruang padaku. Aku pernah ingin mundur karena merasa tidak pantas bersanding denganmu. Tapi aku ingin berusaha menjadi yang terbaik dan semua hanya demi menyetarakan kita berdua. Tetapi apa yang kau lakukan. Kau bersikap seperti itu. Kau memunculkan Syira dengan membuatku penuh kebingungan. Dan di saat aku yakin dengan hatiku, kau mengatakan hubunganmu dengan Syira,"
"Apa kau tidak memikirkan perasaan ku saat itu. Dan lagi-lagi sikapmu membuatku penuh dengan kebingungan. Di saat jelas-jelas kau mengatakan hubungan mu dengan Syira. Kau masih mendekatiku, perhatian dan mengambil hukumanku dan ketika kita menikah semua itu hilang yang di gantikan dengan kau yang membenciku dan seakan sangat ingin membuatku menderita,"
"Dan sekarang di saat aku ingin mundur kembali, aku ingin bebas dan mengakhiri segalanya dengan perceraian. Kau mengatakan semua yang kau lakukan selama ini kepadaku. Karena kau menyukaiku. Semua beralasan dengan hal itu," ucap Zee dengan mengeluarkan semua apa yang di rasakannya yang terkadang wajahnya sedih yang terkadang dia masih bisa tersenyum.
"Maafkan aku Zee sudah membuat mu bingung dengan semua ini. Tapi benar-benar jujur dengan apa yang aku rasakan. Jika apa yang aku lakukan memang karena aku menyukaimu. Aku tidak tau kenapa aku bisa menyukaimu di saat aku punya hubungan dengan wanita lain. Aku sama Syira memang berteman sejak kecil dan orang tua kami membahas pernikahan ketika Asyifa sudah menikah. Mama sangat menginginkan menantu seperti Asyifa dan sangat kecewa dengan Asyifa yang menikah tiba-tiba," ucap Abian yang berusaha untuk bicara dengan lembut.
"Ketika Asyifa sudah menikah. Mama berusaha untuk mencarikan pasangan yang tepat untukku. Dan karena Syira adalah sahabatku. Mama dan keluarga Syira menjodohkan kami dalam proses ta'aruf," jelas Abian.
"Mamamu menjodohkan mu dengan Syira karena mirip dengan kak Asyifa," sahut Zee membuat Abian mengkerutkan dahinya
"Apa maksud kamu?" tanya Abian.
"Kamu baru saja mengatakan. Jika mamamu sangat kecewa dengan kak Asyifa yang menikah dengan kak Rafa. Kak Asyifa wanita Sholeha dengan menutup auratnya dan karena kak Asyifa tidak menjadi menantunya. Dia mencari yang sama seperti Asyifa yaitu Syira yang juga sama-sama wanita alim yang menutup auratnya dan itu artinya aku jauh berbeda dengan mereka berdua dan itu artinya bukan hanya kamu yang tidak menginginkan pernikahan ini. Tetapi mama juga sangat kecewa dengan pernikahan mu dan aku dan atau jangan-jangan mama mu tau lagi jika Syira sering bersamamu dan memberi ruang untuk kau bersama Syira untuk menjadikan Syira tetap sebagai istrimu," ucap Zee yang menduga-duga dengan kesimpulan dalam pemikiran yang di ambilnya.
__ADS_1
"Kamu salah paham Zee. Tidak semua yang kamu pikirkan adalah kenyataannya," sahut Abian membantah tuduhan Zee.
"Kalau begitu katakan kepadaku. Kenapa ketika kita menikah kau masih berhubungan dengannya. Kau Padahalkan sangat paham dengan dosa seperti itu. Tapi kau tetap melakukannya?" tanya Zee dengan menekan suaranya.
Abian tidak langsung menjawab pertanyaan Zee. Abian hanya menghela napasnya perlahan kedepan dan melangkah mendekati Zee.
"Jangan mendekatiku!" cegah Zee dengan mengangkat tangannya menyuruh untuk Abian berhenti dan Abian pun melakukannya.
"Kau saja tidak mampu menjawabnya yang artinya. Memang apa yang aku pikirkan memang kenyataannya. Kau menikahi ku hanya untuk namamu yang harus bersih di dedasmu dengan alih-alih bertanggung jawab . Tetapi nyatanya kau memperlakukan seperti bukan manusia dan tetap menjalani hubungan mu dengan Syira," ucap Zee dengan napasnya yang naik turun yang benar-benar lelah dengan Abian.
"Zee," sahut Abian.
"Aku tetap ingin bercerai denganmu! aku tidak peduli dengan semua pengakuan perasaan mu. Aku tetap ingin kita berpisah. Mama sudah mendaftarkan pernikahan kita ke negara yang artinya kita tidak bisa bergerai hanya dengan kata talak saja. Aku yang akan mengurus perceraian kita kepengadilan," tegas Zee yang sudah bulat dengan keputusannya.
"Aku tidak akan pergi. Aku masih suamimu dan sah menjadi suamimu dan aku tidak akan pergi," sahut Abian yang tidak akan meninggalkan Zee tanpa mendapatkan apa-apa.
"Aku bilang pergi dari sini!" teriak Zee.
"Berteriak semaumu dan itu tidak akan mengubah keputusanku. Aku sudah mengatakan tidak akan menceraikan mu dan aku menikahimu juga punya alasan dan tidak akan ada perpisahan di antar kita," tegas Abian.
"Sakit jiwa," sahut Zee yang sudah lelah berkata-kata dan langsung menaiki tempat tidurnya dan tidak peduli dengan Abian apa ada tidak di dalam kamarnya.
"Abian menghela napasnya yang tidak biacara apa-apa lagi. Tetapi tetap dengan pendiriannya. Kalau dia benar-benar tidak akan pulang walau apapun yang terjadi suka dan tidak suka Zee dengan keberadaannya di dalam kamarnya.
__ADS_1
**********
Setelah Asyifa dan Rafa sholat subuh ternyata Asyifa kembali tidur dan bahkan belum membuka mukenahnnya yang mana tadi Rafa keluar kamar sebentar dan begitu masuk kamar melihat istrinya tertidur di atas sajadah membuat Rafa menghela napasnya dan menghampiri Asyifa.
"Sayang, kamu kenapa tidur di sini?" tanya Rafa dengan lembut.
"Hmmm, Asyifa mengantuk kak Rafa," jawab Asyifa tanpa membuka matanya.
"Kalau mengantuk tidur di tempat tidur ya," ucap Rafa. Tidak ada jawaban dari Asyifa lagi yang mungkin Asyifa benar-benar sangat mengantuk yang membuat Rafa langsung menggendong istrinya ala bridal style yang membaringkannya di atas tempat tidur.
Rafa juga membuka mukenah Asyifa. Agar Asyifa nyaman untuk beristirahat.
"Badan kamu tidak enak," gumam Rafa yang menyadari kondisi istrinya memang tidak baik-baik saja. Karena dari tadi malam kondisi Asyifa sudah seperti itu.
"Sayang, kamu sakit, kita kedokter ya," ucap Rafa dengan lembut sembari mengelus-elus rambut Asyifa.
"Nggak usah kak Rafa. Asyifa mau istirahat aja," sahut Asyifa dengan suara seraknya yang selalu menolak untuk ke Dokter.
"Tapi kamu sedang panas. Biar aku telpon ayah ya," ucap Rafa. Punya mertua seorang Dokter sangat memudahkan.
"Jangan kak. Asyifa tidak apa-apa kok. Kak Rafa di sini saja peluk Asyifa. Maka Asyifa akan sembuh," ucap Asyifa yang membuat Rafa kembali menghela napas dan lebih baik menuruti apa kata istrinya. Dengan memeluk tubuh hangat Asyifa sembari mencium pucuk kepala Asyifa.
Bersambung
__ADS_1