
Abian dan Zee juga berasa di kebun strawberry yang sama yang mana ke-2nya terlihat asyik sendiri dengan sama-sama berjongkok yang memetik strawberry sembari menikmatinya.
"Enak sekali," ucap Zee yang sudah tidak tau sudah memakan berapa kali. Mulutnya dari tadi tidak memang pernah berhenti karena sangat nikmat.
"Maaf ya kak Abian, kalau Zee terlihat sangat rakus," ucap Zee yang juga sadar dia itu tidak ada manis-manisnya di depan cowok.
"Tidak apa-apa Zee. Tidak ada yang salah dalam seseorang harus makan. Selagi di berikan Nikmat untuk bisa makan. Maka kita harus menikmatinya dan yang paling penting jangan berlebihan," ucap Abian.
"Iya kak Abian benar," sahut Zee yang tidak pernah berhenti untuk tersenyum, "sini biar Zee yang gantian memetiknya," ucap Zee mengambil pisau dari tangan Abian dan langsung memetiknya. Namun karena Zee sembrono dan tidak hati-hati yang akhirnya mengenai jarinya.
"Auhhhh," lirih Zee yang kesakitan.
"Astagfirullah Zee," sahut Abian panik dan spontan mengambil jari Zee dan mengisap darahnya. Zee juga kaget dengan perhatian Abian yang sangat tidak di duga-duga yang mana Abian begitu panik kepadanya. Zee terus melihat Abian. Bagaimana Abian memperlakukan dirinya dengan sangat lembut.
"Lain kali hati-hati Zee," ucap Abian dengan lembut yang saling menatap dengan Zee. Zee hanya menganggu dengan rasa gugup di alaminya dan jantungnya tidak hentinya berdetak kencang yang riasanya ingin copot.
Ternyata penampakan singkat yang romantis di saksikan oleh Syira yang melihat bagaimana Abian dan Zee yang begitu dekat bahkan ke-2nya saling menatap dengan begitu dalam yang membuat Syira menatap nanar dengan wajah yang tidak bisa bohong. Jika adanya kecemburuan di hatinya.
"Syira!" tegur Dedi yang mengejutkan Syira.
"Iya ada apa?" tanya Syira mengalihkan pandangannya dari pemandangan yang tidak seharusnya di lihatnya itu.
"Di sana pohon apa?" tanya Dedi dengan menunjuk.
"Oh itu pohon salak. Kamu mau kesana?" tanya Syira.
"Boleh," jawab Dedi.
__ADS_1
"Mari biar aku temani," ucap Syira.
"Tidak merepotkan?" tanya Dedi.
"Tidak sama sekali," sahut Syira tersenyum dan berjalan duluan meninggalkan Abian dan Zee yang punya kehidupan sendiri yang asyik sendiri sampai tidak menyadari ada di sana.
******
Setelah mereka berjalan-jalan dari sampai sampai sore mereka kembali pulang ke rumah orang tua Syira dan pasti sudah bersih-bersih masing-masing dan juga menyiapkan makan malam bersama-sama dan pasti untuk di nikmati bersama.
Asyifa, Zee, Lulu Shania dan Syira ikut membuat makan malam. Namun Syira yang memetik sayur tiba-tiba melihat dari jendela. Melihat Abian yang duduk di teras rumah sendiri.
Syira melihat kearah Zee yang sedang asyik ngobrol bersama dengan Asyifa sembari bekerja.. Syira tiba-tiba mengambil gelas dan langsung membuatkan kopi dan Syira setelah selesai membuatnya Syira langsung keluar dari dapur yang ternyata menuju teras menghampiri Abian.
"Abian," sapa Syira membuat Abian langsung melihat kebelakang.
"Syira membuatkan kopi untuk kamu," ucap Syira yang langsung memberinya dan Abian mengambilnya dan Syira langsung duduk di samping Abian.
"Makasih ya," ucap Abian.
"Hmmm, sama-sama," jawab Syira dengan tersenyum, " Abian kita belum ada bicara sejak tadi. Abian kelihatan sangat sibuk sampai tidak ada bicara pada Syira," ucap Syira.
"Oh iya benarkah seperti itu. Padahal tidak Syira aku tidak terlalu sibuk. Hanya saja aku juga merasa bukan tamu melainkan tuan rumah di desa ini. Jadi dengan sebisanya aku membuat para tamu tidak kecewa," jawab Abian dengan penjelasan yang singkat dan padat.
"Oh jadi begitu rupanya. Jadi tidak ada yang berlebihan sama sekali?" tanya Syira.
"Apa maksud kamu yang berlebihan?" tanya Abian.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kak Abian. Syira senang kak Abian bisa memberikan Syira penjelasan itu. Jadi Syira tidak perlu mikir apa-apa," ucap Syira tersenyum. Abian pun tersenyum pada Syira. Ternyata pembicaraan ke-2 orang itu di dengarkan oleh Zee yang tidak tau kenapa Zee ada di balik pintu dan mendengarkan pembicaraan 2 orang itu.
"Sebenarnya mereka ada apa sih. Jika ada hubungan special. Lalu kenapa kak Abian terlihat begitu membuka ruang kepadaku," batin Zee yang menjadi bingung. Mana mungkin tidak bingung dengan sikap Abian kepadanya yang seolah Abian sendiri dan menjalin kedekatan dengan Zee.
Namun apa yang terjadi barusan saja Abian dan Syira bicara dan dari kata-kata Abian itu seolah-olah penjelasan kepada Syira. Karena Syira yang terlihat salah paham. Dan di sini Zee yang menjadi korban dari kebingungan yang di timbulkan pria yang kalau di tanya apakah dia menyukainya pasti iya.
**********
Asyifa dan Rafa sedang berada di dalam kamar yang di sediakan untuk keluarga Danu untuk tamu-tamu mereka yang menginap. Pasangan suami istri itu tidak lepas dari saling manja. Dengan sekarang Rafa yang bersholawat di depan perut istrinya yang sembari mengusap-usap lembut perut sang istri.
Asyifa pasti sangat bahagia mendengarkan indahnya suara sang suami. Ya sejak masih di dalam kandungan anak mereka memang harus di tanamkan ilmu agama dan untungnya Rafa sudah berubah dan benar-benar bisa menjadi iman untuk istri dan anaknya.
Setelah selesai bersholawat dengan indah. Rafa langsung meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri agar bisa menciumi perut istrinya itu.
"Jika anak kita lahir kira-kira, dia perempuan apa laki-laki ya?" tanya Rafa.
"Mau perempuan atau laki-laki yang penting anaknya sehat dan Asyifa juga senang kalau anaknya laki-laki dan juga perempuan," ucap Asyifa yang memang tidak mempermasalahkan jenis kelamin apa-apa.
"Sayang kalau kamu nanti laki-laki. Kamu harus jadi pria yang baik, gentelment dan bertanggung jawab dan pasti harus menjadi pemimpin dan berguna untuk orang banyak," ucap Rafa yang sudah memberi arahan terlebih dahulu pada sang anak sebelum sang anak lahir.
"Baik papah," sahut Asyifa yang menjawab dengan menirukan suara bayi.
"Dan kalau kamu itu seorang wanita. Jadi wanita yang punya pendirian ya. Jangan suka bikin pria kesal. Jangan membuat pria menunggu. Karena itu tidak baik. Tidak boleh sayang harus membuat pria menunggu lama-lama," ucap Rafa membuat Asyifa mengkerutkan dahinya.
"Maksudnya apa itu kak?" tanya Asyifa yang sepertinya kata-kata suaminya mencakup sesuatu.
"Seperti apa yang mama kamu lakukan. Masa sayang papa sudah mengatakan cinta berkali-kali. Sudah melakukan banyak hal. Mama kamu itu masih menggantungi papa. Sangat kelewatan bukan mama kamu ya begitulah lah mama kamu. Jadi jangan seperti itu ya," ucap Rafa yang membuat Asyifa tersenyum. Pasti ujung-ujungnya akan membahas masalah itu.
__ADS_1
Bersambung