Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Bab


__ADS_3

"Lihat mereka!' sentak seorang warga yang membuat Zee dan Abian terkejut dan lebih terkejutnya lagi ketika melihat keramaian yang telah terjadi dan membuat Abian langsung buru-buru bangkit dari tubuh Zee.


"Zee Abian apa yang kalian lakukan?" sentak Shofia.


"Mamah," sahut Zee panik yang saling melihat dengan Abian.


"Kak Abian. Apa yang kakak lakukan?" tanya Syira yang terlihat begitu terkejut. Apa lagi keadaan mereka yang seperti itu dengan pakaian yang pasti mengundang pikiran yang kemana-mana.


"Abian kamu ini apa-apaan berduaan dengan seorang wanita di dalam kamar?" tanya Sarah dengan geleng-geleng kepala yang pasti sangat terkejut.


"Ini salah paham ini tidak seperti apa yang kalian pikirkan, aku sama Zee tidak terjadi apa-apa," ucap Abian yang berusaha untuk menjelaskan.


"Mana mungkin tidak melakukan apa-apa," sahut salah seorang warga.


"Keterlaluan kalian ber-2 sungguh tidak punya adab," sahut salah satu warga.


"Maaf pak. Tapi ini hanya salah paham dan bapak-bapak ini tidak seharusnya masuk kedalam rumah orang sembarangan," ucap Abian.


"Apa kami mengganggu kalian berdua. Jelas-jelas kami datang untuk membawa kalian berdua. Karena kalian berdua sudah berzina di dalam rumah ini," teriak salah seorang warga yang membuat Abian dan Zee kaget yang di tuduh berbuat zina.


"Apa maksudnya?" tanya Abian dan Zee kaget dengan apa yang di katakan warga.


"Abian apa sebenarnya yang kamu lakukan. Kamu melakukan hal yang memalukan seperti itu," sahut Danu yang tidak menyangka.


"Om Danu tunggu dulu. Semua ini salah paham saya dan Zee tidak melakukan apa-apa," sahut Abian dengan membenarkan ayo bawa mereka," ucap Abian yang mencoba untuk menjelaskan.


"Alah jangan banyak ngeles. Jelas-jelas kami semua melihat apa yang kalian lakukan," sahut salah satu warga.


"Kami hanya berteduh dan tidak terjadi apa-apa. Sungguh ini hanya fitnah. Aku sama Zee tidak melakukan apapun. Om Danu, Tante Sarah percayalah. Kami hanya berteduh saja. Kami tidak melakukan apa-apa," ucap Abian yang mencoba meyakinkan semua orang.


"Mana mungkin tidak melakukan. Kalian pikir kami anak kecil, sudah seret saja mereka," sahut salah seorang warga.


"Iya, ayo," warga yang lainnya menyahut dan menghampiri Zee dan Abian yang ada di depan pintu kamar dan Asyifa beserta yang lainnya jadi panik saat Zee dan Abian tangannya sudah di pegang.


"Mohon di hentikan!" sentak Rendy yang membuat warga yang melepas genggaman tangan itu, "tolong jangan main hakim sendiri. Saya sangat mengenal Abian dan dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu," ucap Rendy yang mencoba menjadi penengah.


"Benar sekali bapak-bapak anak saya juga tidak mungkin melakukan hal itu," sahut Shofia yang pasti membela Zee.


"Bapak-bapak tolong kita tenang dulu. Kita tidak bisa membuktikan jika mereka melakukan hal seperti itu," sahut Rania dengan lembut.


"Kamar ini sudah menjadi saksinya. Lihat dari kamar ini sudah terlihat buktinya," sahut salah satu warga yang berada di dalam kamar.

__ADS_1


Yang akhirnya keluarga Asyifa dan Rafa dan juga yang lainnya melihat kamar tersebut. Mereka di kejutkan dengan kamar yang berantakan. Pakaian Zee yang berserakan asal bahkan pakaian dalam Zee yang juga ada di sana yang membuat mereka semakin terkejut.


"Astagfirullah," lirih Rania yang langsung menutup pakaian dalam Zee yang tidak pantas menjadi bahan tontonan. Zee memejamkan matanya yang mungkin terlalu teledor sampai membuat orang-orang semakin berpikir negatif.


"Apa-apaan kamu Abian!" bentak Sarah yang terlihat marah, "plakk!" Sarah langsung menampar Abian yang membuat semua orang kaget dan Zee yang hanya melihat tanpa bisa melakukan apa-apa.


"Mah," Syira masih berusaha untuk meredakan emosi sang mama yang pasti sangat kecewa.


"Zee apa yang kamu lakukan di sini bersama Abian? apa benar semua ini?" tanya Rafa yang mengintrogasi adiknya. Zee yang panik dengan kegugupan tangannya yang saling mengatup dengan matanya berkaca-kaca.


"Semuanya sudah membuktikan jika mereka berdua berzina di kamar ini," sahut warga mengambil keputusan.


"Tidak. Ini fitnah aku dan Zee tidak melakukan. Aku berani bersumpah," ucap Abian yang membantah tuduhan itu.


"Kamu jangan bawa-bawa sumpah. Semuanya sudah jelas. Kita bisa melihat buktinya, melihat keadaan mereka ber-2 dan saat itu lampu juga di matikan sesaat," sahut warga yang menjadi saksi dalam pemikirannya.


"Tapi itu tidak benar!" tegas Abian dengan suaranya yang mengeras, "tolong semuanya percaya pada saya. Saya ini tau apa yang benar dan yang salah dan saya juga mempunyai calon istri. Syira aku tidak melakukannya, aku berani bersumpah Syira," tegas Abian yang mencari pembelaan.


Namun saat Abian menegaskan di depannya Syira adalah calon istrinya hanya membuat Zee begitu sakit yang hanya terus melihat Abian dengan air matanya yang akhirnya keluar.


"Zee, kamu jelaskan semuanya Zee!" ucap Abian yang sejak tadi hanya dia yang bicara dan Zee sama sekali tidak. Namun saat Abian pun membutuhkan penjelasan Zee agar warga percaya padanya. Zee juga diam yang pikirannya sudah tidak terpokus pada masalah itu lagi.


"Iya ayo kita bawa,"


"Ayo!"


"Ayo!"


Warga langsung menarik Zee dan Abian keluar paksa yang membuat keluarga tidak bisa melakukan apa-apa dengan banyaknya warga.


"Tolong hentikan! jangan sakiti anak saya," sahut Shofia yang pasti ketakutan.


"Pak tolong jangan main hakim sendiri! tolong pak!" sahut Asyifa.


Mereka sudah mencoba untuk melerai warga. Namun tidak bisa warga mengarak Abian dan Zee dengan paksa membawa ke balai desa untuk di hakimi dan keluarga pun mengikut yang takut terjadi sesuatu pada Zee dan Abian.


Abian dan Zee yang di tarik paksa saling melihat dengan wajah Zee yang penuh ketakutan, panik, pucat sampai tidak bicara atau membela dirinya.


********


Balai desa.

__ADS_1


Zee dan Abian berlutut bersebelahan di depan kepala desa dan warga-warga di sekeliling mereka yang tidak sabaran untuk melihat Zee dan Abian yang di hukum.


"Pak Danu sesuai dengan aturan desa ini. Hal zina adalah dosa besar dan sangat memalukan yang membuat nama desa kami tercemar. Kalian adalah tamu di desa kami. Tetapi merusak desa kami. Maka kami akan memberi hukuman cambuk seratus kali," ucap kepala desa yang mengejutkan semua keluarga.


"Itu tidak mungkin. Anak saya bisa mati dan semua ini belum tentu benar," sahut Shofia yang langsung protes dengan hukuman itu.


"Iya benar pak, ini tidak masuk akal pak," sahut Xander.


"Ini adalah keputusan dan demi baik desa ini," sahut salah satu warga.


"Dan di tambah lagi wanitanya harus di botak supaya dia bisa mengingat perbuatannya dan tidak mengulangnya lagi dan bisa menutup auratnya agar menjauhi perzinaan," sahut salah seorang warga membuat Zee mendengarnya terkejut dengan napasnya yang naik turun.


"Pak jangan melakukan hal itu. Anak saya jangan di perlakuan seperti itu," sahut Shofia yang sudah menangis dan Rania berusaha untuk menenangkan besannya itu.


"Semua ini adalah ketentuan. Sudah jangan banyak teori. Hukum mereka berdua!" teriak seorang warga.


Zee pasrah akan hidupnya yang berakhir dalam hukuman. Air matanya yang keluar sejak tadi dengan tangannya yang saling menautkan. Sebenarnya perasaan Zee bercampur aduk dengan apa situasi sekarang dan sebelumnya.


"Mari kita lakukan hukumannya," sahut kepala desa.


"Tunggu dulu!" sahut Abian tiba-tiba yang sejak tadi juga sudah diam. Karena setiap apa yang di katakannya tidak ada yang mempercayainya dan bahkan Zee juga tidak berbicara yang membantah atau membenarkan tuduhan itu.


"Biar saya menanggung semua hukumannya," sahut Abian yang kelihatannya tidak akan sanggup dengan Zee yang di hukum. Mendengar hal itu membuat Zee hanya mendengus kasar. Lagi-lagi Abian yang seperti itu membuatnya sangat bingung. Tadi terang-terangan menjelaskan pada Syira dan menekankan pada Syira bahwa Syira calon istrinya. Namun sekarang di depan Syira juga Abian bahkan ingin menggantikan hukuman Zee.


"Kalian berdua adalah pelaku utamanya dan kalian berdua akan mendapat hukuman yang sama," tegas kepala desa.


"Tolong beri kami keringanan. Perzinaan terjadi pasti karena laki-lakinya. Jadi biarkan saya menanggungnya dan bertanggung jawab pada sang pencipta," sahut Abian.


Dia ingin menyelesaikan permasalahan ini pada warga setempat dan pasti dia akan bicara pada keluarga, Zee, Asyifa, dan Syira tentang kejadian sebenarnya dan di pastikan keluarga akan percaya. Jika berbicara dengan tenang.


"Jadi mohon beri keringanan," sahut Abian.


"Kak Abian ingin melimpahkan semua hukuman kepadanya, hanya demi Zee," batin Syira yang sejak tadi sangat bergetar.


Warga saling melihat dan mengangguk-angguk.


"Kita akan ambil jalan tengah untuk hukuman ini. Karena kami tidak ingin desa kami tercemar dengan perbuatan kalian berdua. Kalian berdua harus di nikahkan dengan begitu suami akan menanggung hukuman istrinya," sahut kepala desa dengan memberikan stetmand baru lagi yang mengejutkan semua orang dan pasti Zee dan Abian juga yang begitu terkejut mendengarnya.


"Iya benar. Karena jika sudah menjadi suami maka suami akan menanggung hukuman istrinya," sahut salah seorang warga wanita yang mama Zee masih terkejut dengan pernyataan itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2