
Masih terjadi ketegangan di antara semuanya dengan masalah antara Zee dan juga Abian dan keluarga juga seolah tidak mampu berkata apa-apa dengan apa yang terjadi.
"Zee kamu tenangkan dulu diri kamu. Bicara baik-baik. Apa sebenarnya permasalahannya? jangan emosi seperti ini," sahut Xander bicara dengan lembut yang berusaha untuk menangkan Zee.
"Benar Zee. Kita semua tidak ada yang tau, kamu sama Abian itu punya masalah apa. Jadi bicaralah baik-baik. Dan kamu juga harus menghormati keluarga Abian yang ibu dan ayah mertua kamu," sahut Shania yang berbicara dengan lembut.
"Semua pertanyaan kalian akan di jawab Abian," sahut Zee melempar pada Abian.
"Abian ada sebenarnya. Kamu katakan apa permasalah kamu sama Zee kenapa Zee meminta untuk berpisah dan mengatakan semua tadi kepada mama?" tanya Vanya yang benar-benar sangat bingung.
Abian seolah tidak bisa bicara. Ya sangat memalukan jika semua orang yang ada di sekitarnya tau bagaimana rumah tangga yang di jalaninya bersama Zee dan jika dia mengatakannya itu juga akan mempermalukan dirinya.
"Maaf nyonya ada tamu!" sahut bibi yang tiba-tiba datang.
"Siapa bi?" tanya Shania. Bibi melihat kearah pintu dan di lihat oleh Shania.
"Syira!" ucap Shania. Mendengar nama Syira membuat Abian berbalik badan dan terkejut melihat kedatangan Syira yang berdiri di depan pintu dan melangkah masuk ke dalam mendekati ruang tamu. Yang lain juga heran dengan kedatangan Syira yang tiba-tiba.
Datangnya Syira bersamaan turunnya Rafa dan Asyifa yang mana mereka berdua kaget dengan saling melihat yang semakin banyak saja terjadi masalah dengan penuh ketegangan di rumah itu.
"Assalamualaikum," sapa Syira mengucapkan salam dengan menundukkan kepalanya.
"Walaikum salam," sahut semauanya serentak.
"Syira kamu kenapa bisa ada di sini?" tanya Vanya.
Zee menghela napasnya. Lalu berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Syira dengan ke-2 tangannya berada di dadanya.
"Aku yang menyuruhnya kemari," jawab Zee. Apa yang di katakan Zee mungkin sudah bisa di tebak Abian.
__ADS_1
"Untuk apa Zee?" tanya Shofia.
"Supaya dia bisa membantu Abian untuk menjelaskan semuanya," jawab Zee dengan santai. Lagi-lagi pernyataan Zee membuat semua orang bingung. Abian memejamkan matanya sebentar dengan menghela napasnya perlahan kedepan. Lalu berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Zee.
"Kenapa kamu melakukan semua ini? kamu ingin mempermalukan ku?" tanya Abian yang berbicara dengan lembut.
"Malu. Masih punya malu," sahut Zee.
"Cukup Zee. Kita bisa bicara baik-baik tanpa kamu melibatkan banyak orang. Ini urusan rumah tangga kita," tegas Abian.
"Kamu menikahiku dan memintaku untuk tinggal di rumahmu dengan melibatkan banyak orang, sehingga orang tuaku sangat mempercayai mu dan menganggap semuanya akan baik-baik aja. Jadi kita berpisah juga harus melibatkan banyak orang," sahut Zee yang menjawab dengan santai yang membalikkannya kata-kata Abian dan Abian lagi-lagi tidak bisa berbuat apa-apa.
"Apa pernikahan kalian berhubungan dengan Syira?" tanya Lucky menduga.
"Kenapa bertanya Om. Bukannya Om dan Tante sangat menginginkan Syira sebagai menantu," sahut Zee yang kembali bertanya.
"Zee!" tegur Abian.
"Cukup Zee!" sentak Abian.
"Kenapa terus mencegahku hah! bahkan di depan orang tua ku, kau membela dia. Kau malu mengatakan. Jika kau sering menemuinya, kau malu mengatakan. Jika kita hanya menikah saja tanpa ada hubungan suami istri," sahut Zee yang berteriak-teriak yang sudah tidak bisa mengendalikannya dirinya.
"Dia ini adalah calon menantu kalian kan, wanita yang sok suci yang tidak tau etika yang mendekati suami orang yang setiap hari datang kerumah kami dan aku tidak tau apa yang di lakukan mereka berdua," lanjut Zee.
"Kamu jangan bicara sembarangan Zee. Aku bukan wanita seperti itu," sahut Syira.
"Kau masih berani bicara hah! kau buka saja jilbabmu pertontonkan aurat mu karena tidak pantas kelakuanmu dengan penampilan mu," sahut Zee.
"Cukup Zee!" bentak Syira yang tidak terima terus di hina, "kamu jangan terus-terusan menghinaku. Aku yang seharusnya marah. Karena kau telah menikah dengan Abian yang kau tau aku adalah calon istrinya," sahut Syira yang mencari pembelaan.
__ADS_1
"Kalian semua dengar di sini kan, apa kata wanita ini. Dia itu sangat marah karena calon suaminya menikahiku dan dia berusaha untuk merebutnya lagi dengan menjadi pelakor atau menjadi istri ke-2," sahut Zee. Abian tidak bisa bicara apa-apa. Karena Zee sudah mengumumkan permasalahan di dalam ruang tangganya kepada semua orang.
Dan orang-orang yang ada di sana hanya diam, dengan shock tentang apa yang terjadi yang pasti tidak di duga-duga.
"Kau dengar aku Syira. Dia," tunjuk Zee pada Abian, "dia yang mendekati ku, dia yang memberi ruang kepadaku dan aku tidak tau sama sekali jika dia punya calon istri. Kau tau kan betapa pintarnya dia hah! dia memberitahukan ku kalau di jodohkan saat malam itu dan kau tau. Dia yang mengajak ku kerumahnya dan aku ingin pergi dan dia menahanku dan seharusnya kau sadar seperti apa dia yang manipulatif dan egois," sentak Zee dengan suara yang mengeras.
"Dan kau sudah tau bagaimana dia menikahiku. Tetapi kau kau malah menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. Sama saja, kau dia Dan juga orang tua mu sama saja. Kalian semua munafik yang hanya menyiksa ku di dalam rumah kalian itu," tegas Zee.
"Zee sudah!" sahut Xander yang menurutnya Zee keterlaluan karena bicara kasar pada orang tua Abian.
"Papa tidak tau pah, apa yang Zee rasakan. Dia menikahi Zee dan dia berhubungan dengan wanita ini dan orangtuanya tidak melarang hal itu dan bahkan membiarkan Abian melakukannya, mereka menyiksa Zee," sahut Zee dengan napasnya yang mulai naik turun dengan matanya yang berkaca-kaca yang terasa sesak untuk mengeluarkan kata-kata.
"Jangan menyalahkan mama dan papa ku, mereka tidak tau apa-apa," sahut Abian membela orang tuanya.
"Bohong! jika mereka tidak tau apa-apa. Karena kalian semua bekerja sama untuk menyiksa batinku, mama asal tau saja. Jika Tante Vanya hanya menginginkan Syira menjadi menantunya. Karena baginya Syira yang pantas karena penampilannya seperti ini yang seolah-olah sangat paham dengan agama, seolah menjadi wanita yang suci dan Zee sendiri di pandang sebelah mata. Seolah-olah Zee bukan wanita baik-baik. Tidak mengerti Agama, atau tidak di ajarkan Agama, mereka semua memandang Zee sebelah mata dan merasa tidak pantas dengan Abian," ungkap Zee dengan air matanya yang mengalir yang mengeluarkan semua unek-uneknya.
Vanya dan Lucy tidak bisa berbicara apa. Antara mereka tidak tau apa-apa. Atau mungkin benar yang di katakan Zee.
"Dan Zee ingin berpisah. Karena Zee tidak ingin menjadi gila karena pernikahan yang sangat menyakitkan dengan Pria yang tidak bertanggung jawab dan munafik sepertinya," lanjut Zee.
"Kalian berdua bisa menikah dengan sesuka kalian berdua dengan keinginan orang tuamu dan aku hanya meminta untuk kau menceraikanku," tegas Zee yang menatap Abian dengan tajam dan Abian hanya melihat mata Zee yang penuh kekecewaan.
"Apa kita tidak bisa bicara baik-baik. Semua tidak sesuai dengan isi kepala kamu Zee dan orang tuaku tidak terlibat dalam hal ini," ucap Abian dengan lembut yang masih berusaha untuk memperbaiki rumah tangganya.
"Aku bilang ceraikan aku. Aku ingin hidup! lepaskan aku!" sahut Zee dengan yakin yang memang tidak akan menjadi bodoh untuk yang kesekian kalinya.
Abian membuang napasnya perlahan kedepan dan saling menatap dengan Zee yang mana tubuh Zee begitu bergetar dengan air matanya yang masih mengalir.
"Baiklah jika itu yang kamu inginkan. Aku talak satu kamu," ucap Abian yang benar-benar mengucapkan talak pada Zee.
__ADS_1
Shofia meneteskan air matanya saat mendengar talak yang di ucapkan suami anaknya itu. Sama dengan Asyifa yang juga tidak percaya jika Zee dan Abian akan berpisah. Lucky dan Vanya sama-sama memejamkan mata mereka dengan talak yang di ucapkan Abian pada Zee dan Zee hanya tersenyum lirih dan langsung pergi dari hadapan Abian.
Bersambung