Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah

Istri Sholehah Milik Tuan Pemarah
Episode.


__ADS_3

Pengadilan.


Asyifa dan yang lainnya sudah sampai pengadilan, di sana ada juga Willo dan ke-2 anaknya Lulu dan Dedi dan juga menantunya Roni.


"Pengacara untuk Asyifa di mana Rafa?" tanya Shofia.


"Sebentar lagi akan sampai mah. Tadi Abian mengatakan sedang di jalan," jawan Rafa


"Baiklah kita tunggu saja sebenr. Karena sebentar lagi pasti datang," sahut Xander.


"Bismillah semoga saja semuanya berjalan dengan lancar," sahut Rendy.


"Amin kita doakan yang terbaik. Asyifa kamu tenang ya saat di tanyain nanti. Katakan apa yang sebenarnya dan jangan takut untuk mengungkapkan kebenaran," ucap rania, yang memberikan arahan pada putrinya.


"Iya ibu pasti," sahut Asyifa yang berserah diri pada sang pencipta. Karena semuanya yang mengatur hanya sang pencipta dan Asyifa hanya pasrah dan menyerahkan pada sang ilihai.


"Aku hanya berharap papa bisa jujur," batin Lulu yang juga berharap pada sang papanya yang sebenarnya kuncinya ada pada Bram. dan apalagi Kuku dan Dedi sempat menemui Bram saat sudah di pindahkan dari kantor polisi Bali ke Jakarta. Namun Bram tetap tidak mau jujur apa-apa. Bram tetap mengatakan tidak ada yang terlibat.


Usaha yang di lakukan Lulu dan juga Dedi sudah di sampaikan pada Asyifa dan Rafa dan mungkin itu yang membuat Asyifa sangat sedikit kemungkinan untuk menang. Karena masih ada yang di tutupi yang meringankan Miranda dan bahkan membuat Miranda tidak bersalah sama sekali.


"Itu kak Abian!" sahut Zee yang melihat mobil Abian berhenti. Semua orang juga melihat kearah yang sama dan Abian keluar dari mobil bersama seorang Pria paru Bayah sebaya papanya dengan berkaca mata yang bisa di tebak pasti pria itu adalah pengacara Asyifa.


Namun Zee di kagetkan dengan pintu belakang yang terbuka dan terlihat Syira yang turun dari mobil yang sama.


"Syira kenapa dia ada di sini? dan kak Abian kemarin katanya dia pulang sendiri dan sekarang buktinya apa wanita itu ikut juga bersama kak Abian. Apa-apaan sih benar-benar membingungkan. Kalau begini berarti mereka benar-benar ada sesuatu. Tetapi kenapa kak Abian tidak jujur aja kalau dia pulang bersama Syira," batin Zee yang terlihat shock dan juga kaget dengan hadirnya Syira yang tiba-tiba datang bersama Abian.


"Assalamualaikum dan pagi semuanya!" sapa Abian.


"Walaikum salam," jawab mereka yang ada di sana.


"Siapa ini Abian?" tanya Rania pada Syira.


"Ini Syira Tante kebetulan Syira ini anak pak Danu yang membantu kasus Asyifa," jawab Abian.

__ADS_1


"Jadi ini pengacara Asyifa?" tanya Rendy.


"Benar Om, belum ada waktu memang untuk mengenalkannya," sahut Abian.


"Saya Danu dan senang berkenalan dengan kalian semua," ucap Danu dengan menyapa Ramah.


"Kami juga senang pak Danu makasih sudah membantu putri kamu," sahut Rania. Danu hanya tersenyum.


"Hallo Tante," giliran Syira yang memperkenalkan dirinya dengan ramah dan Zee terlihat begitu kesal dengan hadirnya Syira.


"Jadi papanya pengacara dan kak Abian memakai papanya. Apa tidak ada pengacara lain apa. Bilang aja biar sekalian," batin Zee yang terlalu sewot. Sewotnya Zee bahkan di perhatikan Shania sang kakak yang ada di sampingnya yang heran dengan ekspresi wajah sang adik.


"Ya sudah kalau begitu ayo kita masuk," sahut Xander dan yang lain mengangguk untuk ikut masuk kedalam pengadilan.


Mereka semua langsung memasuki kantor persidangan dan sangat kebetulan bertemu dengan Miranda yang bersama pengacaranya dan bukan hanya 2 pengacaranya melainkan ada beberapa yang mengikut di belakang Miranda.


"Hallo Tante Shofia, om Xander, dan Rafa," sapa Miranda tanpa dosa dan pasti membuat Shofia rasanya ingin menjambak Miranda saat itu.


"Aku sangat senang jika kita berdua harus di berikan kesempatan untuk bertanding di pengadilan dan iya Asyifa aku sangat berharap jika aku menang maka lepaskan Rafa," ucap Miranda yang sudah tidak punya rasa malu dalam mengatakan keinginannya yang padahal ada orang tua Asyifa.


"Miranda cukup!" sentak Rafa yang merasa Miranda benar-benar sangat Keterlaluan.


"Kenapa Rafa. Kamu lihat bahkan sampai detik ini aku masih berusaha untuk hubungan kita dan seharusnya kamu itu memberiku suport," sahut Miranda menyunggingkan senyumnya yang memang sudah tidak peduli lagi dengan siapa-siapa yang di hadapinya.


"Miranda kamu benar-benar tidak punya etika. Kamu tau tidak siapa yang kamu hadapi. Di mana sih rasa malu kamu hah!" sahut Shania yang benar-benar merasa Miranda sangat kelewatan.


"Sudahlah jangan membahas masalah yang tidak penting. Sekarang sebaiknya kita masuk kedalam karena itu yang paling penting," sahut Rendy.


"Iya ayo kita masuk abaikan hal yang tidak perlu kita urus," sahut Xander yang lain mengangguk dan mereka memilih pergi termasuk Asyifa dan Rafa. Miranda hanya tersenyum miring yang yang merasa dirinya akan menang.


Namun saat semua orang sudah masuk dan hanya tinggal Azka yang berdiri di depan Miranda.


"Kau perlu sesuatu?" tanya Miranda.

__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkan mu menyakiti kakakku. Aku akan memberimu pelajaran jika kau berani melakukannya lagi," ucap Azka dengan ancamannya dan wajahnya yang begitu serius dan langsung pergi. Miranda menyunggingkan senyumnya dengan mendengar ancaman Azka.


"Berani sekali anak ingusan seperti itu mengancamku," umpat Miranda dengan kesal.


***********


Akhirnya persidangan pun di mulai. Bahkan terdakwah supir Taxi dan juga Bram ada di sana. Miranda bahkan tidak menjadi tersangka dan hanya sebagai saksi dan persidangan pun di mulai dengan debat pengacara Asyifa dan pengacara Miranda yang mana sama-sama kuat.


Dan suasana di ruang persidangan pasti sangat tegang dengan Rafa yang pasti juga khawatir dengan istrinya yang menjadi korban yang juga ada di bangku yang sejajar dengan pengacaranya.


"Baiklah saya akan bertanya sekali lagi kepada saudara Bram," ucap Danu.


"Apakah anda mengenal nyonya Miranda dan kalian berkomunikasi sebelum kejadian ini?" tanya Danu sang pengacara dan Bram terlihat diam.


"Pah Lulu mohon jujurlah pah. Ini juga akan meringankan hukuman papa," batin Lulu dengan tangannya yang saling bertautan yang hanya berharap dia papanya akan jujur.


Rania, Rendy dan yang lainnya juga sangat berharap untuk kejujuran Bram.


"Saudara Bram silahkan di jawab!" titah pak hakim.


"Saya tidak mengenalnya dan apa yang terjadi tidak ada hubungannya dengannya. Saya menyukai keponakan saya," jawab Bram yang membuat Miranda tersenyum dan yang lainnya hanya menutup mata yang pasrah dengan keputusan hakim.


Mata Asyifa berkaca-kaca yang ternyata mereka tidak bisa membuktikan Miranda bersalah.


"Sudah jelas semuanya pak hakim. Klien saya tidak bersalah dan tidak ada hubungannya dengan semua yang terjadi dan klien saya hanya di fitnah," sahut pengacara Miranda.


Hakim dan rekan-rekannya saling melihat dan sepertinya akan memutuskan hasil keputusan. Pengacara Asyifa pun terlihat palsu.


"Tapi apa yang di katakan terdakwah adalah kebohongan," tiba-tiba terdengar suara lantang dari depan pintu yang membuat semua orang melihat ke belakang yang ternyata Rachel yang berdiri dengan wajah tegapnya dan hal itu mengejutkan Miranda kenapa adiknya tiba-tiba ada di pengadilan dan Azka tersenyum dengan menghela napas dengan kedatangan Rachel.


"Rachel apa yang di lakukannya, kenapa dia ada di sini!" batin Miranda dengan wajah kagetnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2