Kamu Milikku

Kamu Milikku
Salam Aja


__ADS_3

Setelah upacara pernikahan dilangsungkan, malamnya dilangsungkan pesta besar-besaran.


Karpet merah digelar yang nantinya akan dilintasi oleh para tokoh-tokoh politik, pengusaha-pengusaha dan artis-artis terkenal.


Baik dalam dan luar negeri.


Reva datang terpisah dengan Sandy.


Dia datang dengan grup bandnya yang nanti saat melintasi karpet merah akan diperkenalkan sebagai grup band terbaru besutan Maxx Entertainment serta akan launching malam ini sekaligus untuk menghibur para tamu.


Tadi di ruang kostum, asisten Tia memberikan kotak perhiasan pada Reva.


Dengan dibantu Nancy, asisten kepercayaan Tia, Reva memakai gelang kaki, gelang tangan dan kalung di lehernya.


"Wow..." kata Reva menatap dirinya di cermin.


"Ini dari Tante Tia ?" tanya nya pada Nancy.


Nancy mengangguk.


Reva meraih ponselnya.


"Halo Va.." sapa Tia.


"Tanteee...!


Makasih perhiasannya." kata Reva.


di Ujung Line, Tia mengaktifkan speaker nya. Ada Sandy di hadapannya.


"Apa Va ?" kata Tia memancing.


"Makasih perhiasannya.


Bagus bangeet.


Eh..bukan..cantik banget.


Aku suka.


Pas nih buat aku main." kata Reva dengan suara bersemangat.


Sandy tersenyum mendengar nya.


Lega.


Reva menyukai pilihannya.


"Kamu suka ya ?


Sukur deh..."


"Tante yang milih ya?


Kok Tante tau banget sih apa yang cantik buat aku ?" tanya Reva dengan suara manja.


Robert, Biliyan, dan Michael tertawa kecil mendengarnya.


Sementara Sandy tersenyum.


"Yaa...


Tau dong Va.


Kan milihnya pake rasa cinta.." jawab Tia menatap Sandy sambil nyengir.


"Ih..Tante kok kayak bucin gitu sih ?


Ini aku Reva..


Bukan Om Michael !"


Semua tersenyum mendengar kata-kata Reva.


"Lho...emang bucin kok" jawab Tia.


"Tan...


Aku kok jadi serem."


"Jangan dong.


Itu buat kamu ya Va..


Hati-hati jangan sampe ilang.


Kalo ilang...nanti patah hati nih !"


"Ihh...Tante..


Iya..aku jaga dengan hati-hati.


Nanti malam kembali dengan selamat ke tangan Tante."


"Itu buat kamu, Va.


Milik kamu.


Makanya dijaga dengan hati-hati !"


"Hah ?!


Buat aku ?


Tante gak becanda kan ?"


"Enggak.


Itu buat kamu.


Makanya jangan sampe ilang."


"Ini kan mahal, Tante.


Eh.. Jangan-jangan..." suara Reva menghilang.


Sandy dan Tia bertukar tatapan khawatir.


Apa Reva bisa menebak ?


"Jangan-jangan apa ?" tanya Tia hati-hati.


"Jangan-jangan ini hadiah dari Om Michael tapi Tante gak suka ?


Iya, Tante ?"


Sandy dan Tia menghembuskan nafas lega.


Sementara Michael tertawa.


"Kamu jangan ngomong gitu.


Ada Om disini."


"Jadi bener ?


Aduh..nanti Om marah sama aku gimana ?"


"Enggak Va..

__ADS_1


Itu hadiah murni buat kamu.


Bukan hadiah lungsuran."


"Beneran ya Tan ?


"Iya...


Pokoknya dijaga ya..


Oya...semoga lancar ya... launching nya.."


Terdengar suara tawa Reva.


"Iya Tan..


Makasih.


Eh...


emmm...ada Om Sandy disitu Tan ?"


Sandy ditatap semua orang.


"Kenapa, Va ?"


"Oh..emm..."


"Mau nitip salam ?"


Reva tertawa.


"Iya deh.. salam aja."


"Oo..salam apa nih ?


Salam sayang ya.?


"Ih..Tan...!"


"Lho..."


"Iya deh...


Salam sayang deh Tan.." tawa Reva.


Tia tertawa.


Matanya berkedip pada Sandy yang tersenyum kecil.


"Iya...ntar disampein."


"Tan...Tan.. !!


Yang disampein salam aja...


Sayangnya gak usah." panggil Reva agak panik.


"Lho... kenapa?"


"Ntar dia geer.


Salam aja.


Sayangnya biar Tante aja yang tau." tawa Reva lagi.


Sandy kembali ditatap teman-temannya sambil tertawa.


"Oo..Jadi masih rahasia nih."


Sandy menatap ponsel Tia.


Aku mau kayak Tante.


Gengsi dong."


Tia tertawa.


Sandy tersenyum simpul.


"Eh...Tan....


udah dulu yaa ..


Aku mau di makeup dulu."


"Iya...


sampe ketemu nanti ya..."


"Iya Tan...


Sekali lagi makasih ya Tan...


Bye.."


"Bye juga, Sayang..."


Reva memutuskan sambungan.


Limousine itu langsung ramai.


"Cie...cie...


Udah bersambut nih ceritanya"


"Emang dahsyat temen gue ya...


Dapet juga akhirnya."


"Gak sia-sia punya tampang ganteng ya, San.."


"Lanjut San..."


Sandy tersenyum lebar.


Hatinya plong.


Bahagia.


Akhirnya...dia tau perasaan Reva.


Sebenarnya dia sudah merasakan perubahan itu.


Cara Reva membalas perlakuan nya.


Tapi sekarang dia lebih yakin.


Syukurlah.


Dia bisa melangkah ke step berikutnya tanpa ada rasa was-was lagi.


Sepanjang perjalanan, Sandy tidak bisa berhenti tersenyum.


Apalagi teman-teman nya selalu meledeknya.


Sandy meraba sakunya.


Sekarang kemana-mana dia membawa cincin itu.

__ADS_1


Cincin safir berwarna biru gelap.


Batunya tidak terlalu besar.


Cocok dengan jari Reva yang ramping.


Sampai sekarang dia belum mendapatkan waktu yang pas untuk menyematkan cincin itu di jari Reva.


Sandy menyandarkan dirinya.


Kakinya disilang.


Sikapnya kembali santai.


"Liat gayanya.." cetus Robert menunjuk Sandy.


"Kenapa emang ?"


"Itu gaya harimau baru makan kenyang." sambung Robert.


"Kenyang apanya ?


Dari tadi minum mulu.


Jadi pingin ke toilet." jawab Sandy tersenyum.


"Nah..nah...liat.." kata Robert lagi.


"Iya ..


Udah bisa tenang dia." senyum Michael.


"Duuh..mereka bertiga ini ya...


Emang kembaran.


sangat saling memahami." kata Tia pada Biliyan.


"Seiring waktu, Ti." kata Robert.


...🎀...


Mereka sampai di tempat pesta.


Wartawan, juru foto dari berbagai media sudah menunggu.


Satu persatu tamu melewati karpet merah.


Beberapa selebriti dihentikan oleh penyambut tamu untuk memberikan kesempatan kepada wartawan dan juru foto serta kameramen menangkap gambar mereka.


Tia dan teman-temannya sudah menunggu dengan sabar antrian untuk melewati karpet merah.


Agak lama karena ada beberapa selebriti yang diajak berbincang-bincang oleh sebagian wartawan pencari berita.


Sandy tadinya ingin menunggu mereka semua supaya bisa bersama-sama melewati karpet merah sebagai satu kesatuan pemilik Methrob.


Tapi dia kebelet ingin buang air kecil.


Akhirnya dia tidak tahan lagi.


"Bet...gue nyari toilet dulu ya.


Lu semua duluan deh.


Udah gak tahan gue." katanya.


"Oke.." jawab Robert.


Sandy lalu pergi meninggalkan rombongan mereka dan mencari toilet.


Saat dia kembali, antrian sudah hampir kosong dan teman-temannya sudah tidak ada.


Dia berdiri sendiri menunggu giliran.


"San .."


Sandy menoleh.


Cindy terlihat berjalan anggun mendekatinya.


"Kamu sendiri?" tanyanya.


Sandy mengangguk.


"Kamu juga sendiri ?" tanyanya.


Cindy tersenyum manis.


Juga mengangguk.


"Kita bareng aja " ajaknya lalu menautkan tangannya di siku Sandy.


Sandy tidak bisa menolak karena saat itu gilirannya telah tiba.


Bersama mereka berjalan ke karpet merah.


Para wartawan, pemberita, juru foto dan kameramen langsung menangkap gambar mereka.


Lampu Blitz berpijar-pijar.


Cindy sibuk berpose.


Dengan sengaja dia menempelkan tubuhnya yang seksi ke badan Sandy.


Tangannya memeluk erat lengan Sandy.


Sandy tidak mampu berbuat apa-apa.


Tidak mungkin menepis dan mendorong tubuh dan lengan Cindy saat itu.


Pertanyaan pun diajukan.


Pembawa acara mendekati mereka.


"Waah...


Kalian datang bersama.


Cindy Tan dan Sandy.


Apa kalian akan rujuk kembali ?


Apa kalian akan segera meresmikan hubungan kalian ?" senyum pembawa acara.


Cindy tidak menjawab.


Dia hanya tersenyum dan kemudian sedikit memaksa Sandy menoleh ke arah lain untuk berpose pada juru foto di sisi yang berbeda.


Sandy terkejut.


Wajahnya berubah.


"Cin.." bisiknya dengan bibir terkatup.


"Hm..?" Cindy menjawab sambil tetap tersenyum manis pada kamera.


"Ayo pergi !" kata Sandy dengan geram.


...🌴🎀☘️...

__ADS_1


__ADS_2