Kamu Milikku

Kamu Milikku
Milik Dan Bukan Milik


__ADS_3

Sandy memepet Reva begitu ketat.


"Kamu ngapain ?" gumamnya di telinga Reva.


Reva mengangkat pundaknya, mengusir rasa geli yang timbul dari nafas Sandy di telinganya.


"Bantuin kamu, Om.." katanya.


"Hmm..." Sandy tidak menjawab.


Hidungnya terus menelusuri pipi Reva.


Hasratnya betul-betul naik.


"Om...lepasin !"


Sandy mengecup pipinya.


Kembali Reva mengangkat pundaknya mengusir rasa geli yang ditimbulkan dari ciuman Sandy.


"Enggak." jawab Sandy pendek.


"Om..!" suara Reva berubah.


"Aku ini cuma bantuin Om buat ngusir perempuan yang ngejar-ngejar Om.


Biar Om gak kejebak ngawinin yang begituan." katanya.


"Kawin ?


Aku udah punya tunangan kok."


Tangan Sandy menelusuri rahang Reva.


"Udah enggak."


"Reva.." tegur Sandy.


Suaranya membuat bulu kuduk Reva berdiri.


Tapi Reva menguatkan dirinya.


"Aku gak mau terus menerus sakit hati liat kalian.


Kita selesai, Om." katanya tegas.


Reva mendorong dada Sandy.


Darah Sandy surut mendengar kata-kata Reva.


"Enggak.


Kita kawin dua bulan lagi." katanya kini menatap Reva dengan fokus.


Hasratnya mendadak hilang mendengar kata-kata Reva.


Reva hanya diam.


Dia sendiri juga tidak tau bagaimana mengatakan pada orangtuanya dan calon mertuanya bahwa dia sudah tidak ingin menikah dengan Sandy.


Dengan waktu semepet ini.


Mereka pasti sudah mempersiapkan semuanya.


"Va..sebut aja kamu mau apa.


Aku bakal kabulkan semua.


Tapi jangan batalkan pernikahan kita." bujuk Sandy.


Reva mendorong Sandy.


"Sana jauh-jauh, Om.


Om bau perempuan itu." katanya.


Sandy mau tidak mau mundur.


Bajunya memang tercium aroma samar parfum Cindy yang sepanjang malam menempel padanya.


"Aku mandi.


Tapi kamu gak boleh pergi."


"Aku bisa pergi sendiri, Om."


"Aku bilang enggak !" geram Sandy.


"Kamu keluar dari pintu itu, Va..


Aku bakal bikin perhitungan sama kamu." katanya sambil berbalik.


Reva ternganga mendengarnya.


Matanya menangkap onggokan gaun Reva di depan lemari.


Rupanya tadi Reva buru-buru melepas gaunnya dan menggantinya dengan kemeja miliknya.


Sandy tersenyum kecil.


Gadis pintar, pujinya dalam hati.


Revapun menatap gaunnya.


Tadi begitu mendengar suara Cindy, kemarahan nya timbul kembali.


Beraninya perempuan itu mendatangi kamar tunangannya !


Suara Daniel yang memberinya nasihat kembali menggema di telinganya.


Dia menekan rasa ingin mengamuk pada Sandy.


Dia pun menatap sekeliling ruangan mencari 'senjata'


Matanya menangkap pintu lemari yang masih terbuka.


Ada kemeja Sandy terpampang disana.


Sebuah ide melintas.


Cepat-cepat diturunkannya gaunnya.

__ADS_1


Lalu menyambar kemeja Sandy.


Mengancing hanya dua kancing saja, dibiarkannya tiga kancing teratas dan satu kancing bawah terbuka.


Tatanan rambutnya dibuka lalu digeraikan dan diacak-acak sedikit.


Pipinya dicubit agar nampak merah seperti terbakar gairah.


Dia menggigit bibir dengan keras agar nampak bengkak seperti habis dicium dengan brutal.


Setelah merenggangkan sedikit kerah baju Sandy agar menampakkan belahan dadanya, Reva berjalan melenggang lenggokkan pinggulnya.


Dan sekarang bagaimana ? tanya Reva pada dirinya sendiri.


Dia masih marah pada Sandy tapi disisi lain dia tidak rela bila malam ini meninggalkan Sandy sendiri.


Siapa yang bisa yakin ular betina itu tidak datang lagi ?


Reva menghela nafas saat Sandy keluar dari kamar mandi.


Sandy diam-diam merasa lega saat menemukan Reva masih duduk di sisi tempat tidur dan nampak termenung.


Hatinya terasa perih.


Dia sudah menyakiti hati gadis ini.


Gadis yang sudah mengisi harinya melewati masa-masa sulitnya.


Sandy berjongkok dihadapan Reva.


Dia mengambil tangan Reva.


"Va...makasih.." katanya tulus, menyentuhkan bibirnya ke telapak tangan itu.


Reva tersentak kaget.


Dia cepat-cepat menarik tangannya.


Sandy sering bersikap manis padanya.


Selalu.


Tapi toh pada akhirnya, Sandy tetap menikmati rayuan perempuan lain.


Mantannya.


Yang sudah sering dia nikmati tubuhnya.


Dan harga diri Reva tidak bisa menerimanya.


"Aku mandi dulu, Om." katanya langsung bangkit dari duduknya.


Reva menghilang ke kamar mandi.


Sandy mengepalkan tangannya.


Merasa sakit dengan reaksi Reva.


Bodoh !.Bodoh! Bodoh !! batinnya kesal.


Menyesali segala kebaikan hatinya yang membuat dia salah langkah.


Gara-gara kebodohannya, dia harus merelakan kepemilikan company menjadi milik Reva kalau dia tetap bertahan pada keinginan nya menikahi gadis itu.


Diapun tau kepemilikan company Michael dan Robert juga diserahkan pada istri mereka.


Tapi di kasusnya, dia masih meragukan perasaan Reva padanya.


Feeling nya mengatakan, Reva masih menyimpan rasa pada Steven.


Dia lalu membereskan baju Reva.


Memasukkan kembali ke lemari.


Saat Reva keluar dari kamar mandi, bajunya sudah tidak ada.


"Om...bajuku mana ?" tanyanya.


"Udah aku masukin ke lemari.


Kamu tetap disini, Va." kata Sandy dengan nada tidak bisa ditawar.


Reva mengerutkan keningnya.


"Apa ?"


"Nada suara Om."


"Kenapa sama nada suara ku."


"Om bisa seenaknya ngasih perintah sama aku, seakan aku ini cuma suruhan Om aja.


Gak punya perasaan, gak punya keinginan, dan gak perlu dihargai.


Itu ciri-ciri orang yang sudah merasa memiliki dan gak merasa perlu terlalu menjaga miliknya.


Karena sudah jadi milik.


Bisa diperlakukan sesukanya.


Tapi semalaman aku dengar cara Om bicara dengan orang lain, mantan Om itu.


Om lebih lembut.


Om bahkan gak segan-segan ngajakin dia dansa padahal Om tau aku gak suka.


Om tau aku marah karena sepanjang makan malam dia sibuk menggoda Om dan Om kelihatannya menikmati.


Om masih cinta sama dia ?


Balik lagi aja.


Gak ada yang ngelarang." kata Reva panjang lebar.


Sandy tersentak.


Ah..dia lupa.


Reva seorang peneliti.


Dia pengamat.

__ADS_1


Dan dia sudah pasti sensitif karena sebagai peneliti, dia harus mengembangkan kemampuan mengamati segala hal.


Sekecil apapun perubahannya, tidak boleh lepas dari pengamatan seorang peneliti.


"Va..bukan begitu.


Aku..


aku cuma merasa lebih dekat dengan kamu.


Dan..."


"Om...kenapa banyak orang selingkuh ?


Karena merasa pasangannya sudah biasa dengannya.


Tidak perlu lagi diusahakan..


Jadi udah gak ada rasa berdebar karena segala sesuatunya sudah biasa.


Sudah jadi milik.


Mau diperlakukan seperti apapun tidak masalah.


Tapi beda sama selingkuhan.


Ada rasa berdebar.


Ada adrenalin yang mengalir setiap kali berdekatan dengan selingkuhan karena semuanya masih diusahakan.


Dia harus selalu baik dan memberikan yang terbaik untuk orang yang belum bisa dia dapatkan itu." Reva memotong omongan Sandy.


"Kenapa orang lebih sopan dan baik pada anak orang dibanding anak sendiri ?


Karena dia tau anak sendiri tidak akan melawan dan protes saat diperlakukan buruk.


Tapi anak orang lain ?


Dia bisa diprotes sama orang tua si anak." sambung Reva.


Sandy tidak bisa menjawab.


Dia mengingat-ingat.


Apa memang selama ini dia memperlakukan Cindy lebih baik dibandingkan dengan Reva?


Walaupun dia membiarkan Reva pacaran dengan Steven, tapi dia tau bahwa Reva sudah ada dalam genggamannya.


"Va..aku minta maaf kalau selama ini aku memperlakukan kamu sembarangan."


"Ah..Om..


Bukan sembarangan.


Tapi sudah milik.


Ada perbedaannya.


Dan sikap Om itu bikin aku takut.


Aku takut menikah dengan orang yang memilih bersikap baik dengan orang lain daripada dengan keluarganya sendiri.


Cuma menciptakan neraka saja, Om."


"Kamu ngomong gini Jangan-jangan kamu mau balik lagi sama Steven ?"


Reva tertawa.


"Om...Om...


Ini gak ada hubungannya dengan Steven.


Disini..di kapal ini...


Sebetulnya sudah menggambarkan seperti apa pernikahan kita nanti.


Om udah memiliki aku di kamar Om.


Kita tidur bareng walaupun enggak berhubungan intim.


Tapi Om memiliki aku.


Secara fisik dan status.


Kapan pun Om mau, Om bisa peluk aku, cium aku...


Apapun yang Om ingin lakukan karena kita sudah punya status.


Sebaliknya, Om dengan Cindy gak punya status.


Kalian harus sembunyi-sembunyi untuk bisa ketemu.


Gak boleh ada aku .


Gak boleh ada saudara aku di sekitar kalian.


Pertemuan kalian memancing adrenalin yang memang memberikan kenikmatan di tubuh manusia.


Om begitu sabar sama dia.


Menjawab segala pertanyaan dia.


Ngajakin dia dansa.


Memberikan tubuh Om buat kehangatan dia.


Aku tau kok, Om ngasih lotion di punggungnya.


Om sembunyi-sembunyi dibelakang aku untuk ketemu dan berinteraksi dengan mantan pacar yang sekarang bukan milik Om lagi.


Yang seperti itu memang mendebarkan, Om."


Sandy memerah.


Reva rupanya tau dia menggosok punggung Cindy tapi tidak mengatakan apa-apa.


"Aku gak ngajakin dia dansa, Va."


"Tapi juga enggak nolak." balas Reva.


Sandy memerah.

__ADS_1


Dia seperti diadili.


Reva kembali diam.


__ADS_2