Kamu Milikku

Kamu Milikku
Mual


__ADS_3

Reva berjalan cepat menerobos orang.


Tia mengikuti dari belakang.


Mereka melewati meja Steven tapi keduanya tidak melihat kemana-mana. Fokus.


Reva fokus mencari toilet.


Sementara Tia fokus mengikuti Reva.


Reva masuk ke toilet.


Lalu berdiri di depan kaca.


Matanya memandang dirinya.


Mengambil nafas, memegang dadanya.


Pintu terbuka.


Tia masuk.


Mengamati Reva.


Mata Reva dan Tia bertemu di pantulan kaca.


Reva menimbang-nimbang.


Lalu memutuskan.


Dia mengumpulkan air di tangan lalu mencuci mukanya.


"Tante...


Saya mau bicara." katanya.


Tia mengangguk.


Keduanya lalu keluar dari toilet.


Mencari pintu keluar.


Tia menarik Reva menuju taman.


Tempat dimana mereka bisa berdua saja tanpa ada orang yang bisa mendengar pembicaraan mereka.


"Kenapa Va ?" tanya Tia lembut.


Reva menatap Tia lalu memantapkan dirinya.


Dengan suara pelan dia bercerita.


"Hah?!


Kurang ajar tu cewek !


Dasar perempuan gak tau malu !" kata Tia dengan wajah merah padam karena marah.


Reva diam.


"Tapi Tante jangan kasih tau Om ya kalo saya yang liat.


Aduh gak enak saya Tan..." keluh Reva.


Tia menoleh pada Reva.


Kasihan melihat gadis itu terjepit di tengah-tengah bila masalah ini dia beberkan sekarang didepan semua orang.


"Oke...


Biar masalah ini kami yang handle.


Kamu tenang aja Va.


Nama kamu gak akan disebut-sebut."


Reva menghela nafas lega.


"Makasih Tan...


kasian om..." katanya menerawang.


Tia menatap Reva.


"Iya Va..kasian Om.


Kita harus bisa bikin kedua orang itu putus.


Sandy terlalu baik." katanya.


Reva mengangguk.


"Iya Tante..


Om terlalu baik untuk cewek itu."


"Hhmmph.." geram Tia.


"Tante...


Ehmmm...itu.. masuk ke mulut..


Enggak jijik Tan ?" Reva mengeryitkan hidungnya.


"Hah?!


hueek..." jawab Tia ikut mengernyitkan hidungnya.


Dia sendiri yang sudah menikah jijik membayangkannya.


Michael tidak pernah memintanya melakukan hal itu.


Mereka berdua saling berpandangan lalu tertawa terbahak-bahak.


"Ih.. amit-amit Va..."


Mereka diam menatap lampu-lampu.


"Yuk..kita masuk lagi.


Kan kita harus jagain Om kamu dari cewek itu." ajak Tia.


Reva mengangguk.


Bergandengan mereka kembali masuk ke pub.


Melewati meja Steven, Tia melempar senyum yang dibalas dengan lambaian oleh Steven dan teman-temannya.


Mereka kembali ke meja.


Michael menatap mereka.


Melihat perubahan wajah Tia yang penuh tekad.


"Ada apa ?" bisiknya di telinga Tia.


Tia merangkul leher Michael, berjinjit lalu berbisik ditelinganya, " Nanti aku ceritain."


Tia lalu melirik Sandy, memberinya senyum manis.


Sandy menatap Tia tercengang.

__ADS_1


Cindy ikut menatap Tia.


"Nih Va, Om udah ambilin minum yang baru.


pelan-pelan minumnya." kata Robert.


"Makasih Om.."


Reva membalikkan badannya, membelakangi Sandy lalu meminum minumannya.


Dia tidak mau keselek lagi.


Jim datang menghampiri.


Tangannya langsung merangkul bahu Reva.


"Hai partner ku !" sapanya.


Reva menoleh.


Senyumnya mengembang.


"Jim...tau gak kalo kamu dulu idola aku lho.


Terus..sekarang bisa manggung bareng sama kamu..


wuihh...kayak kejatuhan bintang." katanya.


Jim tertawa.


"Kamu juga berbakat lho..


Udahlah..


kamu bikin girl band aja.


Anggotanya cewek semua." kata Jim masih merangkul Reva di pundak.


Reva menggeleng.


"Nanti kuliahku berantakan.


Kebanyakan manggung sama latihan."


"Hhmm..


Kamu tau gak..


Kuliahku juga belum lulus.


Sibuk sama karir."


Jim membalikkan badan Reva.


"Dan dia.." tunjuk Jim pada Cindy.


"Sama kayak aku.


Sibuk syuting makanya gak lulus-lulus." katanya tertawa.


Reva menatap Cindy.


Cindy memerah.


"Halahh..kamu juga Jim.


Mahasiswa abadi !" balasnya.


"Iya..


Makanya aku mau ngeracunin anak ini..


"Enak aja." sahut Tia.


Jim tertawa.


"Kalo dia..contoh yang baik.


Lulusnya on time walaupun banyak kerjaan." tunjuknya pada Tia.


"Ya..aku yang maksa dia lulus on time." jawab Michael datar.


Tia mencubit pinggang Michael.


Michael meraih tangan Tia lalu menggenggamnya di atas meja.


"Kamu kan bentar lagi nyanyi Tia ?" kata Jim.


"Drummer nya Reva ?"


Tia mengangguk.


"Hhmmm..aku tunggu.


Aku tinggal dulu.


Bye Reva.." kata Jim sambil menepuk pundak Reva.


Jim menjauh.


"Kamu kliatannya dekat sama Jim ?"tanya Cindy.


Reva menggeleng.


"Ah enggak.


Cuma jadi drummer dua lagu aja buat Jim."


"Dia pacarnya banyak.


Kamu gak usah deket-deket dia." kata Cindy.


"Ah enggak..


Dia cuma punya banyak pengagum.


Jim kan ganteng." bantah Tia.


"Kamu dari dulu dekat sama dia." kata Cindy.


"Ya..dia enak diajak ngomong.


Kenapa?


kamu naksir dia Cin ?" tanya Tia dengan muka polos.


Cindy memerah.


Dia menggeleng. Menyadari sedang berada dekat pacarnya, Sandy.


"Ah..enggak..


Aku sama dia ..


Ya kan Sayang..." kata Cindy lalu menengadahkan wajahnya.


Dia menarik tengkuk Sandy dan mulai mencium bibir Sandy.


Reva ternganga.


Lalu teringat.

__ADS_1


Bibir itu. Mulut itu.


Bibir itu sudah dimasuki oleh alat vital orang lain.


Dan sekarang...


Bibir dan mulut bekas tempat menampung cairan menjijikkan...eughh...sedang memagut bibir Sandy.


Om nya.


Reva merasakan mual naik ke tenggorokannya.


"huek..


ugh..huek..."


Semua orang menoleh padanya.


Tia yang juga ikut melihat ciuman Cindy pada Sandy ikut merasa mual.


"Hoek...


Hoek.."


Dia cepat-cepat mengambil tissue.


Mengambil dua lembar lalu melempar sisanya pada Reva.


Reva yang masih mual menangkap bungkus tissue itu, cepat-cepat mengeluarkan dua lembar lalu..


"Huek...."


Wajahnya merah.


Tia berdiri.


"Hoek..


Ayo Va...


Ke toilet !!" katanya setengah berteriak setengah berlari menarik Reva.


Michael bangkit.


Tia melambai.


Menyuruh Michael tetap di tempatnya.


Cindy, Sandy, Robert dan Biliyan menoleh memandang Michael.


Robert mengerutkan keningnya.


"Tia hamil Kel ?"


Michael menggeleng bingung.


"Apa.. jangan-jangan..


Lu hamilin dua-duanya ?!" tuduh Robert.


"Hah ?!


Enggak !!"


"Kel..!!" kata Sandy dengan pandangan mengancam.


"Enggak...!


Lu semua apa-apaan sih..


Mana berani gue selingkuh dari Tia.


Apalagi ngembat keponakannya ?" kata Michael mengibas-ngibas tangannya dengan panik.


"Kel..


Kok bisa dua-duanya mabok di saat bersamaan ?" tangan Sandy sudah mengepal.


Suaranya dingin.


"Mana gue tau ?


Sumpah !!


Gue gak ngapa-ngapain Reva.


Tia juga gak mungkin hamil." jawab Michael masih panik.


"udah..udah..


Kita tunggu mereka balik dari toilet.


Kita tanya kenapa.


Mungkin aja tadi pas beduaan, mereka makan sesuatu yang kita gak makan." ucap Biliyan menenangkan.


Sandy masih menatap Michael dengan pandangan ingin membunuh.


Tangannya mengepal.


Siap untuk melayangkan tinjunya pada Michael.


Robert berdiri dengan waspada.


Siap melerai perkelahian diantara kedua sahabatnya.


Sementara Cindy diam.


Dia melirik Sandy.


Matanya lalu turun menatap kepalan tangan Sandy.


Sandy.. pacarnya yang siap membela gadis kecil itu.


Cindy dilanda perasaan cemburu.


Biasanya dia yang selalu jadi alasan pertikaian para pria.


Tapi kini ?


Sudah dua kali gadis itu mencuri perhatian Sandy.


Pertama saat di restoran dulu.


Dan sekarang...?


Tadi pun...Jim hanya mempedulikan gadis itu.


Merangkulnya dan mengajaknya bicara.


Jim..


Dia selalu mencintai Jim.


Tapi Jim tidak pernah mengacuhkannya.


Bahkan setelah dia menjadi bintang utama seperti sekarang.


Cindy terbit amarahnya.


...🎋🍎🌴...

__ADS_1


__ADS_2