Kamu Milikku

Kamu Milikku
Kehidupan Tenang part 2


__ADS_3

"Aku, kan sudah bilang kalau ini khusus kamu yang ingin menjadi sekretaris pribadiku, kalau orang lain ujiannya juga beda, Sayang."


"Apa maksud kamu, Mas?" Addrian tidak menjawab. Dia malah tersenyum penuh tanda tanya membuat Aira semakin penasaran. "Jelaskan dulu maksudnya apa, Mas? Memangnya, kamu akan memberi ujian lain pada orang yang melamar menjadi sekretarismu selain tes tulis?" Addrian masih saja terus tersenyum. "Mas, aku tidak mau bercinta denganmu kalau kamu tidak mau mengatakannya padaku."


Adrian malah terkekeh geli melihat istrinya. "Tentu saja ujian tes IQ, Aira. Dia harus mengerjakan soal yang berhubungan dengan perusahaan agar aku mengetahui kemampuannya juga tidak ada yang lain."


"Jangan membohongiku, Mas."


"Kenapa tidak percaya padaku? Sayang, aku ini sudah berubah. Ujian seperti ini hanya untuk kamu saja, kalau lolos kamu bisa menjadi sekretarisku."


"Benarkah? Kalau begitu aku akan membuktikan jika aku bisa menjadi sekretarismu." Aira tersenyum menggoda pada suaminya.


Keesokan harinya Addrian mengajak Nadin pergi ke penjara, tapi sebelum itu mereka membeli bakpao yang diinginkan oleh Nadin.


Aira juga berpesan pada suaminya untuk menitipkan salamnya pada ibu Nadin di rutan.


Nadin sedang gelisah menunggu ibunya keluar, dia duduk dengan Addrian di sebelahnya.


"Om Addrian, apa ibuku masih lama ya di sini? Kenapa tidak keluar-keluar. ibuku, kan, sudah mendapat hukuman? Dan sebenarnya Kak Citra yang salah."


Semua masalah yang terjadi sudah dijelaskan semuanya oleh Addrian, dan kenapa ibunya harus di dalam penjara.


"Tidak akan lama lagi Ibu Nadin akan keluar dan nanti bisa bertemu lagi denganmu, bahkan kumpul terus sama ibu "


Tidak lama wanita yang ditunggu Nadin itu pun keluar. Ana sangat senang bisa bertemu dengan Nadin, dia dengan cepat memeluk anaknya itu dengan erat.


"Ibu kangen sama kamu, Nadin sehat, kan?"


"Nadin sehat ibu. Tante Aira dan Om Addrian sangat baik pada Nadin, bahkan tiap hari aku diantar sekolah oleh Om Addrian sampai teman-temanku menyangka Om Adrian adalah ayahku, adik kecil juga sangat tampan, dia sudah bisa diajak bermain." Bibi Anna melihat pada Adrian dengan mata yang sudah dipenuhi oleh butiran air yang siap keluar.


"Bibi Anna, aku sudah bilang kalau Nadin sudah aku anggap seperti anakku sendiri jadi aku akan menjaganya seperti anakku."


"Iya aku tahu kalian pasti akan bisa menjaganya dengan baik. Apa Aira tidak ikut?"


"Aku minta maaf, Aira tidak bisa ikut karena Bibi tahu sendiri bayi kita masih sangat kecil."


"Iya sampaikan saja salamku pada Aira."

__ADS_1


"Ibu aku membawakan bakpao isi kacang tanah kesukaan Ibu. Ibu makan dulu, ya?"


"Terima kasih sayang nanti ibu akan bagi dengan teman-teman ibu, teman-teman ibu di sini juga semua baik-baik."


"Bibi Anna, jika nanti Bibi Anna keluar, apa Bibi Anna mau tinggal di rumah kami?"


"Tinggal di rumah kalian? Apa tidak akan memberatkan kalian nantinya? Aku, kan, masih punya rumah Addrian."


"Tinggal di rumahku karena Bibi bisa menjadi pengasuh untuk anakku. Bagaimana? Apa Bibi mau?"


Wanita paruh baya itu melihat ke arah putrinya. Nadin mengangguk perlahan.


"Baiklah, aku menerimanya. Bagaimanapun juga aku membutuhkan uang untuk biaya sekolah Nadin."


"Bibi Anna tenang saja, aku yang akan menyekolahkan Nadin sampai nanti Nadin lulus dan dia bisa menjadi seorang guru seperti yang dia cita-citakan. Nadine ingin menjadi seorang guru, kan?"


"Tentu saja aku ingin menjadi seorang guru seperti guruku di sekolah."


"Anak pintar." Addrian mengusap perlahan kepala Nadin.


"Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan padamu Addrian, kamu begitu baik, sangat baik, padahal keponakanku sudah jahat denganmu dan Aira."


"Bagaimana keadaan Citra?"


"Kabar yang aku dengar dia masih saja terbaring koma dan aku dengar juga dia dibawa oleh keluarganya ke luar negeri untuk berobat yang lebih baik. Ya! Semoga saja dia bisa pulih walaupun sebenarnya aku tidak mengharapkan hal itu karena dia sudah sangat buruk pada istriku."


"Sekali lagi aku minta maaf atas perbuatan Citra, seharusnya aku bisa mendidiknya lebih baik, tapi ternyata aku gagal."


Addrian memegang tangan wanita paruh baya itu. "Bibi jangan berkata seperti itu, sekali lagi semua ini bukan salah Bibi. Bibi orang yang baik dan aku yakin Bibi sudah mendidiknya dengan sangat baik."


Beberapa jam Addrian di sana dia tampak senang lihat Nadin bercanda dengan ibunya sampai akhirnya Addrian membawa Nadin yang sudah tertidur di pundaknya.


"Bibi jaga diri baik-baik di sini, kapan-kapan aku akan membawa Nadin lagi ke sini untuk menemui Bibi."


"Andrian, kalau bisa jangan sering-sering datang ke sini, bukannya apa, aku kasihan jika Nadin harus menungguku di tempat yang tidak semestinya dia datangi.Ya sudah kalau begitu, kamu pulanglah. Terima kasih untuk hari ini."


"Sama-sama, Bi."

__ADS_1


Addrian beranjak pergi dari sana, dia menidurkan Nadin di sampingnya, dia membawa Nadin pulang."


"Sesampai di rumah, Addrian melihat ada mobil Kenzo adiknya ternyata berada di sana, dia datang dengan Niana.


"Apa kabar, Kak? Nadin tidur, ya?"


"Iya, dia kecapekan karena tadi bermain dengan ibunya. Aku mau tidurkan dulu Nadin ke kamarnya."


"Aira, itu beneran Kakakku ya?"


"Apa maksud kamu Kenzo?"


"Kenapa dia berubah seperti itu? Sok bijaksana, lembut dan dia seolah-olah menjadi Ayah yang sangat sayang dan penuh perhatian dengan anaknya."


Niana seketika mencubit tangan Kenzo. "Kamu itu harus mencontohkan Kakakmu jika besok kamu memiliki anak."


"Aku pasti menjadi ayah yang baik nanti kalau punya anak, kamu tenang saja. Dirimu tidak akan menyesal jika menikah denganku."


Niana seketika mengkerutkan kedua alisnya. "Kenapa jadi bilang aku menikah dengan kamu?"


"Aku hanya memberitahu kamu tidak akan menyesal jika kamu besok menikah denganku."


" Ya ampun! Aku masih belum memikirkan pernikahan. Kita jalanin dulu saja hubungan ini "


"Apa? Hubungan ini? Kalian pacaran?" Aira terkejut.


Niana dan Kenzo langsung meringis berdua. "Katakan apa kalian pacaran?"


"Iya Aira, aku adalah kekasihnya Niana, tapi kami berdua cocok, kan?Niana cantik, sedangkan aku tampan, kalau kita memiliki anak laki-laki pasti sangat tampan, dan kalau perempuan sangat cantik."


Kenzo malah membayangkan hal yang belum terjadi dan mungkin tidak tahu bisa terjadi apa?


"Tidak aku belum memikirkan tentang pernikahan, Kenzo, kenapa kamu memikirkan soal anak juga?"


"Siapa tahu kamu hamil anakku sebelum kita menikah."


" Ya ampun! Ternyata kamu punya pikiran sejelek itu ya Kenzo? Aku jadi harus memikirkan 1000 kali jalan sama kamu.

__ADS_1


"Aku hanya bercanda Niana."


__ADS_2