
Malamnya...
Sandy dan Reva duduk berdampingan saat makan malam.
Mereka satu meja dengan Robert dan Michael beserta pasangan masing-masing.
Dua meja dari mereka ada Cindy.
Cindy duduk bersama dengan Aaron dan teman-teman sesama aktor dan aktris.
Beberapa kali mata Cindy menatap ke meja di seberangnya.
Menikmati wajah Sandy.
Melamunkan masa lalu mereka.
"Cin..."
"Cin..."
"Cin...!!" sentak Aaron.
Cindy menatap Aaron lalu menatap satu meja yang juga sedang menatapnya.
"Apa ?"
"Kamu tadi ditanya Daniel." bisik Aaron.
Cindy memerah.
"Maaf Daniel...aku gak denger.
Kamu nanya apa?"
Daniel tertawa.
"Mikirin apa kamu ?"
Cindy merona kembali.
"Enggak Daniel.."
Daniel melirik sekilas ke meja Sandy.
"Aku enggak mau ada konflik dalam company ku.
Kamu sebaiknya move on." katanya.
Cindy kembali merona.
"Dia sudah mencoba, Daniel." kata Aaron.
Daniel menghela nafas.
"Aku kenal dia sudah lama.
Dia teman Elle.
Kamu goda habis-habisan, mungkin dia bakal tergoda. Kamu kan cantik.
Tapi setelah itu apa ?
Kalian bertiga menderita.
Dia cinta sama orang lain.
Orang itu cinta sama dia.
Kamu cinta dia.
Kamu sendiri nanti yang sakit.
Karena, walaupun kamu berhasil merusak hubungan mereka, mereka saling mencintai, ikatan itu akan kembali pulih."
"Kelihatannya Boss berpengalaman sekali." kata Jim.
Daniel tertawa.
Dia tidak menjawab.
Cindy membuka mulutnya.
"Tapi..."
"Kamu boleh gak percaya sama aku, Cin." kata Daniel.
Cindy menegakkan tubuhnya.
"Tapi dia yang merebutnya dariku.
Dia yang merusak hubunganku dengan kekasihku.
Dan Aku gak rela.
Aku akan rebut kembali milikku." tekad Cindy.
Daniel menatapnya.
Dia mengangguk.
"Terserah kamu." katanya singkat.
Jim mencondongkan tubuhnya.
"Tapi cinta enggak bisa dipaksakan."
"Tapi dia dulu pernah mencintaiku.
Aku bisa membuatnya kembali mencintaiku." Cindy berkeras.
"Dia sudah jadi milik orang Cin.
Apalagi gadis itu bukannya jelek.
Dia pun cantik." kata Aaron.
Cindy mendelik.
"Kamu juga suka kan ?"
Aaron tersenyum.
"Gadis itu cantik.
Ya kan Jim ?" tanyanya minta dukungan.
Jim mengangguk.
"Dan dia baik.
Aku juga menyukai nya."
"Tapi aku gak liat alesan Kenapa kamu gak boleh ngejar Sandy lagi.
__ADS_1
Dia kan tadinya milik kamu." sela Helen sahabat Cindy.
"Hubungan itu antara dua orang,
Kalo yang satu cinta yang satu enggak ya gak bakal jadi.
Neraka buat keduanya saat cinta dipaksakan." kata Nancy.
"Lagipula jaman sekarang, cerai itu bukan aib.
Sudah biasa.
Jadi.. walaupun bisa merebutnya, membuatnya mengawini kamu, suatu kali saat perasaannya begitu kuat, kalian akan berpisah." kata Wen Li.
Cindy merasa hatinya tertusuk duri.
Dalam hatinya, dia pun mengakui bahwa Sandy memang sudah tidak mencintainya lagi.
Tapi itu kan karena Sandy menutup kesempatannya untuk memberikan hatinya pada Cindy.
Karena gadis itu.
Kalau gadis itu tidak ada...
Kalau kesempatan itu ada, kesempatan dia menunjukkan pada Sandy bahwa dia mencintai Sandy, sangat mencintainya...
Sandy akan membuka kembali hatinya.
Tapi yang pertama harus dilakukan adalah membuat Sandy tergoda dulu.
Dia akan menggoda Sandy selama mereka berada di sini.
Karena ini kesempatannya yang terbesar.
Dia akan memanfaatkan kesempatan saat dia dan Sandy tinggal satu lantai.
Cindy menipiskan bibir.
Acara malam itu dilanjutkan dengan dansa di ballroom.
Sandy tak pernah melepaskan Reva.
Terus menerus dia mengajak Reva berdansa hingga kaki mereka lelah.
Sandy juga tidak mengijinkan Reva berdansa dengan orang lain.
Tapi dia mengijinkan Reva dance bersama teman-teman wanitanya.
Sandy sangat protektif.
Mereka akan menikah dalam waktu kurang dari tiga bulan. Dua bulan.
Dia ingin segalanya berjalan lancar.
Dan kini, Reva kembali berada dalam pelukannya.
Mereka sedang slow dance.
"Ihh..!!" gerutu Reva.
"Hmm.. kenapa?
Kamu keinjek ?
Maaf ya.." kata Sandy menunduk.
"Enggak.
Ngeliatin terus !" kata Reva dengan sebal.
Sandy menggerakkan kepalanya hendak menoleh.
Reva dengan cepat menahan rahang Sandy dengan jarinya.
"Ee...gak boleh liat..
Pokoknya gak boleh !
Nanti Om kepingin !" kata Reva mencibirkan bibirnya.
Sandy tertawa.
Dia menyambar bibir Reva.
Dan secara mengejutkan, Reva menahan tengkuk Sandy.
Mereka berciuman lama.
Sandy tertawa.
"Tumben nih !!" katanya.
Reva tidak menjawab.
Matanya memandang sayu pada Sandy.
"Ck..!!" gerutu Sandy.
"Apa ?"
"Kamu !
Pandangan kamu itu lho...
Nafsuin.
Kita ke kamar aja, Va..
Lanjutin di sana."
Bibir Reva merekah.
"Ahh..kamu !!"
Sandy tidak tahan untuk tidak menyambar bibir merah merekah itu.
Mereka kembali berciuman.
Sementara beberapa meter dari sana..
"Udah jangan diliat." kata Aaron.
Cindy mendelik kesal.
Aaron tertawa.
"Ini semua gara-gara kamu !" omel Cindy.
"Lho..kok aku yang disalahin ?"
"Iya..
Gara-gara ketauan tidur sama kamu, aku putus sama dia !" kesal Cindy.
__ADS_1
Aaron kembali tertawa.
"Gak cuma sama aku kan Cin ?
Kamu nyelingkuhin Sandy sama orang lain juga."
Cindy diam.
Lalu menjawab.
"Tapi aku ketauan nya sama kamu." katanya sebal.
"Kamu nikmat banget sih Cin..
Aku jadi kecanduan." kata Aaron.
Cindy melirik Aaron.
Aaron pun sedang menatapnya.
Pijar listrik terasa diantara keduanya.
Gelenyar di perut Cindy terasa geli.
Membuat kakinya melemah.
Matanya menjadi sayu.
"Ahh...sialan !" maki Aaron.
"Ayo !!" tariknya.
Cindy tersandung-sandung mengikuti tarikan tangan Aaron.
"Kamar kamu apa kamarku ?" tanya Aaron meraih pinggang Cindy.
"Aaron...
Nanti bajuku berantakan." protes Cindy lemah.
"Hmm..." Aaron tidak menjawab.
Pikirannya sudah berkabut gairah.
Hasratnya naik hanya dengan membayangkan tubuh indah Cindy.
Mereka naik lift.
Menuju kamar Aaron.
Aaron mengambil kartu dari sakunya.
Dia mendorong pintu lalu menarik Cindy masuk.
Cindy ragu-ragu sejenak.
Aaron yang tidak sabar, menariknya lebih keras. lalu membanting pintu.
Dia mendesak Cindy ke dinding.
Mulutnya sudah sibuk menyambar bibir Cindy.
Tangannya menurunkan satu tali bahu Cindy.
Cindy mengeluarkan *******.
"Ahh..Cin...
Aku tergila-gila sama tubuh kamu." bisik Aaron.
Cindy tidak menjawab.
Menyelipkan jarinya.
Aaron melenguh nikmat.
Tangannya mendorong kepala Cindy turun.
Bibir seksi Cindy lalu menyelimuti pusat diri Aaron.
Aaron kembali melenguh.
Cindy menggerakkan kepalanya.
"Cin....aahh..Cin...
Kamu.."
Aaron membuka jas, dasi, rompi dan kemejanya.
Dadanya yang berotot tampak mengundang.
Dia menjauhkan diri dari Cindy.
Melepas celananya.
Lalu menggendong Cindy ke kasur.
Perlahan melucuti Cindy.
Cindy terbaring di kasur. Polos.
Matanya menatap Aaron.
Aaron sendiri sedang menikmati keindahan tubuh Cindy.
Buah dadanya yang asli.
Itu yang disukai oleh Aaron.
Dia tidak suka fake.
Perempuan yang menambah volume buah dadanya tidak bisa langsung merasakan kenikmatan saat dia menggodanya.
Seringkali desahannya adalah ******* palsu.
Sementara Cindy...
******* Cindy betul-betul dari kenikmatan yang diberikan Aaron padanya.
Menambah fantasi Aaron padanya.
Tangan Aaron menuju ke bawah.
Menggoda Cindy.. Cindy menjerit.
Memohon.
Memohon lagi.
Sampai akhirnya Aaron mengabulkan permintaannya.
...☘️🎀🍇🌴...
__ADS_1