Kamu Milikku

Kamu Milikku
Lepaskan Dia


__ADS_3

Malamnya..


Sandy pulang ke rumahnya.


Hatinya berdebar.


Reva sudah pulangkah?


Pintu di buka.


Si Mbok menyambut.


Dia terkesiap melihat wajah Sandy.


"Pak...


Bapak kenapa ?" tanyanya cemas.


Sandy meringis.


"Gak papa.. Kecelakaan tadi.


Reva udah pulang ?" tanya nya dengan nada biasa.


Si Mbok mengerutkan keningnya.


"Mbak Reva tadi siang pulang sebentar.


Ngambil barang terus pergi lagi."


"Barang apa ?"


"Koper dua."


"Hah ?!"


Deg.


Sandy bergegas naik ke kamar Reva.


Si Mbok menyusul.


"Katanya tadi harus nginap.


Besok juga gak pulang ke sini lagi.


Langsung ke rumah."


"Rumah ?"


"Iya..


Ke rumah Bapak.


Pak Wid."


Pak Wid. Papa Reva.


Nginapnya dua minggu ?


Kebetulan kah ?


Atau memang Reva sedang menghindarinya ?


Sandy makin cemas.


Dia tidak ingin pernikahannya batal.


Tidak.


Dia sudah bersabar dan menunggu selama ini.


Sialan Cindy !


Tidak akan pernah.


Tidak akan pernah lagi dia akan dekat-dekat dengan perempuan ular itu.


Sandy bergegas masuk ke ruang kerja.


Koper ya ?


Sandy menghidupkan laptopnya.


Beberapa saat kemudian dia sudah melihat empat titik di satu tempat.


Sandy mengetik.


Rumah keluarga Chang.


Jadi Reva menginap disitu.


Kenapa membawa dua koper ?


Reva juga tidak memberitahukan padanya.


Tidak meminta ijin untuk menginap di tempat lain.


Sandy mengernyit.


Dia merasa marah.


Dia tau dia salah.


Tapi Reva juga tidak seharusnya meninggalkan nya tanpa pesan apapun.


Mereka bertunangan.


Dan mereka akan menikah dalam waktu sebulan.


Reva harus belajar menghormatinya sebagai suami.


Sandy menggertakkan giginya lalu kemudian meringis.


Sakit sekali.


Michael betul-betul tidak menahan dirinya.


Sandy menghela nafas.


Kalau adiknya dipermalukan seperti itupun, dia juga akan melakukan hal yang sama seperti Michael.


Sandy memaki dirinya sendiri.


Sejak awal berhubungan dengan Cindy, dia sudah merusak hubungan pertemanan dan profesional nya dengan teman-teman nya.


Dia menelantarkan banyak pekerjaan nya hanya demi melayani berbagai permintaan absurd Cindy.


Dan sekalipun setelah dia putus dan menjalin hubungan dengan orang lain pun, dia juga merusak hubungannya dengan teman-temannya sekaligus dengan tunangannya.


Pengaruh Cindy tidak baik sama sekali padanya.


Dan dia menyesal membiarkan Cindy masih mempengaruhinya sampai sejauh ini.


Sandy membersihkan diri lalu merebahkan dirinya.


Dia capek sekali.


Dan sakit.


Sakit badan serta hati.


Besok dia harus mendapatkan Reva.

__ADS_1


Sementara di tempat lain...


Reva merebahkan dirinya di kasur mewah di kamar yang juga tak kalah mewah di rumah Madam Chang.


Mereka semua diminta datang pagi ke lab Willy di Taipei.


Ponselnya ketinggalan di laci lab kampusnya karena terburu-buru.


Reva menarik nafas panjang.


Setelah semua selesai tadi malam, Willy memintanya menginap di rumah mereka.


Madam Chang minta ditemani olehnya.


Reva tersenyum.


Willy dan Wina menganggap nya sebagai adik mereka sendiri.


Dan dia sering menemani Madam Chang kemana-mana.


Tidak ada yang tau.


Dia menyembunyikan kenyataan ini bahkan dari Tia.


Sekarang karena sebentar lagi dia akan menikah, Madam Chang memintanya untuk menghabiskan waktunya dengan Madam Chang.


Karena setelah menikah, dia tidak lagi bebas seperti sekarang.


Menikah...


Reva mengerutkan keningnya.


Dia kembali mengingat foto-foto Sandy dan Cindy.


Rasa nyeri melintasi hatinya.


Kuatkah dia menikahi laki-laki seperti Sandy ?


Tapi...dia sudah tidur dengan Sandy.


Reva melirik jam di nakas.


Sudah jam sebelas.


Dia tidak mengabari Sandy sama sekali.


Dan dia tidak mengabari siapa-siapa.


Dia tidak hafal dengan nomor telepon semua orang.


Kecuali nomor telepon Papa dan Mama.


Oh..iya...dan Biliyan.


Tapi itupun dia tidak bisa menelepon karena tidak punya ponsel.


Reva masih memikirkan tentang foto-foto Cindy saat jatuh tertidur.


Dia tidak tau bahwa Sandy sudah memposting foto-fotonya berdua Reva dan menyebutkan tentang pernikahan mereka.


Reva tidur dengan pemikiran buruk pada Sandy dan masa lalunya.


Paginya..


Sandy bangun dengan badan sakit, kepala pusing dan saat dia memandang wajahnya di cermin, dia nyaris tidak mengenali dirinya sendiri.


Wajahnya babak belur.


Kedua mata bengkak, lebam di seluruh wajah dan saat dia mencoba membuka mulutnya untuk sikat gigi, dia harus mengerahkan sekuat tenaga untuk tidak berteriak.


Tidak mungkin dia menemui Reva dengan wajah seperti ini.


Dia harus istirahat di rumah selama dua hari sebelum bisa keluar rumah.


Sandy lalu menelpon dokter.


Sandy berada di kantor Charles.


Charles dan Ernest terkejut dengan penampilan Sandy.


Dua hari sudah lumayan.


Tapi mata dan sudut bibir Sandy belum pulih sepenuhnya.


Pipinya masih menghitam.


"Kenapa?" tanya mereka berdua.


Sandy tidak menjawab.


Dia hanya menerawang.


"Kamu berantem sama Michael ya ?" tebak Charles.


Sandy masih tidak menjawab.


"Kenapa ?. Gara-gara foto kemarin ?" tebak Ernest sambil nyengir.


Sandy berpaling memandangnya.


"Gak akan pernah lagi." katanya.


Charles dan Ernest terbahak-bahak.


"Aku salut sama Michael.


Dia mengambil peran sebagai kepala keluarga dan melindungi mereka." kata Ernest.


"Kalian orang Indonesia emang baik-baik ya.


Buktinya si Cindy gak mau ngelepas kamu walaupun kamu udah mau kawin." sahut Charles.


"Jangan pernah nyebut nama dia lagi !" kata Sandy tajam.


Charles dan Ernest tercengang.


Mereka menatap Sandy bingung.


"Dulu kamu tergila-gila sama dia, San.." kata Ernest hati-hati.


"Udah lama enggak.


Dua tahun lebih.


Kenapa sih kalian semua gak ada yang percaya kalo aku udah gak punya perasaan lagi sama dia ?"


"Kalian itu siapa ?"


"Ya kalian semua !!" kata Sandy sebal.


"Kamu itu legenda dalam hal melayani wanita, San.


Semua orang tau itu."


Sandy memandang sebal.


"Mau kerja gak ?


Kalo enggak..aku pulang." katanya.


"Eh..iya..iya..." kata Charles cepat-cepat.


Dua jam kemudian.

__ADS_1


Telepon di ruangan Charles berbunyi.


"Eh..iya.. masuk aja deh." jawabnya mengerling pada Sandy yang masih serius menatap ponselnya.


Charles memandang Sandy dengan cemas.


"Ada apa ?" tanya Ernest melihat ekspresi Charles.


Sandy yang mendengar Ernest lalu memandang Charles.


"Eh..itu...


Ee.."


Pintu terbuka.


Helen dan Cindy masuk.


"Hai semua..." sapa keduanya.


Sandy menatap mereka kaget.


Dia lalu berpaling menatap Charles.


"Kamu ngundang mereka kesini ?" tanyanya tajam.


Sementara Cindy dengan wajah kaget menatap Sandy.


"San...kamu kenapa ?" katanya dengan cemas.


Wajah Sandy menggelap.


Dia tidak menjawab.


Laptopnya yang terbuka, segera ditutup.


Dia meraih ponselnya, mengantunginya.


"Aku pergi." katanya.


"San !!"


Tiga orang memanggil serempak.


"Lain kali kalian yang ke kantorku." katanya dingin.


Sandy berdiri.


"San !!"


Cindy menarik tangannya.


Sandy memandang dingin.


Dia menepis tangan Cindy.


Sandy berjalan ke pintu.


Cindy segera menyusul.


Memeluk Sandy dari belakang.


Kedua Tangannya memeluk erat.


"Enggak..


Kamu enggak boleh pergi.


Jangan pergi.


San...


Kamu jadi begini..


Lepasin dia, San...


Lepasin dia.


Kamu bakal menyesal, San.


Mereka bikin kamu begini."


Cindy memeluk sambil menangis.


Sandy menegang.


Tangannya dengan kasar melepaskan pelukan Cindy.


Tapi Cindy tidak mau melepaskan.


Dia menjalin jemarinya di perut Sandy.


"Cindy !!" bentak Sandy.


"Enggak..


Enggak.. San...


Aku gak akan lepasin kamu.


Kamu yang harus lepasin dia.


Dia bakal bikin kamu menderita, San.


Dia bakal bikin kamu kehilangan segalanya.." tangis Cindy.


Sandy menarik paksa lengan Cindy.


Cindy menjerit kesakitan.


Mereka berdua bergulat.


Yang satu ingin melepaskan diri sedangkan yang satunya makin mengeratkan pelukannya.


Helen, Charles dan Ernest bergegas menghampiri mereka berdua.


"San..kamu lembut dikit sama cewek !" bentak Ernest.


Sandy menatap tajam.


"Gak ada yang nyuruh dia peluk-peluk aku." katanya masih berusaha melepaskan diri dari Cindy.


"Cindy !!


Lepasin !!" bentaknya.


"Enggak...


Enggak..." Cindy sekarang menangis keras.


"Cin...udah Cin..


Lepasin Cin...." bujuk Charles.


Charles ikut menarik tangan Cindy.


Ernest pun membantu.


Sementara Helen membelai punggung Cindy.


Pegangan Cindy pun akhirnya terlepas.


Tidak menunggu lagi, Sandy langsung keluar dari ruangan Charles sambil membanting pintu.

__ADS_1


Meninggalkan Cindy yang menangis tergugu.


...🍒🍇🎀...


__ADS_2