
Malam itu Aira memenuhi janjinya untuk memberikan yang terbaik untuk Addrian.
Keesokan harinya. Aira yang sudah bangun membuat masakan untuk makan pagi suami dan Kenzo yang tidur di sana.
"Aira, kamu membuat apa? Kenapa baunya harum sekali?"
"Coba tebak aku memasak apa?"
Kenzo berjalan mendekat dan melihat ada dua menu masakan di sana. "Sup ayam dan gurame asam manis ya?"
"Pinter, besok jangan lupa masuk pagi lagi, ya?"
"Aku memang dari lahir sudah ditakdirkan pintar, Aira." Aira tersenyum melihat ekspresi lucu adik iparnya.
"Kamu mandi dan kita sarapan bersama sebelum pergi mengantar Citra pindah dari sini."
"Apa? Citra mau pindah dari sini? Dia akan pindah ke mana?"
"Ke tempat kos Tanteku. Tante Tania memiliki tempat kos dan ada rumah yang dia tinggalin sendiri. Aku tidak tau nanti Citra bisa tinggal di mana, yang pasti Citra akan pindah dari sini."
"Em begitu. Bagus sebenarnya karena tidak baik juga kamu dan Addrian mengizinkan seorang gadis lain tinggal di rumah kamu. Bunda pernah aku ceritakan masalah ini dan dia memiliki pemikiran seperti itu."
"Kalau begitu kamu cepat mandi dan pinjam baju kakak kamu saja."
Kenzo mengedarkan pandangannya mencari di mana sosok Addrian. "Addrian belum bangun?"
"Belum, dia masih tidur karena semalam dia tidur agak larut." Aira berbohong, padahal dia yang membuat Addrian kelelahan.
"Ya sudah aku mau mandi di kamar mandi tamu saja."
"Iya, nanti aku ambilkan baju kakak kamu."
"Iya, ambilkan baju dia yang mahal dan tidak perlu aku kembalikan!" teriak Kenzo sambil berjalan menuju kamar mandi.
"Dasar!" Aira terkekeh. "Sebaiknya aku cepat selesaikan dan menyuruh mas Addrian bangun untuk bersiap-siap."
Aira menyiapkan masakannya di atas meja makan. Lalu, dia berjalan menuju kamar tidurnya.
"Si istri manja memasak lagi. Bagaimana kalau di hari terakhir aku di rumahnya membuat dia merasa tidak pantas menjadi seorang istri yang pandai memasak." Citra ternyata melihat Aira yang masuk ke dalam kamarnya dan memiliki ide untuk merusak lagi masakan Aira.
__ADS_1
"Sup ini kesukaan mas Addrian. Bagaimana jika rasanya keasinan lagi. Kenzo pasti akan merasa menyesal memiliki kakak ipar yang tidak bisa memasak dengan baik."
Citra sekali lagi menambahkan garam ke dalam sup buatan Aira. Dia kemudian cepat-cepat pergi dari sana.
Aira di dalam kamarnya sedang melihat pada ponselnya, dan tidak lama terbit senyum kecil pada bibirnya.
"Sebaiknya aku membangunkan Mas Addrian dan segera mengantar Citra ke rumah Tante Tania."
Aira menggoda suaminya yang masih tidur dengan mengusap-usapa rambutnya pada wajah sang suami.
"Em!" Addrian hanya mengerang dengan masih menutup kedua matanya.
"Bangun ayah Addrian," panggil Aira lirih.
"Aku masih mengantuk, Sayang," jawabnya.
Aira tidak patah semangat, dia sekali lagi menggoda Addrian dengan rambutnya.
"Besok saja kalau mau lagi," celoteh Addrian.
"Apanya yang besok?" Kedua alis Aira mengkerut. "Mas, Kenzo ada di kamar mandi tamu. Dia membutuhkan bajumu, apa aku yang harus memberikannya?"
Addrian seketika membuka kedua matanya kaget. "Jangan kamu! Biar aku saja yang memberikannya."
"Aira, jangan menindihku seperti ini, kasihan sama bayi dalam perut kamu." Addrian bangkit dan menyuruh Aira duduk dengan benar di tempat tidur.
"Kenzo menunggu baju kamu, Mas. Kasihan dia nanti bisa kedinginan di dalam kamar mandi."
Addrian mengambilkan kaos lengan pendek dan celana pendek selutut miliknya.
"Aku akan berikan baju ini dulu pada Kenzo, dan kamu tetap di sana karena aku mau memberi kamu sebuah hukuman kecil karena sudah membangunkan aku." Addrian mengedipkan salah satu matanya dan pergi dari sana.
"Hem! Aku sudah tau hukuman apa yang akan kamu berikan padaku, Mas." Aira kembali melihat pada ponselnya, dan dia tampak tersenyum melihat sesuatu di sana.
Addrian sudah memberikan baju pada Kenzo dan saat dia mau kembali dia bertemu dengan Citra yang sengaja menabraknya, tapi pura-pura tidak sengaja.
"Aku minta maaf, Addrian. Kepala tadi agak pusing aku mau mencari obat di kotak obat yang ada di dapur."
"Kamu sakit?"
__ADS_1
"Tidak tau, semalam aku tidak bisa tidur karena bermimpi buruk tentang pamanku. Aku takut jika pamanku akan menemuiku di rumah Tante Aira. Aku tidak mau membuat orang lain menderita karena aku." Citra menunjukkan wajah sedihnya.
Addrian tampak berpikir sejenak. Kalau di rumahnya Addrian bisa menjaga Citra, tapi kalau di rumah tantenya Aira bagaimana?
"Aku benar-benar takut, Addrian." Citra memegang tangan Addrian dan meneteskan air matanya.
Kenzo yang baru keluar dari kamar mandi agak terkejut melihat kakaknya dipegang tangannya oleh Citra.
"Kamu kenapa, Citra?" tanya Kenzo.
"Dia sakit kepala karena semalam tidak bisa tidur."
"Mau aku ambilkan obat untuk kamu?"
"Tidak perlu, Ken. Aku hanya butuh istirahat saja, tapi kalau hatiku tidak tenang. Bagaimana aku bisa tidur?"
"Maksud kamu?"
"Mas, Tante Tania sudah menghubungi aku. Waktu itu aku menceritakan tentang masalah Citra dan tante Tania ini tadi bilang supaya jangan khawatir kalau paman Citra ke rumah, akan ada penjaga di sana yang langsung mengamankan pamannya Citra."
Citra agak kaget dengan apa yang baru saja Aira katakan. "Kamu kenapa bisa tau apa yang sedang menggangguku?"
"Aku tidak tau apa yang mengganggu kamu. Kemarin waktu aku bertanya tentang tempat tinggal, aku bercerita masalah kamu yang kenapa tinggal di rumahku dan aku mengatakan jika kamu pasti khawatir jika pamanmu mencari, seperti waktu itu bibi kamu menyuruh kamu pulang. Ini tadi tanteku menghubungiku dan bilang jika dia sudah menyiapkan penjaga tambahan. Jadi, kamu akan aman." Aira tersenyum pada Citra.
Addrian berjalan mendekat pada istrinya. Dia memeluk pinggang Aira. "Kamu memang istri yang bisa diandalkan. Kamu sangat peduli pada orang lain, bahkan sampai hal ini kamu pikirkan."
"Bagaimanapun Citra sudah aku anggap sebagai saudara. Jadi, aku harus memikirkan juga keselamatannya."
"Itu benar sekali. Ayo! Sekarang kita makan saja karena masalah Citra sudah selesai. Aku mau merasakan sup ayam buatan Kakak iparku."
"Aku akan mandi dulu dan kalian boleh ke ruang makan duluan."
"Mas, aku sudah menyiapkan baju kamu. Aku tunggu di ruang makan."
Cup
Addrian mengecup kening Aira. "Nanti malam saja hukumannya," bisik Addrian.
"Mas!" Aira menepuk pundak suaminya.
__ADS_1
Mereka bertiga berada di ruang makan sambil menunggu Addrian. "Citra, aku harap kamu bisa betah di rumah tanteku karena tanteku sangat baik dan pastinya dia akan sangat senang ada kamu di sana."
"Iya, aku juga senang bisa pindah dari sini dan tidak merepotkan kamu," ucapannya seolah menutupi kekesalannya.