
Mereka sampai di depan rumah pemilik rumah yang akan Addrian sewa, tapi kenapa rumahnya sepi dan sepertinya pemiliknya tidak ada di rumah.
"Rico, kenapa rumahnya sepi? Lalu kita mengambil kunci rumahnya bagaimana?"
"Kita turun dulu saja dan mencoba mengetuk pintunya."
Mereka bertiga turun dan mengetuk pintu rumah sang pemilik, tapi beberapa kali ketukan tidak ada yang menjawab, sampai akhirnya Rico berteriak memanggil sang pemilik rumah.
Pintu pagar dibuka dan ada seorang pria muda dengan pakaian lusuhnya melihat mereka bingung.
"Mas, kami mau bertemu dengan pemilik rumah sewa yang di sebelah. Ibu Rama."
"Nyonya sedang pergi ke luar negeri selama dua Minggu. Apa kalian yang ingin menyewa rumah di sebelah?"
"Iya, aku Rico yang sudah memberi DP rumah untuk aku sewa."
"Sebentar ya, Mas, ada titipan dari nyonya Rama."
Pria usianya yang terbilang masih sangat muda itu masuk ke dalam rumah dan tidak lama dia keluar. Pria itu memberikan amplop coklat besar kepada Rico.
"Ini apa?"
"Nyonya Rama mau mengembalikan uang sewa rumah itu karena rumah itu tidak jadi disewakan."
"Apa?" Rico tampak kaget.
"Kenapa tidak jadi disewakan? Apa maksudnya?" Addrian tampak kesal.
"Rumah itu seminggu lagi akan digunakan oleh anak nyonya Rama yang akan pulang dari luar negeri. Jadi, rumah itu tidak jadi disewakan."
"Kenapa tidak bilang dari awal. Brengsek! Aku akan menghubungi wanita menyebalkan itu."
Rico mencoba menghubungi pemilik rumah, tapi panggilannya tidak aktif.
"Wanita itu benar-benar tidak tau bersikap baik dengan orang lain." Rico tampak marah.
"Kita cari kosan lainnya saja, jangan sampai kita mencari masalah dengan orang lain," Citra menarik lengan tangan Addrian.
"Bukan kita mencari masalah di sini, tapi sikap wanita itu yang tidak benar."
__ADS_1
Rico mengambil uangnya dan mereka berjalan pergi dari sana. Tampak Citra yang duduk dengan wajah tersenyum samar.
"Kita sekarang bagaimana? Wanita itu dari awal terlihat baik saat aku mau menyewa rumahnya, katanya dia membutuhkan uang, tapi ternyata sekarang dia malah berbuat seenaknya begini." Rico sampai memukul dashboard di depannya.
"Kembali saja ke rumahku, dan nanti kita bicarakan di rumah saja."
Mereka bertiga melanjutkan perjalanan menuju rumah Aira. "Addrian, apa nanti boleh kita berhenti di toko kue dekat kampusku, aku mau membeli kue di sana untuk Aira. Dia pasti menyukainya."
"Maaf Citra, tapi mulai sekarang semua makanan yang dikonsumsi oleh Aira sudah aku serahkan kepada juru masak yang aku siapkan di rumah. Kalau memang Aira ingin makan kue, nanti biar juru masak di rumah yang membuatkan."
"Oh begitu." Citra tampak terlihat sedih. "Kamu pasti marah denganku karena kecerobohanku yang tidak tau kalau Aira alergi jamur, sekarang membuat kamu tidak percaya padaku, dahal aku benar-benar tidak tau tentang hal itu, Addrian," ucapnya terdengar sedih.
"Aku tidak menyalahkan kamu, Citra, aku bahkan tidak marah sama kamu. Citra, aku minta maaf jika tidak memperbolehkan kamu memberikan makanan dari luar karena aku tidak mau terjadi apa-apa lagi dengan Aira."
"Kamu benar-benar khawatir dengan istrimu setelah kejadian itu, ya?"
"Iya, Ric karena alergi yang dialami Aira bukan alergi yang ringan dan aku tidak mau terjadi apa-apa dengan Aira dan bayiku."
"Mereka berdua adalah dua orang yang sekarang sangat kamu sayangi. Aku berharap suatu hari nanti bisa menikah dan memiliki keluarga seperti kamu."
"Kenapa kamu tidak menikah saja, Rico? Apa kamu tidak memiliki kekasih?" tanya Citra.
"Kenapa? Apa dia menurut kamu tidak layak menjadi calon istrimu? Kalau seperti itu, kenapa tidak putus saja?"
"Aku masih pendekatan sama dia agar aku tau sifat dia. Jadi, nanti kalau kita menikah tidak akan salah pilih. Kamu sendiri tidak ingin menikah setelah lulus?"
"Tadi aku sudah katakan kalau aku mau fokus mencari uang dulu. Soal kekasih, aku sudah memiliki pilihan, hanya saja aku harus mendekatinya perlahan."
"Soal pria yang kamu ceritakan itu, Citra?" tanya Addrian.
"Iya. Seperti apa yang kamu katakan, Addrian, aku akan mengejar pria yang sangat aku cintai itu. Aku akan berusaha dulu untuk mendapatkannya."
Rico terkekeh. "Lucu sekali kamu. Buat apa susah-susah mengejar pria? Kalau dia suka sama kamu, biar dia yang mengejarmu. Atau kamu mau aku kejar?" Rico menoleh ke belakang dan menaik turunkan kedua alisnya menggoda Citra.
Addrian malah tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya dengan ucapan temannya satu ini.
"Maaf, aku tidak menyukai kamu, Ric, semoga dikehidupan mendatang saja aku bisa jatuh cinta sama kamu," terang Citra.
"Hah? Berat sekali kedengarannya."
__ADS_1
Mereka bertiga malah tertawa. Citra memang bisa membuat suasana menjadi menyenangkan dan dia juga gampang akrab dengan siapapun.
Addrian memasukkan mobilnya ke arah parkir pusat perbelanjaan yang agak besar di sana.
hu Bu
"Addrian, kenapa berhenti di sini?" tanya Citra.
"Aku lupa belum membelikan susu ibu hamil untuk Aira. Dia suka sekali minum susu ibu hamil itu."
"Suami siaga satu ini benar-benar keren. Aku bangga sama Aira, bisa merubah sosok Addrian yang menyebalkan menjadi seorang suami yang sangat perhatian dan sayang sama istrinya," puji Rico.
"Cinta itu bisa membuat hal menjadi indah." Addrian melepas sabuk pengamannya.
"Andai kamu belum menikah. Aku akan mengejarmu sampai kamu jadi milikku, Addrian," ucap Citra dengan memberikan senyum manis pada Addrian sebelum dia turun dari mobil Addrian.
Rico dan Addrian saling melihat. "Kenapa aku mendengarnya seperti dia serius mengatakan hal itu ya, Bro?"
"Biasa saja. Sudah! Aku mau turun dulu, kamu tidak mau turun?"
"Aku menunggu di sini saja. Aku lagi malas soalnya."
Addrian masuk dan mencari di bagian susu untuk ibu hamil. Setelah menemukannya. Addrian mengambil memanggil penjaga di sana dan minta di siapkan dua dua besar karena dia mau membelinya.
"Citra ke mana? Dia mau membeli apa, biar sekalian aku yang membayarnya?"
Addrian mencari sosok Citra, tapi dia tidak menemukannya. Dia akhirnya memilih pergi ke tempat kasir saja untuk membayar susu yang dia beli.
Di luar Rico melihat Citra dengan seorang perempuan yang terlihat sepertinya sedang bertengkar.
Citra seperti marah dengan wanita itu dan mengusir wanita itu pergi dari sana.
Gadis kecil yang di bawa oleh wanita itu menarik tangan ibunya agar pergi dari sana. Terlihat gadis itu takut pada Citra, apa lagi Citra tampak mendelikkan kedua matanya.
"Siapa yang sedang ribut dengan Citra itu?" Saat Rico mau keluar dari mobil, tiba-tiba ponselnya berdering dan itu dari Addrian.
"Ric, apa Citra sudah kembali ke mobil?"
"Dia ada di pintu utama, dan aku lihat dia tadi sedang ribut dengan seorang wanita."
__ADS_1