
Addrian memasukkan uang untuk membayar cincin itu ke dalam tabung kaca besar yang ada di sana.
Dalam tabung kaca besar itu di dalamnya ada banyak uang yang memang grandma siapkan untuk nanti dia berikan pada rumah sakit kanker anak-anak.
Jadi, beliau tidak memberikan nilai yang harus dibayar jika membeli barang-barang miliknya.
Addrian memberikan sejumlah uang yang ada di dalam dompetnya. Sebenarnya dia berniat akan mentransfer uang itu ke rekening grandma, tapi wanita tua itu tidak mau. Addrian boleh memberinya berapapun untuk membayar cincin miliknya itu.
"Grandma, aku permisi dulu, ya? Grandma semoga sehat selalu. Aku berjanji, jika istriku sudah melahirkan dan anak kita sudah boleh diajak pergi keluar, aku dan keluargaku akan datang ke sini."
"Iya, kamu jaga baik-baik istri dan anakmu. Satu lagi. Kamu jangan terlalu dekat dengan wanita itu karena laki-laki yang sudah bersuami, tidak baik terlalu dekat dengan wanita yang masih sendiri. Begitupun sebaliknya.
"Iya, Grandma. Aku permisi dulu." Addrian mengecup pipi wanita tua itu dan pergi dari sana.
Di dalam mobil Citra tampak masih kesal dengan apa yang nenek itu katakan.
"Citra, kamu kenapa?"
"Aku masih kesal saja dengan nenek tua itu karena tadi dia kasar sekali tadi. Memang apa salahnya kalau aku hanya mencobanya saja?"
"Dia hanya menuruti apa yang mendiang suaminya pesankan. Kamu jangan marah seperti itu."
"Siapa tau kalau nanti aku pakai, aku bisa mendapatkan jodohku." Citra terkekeh pelan. Citra pura-pura kembali ceria karena dia tidak mau kalau sampai Addrian berpikir Citra gadis yang memiliki sifat buruk.
"Sekarang aku akan mengantar kamu pergi berbelanja, tapi aku menunggu saja di dalam mobil karena aku mau menghubungi Aira."
"Kamu benar tidak mau membeli baju untuk Aira?"
Addrian menggelengkan kepalanya dan mengatakan jika Aira tidak menginginkan apapun.
"Cincin yang aku berikan sudah cukup untuk membuat dia bahagia."
Citra akhirnya belanja sendirian. Wajahnya terlihat kesal dan marah. Dia sebenarnya tidak ingin belanja. Ini hanya alasan saja agar dia bisa berbelanja berdua dengan Addrian, tapi ternyata Addrian malah memilih menunggu di dalam mobil.
"Sayang, kamu sedang apa?"
Aira menunjukkan sebuah undangan pernikahan pada Addrian. "Itu undangan pernikahan siapa? Atau kamu mau menikah lagi, Aira?"
"Enak saja. Satu saja sudah sangat merepotkan, mana mungkin aku menikah lagi." Aira mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Addrian tampak tertawa dengan senangnya. "Lalu, itu undangan pernikahan siapa?"
"Coba tebak dulu, Mas? Cluenya dia sangat dekat dengan kamu."
"Siapa? Shelomitha sudah menikah. Kenzo? Apa dia akan menikah? Tapi kenapa aku tidak dikabari?"
"Memangnya Kenzo mau menikah dengan siapa?" Aira memutar bola matanya jengah.
"Lalu, siapa, Sayang?"
"Lihat nama yang ada di sini." Aira mendekatkan undangan pernikahan itu.
"Oh my God! Ini serius, sayang?" Aira mengangguk. "Nasib wanita itu kasihan sekali harus menikah dengan si bangsul."
"Mas, jangan bicara seperti itu. Kak Rico juga berhak bahagia. Apa kamu tidak senang sahabat yang satu server sama kamu itu akhirnya menemukan pelabuhan terakhirnya."
"Tentu saja aku senang, tapi aku masih tidak percaya saja dia akhirnya memutuskan untuk menikah. Aku kira dia akan menjadi bujang lapuk."
"Aku senang Kak Rico menikah karena akan semakin sedikit spesies para playboy di dunia ini."
Addrian terkekeh mendengar ucapan istrinya. "Sayang, apa kamu tidak tau, walaupun para playboy itu sudah menikah, mereka masih bisa menjadi para suami playboy."
"Kenapa aku malah dibawa-bawa? Aku hanya memberitahu saja."
"Memberitahu jika kamu juga bisa disebut suami playboy. Mas, ini kamu di dalam mobil? Memangnya kamu mau ke mana?"
"Aku baru saja dari suatu tempat karena ingin membelikan kamu sesuatu?"
"Sesuatu apa, Mas?"
"Kejutan, Sayang. Tadi saat Citra mau mengajakku belanja, aku menolaknya karena aku mau pergi membeli sesuatu untuk kamu. Dia akhirnya ingin ikut dan setelah aku mendapatkan apa yang aku inginkan, sekarang gantian aku yang sedang menunggunya belanja."
"Aku, kan, sudah bilang kalau tidak mau dibelikan apa-apa."
"Aku yakin kalau satu ini kamu pasti akan menyukainya karena ini milik mereka yang memiliki kisah yang indah."
"Apa sih, Mas? Kenapa membuatku tidak sabar menunggu sampai besok kamu pulang?"
"Tunggu besok ya, Sayang." Addrian melihat Citra keluar dari dalam toko dan berjalan menuju ke arah mobil. "Sayang, nanti aku akan menghubungi kamu lagi. Citra sudah selesai berbelanja, dan aku mau kembali ke hotel untuk mempersiapkan barang-barangku yang nanti akan aku bawa pulang."
__ADS_1
"Ya sudah. Mas, nanti langsung kembali ke kamar hotel dan jangan keluar lagi kalau tidak ada perlu penting."
"Iya, Sayang. Sudah dulu, ya. I love you."
"Aku juga sayang kamu, Mas."
Mereka mengakhiri panggilanya. Citra masuk ke dalam dengan sekitar lima goodie bag berukuran sedang.
"Addrian, ini aku membelikan kamu kemeja berwarna hitam, pasti kamu akan pas sekali memakainya."
Citra menunjukkan kemeja yang dia beli untuk Anddrian.
"Citra, terima kasih, tapi seharusnya kamu tidak perlu memberikan aku kemeja ini. Kamu simpan saja uang kamu untuk kamu tabung."
"Tidak apa-apa. Bukannya aku juga mendapat bonus karena proyek ini. Jadi, aku ingin membelikan sesuatu untuk kamu."
"Maaf sebelumnya, bukannya aku tidak mau menerima pemberian kamu ini, tapi aku takut Aira akan salah paham."
"Aku nanti yang akan mengatakan pada Aira, bahwa aku memberikan kemeja ini sebagai ucapan terima kasih karena selama ini kamu sudah membantuku."
"Tapi seharusnya kamu tidak perlu repot. Aku dan Aira sangat tulus membantu kamu."
"Maaf, aku tidak membelikan Aira apa-apa karena pasti ukuran bajunya besar, dan tadi di dalam tidak ada baju untuk ibu hamil. Tapi nanti kalau Aira melahirkan, aku akan membelikan dia banyak sekali baju bayi."
"Tidak apa-apa, Citra, kamu tidak perlu repot."
Mereka akhirnya pulang ke hotel di mana mereka menginap. Saat di dalam mobil Addrian mendapat pesan dari Tuan Andreas jika Tuan Andreas sedang menunggu mereka di restoran hotel sekarang karena ada hal yang ingin dia bicarakan
Mereka sampai di restoran hotel dan mereka langsung menemui Tuan Andreas yang saat ini sedang duduk sendirian menikmati kopinya.
"Ada apa, Tuan Andreas?"
"Tuan Addrian, tadi aku mencoba ke kamar hotel kamu, tapi ternyata kamu sedang pergi. Kalian dari mana?"
"Saya dan Tuan Adrrian sarapan pagi kemudian pergi berbelanja."
"Maaf, memangnya ada apa?"
"Begini, kita diundang nanti malam untuk datang ke acara pesta ulang tahun salah satu rekan kita. Dia akan mengadakan acara itu di cafe miliknya yang ada di sini. Kita juga diundang ke sana. Apa Tuan Anddrian dan Citra bisa menghadiri acara itu?"
__ADS_1