Kamu Milikku

Kamu Milikku
Selamat Ya..


__ADS_3

Sandy sudah memutuskan untuk memaksa Reva pindah.


Hari Minggu kemarin, dia kembali mengunjungi rumahnya.


Sudah ada sepasang suami istri yang menjaga rumah.


Impor dari Indonesia.


Orang yang memang sudah dipercaya oleh Papa Reva.


Rumahnya bersih, halamannya tertata rapi.


Kolam renang juga jernih.


Sandy masuk ke kamar utama.


Dia melepas bajunya menggantinya dengan celana renang.


Sandy terjun.


Menikmati sejuknya air kolam renangnya di hari yang panas.


Dia berenang bolak balik.


Melatih tubuhnya.


Setelah puas berenang, dengan hanya memakai jubah handuk, Sandy memeriksa kamar-kamar.


Dibukanya satu persatu.


Ada enam kamar di rumahnya.


Belum termasuk kamar untuk ART.


Setiap kamar memiliki satu kamar mandi sendiri.


Empat kamar dilengkapi bathtub.


Sandy masuk satu kamar yang dekat dengan kamar utama yang merupakan Kamarnya sendiri.


Untuk Reva tinggal.


Kamar itu menghadap kolam renang.


Dia menatap tempat tidur berukuran queen size.


Jarinya menelusuri bed cover dengan motif dan warna feminim.


Dia juga telah meminta Tia mendesign satu kamar khusus untuk Reva tinggal menjelang pernikahan mereka.


Dia tidak ingin Reva berdekatan lagi dengan Steven.


Tidak.


Kalau dia ingin istrinya belajar mencintai dia.


Dan mencegah Reva kembali dekat dengan Steven.


Sandy menatap TV berukuran 43 inch yang tergantung di satu sisi.


Disisi lain lemari built-in.


Disamping tempat tidur terdapat meja kerja dengan kursi putar yang nyaman.


Ada laci-laci dan rak-rak buku yang didesain sehingga penghuni kamar ini mudah menjangkau nya saat akan mengambil buku dari meja kerja.


Sandy juga telah menyediakan seperangkat komputer untuk Reva.


Sandy memandang sekeliling nya.


Ini kamar yang nyaman untuk seorang mahasiswa.


Ada pintu penghubung dengan kamar utama.


Jadi nantinya Reva tidak perlu keluar kamar mereka kalau ingin kembali mengerjakan tugas-tugasnya di kamar ini.


Cukup melewati pintu penghubung itu.


Dia pun juga cukup melewati pintu itu jika ingin membopong Reva ke kamar mereka.


Sandy tersenyum sendiri membayangkan nya.


Tiga bulan lagi.


Hari Senin nya


Sandy sampai di kantor agak siang.


Dia baru saja bertemu dengan orang di luar bersama dengan Robert.


Robert memiliki satu klien penting.


Salah satu klien yang memang menopang banyak penghasilan mereka.


Sejak awal, proyek itu dikerjakan mereka berdua.


Dibantu beberapa anak buah mereka termasuk Josh.


Michael sendiri memegang game Methrob.


Sumber utama penghasilan terbesar dan awal mula perusahaan mereka berdiri.


Michael dibantu oleh Steven dan anak buahnya.


Sandy dan Robert masuk ke ruangan Michael.


Mereka berdiskusi tentang pertemuan tadi.


Josh dan Andrew dipanggil.


Selama satu jam setengah kelima orang itu membicarakan proyeknya Robert.


Setelah selesai, Sandy berjalan kembali ke ruangannya.


Dia melewati ruangan Steven.


Sepuluh langkah, dia berhenti.


Lalu berbalik.


"Hai Steve.." sapanya sambil tersenyum.


Sandy berdiri di pintu ruangan.

__ADS_1


Steven mengangkat wajah.


Sandy menatap nya terkejut.


Steven terlihat kusut.


Bawah Matanya hitam.


Seperti orang yang tidak tidur tiga hari tiga malam.


Rambutnya acak-acakan.


Dia tidak menjawab sapaan Sandy.


Hanya menatap.


Matanya kosong.


Hati Sandy berdesir.


Dia bertanggung jawab atas kacaunya keadaan Steven.


Tidak seluruhnya.


Tapi sebagian.


Dia merebut gadis yang dicintai Steven.


"Steve...kamu gak tidur semalam ?" tanyanya sambil masuk ke dalam ruangan Steven.


Steven menggeleng.


"Aku ngerjain ini." katanya menunjuk monitor.


Sandy mengangguk.


Dia tau itu.


Dia menatap Steven.


Ragu-ragu sejenak karena melihat kondisi Steven yang kacau.


Tapi akhirnya dia mengatakannya juga.


"Steve...


Aku mau bilang, kalo Reva akan pindah ke apartemen ku."


Steven tetap menatap monitor nya sebentar.


Lalu memejamkan mata.


Dia mengusap matanya dan kemudian mengangguk.


Secinta-cintanya dia pada Reva, Reva sudah bertunangan dengan orang lain.


Game over.


Sandy menatap nya dalam-dalam.


"Aku Akan bayar sisa kontrak apartemen nya supaya kamu gak rugi." katanya.


Steven menghela nafasnya.


"Gak usah.


Aku bantu."


"Nanti aku tanya Reva kapan dia bisa.


Aku mau secepatnya.


Dan...gak usah ngerepotin kamu."


"Gak papa.


Aku...yah...aku..."


Steven tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


Otaknya yang jenius mendadak berhenti bekerja.


Sandy tersenyum.


Dia menepuk pundak Steven.


"Kembalilah bekerja.


Bekerja bisa membuat kita melupakan banyak hal." katanya sambil meninggalkan Steven.


Steven mengusap matanya.


Dia kembali menatap monitor.


Sesaat kemudian, jarinya dengan lincah menari di atas keyboard.


Otaknya entah kenapa bisa kembali bekerja.


Hari Jumat.


Reva datang ke kantor Methrob dengan hati berdebar.


Ini pertama kalinya sejak dia berbicara pada Steven di sini.


Selasa dan Kamis kemarin dia tidak bisa datang.


Ujian sedang menjelang.


Dia harus mempersiapkan diri.


Belum lagi dia sedang mempersiapkan proposal tugas akhir.


Dia ingin segera mendapatkan persetujuan supaya bisa memulainya.


Reva melangkah memasuki Pantry.


Dia langsung menyiapkan kopi, wedang jahe, dan sekoteng.


Dia juga memanaskan muffin.


Anna masuk.


Reva mengangkat wajahnya.

__ADS_1


"Reva..." sapanya tersenyum.


Reva balas tersenyum.


Anna mendekatinya lalu memeluknya.


"Selamat ya...


Berbahagialah bersama Sandy." katanya.


"Terima kasih Anna." kata Reva.


Andrew masuk saat keduanya berpelukan.


"Waah..ada apaan nih ?!" tanyanya.


Anna berbalik.


"Kamu gak kasih selamat sama Reva ?


Dia kan baru tunangan."


Andrew menepuk dahinya.


Dia mendekati Reva lalu memeluknya.


Tak lupa mencium dahinya.


"Aku ikut senang.


Dan aku berharap kalian berdua bisa bahagia." katanya.


Liu dan Josh masuk, melihat Andrew sedang menyelamati Reva.


Liu berjalan mendekat.


"Selamat ya Va..


Semoga kalian langgeng sampe tua." katanya.


Josh pun mendekati Reva.


Dia memeluk Reva erat.


"Selamat ya Va.


Semoga kalian bahagia." katanya pelan.


Reva mendongak.


Reva tau, Josh dan Steven bersahabat erat.


"Terima kasih Josh.


Aku...ee..aku..."


"Sst..udah...


Dia akan baik-baik saja." bisiknya.


Reva mengangguk.


Josh melepaskannya.


Reva berpaling dan langsung menatap mata Steven.


Steven rupanya masuk ke Pantry.


Dia tadi melihat Josh melewati ruangan nya.


Steven melihat Reva berada dalam pelukan Josh dan melihat Josh berbisik pada Reva.


"Steve..." sapa Reva.


Steven hanya diam.


Dia tidak sanggup mengucapkan selamat pada Reva.


Matanya menatap Reva.


Penuh kerinduan.


Dan sakit.


Tapi dia tidak berani mengatakan apa-apa.


Tidak dengan komentar ibunya terhadap Reva saat berbincang dengan Madam Chang hari Sabtu lalu.


Ibunya jelas-jelas menghina Reva.


Di hadapan Madam Chang dan teman-temannya.


Reva benar.


Kalau dia memaksa, ibunya akan menjadi duri dalam daging dalam pernikahan mereka.


Bukan tidak mungkin pernikahan mereka menjadi berantakan walaupun keduanya saling mencintai.


Walaupun sudah ada anak.


Anak.


Seperti apa anaknya dengan Reva ?


Pasti cantik seperti ibunya.


Dengan mata bulat dan alis yang melengkung indah.


Hidung mancung dan rambut bergelombang.


Tidak perlu ke salon untuk mengeriting rambut.


Sudah indah dari sananya.


Steven tak mampu mengalihkan matanya.


Josh dan Andrew berdehem.


Steven tersadar.


Dia menatap semua orang.


"Va...aku mau kopi." katanya.

__ADS_1


Lalu membalikkan diri.


...🍓☘️🍇...


__ADS_2