Kamu Milikku

Kamu Milikku
Pindah


__ADS_3

Reva pindah minggu depannya.


Sandy bersikukuh.


Entah mengapa, Sandy merasa belum tenang sampai dia mengucapkan ' saya terima nikahnya Revalina...'


Di lain pihak, karena sudah bertunangan resmi, Reva tidak menolak.


Dia mengikuti kata-kata Sandy.


Untuk pertama kalinya Reva masuk ke rumah Sandy.


Mulutnya ternganga.


Mewah.


Itu satu kata yang terlintas di benaknya.


"Om..."


"Hmm..?"


"Aku di Apartemen Om aja."


"Kenapa ?"


Sandy sudah mengerutkan keningnya, terlintas dalam benaknya bahwa Reva ingin curi-curi waktu untuk bertemu Steven.


"Anu..Om...


Kalo aku disini.. bisa-bisa aku gak belajar deh.


Main terus, berenang melulu." jawab Reva dengan lugu.


Sandy tertawa.


Hatinya lega.


Dipikirnya tadi Reva mau selingkuh di belakangnya.


Sandy lalu mengajaknya melihat ruangan lain.


Di rumahnya Sandy punya ruangan khusus untuk main game.


Dilengkapi Dengan monitor besar, panel, konsol.


Belum lagi kursi besar yang nyaman.


Membuat orang tidak merasakan lelah saat main game.


Reva menghela nafas saat diajak melihat ruangan itu.


Dia mengelus perutnya.


Sandy melirik.


"Kenapa lagi ?" tanyanya.


"Om...


Aku tau Om ini pemilik game company.


Tapi...


Aku mau anakku enggak kecanduan main game.


Kalo disediain ruangan kayak gini...


Enggak keluar ruangan nanti anak-anakku, Om..!" jawab Reva masih mengelus perutnya.


Sandy menelan ludah.


Gaya Reva yang mengelus perut membuatnya membayangkan proses membuat anak.


Tidak tahan, dia mengangkat Reva.


"Eh..Om...Om !! " jerit Reva.


"Kamu udah ngebayangin aja punya anak, Va ?!


Hmm ?


Aku jadi ngebayangin bikinnya.." kata Sandy menatap mata Reva dalam-dalam.


Reva di pepet ke dinding.


"Ihh...Om !!


Turunin !!


Awas ya Om...


Om kan janji...


Kita gak bersama dulu enam bulan !"


"Aku gak janji, Reva.


Kalo udah nikah..aku minta hakku sebagai suami.


Ehmmm... bukan hak.


Kewajiban Ku memberi nafkah.


Lahir batin.


Soalnya...."


Sandy memutus perkataan nya sejenak sambil mengejapkan matanya.


"Soalnya...


Kamu bakal protes kalo enggak di kasih nafkah.


Ya kan ?"


Reva mendelik.


"Selama enam bulan, aku ikhlas kok Om..gak dapet lahir batin.


Nanti Om...


Aku butuh konsentrasi penuh..


Ada sidang akhir.


Aku...aku gak mungkin bisa konsentrasi kalo ada anak."


Sandy diam.


Ya..dia juga paham kondisinya.


Dia pernah melihat Michael yang walaupun tidak hamil tapi punya banyak masalah, juga susah payah berkonsentrasi pada sidang akhirnya.


Apalagi hamil dengan segala bawaannya.


"Va...


Bisa pake kontrasepsi kan ?" bujuknya.


Reva menggeleng.


"Jangan , Om.


Takut kering."


"Terus gimana dong ?"


"Ya..itu.


Ya, Om ?

__ADS_1


Ya...?"


"Va...


Hubungan itu untuk menyempurnakan ikatan perkawinan kita." kata Sandy mencoba untuk menjelaskan.


"Om sayang..


Kan aku gak bilang gak mau..


Tapi tunda dulu.


Sebentar aja..


Aku gak lari, Om.


Kan sudah nikah." bujuk Reva.


Matanya bertatapan dengan mata Sandy.


Sandy menghembuskan nafas.


Reva benar.


Memakai kontrasepsi bisa saja membuat perempuan jadi sulit punya anak.


Padahal...mereka belum punya anak.


Dan memakai pengaman....


Apa nikmatnya kalau main sama istri sendiri ?


Dulu dia selalu memakai pengaman setiap kali dengan Cindy.


Dia membawa sendiri pengaman itu.


Walaupun Cindy menawarkan miliknya.


Tapi dia tidak ingin percaya sepenuhnya.


Dia ingin yakin bahwa dia tidak meninggalkan bekas pada Cindy.


Tidak ingin ada tuntutan.


Tidak ingin terjerat seumur hidup dengan perempuan yang tidak dia cintai.


Sandy selalu membeli dulu sebelum datang ke apartemen Cindy.


Dan sisa yang tak terpakai akan dia buang.


Sekali lagi..dia selalu berjaga-jaga.


"Kita liat nanti.


Setelah nikah, anggap aja kita pacaran.


Tapi kalo kebablasan...


Ya...kamu hamil kan udah punya suami." kata Sandy tersenyum.


"Om dong yang harus nahan."


"Ya kamunya juga jangan mancing-mancing."


"Ih..kapan aku mancing-mancing Om ?!" kata Reva cemberut.


"Minggu lalu...di taman."


Reva memukul pelan dada Sandy.


"Aku enggak ya, Om...


Om aja tuh..."


Sandy tersenyum.


Bibirnya menyambar pipi Reva.


"Bau bayi." katanya.


"Iya Om..aku pake bedak bayi."


"Sekalian aja dibikin bayinya, Va.." bisik Sandy kembali menghirup pipi Reva.


"Ehmm...


Geli Om..." kikik Reva.


Kepalanya ditelengkan untuk menghindari ciuman Sandy di pipi.


Gerakannya justru membuat mulut Sandy sekarang berada di leher Reva.


Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Sandy mengecup lalu menggigit lehernya.


Rasa geli membuat Reva tanpa sadar mengeluarkan suara dari tenggorokan nya.


Hasrat Sandy naik.


Dia menggendong Reva membawanya ke kursi.


Mulutnya masih sibuk mengulum sedikit daging leher Reva.


Sandy duduk di kursi game yang besar dan nyaman.


Sementara Reva dia dudukkan di pangkuannya.


Tangannya turun.


Mengelus pinggang Reva.


Sementara mulutnya masih sibuk mencumbu leher Reva.


"Om..." tegur Reva lembut.


"Hm..."


"Om...


Sabar..." tegur Reva.


Sandy melepaskan Reva.


"Gak bisa.


Soalnya kamu minta enam bulan sih.


Tiga bulan nikah, enam bulan suruh puasa.


Jadi total sembilan bulan dong.


Ogah !" tolak Sandy.


Reva tertawa.


"Ya..nanti boleh deh icip-icip.." tawarnya.


"Icip-icip sampe mana, Va ?"


Reva menyipitkan matanya.


"Pas foto." jawabnya tertawa.


"Yaah..kok cuma pas foto ?" kata Sandy kecewa.


Reva tertawa geli.


Dia menunduk.


Mengecup bibir Sandy.


"Biar penasaran, Om.

__ADS_1


Beda body kan beda rasa ya Om..." katanya mengedipkan matanya.


Sandy kembali menelan ludah.


Pikirannya sudah kemana-mana.


"Apalagi kalo ditambahin cinta ya Va ?" katanya mengelus rambut Reva yang panjang.


Jarinya memutar ikal di ujung rambut.


Reva menatap mata Sandy.


Menemukan cinta dan sayang di sana.


Untuknya.


Reva kembali menundukkan kepalanya.


Menangkup wajah Sandy.


Mencium bibirnya.


Sandy membelitkan tangannya, menahan leher Reva tetap disana.


Dia membalas, mencium Reva dalam.


Penuh hasrat.


Satu tangannya memeluk pinggang.


Reva terengah.


Suaranya malah semakin membuat Sandy lupa diri.


Tangannya yang tadinya hanya memeluk pinggang, sekarang masuk ke kaus Reva.


Naik ke atas membelai bra.


Lalu menyelipkan sedikit jarinya.


Menggoda Reva.


Reva sendiri kepalanya sudah berkabut karena gairah.


Sentuhan jari Sandy mengirimkan gelenyar ke perutnya.


Perutnya terasa geli.


Lalu Lalu telapak tangan Sandy menangkup semua, meremas, jarinya memainkan puncak dada Reva.


Keduanya sudah nyaris lepas kendali.


Sandy sendiri merasa bebas.


Ini di rumahnya sendiri .


Bukan di pantai.


Bukan di taman kompleks apartemen temannya.


Di rumahnya.


Di kelilingi tembok.


Suasananya juga remang-remang, karena setting lampu yang di design untuk betah bermain game.


Sandy mengaitkan jarinya di kaitan bra reva di belakang.


Kini kedua tangannya menangkup keduanya.


Meremas, menggoda Reva.


Mulutnya masih mencium Reva.


Sementara Reva Sendiri tanpa sadar menekankan dadanya ke dada bidang Sandy.


Menginginkan sentuhan lebih.


Tangannya meremas rambut Sandy.


Jarinya membelai tengkuk Sandy.


Dia menekan tubuhnya pada tubuh Sandy.


Meminta sesuatu yang dia pun belum tau.


Gerakannya membuat Sandy semakin menginginkan Reva.


Dan akhirnya Reva kehabisan nafas.


Dia mendorong Sandy.


Melepaskan ciuman mereka.


Kemudian menunduk.


Tampak tangan Sandy masih memegang kedua belah gunung kembarnya.


Menggelembung di dalam kausnya.


Dan tiba-tiba rasa malu menjalarinya.


Di tepaknya tangan Sandy.


Ketika Sandy tetap bertahan, Reva merenggut paksa lengan Sandy.


"Om !!" protesnya.


Sandy terkekeh.


Dia menggerakkan ibu jarinya sekali lagi sebelum melepaskan tangannya dengan suka rela.


Reva menangkup wajah Sandy.


"Om...Om yakin kita bakal tinggal bareng kayak gini ?"


"Kenapa emangnya ?"


"Bisa gak perawan aku sebelum kawin !" katanya judes.


Sandy tertawa lepas.


Reva kembali terpesona melihatnya.


"Ya..aku sekali-kali tidur sini, Va.


Kamu tenang aja..


Aku pingin nikmatin kamu dalam pernikahan" kata Sandy menatap Reva dengan mata yang menginginkan seorang gadis.


Reva merona.


Betul-betul merona.


Sandy kembali tertawa melihatnya.


Menggemaskan sekali gadis ini.


"Emangnya Om pikir aku makanan ?!


Pake dinikmatin segala !" kata Reva berusaha mengalihkan perhatian.


Sandy mencium bibirnya dengan gemas.


"Iya...


Kamu itu emang makanan.


Makanan jiwaku." katanya.


...☘️🍇🌴...

__ADS_1


__ADS_2