
Setelah kejadian kemarin Frans lah yang meminta maaf atas kelakuan tidak baik cucu nya. Dengan tidak enak hati Syahna menerima permintaan maaf itu, Syahna tau walaupun Holmes yang salah tidak seharusnya Frans yang meminta maaf walaupun ia kakek nya. Syahna semakin tidak suka dengan kelakuan Holmes namun hatinya berkata lain ia malah menyukai kejahilan Holmes.
"Sudah lah buat apa aku memikirkan lelaki aneh itu" saat hendak bangkit kepala Syahna terasa berat dan berdenyut-denyut. Untung saja ia masih dalam posisi yang baik jika tidak Syahna sudah tersungkur kelantai.
"Ri ri" panggil Syahna kepada Riana
"Ya Syah kenapa?"
"Tolong ya kamu jaga anak-anak, gak tau kepala aku sedikit sakit rasanya" keluh Syahna memijat pelipisnya.
"Iya Syah, kamu istirahat aja . Nanti aku sampai ke bibi Lena kalo kamu sakit" Syahna menggeleng cepat, ia tidak ingin bibi nya mengetahui keadaan nya.
"Gak, gak usah. Aku bisa urus sendiri kok. Kamu diem aja kalo bibi Lena tanya aku dimana. Bilang aja aku lagi dikamar ya mengurus berkas-berkas anak yang mau di adopsi" Riana mengangguk, lagi pula ia juga tidak terlalu mau banyak bertanya takut Syahna semakin pusing. Syahna pun menuju kamar nya , sesampai dikamar ia langsung merebahkan tubuhnya.
"Hiks....tolong"
"Mama bangun ma hiks...."
"Jangan, jangan bawa kak bren jangan hiks..."
"Tolong siapapun tolong"
"SYAHNA! SYAHNA!" teriak bibi Lena yang mendengar jeritan dari kamar Syahna membuat semuanya panik.
"Mama" lirih Syahna saat membuka matanya.
Bibi Lena terdiam seperti patung sejenak, tubuh nya bergetar hebat. Bibi Lena memeluk Syahna takut, ia benar-benar takut Syahna mengingat masa buruk itu. Bukan maksud menutupi bibi Lena sangat tidak ingin kalau Syahna mengalami kejadian seperti dulu. Cukup bagi bibi Lena kedua orang yang ia sayangi dan cintai hilang dalam satu hari, hanya Syahna lah sosok terkahir yang sangat mirip dengan adik nya tidak lain Alm.Hanum. Syahna merasa tubuhnya sudah sadar sepenuhnya, melepaskan pelukan, merasa heran dengan bibinya yang sudah beberapa hari ini bertingkah lebih overprotektif kepada nya.
"sudah bangun, ayo turun. Kita makan siang bersama-sama" ajak bibi Lena, Syahna menggeleng menolak.
"Aku masih kenyang, bibi duluan saja makan siangnya. Hmm aku ingin keluar sebentar, rasanya otak ku mau pecah didalam ruangan ini" pinta Syahna, awal nya bibi Lena ragu melihat kondisi Syahna yang sedikit lemah dan pucat. Tetapi ia tidak ingin kepala Syahna semakin memburuk keadaan nya. Mau tidak mau ia menyetujui nya.
"Baik lah kalau kau masih kenyang, ingat jika tubuh mu semakin tidak enak telepon pak Margono. Dia akan menjemput mu"
"Bibi tidak perlu taman kan dekat dari sini" tolak Syahna pelan.
"Tidak ada penolakan intinya kau harus menurut apa yang ku perintahkan" kekeh bibi Lena, Syahna akhirnya menyerahkan.
"Iya bibi baiklah aku akan ke sana bersama pak Margono. Aku pergi dulu ya bi"
"Iya hati-hati sayang, pak Margo tolong antar Syahna ke taman di depan ya pak"
"Baik Bu"
Mobil milik bibi Lena sudah melaju, selama perjalanan Syahna hanya terdiam. Tidak tau tubuhnya terasa lemah bahkan ke taman pun hanya ingin mencari energi. Sesampai nya di taman Syahna menyuruh pak Margono untuk kembali ke panti asuhan, ia hanya ingin sendiri hari ini rasa nya. Berharap tidak ada siapapun yang menganggu ketenangan nya.
"Adem nya...." ucap Syahna merebahkan tubuhnya di bangku bawah pohon.
Di sisi ujung taman ternyata ada Holmes yang sedang melakukan pertemuan dengan rekan nya yang di bilang memang pecinta alam. Holmes dengan serius berbicara dengan rekan nya, berbeda dengan Derga lelaki itu melihat sekeliling, lirikan nya terhenti saat melihat sosok yang tidak asing baginya. Mata nya terus memincing menfokuskan melihat siapa sosok yang tidak asing baginya.
__ADS_1
nona Syahna
"Tuan apa anda ingin melihat pujaan anda?" bisik Derga tiba-tiba disaat Holmes dengan berbicara dengan rekan nya. Holmes menghentikan obrolannya, kemudian melirik tajam Derga.
"Apa kau buta hah! aku sedang berbicara dengan rekan!"
"Ada nona Syahna di sana tuan"
Holmes mengikuti arah telunjuk Derga, wajahnya langsung cerah mengetahui Syahna ada didekat nya.
Kau memang terbaik tuhan menemukan ku dengan calon istri ku
"Tuan mari selesai kan secara cepat acara bisnis ini. Saya ingin bertemu dengan calon istriku" ujar Holmes penuh dengan kebahagiaan.
"Wah ternyata baru datang ke Indonesia sudah ada calon nya ya" goda rekan nya membuat Holmes hanya senyum-senyum. Belum selesai membahas mengenai bisnis Derga sudah teriak mengagetkan Holmes serta rekan nya.
"NONA SYAHNA!" teriak Derga membuat Holmes dan rekan nya tertuju ke tubuh Syahna yang tergeletak di tanah. Dengan cepat Holmes berlari kearah Syahna.
"Sayang bangun sayang, Derga cepat bawa mobil ku kemari! " ucap Holmes panik sambil menepuk-nepuk pipi Syahna pelan.
"Bangun sayang, ku mohon jangan buat aku takut"
"Tuan mobilnya sudah siap"
Dengan cepat Holmes mengangkat tubuh Syahna dengan gaya bridal style. Membuat beberapa wanita di sekitar merasa iri dengan Syahna.
"ERON ERON" teriak Holmes
"Iya iya, jangan berteriak bisa!" balas Eron kesal tidak enak dengan orang rumah sakit.
"Cepat urus calon istriku kalau tidak ku cabut izin kerja mu di seluruh rumah sakit yang menerima mu" ucap Holmes dengan wajah khawatir namun tetap menampilkan wajah datar serta dinginnya membuat Eron sedikit takut.
"Baik-baik, suster cepat bawa ke UGD"
Sejak masuk nya Syahna keruang UGD Holmes terus mondar mandir bagaikan seterikan tidak lupa ia menyuruh Derga meminta maaf kepada rekan serta menghubungi bibi Lena untuk datang ke rumah sakit.
"Tuan Holmes" panggil bibi Lena dengan keringat di wajahnya, bersama beberapa anak panti tidak lain Michel dan Pandu kedua anak itu paling dekat dengan Syahna.
"Bibi akhirnya kau datang"
"Bagiamana keadaan Syahna?" tanya bibi Lena khawatir.
"Belum tau, dokter masih memeriksa ny-, Eron bagaimana keadaan kekasih ku?" tanya Holmes membuat bibi Lena tak percaya.
Sejak kapan Syahna dan tuan Holmes berpacaran
Bibi Lena memilih diam ia tidak berani menanyakan nya sekarang terlihat jelas wajah Holmes tidak bersahabat.
"Kekasih mu hanya baik-baik saja, namun ada sedikit pembengkakan di kepala nya. Apa dulu kekasih mu mengalami amnesia berat?"
__ADS_1
Tubuh bibi Lena menegang
"Tidak, tidak mungkin!" ucap bibi Lena semakin panik, air mata membasahi pipi nya. Holmes menjambak rambut nya frustasi.
"Seharusnya gumpalan itu seharusnya sudah hilang. Bahkan kata dokter spesialis Syahna penyakit itu tidak akan muncul kembali"
"Memang jika dilihat dari waktu nya , seharusnya penyakit itu tidak muncul lagi. Tetapi ada pemicunya yang membuat nya mengingat hal yang seharusnya tidak di ingat atau pun juga bisa ada pikiran yang membuat nona Syahna berusaha mengingat kejadian yang seharusnya tidak boleh di ingatnya lagi" jelas Eron, bibi Lena semakin pecah tangisannya. Michel dan Pandu kebingungan, lalu menenangkan bibi Lena.
"Aku permisi, kalo kalian mau masuk silahkan bergantian" ujar Eron lalu menepuk pundak Holmes, Holmes mengangguk.
"Bibi tenang lah, ayo kita masuk"
Holmes dan Bibi Lena masuk berbarengan, tubuh bibi Lena kembali menegang lalu ia menangis. Mengingat apa yang di katakan dokter Eron tadi. Holmes mendudukkan bibi Lena di bangku.
"Syah sayang, maafkan bibi nak" ucap bibi Lena serak, ingin sekali Holmes yang menggenggam tangan Syahna, namun di urungkan. Holmes membiarkan bibi Lena yang menemani Syahna dulu, Holmes memilih membawa Michel dan Pandu keluar dari ruang rawat.
"Bi aku bawa mereka keluar dulu ya" izin Holmes, merasa kasihan dengan dua anak laki-laki kecil itu yang kebingungan dengan kejadian ini.
"Iya tuan Holmes, terimakasih atas bantuan mu"
"Tidak apa-apa bibi, lain kali panggil saja aku Hol. Aku permisi" pamit Holmes di angguki bibi Lena. Michel awal nya menolak akhirnya mau ikut dengan Holmes berbeda dengan Pandu anak ikut menurut saja mengingat omelan Syahna kemarin membuat nya tak berani menolak nya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Next to be continued 👉
__ADS_1