Kamu Milikku

Kamu Milikku
Pingin Kenalan


__ADS_3

Di mobil...


Mami meraih ponselnya.


"Pi..Turun ke bawah...


Mami jemput." katanya saat Papi menjawab telponnya.


"Ah..enggak.


Kamu kalo mau pergi sama Cindy pergi aja." tolak Papi malas.


"Enggak !


Sama Sandy."


"Sandy aja...?"


"Hmm..iya..."


"Udah cepetan..


Mami udah mau nyampe nih."


Sandy melirik.


"Ngapain Mi ?"


"Mami mau ngajak Papi jalan-jalan."


Reva memajukan duduknya.


"Tante udah enak badannya ?"


"Udah.


Kamu ikut ya Va."


"Hah ?!


Kemana Tante ?"


"Gak tau..


Sandy yang bawa mobilnya.


Eh...ke tempat Mami Papi nya Michael.


Dimana tuh San ?"


Sandy mengernyit.


"Mereka di Taipei, Mi.


Mami bener mau ke sana ?"


Mami mengangguk.


Mereka tiba di lobi apartemen Sandy.


Papi sudah menunggu di depan.


Sandy keluar, dia memajukan tempat duduknya.


Papi masuk, duduk di sebelah Reva.


"Lho..ada Reva ?" tanyanya heran.


"Eh..iya Om.." kata Reva


"Eh..Tapi Tante..


Tante emang udah gak papa ?" tanyanya.


Papi mengernyit.


"Emang kamu kenapa Mi ?"


"Gak papa."


Sandy masuk ke mobil.


Reva memandang nya.


"Ehm...kalo gitu..


saya turun aja..


Biar saya naik bis pulang." kata Reva.


"Ah...jangan.


Kamu ikut, Va." kata Mami.


Reva ternganga.


Sandy meliriknya sejenak lalu menjalankan mobilnya.


Mobil hening sepanjang perjalanan.


Sesaat masuk jalanan Ibu kota.


"Pi....


Kapan kita mau kenalan ?"


"Ah enggak.


Kamu aja." tolak Papi.


"Mi...enggak !" tegas Sandy mengerutkan keningnya.


Reva menunduk.


Dia kesal dengan dirinya sendiri.


Kenapa tadi ikut.


Harusnya tidak ikut.


Ini pembicaraan keluarga.


"Kamu udah cukup dewasa, San..


Sudah waktunya berkeluarga.


Masa gendong anak orang terus ??! " kata Mami.


""Tapi aku enggak mau !"


"Lho..kemarin katanya mau ?"


"Kapan aku pernah bilang mau, Miiii ?!" sahut Sandy gemas.


"Kemarin.


Di Pantry."


Selintas satu pikiran melintas di benak Papi.


"Emang Mami mau kenalan sama siapa ?"


"Ya..yang sama kenalan Papi itu.


Kapan kita datang, kenalan ?"


"Oh...


Ada dua.


Yang artis apa yang biomedic ?"


Papi berusaha menjaga mukanya tetap datar.


Reva menegakkan kepalanya.

__ADS_1


Dia langsung waspada.


Mami menoleh pada Sandy.


"Kamu mau yang mana ?"


Sandy menoleh pada Mami.


Lalu sekilas melirik Reva di belakang.


"Yang biomedic dong, Mi..."


Reva terbatuk-batuk.


Papi menjulurkan tangannya.


Menepuk-nepuk punggung Reva.


"Ya...yang itu kalo gitu.


Emang kamu udah kenal sama orang tuanya ?" tanya Mami.


Sandy kembali tersenyum.


"Dibelakang ada air mineral, Va.


Kamu minum dulu." katanya.


Lalu menoleh sekilas pada Mami.


"Udah.


Malah pernah nginep di rumahnya."


"Hah ?!


Bedua aja ?!"


Reva kembali tersedak.


"Ya...enggaklah Mi..Ada Bapak Ibunya, ada dua sepupunya yang laki-laki."


"Oo...


Jadi... kalo kita datang, mereka sudah tau maksud kita ?"


"Belum."


"Lho..jadi kamu belum pendekatan, pacaran atau...ya paling enggak ngomong.. San ?!"


"Ya belum..Orangnya gak percaya Mi...


Mami sih...


Sibuk nempel sama orang yang salah.


Mana bisa percaya dia ?!"


"Jadi gara-gara Mami ?"


"Hm...hmm.." Sandy tidak menjawab tapi bibirnya tersenyum.


Hatinya lega.


Entah apa yang terjadi pada Maminya.


Kenapa tiba-tiba berubah seperti ini ?


"Mi..


Katanya sih..orangnya lagi suka sama orang lainn." tambah Papi melirik Reva.


Reva masih menatap keluar jendela.


"Gosipnya sih pacaran sama cowok lain." senyum Sandy.


"Hah ?!


Jadi...


Kamu itu bertepuk sebelah tangan ?" kejar Mami.


"Menurut dia,.


Aku terlalu ganteng Mi.


Seleraku ya yang cantik-cantik kayak yang artis itu." kata Sandy sesaat kemudian.


Mami menoleh pada Sandy.


"Ya..kamu emang ganteng sih..


Kan turunan Mami."


Mami lalu menoleh ke belakang.


"Reva, ...


gimana menurut kamu ?


Anak Mami ganteng kan..


Turunan Mami lho.." katanya sedikit mengancam.


Reva yang tidak menyangka disertakan dalam obrolan berdehem sebelum menjawab.


"Iya Tan..


Anak Tante ganteng banget.


Ya udah Tan...


Cariin yang cantik juga.


Jadi keturunan Tante awet ganteng dan cantiknya." balas Reva.


"Kamu kan juga cantik, Va.." sela Papi.


"Eh ..


Kalo saya...


Saya sih enggak cantik Om.


Om jangan khawatir


Banyak kok cewek Cantik.


Yang lebih cantik dari mantannya Om Sandy juga ada." elak Reva.


Sandy menghembuskan nafas.


Mami menoleh padanya.


Memperhatikan.


Mencari tanda-tanda mencintai.


"Kamu gak mau sama anak saya, Va ?


kenapa ?" tembak Papi langsung.


Reva memerah.


"Ehm...bukan gak mau Om..." jawabnya gugup.


Alamak..dia harus berhati-hati menjawab.


Ini ada ibu bapaknya.


Jangan sampai tersinggung.


"Terus ?" kejar Papi.


Sandy nyengir.

__ADS_1


Nyaris kasihan pada Reva yang sedang dikerubuti oleh orang tuanya.


"Eh...ehmmm


Seperti yang Tante bilang...


Om Sandy itu kan ganteng.


Banyak yang suka.. ngejar-ngejar..


Apalagi..Om juga kaya.


Punya perusahaan sendiri.


Makin dikejar-kejar deh sama banyak perempuan."


"Lho...malah bangga dong kalo bisa dapetin yang ganteng." sela Mami.


"Ya ..


mungkin buat sebagian orang, Tante.


Tapi..saya memilih hidup dengan tenang.


Enggak perlu khawatir sama perempuan lain yang ngincer suami saya.


Kan...ada pepatah..


Kucing disodorin ikan asin gak bakal nolak, Tante." jawab Reva pelan sambil menunduk.


"Berarti kamu enggak percaya sama laki-laki ya, Va ?" kata Papi.


"Ya...bukan gitu banget sih Om..


Tapi...Saya memilih yang aman aja."


"Udah ketemu sama yang aman ?" kejar Papi.


"Oh...


Enggak Om.


Saya mau fokus kuliah dulu.


Saya harus mempertahankan beasiswa saya, Om."


"Tapi gosipnya santer, Va.


Kamu pacaran sama orang." sela Sandy.


"ihh..Om !!


Aku gak pacaran ya..


ehm..itu..aduh..gimana ya aku ngejelasinnya?" jawab Reva dengan gemas.


Mobil kembali hening.


"Jadi Tante boleh kenalan sama Mamanya Reva ?" tembak Mami.


"Kenalan ?


Boleh Tante.


Kenapa tante mau kenalan ?" tanya Reva polos.


"Ya..mana tau jadi besan."


Kali ini yang menjawab Papi.


Reva kembali tersedak.


"Ck..ck..." geleng Papi.


"Eh...Va...


Kamu panggil Om kan Om.


Mestinya panggil Sandy, Mas..


Kamu orang Jawa kan?" kata Papi kembali melancarkan serangan.


"Iya Om.


Saya orang Jawa."


"Ya udah..


Mulai sekarang..panggil Sandy, Mas.


Biar beda antara manggil saya dengan manggil anak saya." kata Papi.


Reva menghembuskan nafasnya dengan pelan.


Dia tidak menyangka akan terjebak dengan percakapan seperti ini dengan orang tua Sandy.


"Tapi saya udah biasa manggil Om ke Om Sandy, Om.


Lagian kan.. Om Sandy pantaran Om Michael sama Om Robert.


Mereka om saya.." bantah Reva mencoba mengelak menyebut Sandy dengan sebutan Mas.


Bukan apa-apa..


Sebutan Mas itu...terasa intim.


"Kamu tuh emang bandel ya, Va !" kata Sandy.


"Bukan begitu Om..


Tapi saya udah biasa manggil Om..Om Sandy."


Mobil kembali hening.


"Kalo kamu manggil Sandy Om, terus manggil saya Tante..


Pas kita gak sengaja ketemu di jalan...


Bisa-bisa Tante disangka tante girang yang lagi jalan sama berondong nya, Va." kata Mami.


Giliran Sandy tersedak.


"Mii !!" protesnya.


Mami tertawa berderai.


Astaga...ternyata menyenangkan bisa ngerjain anaknya.


Papi pun ikut terkekeh.


"Jadi...mulai sekarang,Va...


Kamu panggil anak saya, Mas.


Ya ?!


Biar gak kagok." putus Mami.


Reva terhenyak.


Pintar sekali orang tua Sandy ini.


Dia mau tidak mau harus sepakat dengan mereka.


"Iya Tante." jawabnya patuh.


"Nah...coba panggil." perintah Mami.


Reva berpandangan dengan Papi.


Papi mengangguk.


"Eee....eh..Mas Sandy." panggilnya.


"Ya.. Sayang..." jawab Sandy tersenyum jail.

__ADS_1


Reva kembali terbatuk-batuk.


...☘️🎀🍇...


__ADS_2