
Mereka duduk berenam di dalam Limousine.
"Aku heran kamu bisa dekat dengan Madam Chang." cetus Biliyan.
"Kenapa Tante ?"
"Seram sekali beliau itu..!" sambung Biliyan.
"Baik kok Tante." kata Reva berkeras.
Sandy melirik.
"Kamu tadi kemana ?
Kita semua nyariin.
Kamu gak ada dimana-mana." katanya.
Reva diam-diam menghela nafas.
Dia sudah tau bakal ditanyai seperti ini.
"Di roof top Om."
"Sama siapa ?"
"Sendiri, Om."
"Bener sendiri ?" kejar Sandy.
"Bener, Om.
Berani sumpah."
Sandy diam.
Menahan emosi.
Teman-temannya pun juga diam.
Tidak mau mengganggu percakapan mereka.
"Sebelum itu, sama siapa ?"
Reva mendongak.
Menatap Sandy.
"Diajak Steven ngobrol sebentar." jawabnya jujur.
"Ngobrol apa sampe harus berdua aja ?"
Reva bertukar pandang dengan Tia.
Tia mengangguk.
"Steve...ehmm.. Steven ngajak balik."
"Terus kamu mau ?"
Reva menggeleng.
"Enggak." katanya pelan.
"Apa ?"
"Enggak, Om !" jawab Reva lebih kuat.
Tangan Reva saling memilin di pangkuan nya.
"Bagus
Aku gak mau tunangan ku jadi pacarnya orang."
Limousine itu hening.
Wajah Sandy masih menunjukkan kemarahan.
Sebagai sahabat sejak SMA, Robert dan Michael beberapa kali melihat Sandy marah.
Tapi belum pernah seperti ini.
Dan wajar..
Michael dulu malah pernah menantang Daniel.
Masalah pacar apalagi tunangan, adalah masalah harga diri.
Harga dirinya laki-laki.
"Kamu pindah ke apartemen ku mulai Minggu ini."
"Om..."
"Apartemen ku juga sama.
Deket kampus.
Jadi kamu gak punya alasan untuk nolak.
"Om !
Maksudnya... maksudnya kita tinggal bareng gitu ?" protes Reva.
Sandy melirik.
"Kamu mau kita tinggal bareng ?"
Reva melongo.
"Ya udah..kita tinggal bareng.." putus Sandy.
"Eh..Om.... Enggak..enggak...
Aku di tempat sekarang aja Om.
Udah enak."
"Enak buat siapa ?
Kamu ?
Steven ?"
"Om !!
Enak buat aku.
Aku udah hampir tiga tahun disitu."
"Aku gak mau kamu disitu.
Kamu pindah.
Ke apartemen ku."
"terus Om tinggal dimana ?"
"Ya situ juga.
Jagain tunangan ku yang masih suka keluyuran sama mantannya."
Muka Reva memerah.
Kalau saja tidak ada Michael dan teman-temannya, dia sudah mengomel pada Sandy.
"Ko...rumah lu kan udah jadi.
Lu tempatin.
Sayang lho...masih baru kalo dikosongin.
Lu disana.
__ADS_1
Reva di apartemen lu." kata Tia ikut campur.
"Rumah Om udah jadi ?" tanya Reva.
Sandy mengangguk.
"Terus Om mau tinggal di situ ?" tanya Reva lagi dengan nada suara yang berbeda.
"Ya..
Seperti kata Tante mu.." jawab Sandy.
"Terus Om mau ngundang orang disana ?"
"Hmm ?.Kenapa ?"
"Om mau janjian sama mantan Om itu ?!"
Sandy sekarang menatap Reva.
"Aku enggak janjian, Va !"
"Om mau janjian.
Dia pasti minta diajak ke rumah.
Liat-liat..Terus...?
Beduaan doang di rumah ?
Apa yang bakal kalian lakuin ?
Gak mungkin cuma minum-minum teh doang kan ?
Sofa ada..
Tempat tidur ada
Tinggal pake." tuduh Reva.
"Astaga Reva !!
Aku tuh udah gak mau sama dia !"
"Om yang bilang sendiri.
Hubungan intim tanpa cinta pun bisa aja dilakuin.
Om udah lama kan gak punya penyaluran.
Sejak putus dari dia ?" tuduh Reva lagi.
Sandy menutup matanya.
Kok jadi gue sih sekarang yang jadi tertuduh ? keluh nya dalam hati.
Teman-temannya menatapnya sambil tersenyum.
"Ya udah kalian berdua tinggal di rumah itu.
Biar bisa saling jagain." cetus Robert.
Reva menatap Robert lalu memalingkan muka.
"Aku gak mau !"
"Kenapa ?" tanya Sandy.
"Karena...
Karena...
Yah.. pokoknya aku gak mau !" putus Reva.
"Takut gak bisa nahan sama aku, Va ?" tanya Sandy menggoda tapi menahan dirinya untuk tidak tersenyum.
Nada suaranya dijaga tetap datar.
Reva mendelik.
Aku beda sama mantan Om !"
"Ya udah..kamu kan bisa nahan diri.
Aku juga bisa nahan diri..
Terus..gak ada masalah kan ?
Lagian kita udah tunangan kok."
"Om belum minta aku sama Papa Mama !" kata Reva.
"Udah."
"Hah ?!
Kapan ?"
"Waktu kamu ke Swiss."
"Kok Papa Mama gak ngomong ya ?" tanya Reva tak percaya.
"Aku yang larang."
"Om gak bohong kan ?"
"Tanya sama semua orang di mobil ini."
Reva lalu melayangkan pandangannya pada Tia.
Tia mengangguk.
"Aku kok kayak anak kecil yang dipaksa masuk sekolah yang dia gak mau." gerutu Reva.
"Apa maksud kamu gak mau ?"
"Tunangan..kawin.
Om maksa aku."
Sandy diam, tidak menjawab.
Dia menginginkan gadis ini.
Sangat menginginkan nya.
Dan dia memang terkesan memaksa Reva untuk bersamanya.
Seperti tadi.
"Iya." katanya singkat.
Reva menegakkan tubuhnya.
"Iya ?
Om ngaku kalo maksa aku ?"
Sandy melirik.
"Menurut kamu ?"
"Menurut aku...iya.
Om memaksakan hubungan ini."
"Emang kamu gak mau ?
Kamu kan mau juga, Va.
Kamu nyambut aku juga kok.
Waktu kita di pantai."
__ADS_1
Reva memerah.
Dia melirik sejenak pada Om dan Tantenya.
Mereka semua berpura-pura tidak mendengar.
"Om...itu hal yang berbeda."
"Apanya yang berbeda ?
Kita lakukan lagi saat kita sudah terikat perkawinan.
Malah lebih bagus.
Kamu sama aku, kita udah halal.
Dunia akhirat.
Anak yang akan hadir, anak sah dari pernikahan kita berdua.
Bukan anak haram.
Aku gak mau punya anak haram."
Reva kembali memerah.
"Om kok kesannya kita udah ngelakuin hubungan suami-istri."
Sandy tidak menjawab.
"Om !!"
"Iya enggak
Bentar lagi."
"Hah ?!
Om !!
Enggak.
Sebelum kawin aku gak mau !"
"Lho iya...makanya kawin Va..
Kawin resmi.
Sah..."
"Aku belum mau kawin."
"Kenapa ?
Masih mau main-main sama mantan pacar ?" kata Sandy dengan suara tenang tapi nadanya begitu dingin.
Reva merasakan aliran hawa dingin itu menelusuri punggungnya.
Meremangkan bulu kuduknya.
"Om !!" protes Reva memberanikan diri.
Sandy tidak menjawab.
"Aku belum mau punya anak." sambung Reva.
"Itu bisa diatur."
"Apanya yang diatur ?"
"Menunda punya anak."
Reva diam.
Matanya mengamati jemari tangannya.
"Om yakin mau kawin sama aku ?."
Sandy tidak menjawab.
Dia hanya menghela nafas panjang.
Reva mengamatinya dengan seksama.
"Kalo gitu, Om pasti bakal mengabulkan permintaan aku.
Karena ini syarat aku jadi istri, Om."
"Apa ?"
"Kita jangan bersama sampai aku lulus, Om."
"Hah ?!
Gilak kamu, Va !!
Aku gak mau."
"Om...
Aku perlu yakin."
"Va !
Kalo laki-laki udah mutusin untuk ngawinin, itu namanya dia yakin seratus persen dia cinta sama perempuan itu !!
Nikah kontrak cuma ada di novel-novel doang, Va !!.
Kalo laki-laki itu udah yakin harusnya yang perempuan gak usah khawatir, Va !!" kata Sandy dengan gemas.
Jarinya mendorong dahi Reva.
"Aku perlu yakin, Om."
"Gak mau !!"
"Om...
Oke.
Gak sampe lulus.
Enam bulan."
"Enggak !!"
"Om..."
Jari Reva membelai rahang Sandy.
Membujuk.
Sandy melirik.
"Enggak janji !!"
"Om !!"
"Kalo gitu..nikahnya setelah aku lulus aja." kata Reva cemberut.
"Enak aja !"
Reva tersenyum.
"Ya Om...Ya ?
Ya..?
Ya ..?"
"Va...
Hitungan weton kita bagusnya tiga bulan lagi."
__ADS_1
"Hah ?!"
...☘️🍇🎀🌴...