
Fen selalu berada di dekat-dekat Steven.
Steven bersama beberapa paman dan Kakeknya duduk di halaman belakang.
Sementara Reva duduk diantara saudara-saudara Steven di ruang duduk.
Sekilas Reva menatap keluar, ke arah tempat duduk Steven.
Wen Li, sepupu Steven menangkap pandangan nya.
Dia tertawa.
"Kamu jangan cemburu sama Fen.
Memang dia dari kecil selalu di dekat Steven kalo Steven sedang di sini."
Reva memerah.
"Aku enggak cemburu kok !" bantahnya.
Edward menatap cincin di jari Reva.
"Aku tau cincin itu.
Dari Steven kan ?" tebaknya.
Reva menunduk menatap cincinnya, lalu memandang Edward.
Edward mengangguk.
"Belinya sama aku.
Steven bela-belain kesini buat beli cincin itu."
"Oh ?!"
Reva terkejut.
"Hmm....
Iya...
aku ingat.
Dia kesini tiba-tiba waktu itu.
Ternyata buat beli cincin ya..." Wen Li menimpali.
"Abis itu langsung pulang.
Terbang tujuh jam bolak balik cuma buat beli cincin.
Gila emang si Steven !" Ruóxi, salah satu sepupu Steven yang lain ikut menimpali.
"Tapi...." Wen Li menatap Reva.
"Cinta memang gila !"
Semua mata memandang Reva.
Reva langsung memerah.
Reva mengibaskan tangannya, menyangkal mereka.
"Eh...enggak... enggak...
Ini...eee ..ini...
Steven meminjamkan padaku.
Nanti akan dikembalikan." jawabnya.
Otak Reva yang biasanya cepat bekerja mendadak buntu saat harus memberikan alasan kenapa cincin yang dibeli oleh Steven dengan mengorbankan waktunya terbang selama tujuh jam perjalanan bisa tersemat di jarinya.
Semua orang memandang nya tak percaya.
Wen Li memajukan bibirnya mencemooh.
"Ya...ya..ya...
Teruslah menyangkal.
Tapi gak ada gunanya.
Tenang aja...
Kita semua gak ada yang setuju sama ibunya Steven.
Kita semua tau kok kisah kalian.
Kalian dapat dukungan kami."
Ruóxi dan yang lainnya ikut mengangguk kan kepala.
Wajah Reva memucat.
Dukungan ?!
Apanya yang mau di dukung ?
Telat !!
Sebulan kurang dia akan menikah dengan orang lain.
Sementara itu di halaman.
"Ibumu masih gak setuju ?" tanya salah satu paman Steven.
Steven tersenyum.
"Ibumu itu picik.
Rasis.
Sombong." kata pamannya yang lain.
"Yah.. maklum.
Dia dari keluarga berada."
"Ah...
Emangnya kita enggak ?!
kita juga berasal dari keluarga terpelajar sejak jaman Ming !"
"Tapi aku liat berita, gadis itu tunangan sama boss kamu itu ya?"
Semua mata memandang Steven.
Steven tersenyum getir.
"Bulan depan mereka mau nikah." jawabnya.
"Hah ?!"
Semua orang terperanjat.
"Jadi dia tunangan sama orang lain ?"
"Terus...
Ngapain kamu gandeng-gandeng dia di sini ?
Terus...
itu cincin yang kamu beli buat ngelamar dia kan ?
__ADS_1
Kok dia pakai ?
Cincinnya dia mana ?"
"Steve..kamu gila ya?"
Steven mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
Dia menatap Reva kejauhan.
"Aku gak bisa melepaskan dia.
Kalo bukan gara-gara Ma, aku udah menikah sama dia." katanya setengah merenung.
"Ck...ck..ck...
Steve...bangun woi !!
Dia mau menikah sebulan lagi !"
Kakeknya memandang Steven sambil memicingkan mata.
Dia menghela nafas.
"Aku tau bagaimana rasanya.
Steven gak pernah jatuh cinta sebelumnya.
Dan sekalinya jatuh...dia tenggelam."
Steven melirik kakeknya lalu mengerang.
Semua orang tertawa.
"Terus...
kamu punya rencana ?" tanya seorang pamannya yang lain.
"Rencana ?
Rahasia !" senyum Steven.
"Tapi kamu pasti bakal mencegah mereka menikah kan ?"
Steven tidak menjawab.
Hanya matanya yang sipit semakin menyipit menatap Reva.
"Eh... sebentar....
sebentar....
Kamu gak takut hubungan kamu sama Boss kamu jadi rusak?
Cuma gara-gara satu perempuan ?"
Steven kembali tersenyum.
"Aku sekarang udah partner sama mereka.
Dia bukan boss ku lagi." jawab Steven.
Kakeknya tertawa lebar.
"Aku tau Steve!
Kamu itu memang cucuku yang membanggakan." katanya sambil menepuk pundak Steven.
Duduk agak jauh, Fen mendengar kan pembicaraan mereka.
Jadi...Reva itu bukan tunangan Steven.
Dia mau kawin sama orang lain.
Tunangannya bukan Steven !!
Dia kesal melihat Steven tersakiti.
Tapi disisi lain, dia jadi punya kesempatan.
Eh...tapi....
Fen mengerutkan keningnya.
Kelihatannya Steven tidak ingin menyerah.
Fen harus tau rencana Steven.
Tapi.. bagaimana caranya?
Steven jenius.
Tidak ada yang tau apa yang ada dalam pikiran nya
Dan Fen tau bahwa dia tidak mungkin berhadapan dengan Steven.
Steven akan marah dan membencinya.
Fen melihat tatapan Steven pada Reva.
Fen menengadah menatap bulan.
Satu bulan lagi.
Apa yang Steven rencanakan?
Kening Fen berkerut.
Fen menatap Reva.
Aku harus tau siapa tunangannya, batinnya.
...🌻🌺🌳...
Mereka akhirnya kembali ke hotel setelah susah payah menolak tawaran menginap dari keluarga Steven.
Reva yang menolak.
Sementara Steven hanya senyum-senyum saja dan membuat Reva geram melihatnya.
Apalagi Tante Steven tanpa ragu menunjukkan sebuah kamar luas yang rapi yang sudah dipersiapkan untuk Steven.
Satu kamar saja.
Karena menurut tante Steven, Reva dan Steven toh sudah bertunangan.
Jadi tidak masalah kalau mereka bersama dalam satu kamar.
Reva mendelik.
Siapa yang tunangan dengan Steven ?!
Tapi tante Steven menunjuk cincin di jari Reva.
"Kalian kan sudah tunangan.
Gak papa kok..."
Steven tersenyum lebar.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, tangannya merangkul bahu Reva.
Reva segera menepis.
Tapi rangkulan itu semakin ketat.
"Reva orang Indonesia, Ayi.
__ADS_1
Mereka memegang kebiasaan kalo sebelum menikah, tidak boleh tidur bersama." katanya menarik Reva lebih rapat.
"Yaah..disini juga seperti itu.
Tapi anak-anak muda jaman sekarang kan udah modern.
Walaupun belum mendapatkan sertifikat perkawinan, mereka biasanya udah tinggal bareng.
Beli apartemen bersama."
Susah payah Reva menyunggingkan senyum saking marahnya pada Steven.
Badannya berdiri kaku.
Sebelum dia membuka mulut, Steven sudah mendahuluinya berbicara.
"Reva masih ada acara besok.
Aku juga.
Kami harus kembali ke hotel malam ini."
"Kalian satu hotel ?"
"Iya."
"Enggak"
Reva melotot.
Jemari Steven mencengkeram bahu Reva.
Mengerat.
Memberi tanda agar Reva tidak mengatakan apa-apa.
Reva menutup mulutnya.
Jadi sekarang, Sepanjang perjalanan Reva cemberut.
Steven menatapnya gemas.
Reva yang sedang marah nampak semakin cantik dimatanya.
Mereka masuk ke dalam hotel.
Steven ikut masuk ke dalam lift dan membiarkan Reva menekan tombol lantai nya.
Reva lalu menunggu.
"Apa ?" Tanya Steven.
"Kamu enggak mencet lantai kamu ?"
"Enggak.
Aku anterin kamu dulu."
"Gak usah !"
Steven tidak membantah.
Dia diam saja.
"Steve!"
"Hmm ?"
"Lantai kamu !"
Steven tidak menjawab.
Dia menekan satu tombol di atas lantai Reva.
Ting.
Lift berhenti di lantai Reva.
Reva keluar.
Steven mengikuti.
Reva lalu berhenti.
"Kamu ngapain ikut ?"
"Kan aku bilang..
Aku mau anterin kamu." jawab Steven santai.
"Kan aku bilang gak usah !" gemas Reva.
Steven tidak menjawab.
"Steve !
Sana !"
Reva mendorong Steven kembali ke arah lift.
Tapi saat itu pintu lift menutup dan bergerak naik.
"Telat !
Ayo..aku antar."
Kali ini Steven memeluk pinggang Reva lalu menyeretnya ke arah kamar.
Reva menghembuskan nafas kesal tapi mengikuti Steven.
Di depan kamar, Reva mengetap kartunya.
Pintu terbuka.
Dia lalu berbalik menghadap Steven.
"Aku udah sampai." katanya.
"Hmm...
Masuklah." kata Steven lembut.
Reva tidak menjawab.
Dia langsung berbalik hendak masuk ke dalam kamar.
Tap.
Lengannya ditahan lalu ditarik.
Reva jatuh ke pelukan Steven.
Steven menunduk, tangannya menahan rahang Reva lalu....
Lima puluh detik kemudian, Steven mengangkat wajahnya.
Tersenyum.
Sementara bibir Reva merah dan agak bengkak.
"Sana masuk." kata Steven sambil mendorong Reva masuk ke kamarnya lalu menutup pintu.
Dia tetap berdiri di luar.
Diam menatap pintu kamar tang tertutup.
Dahinya berkerut.
__ADS_1