Kamu Milikku

Kamu Milikku
Masakan Sang Istri


__ADS_3

Aira mengajak Addrian masuk ke dalam rumah dan di ruang makan dia mengambilkan makanan kesukaan suaminya. Addrian menikmati masakan Aira dengan sangat lahap.


"Enak ya, Mas?"


Addrian tidak menjawab, hanya menunjukkan jempolnya pada Aira. Aira pun ikut makan bersama suaminya.


"Sayang, aku lupa mau bertanya. Masakan Citra mana? Kenapa aku tidak melihatnya di sini. Kamu jadi berikan masakan Citra pada orang lain?"


"Jadi. Masakan Citra sudah aku berikan pada Nadin untuk dimakan dengan ibunya."


"Nadin? Nadin anak kecil yang waktu itu bertemu dengan kita di warung nasi bebek?"


Aira mengangguk beberapa kali. "Nadin biasanya main di rumah temannya yang berada di satu blok dari sini. Tadi aku ke sana untuk memberikan itu. Mas tau tidak? Dia tampak senang sekali aku berikan masakan itu. Mas, besok Mas bilang sama Citra kalau dapat ucapan terima kasih dari Nadin. Oh ya! Satu lagi, dapat ucapan jika masakan Citra terlihat sangat enak."


Addrian menghentikan acara makannya dan melihat pada istrinya itu." Sayang, apa pantas aku bilang jika masakan dia aku berikan pada orang lain?"

__ADS_1


"Kita memberikan karena ada alasannya, Mas. Di rumah aku sudah masak dan banyak masakan yang tidak dimakan. Jadi, kita berbagi pada tetangga yang memang sedang tidak memasak, apa lagi punya anak kecil. Bilang saja kalau Citra nanti dapat pahala."


"Hah?" Addrian sampai melongo mendengar apa yang diucapkan oleh Istrinya. Aira juga setelah mengatakan hal itu malah santai menikmati masakannya.


Malam itu Aira yang berada di dalam kamar bayinya sedang menata baju-baju bayi yang dibelikan oleh mamanya dikejutkan oleh pelukan hangat dari suaminya.


"Kamu sedang apa? Apa tidak capek berdiri terus?" Addrian kemudian mengambil tempat duduk dan menyuruh Aira untuk duduk dulu.


"Mas, terima kasih, tapi kenapa kamu berada di sini? Apa pekerjaan kamu sudah selesai?"


"Tidak perlu, Mas, aku bisa menyelesaikan semuanya perlahan-lahan, tapi kenapa baju-baju ini serasa masih banyak terus?"


Addrian tertawa. "Tentu saja, itu karena kedua Neneknya tidak hentinya mengirimkan baju bayi untuk calon cucunya. Mereka berdua seolah berlomba-lomba siapa yang lebih banyak membelikan baju bayi yang lucu-lucu."


"Iya, dan mereka seolah tidak ada yang mau mengalah. Bagaimana kalau sampai anak kita lahir ya? Mereka pasti akan beradu untuk mengasuhnya."

__ADS_1


"Jalan satu-satunya adalah dengan membuat dua cucu untuk kedua neneknya. Jadi, mereka tidak akan berebut."


"Apa sih, Mas? Satu saja belum aku lahirkan, sudah mau buat cucu lagi."


"Aku hanya bercanda, Sayang, tapi aku serius jika nanti aku ingin memiliki anak yang banyak denganmu."


"Mau lima?" tanya Aira seketika dan membuat Addrian mendelik. "Kenapa malah kaget? Aku serius."


"Tentu saja mau. Pasti rumah kita akan ramai." Addrian memeluk istrinya dari belakang dengan hangat.


"Mas, kita ke rumah tante Tania sekarang. Mau tidak?"


"Malam-malam begini? Bagaimana kalau besok pagi aku antar ke sana?"


"Aku ingin mencoba naik mobil sport dan sekalian aku mau Mengembalikan rantang makan Citra, kemudian mengucapkan pesan dari Nadin. Takutnya kalau kamu besok sungkan mau mengatakannya."

__ADS_1


"Sayang, bukannya aku tidak mau, tapi ini sudah malam dan wanita hamil besar seperti kamu jangan sering keluar malam. Tadi saja Tuan Andreas mengundang kita besok makan malam belum aku iyakan karena aku harus memikirkan kesehatan kamu dan bayi kita."


__ADS_2