Kamu Milikku

Kamu Milikku
About Baju Tidur part 2


__ADS_3

Addrian menepuk pelan pantat istrinya karena gemas dengan apa yang baru saja Aira lakukan. "Aku suka jika dia sedikit nakal seperti itu." Addrian terkekeh melihatnya.


Aira berjalan dengan beberapa baju tidurnya menuju kamar Citra. Dia menepuk pintu kamar Citra dan tidak lama si pemilik kamar sementara itu keluar.


"Aira, ada apa?" Citra melihat Aira membawa baju tidur di tangannya.


"Citra, apa kamu tidak marah jika aku memberi kamu piyama tidurku?"


"Apa? Kamu mau memberi piyama tidurmu?" Citra agak terkejut karena dia sudah memberi piyama tidur itu dengan bubuk gatal.


"Iya, ini untuk kamu karena aku sudah membeli baju tidur yang pastinya mas Addrian sukai," bisik Aira lirih sambil diiringi dengan suara kekehan.


"Baju tidur baru?" Aira mengangguk dengan cepat. "Kapan kamu membelinya?"


"Kau sudah membelinya lewat pesanan online dan aku tujukan pada alamat Niana karena aku tidak mau mas Addria tau. Aku mau membuat kejutan untuk mas Addrian."


"Tapi aku sudah mempunyai baju tidur, Aira."


"Kamu pernah bilang jika baju tidur kamu Hany satu. Jadi, ini aku berikan untuk kamu." Aira memberikan beberapa piyama tidurnya pada tangan Citra.


Citra mau tidak mau menerima baju tidur itu dan dia harus menunjukkan ekspresi senangnya agar Aira tidak curiga. "Terima kasih, Aira."


"Citra, apa mau aku bantu berkemas?" Aira mencoba mengintip kamar tidur Citra karena dia ingin mengetahui keadaan kamarnya.


"Tidak perlu! Aku bisa berkemas sendiri. Sebaiknya kamu beristirahat saja karena ini sudah malam. Lagi pula kamu sedang hamil dan butuh banyak istirahat."


Aira mengangguk perlahan. "Ya sudah, kalau begitu aku mau kembali ke dalam kamar karena mas Addrian sudah menungguku dari tadi. Dia penasaran dengan baju tidur yang baru saja aku beli." Sekali lagi Aira terkekeh.


Citra tersenyum, tapi senyuman yang dia tampilkan adalah senyuman yang dipaksakan. Setelah Aira terlihat masuk ke dalam kamarnya. Citra segera masuk ke dalam kamar dan melempar dengan marah semua piyama tidur yang Aira tadi berikan.


"Kenapa Aira malah membeli baju tidur baru? Dan baju yang sudah aku berikan bubuk gatal malah diberikan padaku. Dia memang benar-benar memeyebalkan." Citra tampak sangat kesal dan marah.

__ADS_1


Citra terlihat sedang memikirkan sesuatu. Dia mencari cara agar dirinya tidak jadi pindah ke rumah Tantenya Aira, tapi apa? Apa dia menyuruh orang membakar saja rumah Tantenya Aira itu agar tidak tinggal di sana? Tapi itu tidak mungkin karena hal itu malah bisa membuat dia dalam masalah jika Tantenya curiga kebakaran yang terjadi bukan karena kesalahan teknis. Cjtra mondar mandir di dalam kamarnya. Dia bingung apa yang harus dilakukan?


Aira kembali ke dalam kamarnya dan melihat suaminya sedang duduk dengan laptop di tangannya. Aira agak terkejut karena selama ini dia tidak pernah melihat suaminya berkutat dengan barang elektronik itu.


"Kamu sedang apa, Mas? Tumben sekali memegang laptot?"


"Daddyku mengirim email tentang beberapa dokumen pekerjaan yang harus aku pelajari dan kamu tau, kan, kalau aku Sebentar lagi harus segera mengurusi bisnis Daddyku yang ada di sini. Daddyku akan segera datang ke sini."


"Iya aku hampir lupa kalau sebentar lagi suamiku akan segera menjadi seorang CEO di perusahaan besar di sini." Aira mengambil laptop Suaminya dan malah duduk dipangkuan Addrian.


Pemilik wajah tampan, tapi terkesan dingin itu membelai rambut istrinya dengan perlahan. "Jujur saja aku masih belum percaya pada diriku sendiri, Aira. Aku takut tidak bisa meneruskan kesuksesan Daddyku dalam memimpin perusahaan itu."


Aira melingkarkan kedua tangannya pada leher suaminya. "Aku percaya jika kamu pasti bisa menjalankan perusahan itu dengan baik, Mas. Pokoknya Mas Addrian harus optimis dulu, jangan malah berpikiran tidak mampu. Kamu menakhlukan banyak wanita saja bisa, masa menakhlukan dunia perbisnisan tidak bisa."


Addrian terkekeh mendengar ucapan istrinya. "Itu dua hal yang sangat jauh berbeda, Aira. Ini benar-benar hal baru bagiku."


"Aku akan selalu mendukungmu dan memberimu semangat. Suamiku Uno ini pasti bisa menanganinya."


"Aku suka kamu memanggilku Uno karena itu panggilan kesayanganku. Panggil aku sekali lagi dengan nama Uno."


"Aku juga mencintaimu. Sekarang pakai baju tidur yang mau kamu tunjukkan padaku."


"Masih ingat juga?" Addrian mengangguk. "Aku kira kamu sudah lupa."


"Apa kamu tidak mau memberikan hadiah untuk calon CEO ini?"


"Tentu saja aku mau memberikannya." Aira beranjak dari pangkuan Addrian dan berjalan menuju lemari bajunya. Aira mengeluarkan dua buah baju berwarna merah dan hitam.


Bak wanita penggoda, Aira berdiri di depan suaminya sambil menunjukkan dua baju itu. "Mas mau aku memakai yang mana?"


"Em...!" Addrian tampak berpikir sejenak. "Bagaimana kalau kamu pakai yang merah dulu, dan lalu yang hitam."

__ADS_1


"Apa? Dua kali?" Aira tampak terkejut.


"Iya, apa masih ada lagi?"


Aira menghela napasnya pelan. "Aku bersyukur hanya membeli dua. Bagaimana jika aku membeli lima warna?"


"Tentu saja aku akan mencobanya setiap hari. Lima hari berturut-turut." Addrian malah memberikan smirknya.


"Apa?" Aira memutar bola matanya jengah.


Aira membawa baju itu ke dalam kamar mandi, tapi sebelum pintu kamar mandi ditutup. Addrian sudah lebih dulu menyelinap ke dalamnya.


"Mas, kamu mau apa? Tunggu saja di luar dan nanti aku akan menemui kamu di sana."


"Tidak mau, aku mau melihat kamu berganti baju."


"Hm! Kalau begitu aku akan berganti saja di luar."


"Keputusan yang bagus." Addrian tersenyum senang.


"Selalu saja memaksakan keinginannya," gerutu Aira.


Sekarang Adrdrian duduk di atas tempat tidur dengan santai dan Aira berdiri di depan cermin panjang yang ada di samping tempat tidurnya. Aira mulai menanggalkan bajunya satu persatu. Aira tidak menoleh sama sekali kepada suaminya, tapi pria itu bisa melihat pemandangan indah dari pantulan cermin panjang itu.


"Cantik," puji Addrian lirih.


Aira mulai memakai baju tidurnya yang berwarna merah dengan bahan dari sutra halus, dan ada renda cantik pada bagian dadanya. Aira tidak menggunakan outernya agar tubuhnya dapat terexpose lebih indah. Dia mengikat rambutnya ke atas dengan sembarangan sehingga Addrian dapat melihat bagian yang sangat dia favoritkan dari tubuh Aira.


Addrian beranjak dari tempatnya, dia mendekati Aira dan menundukkan kepalanya untuk mengecup ceruk leher Aira dan memberikan sedikit tanda merah di sana. Tanpa sadar Aira mengeluarkan ******* kecilnya.


"Uno," ucapnya lirih.

__ADS_1


"Baju yang bagus dan sangat cocok untuk wanita yang sangat cantik seperti kamu--istriku," bisik Adrdrian.


Pria itu kemudian menggendong Aira ala bridal style dan membawanya ke atas tempat tidur mereka. Addrian kembali mengecup lagi leher Aira dengan lembut.


__ADS_2