Kamu Milikku

Kamu Milikku
Di Pematang Sawah


__ADS_3

Pulang dari notaris, Reva berjalan gontai masuk ke kamarnya.


Berdiri di depan jendela menatap tanaman bunga yang sedang bermekaran.


Reva menarik nafas panjang.


Kepalanya kembali sakit.


Dia belum sembuh.


Sedikit demi sedikit dia mulai ingat apa yang terjadi setelah dirinya dihantam papan selancar.


Dia ingat melihat Sandy saat membuka matanya. Sandy menyuruhnya memanggil Mas dan mengatakan bahwa baru sekali itu dia menurut memanggil Mas.


Setelah itu dia tidak ingat lagi apa yang terjadi.


Reva merebahkan dirinya.


Dia tidak boleh capek.


Begitu kata dokter.


Mencoba mengingat lebih banyak lagi.


Tapi kepalanya makin sakit.


Reva memejamkan mata dan mencoba tidur.


Dua jam kemudian dia terbangun.


Pusingnya hilang.


Reva berjalan ke dapur mengambil minum.


Sambil membawa gelas nya dia menuju ke teras lalu duduk disana.


Mobil masuk ke halaman.


Steven dan teman-temannya keluar.


Bibirnya tersenyum saat mendapati Reva duduk di teras.


"Udah gak pusing ?" tanyanya sambil duduk di sebelah Reva.


Reva menggeleng.


"Kamu banyak istirahat selama di rumah ya.


Nanti kalau udah kuliah lagi, susah..


kamu pasti bakal kecapean."


"Kamu capek?" tanya Reva.


Steven menggeleng.


"Kenapa?"


"Mau temenin aku jalan-jalan?


Jalan kaki aja...


Aku..


Ehm..aku perlu menjernihkan pikiranku." jawab Reva melirik Steven lalu menunduk.


Steven mengerutkan keningnya.


Insting nya mengatakan ada sesuatu yang terjadi.


"Oke..


Ayo..."


Steven berdiri lalu mengulurkan tangannya nya membantu Reva berdiri.


Reva menatap tangan Steven.


Sejenak menimbang-nimbang apakah akan menerima atau menolak.


Akhirnya dia memutuskan untuk meraih tangan Steven.


Steven tidak pernah melepaskan tangannya.


Saat itu sudah sore.


Matahari sudah tidak terik lagi.


Reva mengajak Steven ke pematang sawah.


Ke tempat yang sepi.


Dia malu bertemu dengan orang karena Steven menolak melepaskan tangannya.


Bergandengan mereka menyusuri sawah yang gundul.


"Ada apa ?" tanya Steven akhirnya setelah Reva tetap diam berjalan sambil menunduk.


"Ah..gak papa.


Aku...ehmm..aku cuma pingin jalan-jalan aja."


"Kamu pasti ada masalah." kata Steven.


Reva mengangkat matanya.


Menatap Steven yang sedang menatapnya.


Dia lalu menatap jemarinya yang sedang digenggam Steven.


Ingin sekali dia bertanya, apa yang Steven rasakan padanya.


Sekedar teman?


Teman dekat ?


Adik ?


Atau..orang yang istimewa.


Reva menarik jemarinya.


Steven menggenggam lebih kuat.


"Steve...!"


"Apa ?"


"Lepasin."


Steven malah merangkulkan tangan Reva melingkari pinggangnya sendiri.


Reva ditarik hingga menempel di tubuhnya.


"Steve !"


"Bilang ada masalah apa.." kata Steven.


"Enggak ada."

__ADS_1


"Bilang !"


"Oke...Tapi ini pertanyaan umum.


Kalo kamu tertarik sama satu cewek.


Apa yang bisa bikin kamu berpaling dari dia ?"


"Gak ada." jawab Steven dengan tegas.


"Steve !"


Steven menunduk.


"Gak ada.


Kamu pingin jawaban jujur kan ?


Gak ada."


Reva menengadah.


Menatap bola mata Steven.


Terpesona dengan ketegasan nya.


"Oke aku ganti pertanyaan nya.


supaya kamu bisa berpaling dari dia apa yang harus dilakukan ?"


"Ini tentang aku atau bukan.?"


"Bukan !" jawab Reva tegas.


"Betul ?


Kamu gak bohong ?"


"Enggak !" tegas Reva.


Steven diam.


"aku mungkin bakal berpaling kalau digodain habis-habisan.


Gak ada cowok yang bisa bertahan kalo godaannya terlalu intens."


"Misalnya ?"


"Misalnya ?


Kamu nari gak pake baju di depan ku, Va.." senyum Steven.


"Steve !!"


Steven terkekeh.


"Apa yang bisa bikin kamu ngelupain cewek yang kamu suka Steve?"


Steven menghela nafas.


Matanya menatap cakrawala.


"Masing-masing orang berbeda.


Ada yang tangguh banget.


Kukuh. Seperti om kamu, Michael.


Aku pernah liat berkali-kali.


Disodorin perempuan kayak apapun dia tetap datar.


Menolak.


Dan aku belajar dari dia.


Waktu kami menentukan pilihan, kami sudah mengukur gadis itu.


Apakah dia cocok atau enggak untuk kita.


Itu proses yang terjadi di otak kita.


Setelah itu tinggal mencari strategi untuk mendapatkan dia.


Gadis lain selain gadis yang bersangkutan gak bisa menggantikan.


Mungkin...


Mungkin kami bisa tetap berhubungan intim dengan orang lain.


Tapi rasa di hati..enggak bisa digantikan."


"Tapi..kamu tetep bisa berpaling kan ?


Kalo..ehm..kalo kamu digoda habis-habisan ?"


Steven memandang Reva.


"Kamu tau insiden Tia pingsan di New York ?"


Reva mengangguk.


"Michael waktu itu lagi mabok.


Itu... satu-satunya kesempatan kami bisa berpaling.


Saat kami enggak bisa menguasai kesadaran kami."


"Maksudku...


Gimana caranya supaya dia berpaling dan pacaran sama cewek lain ?" gumam Reva yang belum mendapatkan jawaban dari pertanyaan nya.


"Suruh mantannya merayu dia."


"Hah ?!"


"Masih tersisa sedikit rasa kalau cowok itu yang ninggalin.


Rayu dia !"


"Aduh....


Justru itu yang aku gak mau." jawab Reva.


"Sandy ya ?" tembak Steven.


Reva menunduk lalu mengangguk.


"Terus ?


Kenapa jadi kamu yang repot ?


Biar dia yang nyari sendiri pengganti nya."


Reva diam.


"Va ?" kejar Steven.


Reva memalingkan muka.

__ADS_1


"Aku tau kalo dia ngejar kamu." cetus Steven.


Reva berpaling kaget.


Steven sedang memandang nya.


"Semua orang juga tau.


Sandy rupanya sudah sadar dari kebodohan nya.


Dan kayaknya yang menyadarkan dia itu ya kamu, Va."


Reva memerah.


Steven meraih dagu Reva.


"Kamu diapain sama dia ?"


Reva menggeleng.


Steven menatapnya dengan teliti.


"Bener ?"


Reva mengangguk.


Steven tetap menatap Reva.


Mencari tanda-tanda kebohongan.


Tidak ada.


Walaupun pintar, Reva sorang yang polos dan blak-blakan.


Dia tidak bisa berbohong.


Steven pun melepaskan dagunya.


"Bilang sama aku...


Kamu ada masalah apa ?"


Reva menghela nafas.


"Gak ada Steve." katanya.


Steven kembali menatap cakrawala.


"Va..kamu tau kalo aku menyukai kamu."


Reva diam.


Suka?


Jadi suka saja.


Bukan cinta.


"Kamu tau dimana nyari aku kalo kamu punya masalah." kata Steven.


"Iya." jawab Reva.


Reva menarik tangannya yang tadi melingkari pinggang Steven.


Steven menahan jarinya.


Reva menarik lebih keras.


Lalu melingkarkan tangannya pada dirinya sendiri.


Steven menatapnya.


Baru menyadari kebodohannya.


Tadi dia memakai kata suka.


Suka.


Semua orang juga suka pada Reva.


Jadi apa yang istimewa dari rasa suka dia dengan Josh atau yang lainnya ?


Pantas Reva menarik tangan nya.


Tapi dia belum berani mendeklarasikan perasaannya yang lain.


Harusnya dia tidak mengatakan apa-apa tadi.


Feeling nya mengatakan bahwa dia akan ditinggalkan Reva.


Steven menghembuskan nafasnya.


"Sebentar lagi kami harus pulang.


Kamu istirahat yang bener di sini.


Kita ketemu bulan depan, Va."


"Iya." jawab Reva singkat.


"Va ?"


"Apa ?"


Steven tidak jadi mengatakan apa-apa.


Dia ingat orang tuanya, ingat keluarganya, ingat budayanya, ingat latar belakangnya, ingat kewarganegaraan nya.


Semua seperti melintas saat itu juga.


Dia kaya.


Uang bukan masalah baginya.


Dia sedang bersiap-siap menjadi partner bagi Michael.


Bukan sekedar karyawan.


Jadi.. kenapa dia tidak bisa mendapatkan gadis yang di sukai?


Dia tidak pernah merasakan hal seperti ini pada gadis lain.


Semakin lama semakin kuat yang dirasakan nya.


Reva berbalik.


"Yuk..pulang." ajaknya.


Tangannya ditahan.


Pinggangnya ditarik menempel.


Steven menunduk.


Menyambar bibir yang terbuka karena kaget.


Menuntaskan rasa rindu dan frustasinya.


Mencium Reva dengan dalam.

__ADS_1


...🌄🍇🎋...


__ADS_2