
Rasa hangat menjalari hati Reva.
Sandy memang berkata dengan nada keras dan dingin.
Tapi maknanya terasa dalam.
Mereka sampai di rumah.
"Aku mandi dulu, Om." kata Reva sambil berjalan ke kamarnya.
Sandy menarik tangan Reva.
"Mau kemana ?"
"Ke kamar." kata Reva bingung.
"Kamar kamu disini." tunjuk Sandy ke kamar utama.
"Itu kamar Om.
Kamarku disana."
"Aku kan udah nyediain kamar sebelah buat kamu." kata Sandy.
Sandy memang sudah menyediakan kamar khusus untuk Reva yang berada di sebelah kamarnya. Kamar belajar.
Kamar itu hanya punya satu pintu.
Yaitu pintu penghubung ke kamar utama.
Untuk keluar masuk harus lewat pintu kamar utama.
Kamar belajar yang memang didesain oleh Tia khusus untuk Reva.
Tapi sejak keputusan untuk mengadakan pingitan sendiri, Reva memutuskan untuk pindah ke kamar lain.
Kalau dia tetap dikamar belajar yang berhubungan dengan kamar utama, saat Sandy
ingin tidur di rumah ini, mereka berdua bisa kebablasan seperti waktu di kapal pesiar.
Jadi Reva memutuskan untuk pindah ke kamar lain.
"Om...ingat kan kalo kita lagi pingitan.
Sebaiknya enggak sekamar." jawab Reva mengingatkan.
"Pokoknya malam ini kamu sama aku, Va." Sandy berkeras.
"Tunggu sampai kita resmi, Om." senyum Reva sambil melangkah meninggalkan Sandy.
Sandy membiarkan Reva pergi ke kamarnya.
Biar saja.
Biarkan Reva mandi, membersihkan diri.
Nanti kalau waktunya tidur, dia akan membawa Reva ke kamarnya sendiri.
Dia membutuhkan Reva di dekatnya.
Meyakinkan dirinya bahwa Reva akan menjadi miliknya.
Dengan pemikiran seperti itu, Sandy menuju kamar utama.
Dia juga butuh mandi.
Makan malam sudah tersedia.
Sambil menggenggam ponselnya, Reva duduk berhadapan dengan Sandy.
Reva mengambil piring lalu mengambilkan nasi untuk Sandy.
"Mau pake apa, Om ?" tanyanya.
"Semua, Va.
Aku laper.
Lagian..aku perlu kerja keras entar malem."
Tangan Reva berhenti.
"Om mau lembur ?" tanyanya polos.
Senyum Sandy lebar hingga ke kuping.
"Iya." katanya mengedipkan matanya.
Reva mengerutkan keningnya.
Kenapa Sandy mengedipkan mata ?
"Oke..Pasti kerjaan yang menyenangkan ya Om ?
Senyumnya lebar banget." komennya.
"Banget."
Sandy lalu memperhatikan Reva mengambil nasi untuk dirinya sendiri.
"Tambah lagi, Va.
Kamu juga perlu banyak makan." katanya.
"Udah cukup segini, Om."
"Tambah !" perintah Sandy.
Reva menambah nasinya sedikit.
"Makan yang banyak, Va.
Aku butuh kamu nanti malam."
"Hah ?!"
Sandy tidak menjawab.
Dia mulai menyuap.
"Tadi sibuk banget ya ?" katanya memulai percakapan.
"Iya Om.
Kan aku mau cuti.
Jadi aku nyicil laporan sama bagian yang harus aku kerjain.
Jerry sih mau cover aku.
Tapi aku gak enak kalo kebanyakan."
"Jerry ?"
"Jerry.
Oh iya, Om.
Aku ngundang dia juga."
Senyum Sandy lebar.
"Undang deh.
Nanti kita siapin akomodasi nya."
"Gak usah , Om.
Willy mau nyiapin."
"Willy ?
Willy Chang ?"
Reva mengangguk.
Sandy memandang Reva penuh apresiasi.
"Kamu deket ya sama dia ?"
"Enggak juga, Om." kata Reva menunduk.
Lagi-lagi dia takut Sandy cemburu.
"Tapi Madam Chang..."
"Ya..
Madam Chang baik sama aku." jawab Reva.
Sandy mengamati Reva.
Menikahi Reva sama dengan membuat koneksi dengan keluarga Chang.
Sandy bersyukur dan berterima kasih pada Madam Chou, ibu Steven.
Kalau saja ibu Steven itu tidak menghalangi hubungan Reva dengan anaknya, Sandy tidak punya kesempatan untuk menikahi Reva.
Sandy juga tau bahwa sejumlah besar biaya dikeluarkan oleh keluarga Reva untuk pernikahan ini.
Tapi jumlahnya sangat besar.
Dan dia curiga bahwa itu sebenarnya berasal dari keluarga Chang.
Tapi Reva kelihatannya menutupi hal tersebut darinya.
Kenapa?
Reva tidak percaya padanya ?
__ADS_1
Sandy mengerutkan keningnya.
"Va...
Setelah kita menikah, apa pun yang terjadi, aku akan selalu jujur sama kamu." katanya memancing.
Reva memandang Sandy.
"Maksud Om, sekarang Om gak mengatakan segalanya sama aku ?"
Sandy tertawa.
"Maksud ku, setelah menikah, apapun akan aku ceritakan sama kamu.
Aku pingin kamu jadi teman terdekat aku.
Tempat aku bisa berbagi rahasia, cerita tentang kantor, bisnis. Semuanya."
Reva mengangguk.
"Kalo sekarang enggak ?" tanyanya mempermainkan Sandy.
"Kalo sekarang ?
Kamu pingin tau apa ?"
Reva menggeleng.
Dia meneruskan makannya.
Saat mereka sudah selesai, Si Mbok muncul untuk membereskan meja.
"Pak Sandy mau dibuatkan wedang jahe ?"
"Mau Mbok.
Sekalian Reva juga ya."
"Oh iya.."
Si Mbok ke belakang.
Tak berapa lama kemudian muncul dengan dua cangkir wedang jahe dan sepiring jagung manis rebus.
Reva tersenyum.
"Nyesel tadi makan banyak." cetusnya.
Matanya tetap menatap diktatnya.
"Ah..kamu langsing kok.." kata Sandy.
Bibirnya tak tahan untuk mencuri ciuman di pipi Reva.
"Om ! "
"Hmm..."
"Om...aku lagi baca !"
"Oke... oke..."
Sandy kembali menatap laptop dihadapannya.
Tiga puluh menit Mereka berdua diam.
Sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Notifikasi muncul di ponsel Reva.
Reva hanya melirik sebentar lalu kembali menekuri diktatnya.
Notifikasi kembali muncul.
Lalu muncul.
Reva tersenyum.
Siapa sih ?
Tangannya menjangkau ponsel.
Jarinya menyentuh notifikasi.
Klik.
Mata Reva melebar.
Diangkatnya ponselnya.
Dia lalu melirik Sandy.
Sandy masih sibuk menekuri laptopnya.
Jarinya bergerak lincah.
Reva menimbang-nimbang.
Tanya ...
Jangan...
Tanya....
Jangan....
Akhirnya...
"Om..."
"Hmm...?"
Mata Sandy masih ke layar laptop.
"Om tadi bilang mau jadiin istri sebagai teman terdekat kan ?"
"Hmm..."
Sandy masih sibuk dengan laptopnya.
"Mau mulai sekarang gak ?"
"Mulai apanya ?"
Sandy masih belum fokus pada kata-kata Reva.
"Mulai cerita keseharian Om."
"Keseharian ?
Cerita sekarang ?"
"Hm..mm.."
"Cerita apa ?"
"Cerita Om hari ini.
Kan aku tadi udah cerita hari ini aku ngapain.
Gantian."
Sandy berhenti.
"Hari ini ya?
Ke kantor....
Ke Taipei..
Ketemu Charles sama Ernest ngomongin proyek mereka."
Reva menopang dagunya.
"Terus ?"
"Terus apa ?" tanya Sandy bingung.
Reva menyodorkan ponselnya.
"Terus ini apa ?
Gak mau cerita ?"
Sandy menatap ponsel Reva.
Tangannya jatuh ke samping laptop.
Dia sudah tau bahwa ini akan jadi masalah.
Sandy mengangkat matanya.
Bertemu pandang dengan Reva.
Dia lupa mengatakan pada Reva tentang makan siang dengan Cindy.
"Aku minta maaf.
Aku lupa bilang sama kamu.
Tadi siang memang aku makan siang sama mereka.
Gak sengaja.
Charles dan Ernest yang mengundang mereka waktu tau mereka makan di restoran yang sama.
Kami datang duluan.
aku, Charles dan Ernest.
__ADS_1
Dan memang awalnya hanya bertiga, karena setelah itu harus kembali ke kantor Charles.
Pas lagi makan, mereka datang."
Reva diam.
"Om...apa pernah sekali saja Om memikirkan perasaanku ?"
"Reva ..."
"Aku gak masalah disebut perebut pacar orang.
Tapi...
Foto-foto ini.
Aku seperti perempuan yang memaksa Om untuk menikahi aku padahal Om masih cinta sama mantan Om.
Apa buktinya ?
Foto-foto ini.
Sebulan sebelum kita kawin, Om berfoto sama Cindy dengan pose seperti ini.
Belum lagi...
Om dansa sama dia dulu di kapal.
Semua orang melihat.
kira-kira seperti apa orang akan memandang aku, Om ?
Kalo Om yang jadi aku...
Apa yang Om rasakan ?"
Sandy terhenyak.
Sekali lagi dia tidak menjaga Reva.
Pantas tadi Steven dingin padanya.
"Reva.. aku minta maaf."
"Maaf gampang, Om.
Tapi..
Gimana cara Om perbaiki situasi ini ?
Ini menyangkut namaku, Om."
Sandy terdiam.
"Besok aku posting foto-foto kita, Va."
Reva diam.
Sepertinya dia harus kembali berfikir ulang.
Lagipula...
Bukan dia yang memaksa pernikahan ini kan ?
Sandy dan orang tua mereka.
Tinggal satu bulan.
Dan Sandy sudah mengambil miliknya.
Beranikah dia berfikir ulang ?
Reva berdiri.
"Mau kemana ?"
"Ngantuk, Om
aku mau tidur." jawab Reva.
Reva berjalan ke kamarnya.
Sandy menyusul, menahan pinggangnya.
"Tidur sama aku, Va."
"Jangan, Om.
Kita kan lagi pingitan."
"Kita sebentar lagi kawin, Va.
Aku pingin di dekat kamu malam ini." bujuk Sandy.
"Jangan, Om.
Nanti kebablasan." tolak Reva.
"Va..."
Sandy memeluk tubuh Reva dengan erat.
Dia menyurukkan wajahnya ke ceruk leher Reva.
"Om...
Udah bagus aku gak hamil kemarin.
Jangan." tolak Reva.
Sandy tertegun.
Hamil ?
Jadi Reva masih belum tau kalau dia masih perawan ?
Sandy tersenyum diam-diam.
Ini senjatanya untuk tetap menjaga Reva disisinya sampai mereka menikah.
"Gak ngapa-ngapain kok, Va.." masih membujuk Reva.
"Ah enggak.
Tadi Om di mobil ngajak ML."
"Sekarang enggak.
Yuk..tidur sama aku di kamar kita."
"Enggak !
Udah ah, Om.
Aku udah ngantuk." dorong Reva lalu cepat-cepat pergi ke kamarnya sendiri.
"Va !" panggil Sandy.
Reva berhenti.
Sandy berjalan menghampiri.
Tangannya memeluk Reva erat.
Mengangkat nya sedikit.
"Jangan kebanyakan mikir.
Aku cinta kamu, Va.
Selamanya aku milik kamu.
Kamu seorang.
Ingat itu !" kata Sandy mencium kening Reva.
Reva menatap Sandy lalu membalikkan badannya tanpa mengatakan apa-apa.
Sandy tetap berdiri di tempatnya.
Bibirnya tersenyum.
Dia kembali ke meja.
Meraih ponselnya.
Lalu mulai memposting foto-fotonya dengan Reva dengan caption-caption mesra.
Tidak lupa mengingatkan pernikahan mereka yang tinggal sebulan lagi dan mention semua teman-temannya termasuk Charles dan Ernest.
Supaya semua orang tau bahwa dia sedang bahagia bersama calon istrinya, Reva.
Setelah itu dia kembali bekerja.
...🍇🎀☘️...
Halo Pembaca Tersayang...
Saya baru menulis novel ketiga,
SITA SANG ASDOS
baru jalan dua bab.
Mohon dukungannya ya...
Terima kasih..😘😘😘
Tetap sehat dan bahagia...
__ADS_1